
Delapan Bulan Kemudian
"Howeek ...."
Alia kembali memuntahkan semua makanan yang baru saja menjejaki lambungnya. Sejak awal kehamilannya, wanita itu selalu mengalami morning sickness. Susah sekali untuk mendapatkan nutrisi lengkap di pagi hari.
"Sayang ...." Aufar mengejar Alia yang tengah berada di depan wastafel yang terdapat di dalam kamar mandi.
"Jangan ke sini ... howeek...." Alia melayangkan telapak tangannya pada Aufar, tanda melarang suaminya untuk mendekat. Namun lelaki itu tetap saja ngeyel melewati pintu dan memijat lembut tengkuk sang istri.
Dokter tampan itu telah siap dengan kemeja lengan panjang berwarna biru yang membalut tubuh atletisnya. Ia melirik arlogi yang melingkar di pergelangan tangannya, lalu kembali fokus pada Alia.
"Sebentar lagi aku ada janji dengan pasien, aku telponin Delfia ya, biar bisa nemenin kamu di sini."
Aufar sangat tidak nyaman jika meninggalkan istrinya sendirian di rumah. Mungkin karena terlalu gerogi akan kehadiran buah hati pertama mereka, laki-laki itu terbilang lebih paranoid dari sebelum-sebelumnya.
Buktinya, dalam seminggu terakhir Husna telah di-booking untuk menemani Alia di apartemen. Sebab setelah diketahui bahwa Alia sedang mengandung benihnya, wanita manis berlesung pipi kecil itu, tak lagi mendapat izin untuk mengajar di sekolah yang tempo hari sempat ia jajaki.
"Aku gak enak sama suaminya, Sayang. Ntar malah ngerepotin," tutur Alia sedikit tidak enak hati sembari mengelap air yang membasahi sekitar mulutnya dengan handuk kecil.
"Aku yakin, dosenmu itu tidak akan keberatan, Sayang." Mengelus lembut puncak rambut Alia, lalu berbalik dan menyembul keluar.
Diraihnya benda pipih berwarna merah cabe milik istrinya itu, yang tergeletak tak tentu arah di atas tempat tidur. Lantas menyalakan benda itu dan mencari kontak Delfia.
satu detik
dua detik
tiga detik
empat detik
"Nah, dapet," gumam Aufar tersenyum tipis.
Tut... Tut... Tut...
"Assalamu'alaik, Al..." Sahut gadis berlesung pipi dalam yang telah sah menjadi istri dosen idolanya itu.
"Wa'alaiksalam, Del. Ini aku Aufar." Melirik ke arah sang istri yang baru saja keluar dari kamar mandi.
"Eh, Pak Dokter. Aku kira Alia. Jangan panggil Del ih, entar jadi perkedel kayak Kak Potato." Sepertinya Delfia sedang mencebikkan bibirnya di seberang sana.
Tentu saja perkataan wanita itu berhasil membuat Aufar terkekeh kecil. Sementara Alia hanya bisa memicingkan kedua matanya, saat melihat tingkah gaje dari suami tampannya. Lalu berjalan mendekat.
"Begini, Del. Eh, Fia ...." Aufar menjeda kalimatnya. "Aku khawatir banget kalo ninggalin Alia sendirian di rumah. Sedangkan kamu sendiri tau kan kayak gimana kondisi bumilku ini?" Meraih tubuh Alia yang terbilang sudah cukup melebar dari sebelumnya, lalu mengecup keningnya dari samping sembari menggerakkan tangannya naik turun di lengan sang istri.
"Oh, iya aku faham. Seminggu kemarin Husna yang di situ kan?" Respon Delfia dengan sedikit kekehan. Dia telah mengetahui hal itu langsung dari Husna.
"Betul banget, Fia. Kalo bisa aku mau minta bantuan kamu hari ini, itupun kalo suami kamu mengizinkan." Aufar agak ragu mengutarakannya, namun ia harus melakukan hal itu.
"Bisa kok, Pak Dokter. Kebetulan suamiku, sedang ada seminar di luar kota. Kemungkinan gak bisa langsung pulang. Jadi, aku bisa ke sana untuk nemenin Alia." Kalimat Delfia benar-benar membuat Aufar tersenyum lebar.
"Alhamdulillah, makasih ya, Fia."
"Sama-sama, Pak Dokter."
"Kalo gitu, aku tutup teleponnya ya, Assalamu'alaik..."
"Wa'alaiksalam..."
Sekali lagi, kecupan hangat mendarat di pelipis Alia.
Setelah kepulangan dari Turki delapan bulan yang lalu, mereka kembali diberikan kado istimewa dari Yang Maha Kuasa. Kado spesial yang tidak bisa mereka dapatkan dari siapapun.
