I Love You Till Jannah

I Love You Till Jannah
Notifikasi Harapan



"Aku harus menyelidiki semua ini!"


Aufar meraih jaket yang ia kalungkan pada sandaran kursi kerjanya dan pergi meninggalkan ruangan. Di muka pintu ia melirik ke arah meja asistennya yang saat itu sedang mengerjakan sesuatu.


"Syifa...kamu masih disini? Aku kira kamu sudah pulang." Aufar berdiri di depan meja asistennya sambil mengenakan jaket ke tubuh atletisnya.


"Iya dok, saya masih menyelesaikan laporan penutup untuk hari ini. Ada yang bisa saya bantu dokter?" Berdiri membungkukkan badan dan kepalanya sebagai tanda hormat.


"Beberapa waktu yang lalu ada seorang wanita yang masuk ke ruangan ku, apa kamu tidak menyadarinya?" Syifa mengernyit keheranan. Pasalnya selama ia duduk di sana tidak ada seorang pun yang masuk ke ruangan Aufar.


"Maaf dok, saya tidak melihat siapapun datang selama saya duduk disini. Tapi mungkin saja ia masuk ke ruangan dokter ketika saya sedang di toilet tadi. Apa ada masalah dok? Atau dokter kehilangan sesuatu?"


"Tidak, Syifa. Tidak ada masalah. Kamu lanjutkan saja pekerjaanmu, setelah itu segeralah pulang! Aku duluan. Sampai jumpa besok."


Aufar bergegas meninggalkan ruangannya dan turun ke lantai dasar. Karena rumah sakit tempat ia bekerja terdiri dari enam lantai dan ruangan prakteknya berada di lantai empat.


"Dokter Aufar memang sangat tampan, hemm...andaikan saja...Iiih mikir apaan sih kamu syifa..ngimpi kali ye.." Syifa menepuk jidatnya sendiri karena terlalu terpesona dengan dokter muda atasannya itu.


Syifa Aulia, seorang perawat muda yang bekerja sebagai asisten Aufar selama satu tahun belakangan ini. Ia gadis yang periang dan ramah. Wajahnya cukup manis saat di pandang. Dari awal pertemuannya dengan Aufar di rumah sakit ini, ia sudah merasa ada magnet yang menariknya jika berada bersama Aufar. Namun Syifa sadar, perasaan yang ia miliki bagaikan perasaan seekor pungguk yang merindukan rembulan. Impossible, maka dari itu ia hanya menyimpan dan mengunci rapat perasaannya.


***


Pintu lift terbuka. Aufar terkejut melihat sosok wanita yang tadi sempat membuatnya terbakar api amarah.


"Kau..." Aufar keluar dari lift dan menatap tajam ke arah wanita itu.


"Iya, aku beb...secepat itukah kamu merindukanku? Bukankah baru 10 menit saja aku meninggalkan mu tadi?" Tanya Fana dengan percaya diri. Ia perlahan mendekati Aufar sehingga meninggalkan jarak yang begitu dekat di antara mereka.


"Aku tahu beb..kemarahan mu ini bukanlah kemarahan yang sesungguhnya. Melainkan bukti bahwa kamu sangat merindukanku. Kamu marah ketika aku mengkhianatimu dan kamu marah ketika aku meninggalkanmu. Sekarang, aku sudah kembali sayang, dan aku hanya milikmu, SE-O-RANG." Bisik Fana di telinga Aufar, membuat lelaki itu semakin muak seolah mencium aroma busuk yang keluar dari mulut bunga bangkai.


"Dengarkan aku baik-baik, Fana! Tidak ada yang tersisa lagi diantara aku dan kau. Sebaiknya simpan saja kata-kata manismu itu karena aku tidak berselera untuk mendengarnya!"


Aufar berlalu meninggalkan Fana. Namun setelah beberapa langkah, ia membalikkan badannya kembali dengan tatapan dingin sedingin angin malam.


"Dan ingat satu hal lagi dokter Fana yang terhormat, tidak ada lagi tempat di hatiku untuk wanita pengkhianat sepertimu. Karena hatiku sudah milik orang lain dan tidak akan pernah tergantikan!"


Lalu ia pergi meninggalkan Fana yang masih mematung dengan raut wajah yang tidak bisa diartikan.


"Kita lihat saja nanti dokter Aufar yang terhormat. Sejauh mana hatimu akan bertahan. Jangan sebut namaku Fana jika aku tidak mampu membuatmu kembali ke dalam pelukanku lagi." Fana berkata dengan senyuman licik menyeringai di bibir manisnya.


***


"Jim...aku butuh informasi lengkap tentang wanita yang bernama Ghifana Aurora. Segera laporkan semuanya padaku." Aufar menutup telepon setelah berbicara dengan seseorang.


