
Di sebuah rumah mewah nan megah, seorang wanita setengah baya sedang duduk termenung di sisi terdekat pembatas dunia luar yang sedikit tertutup gorden berwarna hijau markisa. Wanita itu semakin terlihat menyedihkan ketika kedua kelopak matanya menitikkan butiran-butiran bening kepiluan. Raut wajahnya tampak memendam beban luka yang amat sangat dalam. Kepedihan, keputusasaan, ketidakberdayaan, keterpurukan, dan kerinduan yang tidak bisa diungkapkan.
Sebenarnya selalu ada cara baginya untuk berkomunikasi lewat bahasa isyarat, jika memang ia sudah tak ingin lagi berbicara secara lisan. Apalagi ia sangat bisa melafalkan setiap kata dengan baik dan benar, namun lidahnya terasa kaku karena selama belasan tahun ini, ia sudah tak ingin lagi hidup. Hidup baginya hanyalah sebuah definisi dari kata neraka. Terkurung dalam lubuk derita bak sebuah figura yang mengekang sebuah potret kenangan dengan label ingkar. No more hope. Hidup segan mati juga tidak.
Namun pertemuannya dengan seorang Dokter Ahli Saraf waktu itu membuat memorinya seperti terprogram ulang dan mampu mengilas balik kenangan yang sebenarnya sangat ingin ia kubur dalam. Tetapi tidak bisa. Malah kenangan itulah yang membelenggu dirinya sehingga mengalami kondisi psikis yang sangat mengkhawatirkan hingga detik ini.
Pertemuan dengan sang dokter, sungguh membawa perubahan positif dan perkembangan yang baik bagi kondisinya. Sehingga untuk pertama kalinya ia mau melafalkan kata secara verbal. Itu artinya, stimulasi yang diberikan oleh dokter tersebut sangat mujarab dan sangat berpengaruh besar bagi kondisinya. Apakah ada sangkut pautnya? Tidak ada yang tahu.
Tidak ada yang tahu, jika memang ia merasa seperti telah menemukan sosok yang sudah lama hilang dari kehidupannya, ketika bertemu dengan sosok dokter tersebut. Dokter yang kesekian, setelah puluhan dokter dan psikolog handal yang menanganinya. Berbagai tindakan alternatif juga telah dilakukan. Namun hasilnya sama saja. Ia tetap tidak mau membuka mulutnya. Katub bibir yang sangat rapat itu, membuat para ahli kowalahan dan menyerah untuk membantu menyembuhkan penyakit kejiwaan yang ia derita.
Nyonya Anisa Subekti. Pasien terbaru yang ditangani oleh Dokter Aufar Dwi Anggara. Menggulung ombak pilu berwujud air mata di sisi jendela kamarnya. Namun seketika ia mengedipkan kelopak matanya, ketika manik keemasan miliknya menangkap sosok terkasih yang selama ini tidak pernah putus asa dan selalu berusaha sebisa mungkin untuk selalu menemani hari-harinya.
Sosok seorang gadis muda yang selama ini merawatnya siang dan malam. Walaupun tidak ada hubungan darah diantara keduanya, tapi gadis itu memperlakukannya dengan sangat baik, seolah menunjukkan perlakuan seorang putri kepada ibunya.
Medina. Gadis keturunan arab itu, duduk manis di lantai tepat di hadapan lutut Ibu Anisa yang sedang anteng di kursi rodanya dengan senyuman hangat sehangat kopi manis namun bukan di pagi hari.
"Ibu kangen dia ya?" Ibu Anisa hanya mengedipkan kelopak matanya sekali kemudian kembali menatap ke luar jendela dengan tatapan kosong menyela rintik hujan di malam itu.
"Ibu yang sabar ya. Palingan sebentar lagi dia juga pulang kok." Menggenggam hangat kedua telapak tangan Ibu Anisa dengan erat.
Karena tidak ada respon dari wanita itu, Medina bangkit dari posisinya, kemudian mengecup pucuk kepala wanita yang telah dianggapnya seperti Ibunya sendiri itu.
"Time to sleep.." Mendorong kursi roda Ibu Anisa, lalu membantunya merebahkan diri di atas kasur. Diselimutinya tubuh yang tak lagi kuat walau hanya sekedar untuk berdiri itu, lalu menemaninya hingga beliau terlelap dihinggapi bunga tidurnya.
