
"Ehm..ehm.." Aufar sengaja membuyarkan keduanya dengan berdeham sekuat tenaga.
"Elu kenapa boss? Mau gua ambilin minum?" Jimmy pura-pura tidak peka.
Alia yang mengerti dengan sikap caper sang suami hanya bisa terkekeh kecil dan menggeleng pelan.
"Biar aku aja, Jim." Alia meletakkan kado pemberian Jimmy, lalu bangkit dan berjalan menuju meja yang tertata berbagai macam minuman di sana.
Mulai dari minuman berlevel tinggi sampai dengan level rendah. Namun sebelum ia kembali menemui Aufar dan Jimmy, pandangan Alia melirik ke arah Delfia dan Mr. Berry yang sedang duduk dalam satu meja.
"Thank you for taking me to dance, Sir." Delfia tampak malu-malu tapi mau.
"Don't need to say thank you Fia. I just did what I should have." Mr. Berry berkata tanpa mengalihkan pandangannya dari benda pipih yang terkunci rapat di kedua telapak tangannya. Agaknya ia sedikit sibuk.
"Ehm..ehm.." Sela Alia di tengah-tengah percakapan mereka. Mr. Berry sedikit mendongakkan pandangannya.
"Oh, Al..Thank you for coming here. Stay here for a moment, please." Dosen muda itu bangkit dari duduknya namun masih fokus menatap layar benda pipih itu, lalu meninggalkan Delfia dan Alia dengan wajah melongo.
"Idolamu kenapa tuh Fi?" Tanya Alia sambil menopang kedua sikunya di atas meja.
"Gaje, Al..tadi aja pas dansa romantis banget. Eeeh...sekarang malah asyik ngegame." Sungut si Delfia dengan wajah cemberut namun masih terlihat manis memesona. Apalagi lesung pipi dalam itu selalu setia menarik lubang indah di kedua pipinya. Kedua lengannya sengaja dilipat di depan dada sambil menyandarkan tubuhnya di kursi.
"Udahlah, mungkin lagi top up game-nya." Respon Alia sekenanya.
"Eh, Husna mana?" Tanya Alia mengalihkan perhatian sahabatnya yang sedang kesal itu. Kepalanya terlihat celingak celinguk seperti kepala seekor angsa.
"Tadi kayaknya mabar bareng Alan deh tapi sekarang enggak tahu kemana." Delfia mengedikkan kedua bahunya dengan mimik yang masih sama.
Berbeda dengan sang istri, Aufar dan Jimmy tampak sedang membicarakan hal yang serius.
Jimmy menginfokan sesuatu yang membuat Aufar membuka sempurna kedua bola matanya.
"Elu serius, Jim? Tanyanya setelah mendengar informasi tersebut. Wajahnya terlihat sedikit khawatir.
"Enggak guna juga gua boong. Emang gua Ferdian Felaka yang suka banget nge-frank orang?" Jimmy memutar singkat bola matanya.
"Kemarin gua liat dia masuk ke sebuah kamar di hotel ini bersama asistennya si Archie bege." Tutur Jimmy memperkuat opininya.
"What? Ngapain Archie nyomot si Fana? Apa bule itu masih kurang puas dengan bini cantik kayak si Anya?" Wajah Aufar tampak sedikit kesal.
"Eh, kok sewot? Elu cemburu, Boss?" Ejek si Jimmy dengan menaik-naikkan alisnya.
"Cih, amit-amit, Jim. Gua cuma prihatin ama si Anya. Kesian tuh anak dapat laki model kek si Archie. Kekurangan asupan akhlak gitu!" Cerca Aufar membayangkan sahabatnya yang memang unakhlak itu.
Di tengah-tengah perbincangan dua lelaki tampan itu, tiba-tiba Alia datang membawa dua buah gelas berisi minuman berwarna ungu pekat di tangan kiri dan kanannya.
"Nih buat kalian.." Alia menyodorkan kedua gelas sloki itu kepada Aufar dan Jimmy.