Matanya menatap nanar ke seluruh arah. Saat ini ia sedang mengemudikan mobilnya menuju apartemen. Untung saja ia masih bisa menguasai emosinya sehingga ia sampai di apartemen dengan selamat.


Sesampainya di apartemen, ia memarkirkan mobilnya di basement. Kemudian ia berjalan menuju ke unitnya di lantai dua belas. Apartemen yang ia tempati merupakan apartemen mewah dan bangunannya termasuk dalam kategori gedung pencakar langit.


Aufar keluar dari lift dan menuju unit miliknya. Ia masuk ke dalam dan meletakkan tas kerjanya ke sembarang arah. Kemudian ia melepas jaket yang ia pakai dan lagi-lagi nasib jaket itu sama persis dengan tas kerjanya.


Karena merasa tubuhnya sangat lengket akibat keringat, ia bergegas masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Kucuran air hangat mampu menyihir penat tubuhnya menjadi lebih relax.


Seusai mandi, ia bersantai di ruang tengah sambil menonton serial kartun kesukaannya di televisi.


Ketika sedang asyik nonton ditemani teh hangat dan beberapa cemilan yang ia ambil dari kulkas, Aufar melirik jam dinding. Waktu menunjukkan pukul 21.00. Ia sepertinya mengingat sesuatu. Diraihnya ponsel yang tergeletak di atas meja dan melihat tanggal yang tertera di layar benda pipih itu.


"8 Desember..." Lirihnya.


Ia membuka akun fesbuk miliknya, menge-check notifikasi yang berada di beranda. Benar saja, ia tidak salah mengingatnya. Sesegera mungkin ia membuka notifikasi itu dan mengetik serangkaian kata di sana.


Dengan ragu-ragu Aufar menekan tombol kirim yang tertera disana. Ia memejamkan mata sambil menghitung jarinya berharap kali ini akan ada keajaiban.


"Satu...dua...tiga...kirim!" Ia berhasil menekan tombol itu dan pesannya itu berhasil terkirim ke beranda Alia.


"Huuuffft," ia menghela nafas panjang.


Kembali menatap layar ponselnya. Akankah kali ini nasibnya akan sama seperti sebelum-sebelumnya? Mengirim banyak pesan ke inbox bahkan beranda akun sosial media Alia tanpa balasan. Namun kali ini ia berharap lebih, semoga Tuhan berpihak padanya. Semoga saja.


10 menit, 20 menit, 30 menit sampai satu jam tidak ada juga tanggapan dari Alia. Hal itu membuat Aufar berdecak lemas tidak bersemangat. Diraihnya benda pipih itu, mematikan televisi dan masuk ke kamar tidurnya.


Ia merebahkan tubuh kekarnya di atas tempat tidur. Meletakkan ponselnya tepat di atas dada bidangnya. Pandangannya menerawang ke langit-langit. Terbesit wajah ranum Alia yang selalu berhasil membuat hatinya sesak menahan rindu di saat sendirian seperti ini.


Kesibukan yang Aufar jalani dalam kesehariannya, tidak lain hanya untuk pelarian semata agar hatinya bisa diajak berkompromi dari memikirkan Alia. Namun di saat malam tiba, ia mulai menjadi laki-laki rapuh yang seperti sudah tidak memiliki harapan ditelan kabut kerinduan.


Ketika pikirannya sedang berada dalam dimensi lain, tiba-tiba ponselnya berbunyi.


Ting....(nada notifikasi dari fesbuk)


Aufar langsung tersadar dari lamunannya dan meraih ponsel yang tergeletak di dadanya. Dengan segera ia membuka notifikasi itu.


Kali ini do'anya benar-benar mustajab, Tuhan sudah berada di pihaknya. Senyuman merekah di bibir sensualnya. Bola mata itu terlihat berkaca-kaca. Hampir tidak percaya dengan apa yang ia lihat. Alia membalas pesan yang Aufar kirim ke wall fesbuknya.


"Terima kasih, Mas. Wishing you always be happy too."


Tanpa sadar Aufar bangkit dari tidurnya dan ia jingkrak-jingkrak kegirangan diatas tempat tidur yang berukuran king size itu karena saking bahagianya telah mendapat tanggapan dari Alia.


"I know Alia, kamu tidak semudah itu melupakanku. Aku yakin...hatimu masih milikku. Aku yakin itu.." Ucap Aufar lirih sambil mengusap layar ponselnya yang terpasang wajah Alia.


Cairan bening yang membingkai bola mata dokter muda itu kini gugur membasahi wajah tampannya. Notifikasi harapan itu membawa air mata. Air mata bahagia, air mata harapan, air mata semangat baru, dan air mata cintanya yang semakin dalam.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Terima kasih untuk dukungannya gengs๐Ÿ’ž๐Ÿ™