***
Jimmy baru saja keluar dari pintu sebuah perusahaan. Terdapat senyuman puas penuh makna di wajah tampannya. Ia memasuki kendaraan roda empat miliknya, lalu melaju dengan kecepatan medium. Ketika sedang asyik mengemudi sambil meresapi sentuhan alunan musik kesayangannya, manik mata lelaki yang memang sangat tajam itu, menangkap sosok yang dikenal sedang bersilang tangan di depan dada, memeluk erat kedua lengannya sembari menangis tersedu. Sepertinya ia sengaja membiarkan seluruh tubuh ringkihnya dihujani air langit yang mulai deras memijaki bumi.
Penampilannya terlihat kacau balau dan sangat memilukan. Tanpa membawa barang apapun, duduk di sisi trotoar tepat di bawah lampu jalan berwarna kuning remang-remang yang tertunduk lurus kepadanya. Tentu saja Jimmy tidak mungkin mengacuhkan hal itu. Di bantingnya setir ke pinggir jalan dengan bunyi decitan ban mobil yang amat sangat mengganggu telinga ketika pedal rem itu diinjaknya sekuat tenaga. Dengan sigap ia menyembulkan tubuhnya berbekalkan sebuah payung berwarna pelangi di atas kepalanya.
"Zalia...."
Nama itu lolos dari sepasang bibir seksi milik Jimmy. Nama yang memang telah lama terukir di hatinya dan berhasil mencuri perhatiannya. Lelaki itu lantas berjongkok, membuat tubuh tegapnya sejajar dengan wanita pujaannya itu. Sementara sebelah tangannya refleks memegang pundak Alia.
"Kamu..." Belum selesai Jimmy melanjutkan kalimatnya, tubuh Alia tiba-tiba condong ke arahnya dan menyandarkan kepala pada dada bidang lelaki itu.
Jimmy yang seolah mendapat respon dadakan dari Alia di luar nalar manusiawinya, lantas mematung diiringi ekspresi wajah yang tidak bisa diartikan.
Lama Jimmy membiarkan Alia berada di dalam mode tangis tersebut, hingga ia bisa merasakan tubuh Alia yang bergetar hebat. Ia berusaha memaknai apa sebenarnya yang terjadi tanpa harus memaksa Alia untuk mengatakannya dengan bahasa verbal.
Air hujan yang semakin deras membuat Jimmy tak bisa mendengar rintihan wanita itu. Ketika ia rasa tidak ada lagi pergerakan tubuh dari Alia, Jimmy menarik tubuhnya agak menjauh. Namun sayang, tubuh mungil itu malah semakin terhuyung mengejar ke arahnya. Agaknya Alia telah kehilangan kesadaran.
Tanpa berpikir dua kali, Jimmy menahan sosok yang kesadarannya menggelap itu, dan refleks melepaskan genggamannya dari gagang payung yang berbentuk seperti mata pancing. Kemudian ia membopong tubuh Alia dan mendudukkannya di kursi samping kemudi.
Ketika sudah memastikan tubuh Alia aman bersampir safety belt, Jimmy mengitari mobilnya dan menggapai kemudinya dengan sigap dan pasti. Hanya ada satu di dalam pikirannya, rumah sakit.
Ketika sampai di rumah sakit, Alia langsung mendapat tindakan dari ahlinya. Sementara Jimmy, ia terlihat mondar dan mandir seperti seterikaan sembari mengepal kedua telapak tangannya menyatu.
"Dokter..." Jimmy menghentikan aksi kesana-kemarinya, ketika melihat seorang dokter, baru saja keluar dari salah satu ruangan di IGD dengan wajah penuh kecemasan bak seorang suami yang mengkhawatirkan keadaan istrinya.
"Tidak usah khawatir, Tuan Muda. Istri Anda baik-baik saja. Ia hanya shock, usahakan jangan mengungkit apapun yang mengingatkannya dengan hal itu." Tutur Si Dokter dengan wajah tenang.
"Apa dia sudah bisa ditemui, Dok?" Respon Jimmy secepat kilat.