Ya, plesetan itu telah menjadi do'a yang tidak sengaja diucapkan oleh Aufar dan Alia, namun Tuhan meluruskannya. Menumbuhkan makhluk kecil di dalam perut mungil Alia yang kini telah membesar seperti buah semangka dengan ukuran paling jumbo.
Namun pada usia kandungan yang telah menginjak tujuh bulan itu, masih saja Alia harus mengalami mual, muntah dan keluhan lainnya yang dialami oleh para wanita hamil pada umumnya.
Sebagai seorang dokter sedikit banyak, Aufar bisa membantu sang istri mengatasi masa-masa sulit itu. Walaupun kadang ia dibuat khawatir sendiri. Namun Aufar dan Alia sangat menikmati masa-masa penantian kelahiran buah kasih dari cinta mereka.
"Aku berangkat dulu ya, Sayang. Nanti kabarin aku kalo Delfia udah nyampe sini." Alia mengangguk patuh, lalu mengekori suaminya hingga pintu keluar.
"AdeBayi gak boleh nakal ya, kasian Mama loh. Anak-anak Papa yang akur ya di dalam sana." Sambil mengelus perut buncit Alia, Aufar sedikit membungkuk dan berbisik mesra pada kedua buah hatinya.
Ya, satu lagi ucapannya yang berhasil menjadi do'a. Janin yang dikandung Alia memanglah kembar dua. Semua anggota keluarga baik dari pihak Aufar maupun Alia, bersorak gembira ketika mengetahui kabar tersebut. Terlebih pasangan yang sedang berbahagia ini.
"Aku gak mau ah, dipanggil Mama," cebik Alia dengan wajah manja.
"Terus mau dipanggil apa?" Aufar menegakkan tubuhnya sembari mengusap lembut pipi Alia yang semakin chubby.
"Aku pengen dipanggil Ummi," tuturnya seraya tersenyum lebar.
"Terus kalo kamu dipanggil Ummi, aku dipanggil apa dong?" Aufar berlagak polos.
"Ya, Abi dong, Sayang." Alia menyentuh balik pipi Aufar. Membuat keduanya sama-sama tertawa lepas.
"Okay, Abi berangkat kerja dulu ya, anak-anak," pamitnya pada sang buah hati dengan tangan menempel pada perut bawah Alia.
DUGH
Dua tendangan terasa merespon dari dalam dengan penuh semangat.
"Wah, anak Abi pinter banget ni. Ya, udah aku pamit ya, Sayang." Mengecup singkat perut Alia, lalu kembali mendaratkan kecupan pada kening sang istri setelah wanita itu mencium punggung tangannya.
***
"Gimana Fi, udah ada kabar gembira?" Alia mendudukkan tubuhnya di atas sofa di depan televisi dengan menimang satu piring buah potong yang beraneka ragam. Bergabung bersama Delfia yang sedari tadi asyik menonton serial kesayangannya.
"Gue udah dinikahin Mr. Berry Al, apa ada kabar yang lebih mengembirakan dari itu?" Delfia menanggapi tanpa mengalihkan perhatiannya. Sedangkan tangannya juga ikut menjumput satu persatu buah potong yang berada di pangkuan Alia.
"Ya, adalah ...." Sembari memasukkan sepotong buah apel ke dalam mulutnya, Alia merespon singkat dan ikut menatap televisi.
Jawaban Alia itu berhasil membuat Delfia memutar lehernya seperempat rotasi.
"Serius nih? Apaan?" Gadis itu, eh, ralat! Wanita itu melipat kedua kakinya di atas sofa dan menatap Alia dengan berselimut rasa penasaran.
"Ya, ini ...." Alia menunjuk perutnya yang membuncit.
Wajah Delfia mendadak masam. "Yaelaaah Al, baru juga nikah seminggu, masa' langsung ditanyain masalah tekdung." Delfia kembali menjejalkan sepotong semangka ke dalam mulutnya dengan ekspresi kesal. Lalu ia kembali memandang layar lebar di hadapannya.
"Kenapa wajahmu kesel gitu sih?" Alia semakin kepo. Pertanyaan Alia itu berhasil membuat Delfia tertunduk murung.
"Fia ...." Karena tidak ada respon dari wanita manis itu, Alia meletakkan piring yang tadinya ia pangku ke atas meja di depan sofa yang mereka duduki. Lalu meraih kedua tangan Delfia ke dalam genggamannya sambil menatap serius wajah sahabatnya itu.
"Berry gak bisa ngelakuinnya ame gue Al..." Suara isakan Delfia mulai terdengar. Bagai petir di siang bolong, Alia juga merasakan sengatan menyakitkan setelah melihat ekspresi wajah Delfia.
Apakah gerangan yang salah?
"Jangan bilang kalo Mr. Berry itu ...." Alia sengaja menjeda kalimatnya agar Delfia mau melanjutkan ceritanya.
"Hiks ... Hiks ... Gue sedih, Al. Ternyata ...."
Bersambung...