"Ini minuman apa, Sayang?" Aufar menatap gelasnya dan mengendus aroma dari minuman tersebut.
"Kok aromanya begini sih?" Lanjutnya dengan mata terpicing yang membuat Jimmy terkekeh dengan tingkah sang boss.
"Itu marimas rasa anggur, Mas." Alia menjawab dengan santai tanpa beban.
***
Alia dan Aufar telah berada di kamar hotel. Acara hari ini sangat menguras tenaga, sehingga mereka memutuskan untuk menginap ditempat yang sama. Besok, mereka akan kembali ke rumah utama keluarga Anggara.
Sebuah kamar president suit yang dipesan oleh Aufar sangat terlihat mewah di mata Alia. Berulang kali ia mengutarakan kata "wah" di sela-sela percakapannya dengan sang suami.
Aufar baru saja keluar dari kamar mandi setelah selesai membersihkan diri. Ia nampak bertelanjang dada dengan handuk berwarna putih melingkar posesif di pinggangnya.
Potongan roti bantal yang tersusun di tubuh bagian depannya membuat Alia menelan salivanya berulang kali. Menggiurkan, mungkin itu kesimpulannya.
Alia bangkit dari duduknya, lalu berjalan dan pura-pura melewati Aufar tanpa ekspresi. Namun sebelum ia berhasil, tangan kekar Aufar telah melingkar ketat di lengan mungilnya.
"Apa seperti ini caranya memuji suami, hah?" Aufar berbisik lembut di telinga Alia.
"Loh, aku enggak ada bilang apa-apa kok, Mas." Alia menjawab tanpa mengalihkan pandangannya.
"Seharusnya kamu bilang kalo aku ini tampan." Hembusan nafas hangat Aufar yang beraroma pasta gigi menggelitik indera peraba Alia. Wanita itu terlihat memiring-miringkan kepalanya hampir menyatu dengan sang pundak akibat rasa geli yang menjalari area sensitifnya.
Tanpa berkata apapun Aufar menyatukan kening mereka, menempelkan ujung hidungnya pada ujung hidung Alia dan perlahan memejamkan kedua matanya. Alia yang awalnya terkejut dengan sikap sang suami, berusaha mengimbangi dan ikut serta dalam romansa indah diiringi alunan musik yang bervolume sedang.
Beberapa detik mereka bertahan dalam posisi tersebut, mencoba meresapi kebersamaan yang mereka jalani sejauh ini. Pikiran Aufar mulai memutar balik memori pertemuan pertamanya dengan sang istri. Hubungan singkat, serta perpisahan yang menyakitkan hingga akhirnya perjuangannya mendapatkan kembali sosok yang terkasih itu.
Sedangkan Alia, tidak ada memori terindah yang ia ingat selain hari dimana Aufar mengucapkan janji suci pernikahan di hadapan semua orang. Karena hal itu, tak terasa air mata haru melinang membasahi kedua pipi chubby-nya.
Perlahan Aufar menyibak kelopak matanya. Di saat melihat air haru yang mengalir di kedua pipi sang istri, lantas ia memberikan kecupan singkat di kedua kelopak mata Alia yang masih tertutup rapat.
"Jangan lagi menangis, Sayang. Nikmatilah hari-hari bahagia kita. Just you and me!" Merangkum wajah sang istri yang mulai menatapnya sayu.
"Buka kado yuk.." Lanjut Aufar.
Wajah sayu Alia seketika itu berubah menjadi senyuman hangat. Dia sudah bisa membayangkan kejutan apa lagi yang akan mereka temukan dalam ratusan kado yang sudah dikirim ke kamar mereka oleh petugas hotel.
Setelah menyelesaikan ritual pembersihan diri, Alia tampak memakai piyama bermotif buah pisang dengan rambut panjangnya yang tergerai indah. Kemudian ia beringsut ke atas ranjang dan bergabung bersama Aufar yang sedari tadi sudah menyortir beberapa kado yang memang ingin dibuka terlebih dahulu.