"Tentu saja, dia sudah sadar dan ingin bertemu dengan Anda. Ingat, Ia butuh suasana baru Tuan." Tersenyum hangat sembari menyentuh pundak Jimmy.
"Terima kasih, Dokter." Jimmy membalas senyuman Dokter berjenis kelamin laki-laki itu, sebelum ia berlalu dari sana.
Sepeninggalan Dokter tadi, Jimmy langsung memegang handle, lalu perlahan menyibak daun pintu tersebut.
CEKLEK (PINTU TERBUKA SEPEREMPAT)
Ditangkapnya seonggok daging bernyawa yang terbujur lurus di atas ranjang serba putih itu dengan wajah berpaling ke samping. Entahlah, mungkin dia sedang termenung atau malah sedang memikirkan sesuatu.
Jimmy berjalan mendekatinya dan berdiri tepat di sisi kanan ranjang pasien.
"Thanks, Jim.." Kalimat itu terdengar dari bibir manisnya dengan suara yang amat parau, tanpa menoleh dan memandang wajah lelaki yang telah membawanya ke tempat itu.
Bukannya tidak sopan. Tetapi ia hanya ingin menyembunyikan ekspresi menyedihkan yang masih ketara di wajahnya.
"My pleasure, Zalia.." Menarik sebuah kursi, lalu mendudukkan tubuhnya.
Tak lama kemudian terdengar isak tangis Alia yang membuat Jimmy refleks menyentuh lengan wanita itu.
"It's okay. You can tell me anything, if you don't mind." Tutur Jimmy, menenangkan.
"Aku tidak tahu lagi harus kemana, Aku tidak mungkin pulang ke rumah orang tuaku, Jim." Kembali menitikkan air pilunya dengan posisi wajah yang tak bergeming.
Hal itu membuat Jimmy menangkap makna dibalik peristiwa ini. Ditambah lagi, ia mengingat perkataan Dokter tadi. "Ingat, ia butuh suasana baru, Tuan." Dan benar saja, tanpa berpikir panjang ia seolah mendapatkan jackpot yang selama ini ia nantikan.
"Sejujurnya Aku tidak tahu menau tentang pokok permasalahanmu. Tapi kalo kamu bilang begitu....kamu bisa ikut denganku, Zalia." Masih tak bergeming dari pandangannya dan terus menatap wanita yang sudah lama ia inginkan itu.
Mendengar hal tersebut, sontak Alia memutar setengah rotasi kepalanya menghadap lelaki yang kemejanya telah basah kuyup karena telah menolongnya.
"Are you serious?" Memicingkan sebelah matanya seolah tidak percaya dengan tawaran Jimmy.
"Of course. Tapi sebelum kamu menjawab pertanyaanku selanjutnya, tolong pikirkan lagi! Apa benar kamu tidak ingin kembali ke apartemen suamimu?" Tanya Jimmy untuk lebih meyakinkan.
Tanpa membuka bibir, Alia hanya meresponnya dengan gelengan pasti.
"Baiklah, aku akan menemui Dokter. Just a second." Beranjak dari duduknya dan meninggalkan Alia sendirian.
Pandangan wanita malang itu lurus melayang ke langit-langit ruangan, memutar kembali memorinya pada kejadian beberapa jam yang lalu.
Flashback
Setelah melihat isi dari kaset DVD misterius itu, Alia mematung kaku. Hampir tak ingin mempercayai bahwa actor dari film singkat dengan adegan panas itu adalah suaminya. Suami yang pernah mengaku pernah tidur dengan wanita lain. Namun hal itu dianggapnya sebagai sebuah frank ataupun Maret Mop.
Wajah Alia tertunduk. Cairan bening telah menggenangi kedua pelupuk matanya yang memang telah berkaca-kaca sejak tadi. Tak mampu lagi membendung pilu, tangisannya pecah begitu saja tanpa permisi. Tubuh yang tadinya tenang, kini tampak terguncang seperti mendapatkan gempa lokasi.
Aufar dengan tanggap, merengkuh tubuh itu dan berulang kali mengucapkan kata 'maaf'. Namun untuk emosi yang masih tidak bisa dikondisikan seperti sekarang ini, tidak mungkin Alia bisa menanggapi permintaan maaf itu semudah membalikkan telapak tangan.
"Kenapa kamu tega, Mas? Hiks..hiks.." Memejamkan berat kedua matanya. Menahan pedih yang amat sangat menghujam kalbunya. "Apakah ini yang dirasakan Ibu waktu itu?" Batinnya semakin menyedihkan.
"Sayang, aku bisa jelasin semuanya," Semakin mempererat dekapannya pada tubuh mungil yang malang itu.
"Aku memang siap dimadu, Mas. Tapi bukan begini caranya, huhuhuuuuu.." Alia mendaratkan pukulan-pukulan kecil pada dada bidang Aufar. "Kamu mengkhianati aku lebih parah dari apa yang aku bayangkan, Mas. Kamu beneran tidur sama perempuan itu, hiks..hiks.." Menggoyangkan tubuhnya agar terlepas dari pelukan sang suami.
"Sayang, dengerin dulu penjelasanku! Kamu telah salah memahami. Kejadiannya tidak seperti yang tergambar di layar itu, Sayang. Please.." Aufar semakin memohon ketika melihat raut wajah Alia yang tampak berubah ekspresi.
"Jika kamu memang ingin menikahinya, kamu bisa mengatakannya baik-baik padaku, Mas. Bukan malah menikamku seperti ini. Ini lebih menyakitkan, Mas.." Erang Alia di sela-sela tangisannya. "Kenapa aku terlalu putih menyikapi petunjuk yang telah lama Engkau berikan padaku, Ya Rabbi? Huhuhuuu...Aku bodoh, aku bodoh..!" Memaki dirinya sendiri, lalu kembali tersedu.
Hal itu, sontak membuat Aufar mendekat kembali dan berusaha menenangkan sang istri yang semakin lama semakin histeris.
"Sayang, tolong jangan menyalahkan dirimu sendiri. Ini murni kecerobohanku, kamu boleh menghukumku." Urai Aufar dengan paniknya.
Mendengar kalimat itu, Alia sontak membuka kedua mata yang tadinya terpejam. Lalu kembali menjauhkan dirinya dari jangkauan sang suami.
"Aku butuh waktu, Mas.." Berdiri di sisi ranjang yang tadinya akan membuatnya mengistirahatkan diri dari penatnya perjalanan.
Namun, bukannya tidur lelap, ia malah harus dihadapkan dengan luka yang disirami air garam. Perih, sangatlah perih. Wanita mana yang mampu menahan emosinya ketika melihat kenyataan bahwa suaminya telah meniduri wanita lain dengan sangat naturalnya? Akankah Alia percaya jika Aufar membela diri dan mengatakan bahwa dia melakukan hal itu di bawah pengaruh obat? Tidak. Tidak ada gunanya, karena apapun yang akan Aufar katakan saat ini, hanya akan semakin menyakiti perasaannya.
"Aku butuh waktu, Mas.." Ia mengulangi kalimatnya lalu berbalik badan dan menuju pintu keluar.
Namun Aufar tak tinggal diam, ia melompat dari atas ranjang dan menarik lengan sang istri sehingga membuat tubuh Alia menabrak tubuh atletisnya.
"Sayang..kamu boleh hukum Aku apa aja, but please jangan pergi!" Menatap wajah yang telah bersimbah air mata itu dengan penuh harap. Ia berharap Alia tidak akan pergi meninggalkannya.
"I said, I need time. Aku tidak bisa berpikir jernih, jika aku berada di apartemen ini." Menarik tubuhnya menjauh dari Aufar dan berbalik arah untuk meneruskan niatnya.
Sekali lagi Aufar merasa ditolak telak. Memori perpisahannya tahun lalu, kembali terngiang di klise kenangan pahitnya. Ia merasa dejavu. Namun lelaki itu cepat tersadar dan kembali meraih tangan Alia. Namun wanita itu tak memperdulikannya dan terus berontak.
"Jika kamu tidak ingin aku memutuskan hubungan ini sekarang juga, tolong biarkan aku pergi." Ancam Alia tanpa menoleh sama sekali.
Tentu saja kalimat itu membuat Aufar bergidik dan refleks melepaskan genggaman tangannya.
Flashback End
Bersambung..