"Kita buka kado dari para tokoh novel sebelah dulu ya." Jelas Aufar ketika Alia terlihat seperti bertanya-tanya kenapa ia menyortir kado-kado itu.
Alia mengangguk patuh, dengan wajah yang sangat antusias ia membuka box berwarna merah padam dengan sentuhan gliter berwarna keemasan. Sepertinya itu kado dari London.
Wanita itu terlihat melongo menatap pakaian minim dan kurang bahan yang ia tenteng di kedua tangannya. Kedua matanya melirik ke arah Aufar yang berada tepat di sampingnya.
"Lingerie exclusive plus keseksian yang no kaleng-kaleng! Aku suka. Jadi enggak sabar pengen liat kamu makenya, Sayang." Aufar mengedipkan sebelah matanya sambil tersenyum menggoda. Membuat Alia bergidik ngeri.
Ia meletakkan baju itu, lalu meraih box kecil yang terdapat dalam box yang sama.
"Waaah, ini bener-bener mewah mas." Alia membuka box kecil yang berisi sepasang jam tangan dengan sentuhan berlian yang melingkar apik menghiasi wajah penunjuk waktu itu. "Aku suka..makasih Mikha." Alia langsung melingkarkan arlogi itu di pergelangan tangannya. "Bagus kan, Mas?" Meminta pendapat sang suami.
"Kalo kamu yang make, barang apapun akan terlihat bagus, Sayang." Kedua pipi Alia seketika memerah seperti daging kornet.
"Sayang, coba lihat ini!" Aufar menunjukkan isi kado yang telah berhasil ia buka.
"Kenapa seperti itu sih?" Sungut Alia tidak suka.
"Bukankah ini sangat menantang, Sayang?" Bisik Aufar sambil menyenggol bahu Alia.
"Uuuuuh..ini pasti kerjaan si bule jepun itu." Alia mulai kesal dengan sosok gaje si Archie.
"Jangan salahkan Archie, Sayang. Hujat aja Authornya yang minim akhlak itu." Aufar terkekeh melihat wajah manyun sang istri.
"Pokoknya aku enggak mau make yang begituan, Mas." Erang Alia hampir menangis.
"Masa' aku disuruh pake kostum kelinci, dalemannya abu-abu monyet lagi. Benar-benar meresahkan temanmu itu, Mas. Dia bener-bener pingin bikin aku memerankan budak s*x-nya Mr. Grey kali." Aufar yang mendengar keluh kesah sang istri hanya bisa tersenyum pasrah.
"Udah, udah...gak usah cemberut gitu, entar cantiknya ilang." Dokter tampan itu mengusap lembut pipi sang istri.
"Kado yang satu ini pasti bikin kamu klepek-klepek." Lanjutnya sambil menyerahkan sebuah amplop berwarna cokelat muda kepada Alia.
"Apa ini, Mas? Tanya Alia membolak-balik amplop tersebut.
"Buka aja..itu dari Fafa, dia udah bilang sih sama aku, tapi aku mau kamu liat sendiri aja dulu." Jelas si Aufar.
Tanpa mengulur waktu dan slow motion, Alia membuka amplop itu dengan perlahan. Kedua matanya terlihat berbinar ketika tangannya berhasil menarik dua lembar kertas yang terdapat di dalam amplop tersebut. Senyuman manis khas wanita borneo terpampang nyata dan berubah menjadi kekehan kecil tampak kegirangan.
"Ini beneran buat kita, Mas?" Alia memastikan.
"Iya dong." Jawab Aufar singkat.
"Gimana dia bisa tau kalo aku suka Turkey?"
"Mungkin kalian sehati." Aufar tersenyum usil.
"Iiiiih apaan sih? Tapi baguslah kalo sehati, dia bener-bener temenmu yang paling mengerti." Mentoel pipi sang suami.
Alia kembali membaca dua carik kertas berbentuk persegi panjang yang tidak lain adalah tiket keberangkatan dan paket bulan madu satu bulan di Turkey.
Bersambung..