
"Cewek itu sebenarnya....." Husna menggantungkan kalimatnya. Ia memandang sejenak ke arah Jimmy seolah meminta izin untuk menyampaikan kebenarannya, lalu lelaki itu mengangguk pelan tanda menyetujui.
"Cewek itu sebenarnya siapa, Na?" Desak Delfia semakin penasaran. Kedua tangannya telah mendarat sempurna di kedua pundak Husna dan menggoyangnya sehingga membuat tubuh Husna terguncang pelan.
"Sebenarnya cewek yang biasa pergi ama Mr. Berry itu.........sodara kembarnya, Fi." Tutur Husna sambil tertunduk cengengesan. Ia menggangruk-garuk topi yang selalu menutupi puncak kepalanya.
Flashback
Jimmy bertolak dari rumahnya menuju kediaman Husna. Sore itu mereka berniat untuk menemui Delfia di sebuah cafe yang tidak terlalu jauh dari tempat tinggal si tomboi. Tujuan awalnya hanya ingin nongkrong bareng sambil mengerjakan tugas kuliah. Sementara Jimmy, dia sudah beberapa kali bertemu Delfia. Walaupun tidak terlalu banyak berkomunikasi, namun sikap manja dan kocak Delfia terkadang berhasil membuatnya hanyut dalam tawa bersama.
"Lama banget sih lu, kek liliput." Cebik Husna ketika mendudukkan tubuhnya di jok belakang mobil Jimmy.
"Enak aja lu duduk di belakang, emang gw sopir pribadi? Pindah depan lu..!" Seloroh Jimmy dengan menatap tajam Husna dari kaca spion di depan wajahnya.
"Bawel lu.." Walaupun terlihat kesal, namun gadis tomboi itu mematuhi perkataan Jimmy, lalu ia berpindah ke jok depan tepat di samping Jimmy.
Raut masam di wajah Husna tak lagi bisa ditutupi, bahkan dia tak segan-segan melototi Jimmy yang sedang menyeringai ke arahnya sambil menenggak air mineral kemasan.
"Gua ajak si Berry." Menginjak pedal gas sehingga kendaraan roda empat itu mulai melenggang dari pekarangan rumah Husna.
"What? Elu gila yak? Ngajakin laki orang nongkrong ama para jomblo." Menghadap sempurna ke arah Jimmy dengan tatapan tidak suka.
"Siapa yang elu maksud laki orang?" Jimmy menyipitkan kedua bola matanya menagih jawaban yang ia sendiri hampir tidak percaya dengan hal itu.
"Ya Mr. Berry, siape lagi?" Respon Husna, tatapannya fokus ke depan sedangkan kedua tangan terlipat di depan dadanya. Kesal.
Sumpah demi apapun Jimmy sontak tergelak mendengar jawaban dari Husna. Ia tertawa terbahak-bahak hingga kedua ekor matanya basah karena air mata. Saking terhibur dan konyolnya jawaban yang ia dengar dari teman barunya yang tomboi itu.
"Sejak kapan Berry punya bini?" Gelak tawa Jimmy masih terdengar hingga sekujur tubuhnya tampak terguncang hebat.
Husna yang mendengar penuturan itu lantas terperangah dan menatap Jimmy penuh selidik.
"Jadi cewek yang biasa pergi ame dia itu siape kalo bukan bininye? Mereka serumah loh, Jim. Jan ngadi-ngadi lu..!" Husna masih sepenuhnya tidak mempercayai titah si Jimmy. Menurutnya, bisa saja Jimmy bersekongkol dengan dosennya itu agar bisa mengecoh dirinya dan Delfia.
"Emangnya elu punya bukti, hah?" Tantang si Jimmy tapi bukan Jimmy Newtron.
"Gue punya fotonya, bentar.." Husna merogoh ponselnya yang tersimpan di dalam saku tas selempang yang tersampir dibahunya.
"Nih.." Menyodorkan benda pipih berlayar 6 inci itu ke hadapan Jimmy.
"Ini cewek yang sering kita temuin bareng Mr. Berry." Jelas Husna dengan penuh keyakinan.
"Pffffft...." Jimmy kembali tergelak.
"Itu sodara kembarnya wooi," lanjutnya. Sebelah punggung tangannya menutupi mulut, menahan tawa. Ia tak habis pikir sifat terburu-buru yang dimiliki Husna selalu saja membuatnya salah menilai orang lain.
Bagaimana tidak? Di awal pertemuannya dengan Jimmy saja, bisa-bisanya ia menuduh Jimmy sebagai mantan kekasih Alia. Ngaco sekali bukan? Namun hal itu lumayan menjadi hiburan baginya.
"Makanya, don't judge the book by the cover! Elu harus research dan kumpulin data dulu sebelum narik kesimpulan." Menoyor kening Husna sambil terkekeh kecil.
Husna yang merasa telah salah kaprah, hanya bisa cengengesan dengan raut wajah malu. Kemudian memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas.
"Pan kaga ada sumber yang terpercaya, Jimmy Newtron, hehehe." Kelakar si Husna tak mau kalah. "Tapi elu yakin itu beneran kembarannya Mr. Berry?" Sekali lagi Husna mencoba mengonfirmasi.
"Yaelaah, elu liatin aja itu wajah mereka kek pinang dibelah dua gitu. Masih aja ragu?" Jimmy menginjak pedal remnya mendadak sehingga tubuh Husna terlonjak ke depan.
"Apa-apaan sih lu? Bisa nyetir kaga sih?" Husna memegang kening yang terbentur dashboard mobil yang berada di hadapannya.
"Maksud lu cerita apaan?" Husna tak kalah menatapnya dengan melotot ria.
"Kenapa elu kepo banget masalah si Berry? Jangan bilang kalo elu kesemsem ama dosen sendiri?" Cerca Jimmy tanpa berpikir panjang.
"Enak aja lu, Delfia noh..kesian gue ama dia. Keknya dia beneran suka deh ame sahabat lu itu." Jelas Husna tak terlalu lebar.
"Oh.." Jimmy melajukan mobilnya kembali membelah padatnya jalan Ibu Kota di sore hari, menuju cafe dimana tempat Delfia berada.
Flashback Off
Senyuman Delfia mengembang pesat setelah mendengar cerita dari Husna. Fakta manis ini sungguh sangat membahagiakan sanubarinya. Sosok yang selama ini ia sukai ternyata bukanlah suami orang lain. Bagaimana caranya mengekspresikan bahwa dirinya begitu bahagia? Sungguh ia sangat ingin berjingkrak ria di hadapan Husna, namun merasa tidak enak hati karena keberadaan Jimmy. Akhirnya ia hanya bisa menghapus jejak air pilunya yang tertumpah karena kesalahfahaman saja.
Melihat hal itu, Jimmy sontak berjalan mendekati keduanya. Lalu menunjuk ke arah pintu cafe. Delfia dan Husna sontak menoleh mengikuti arah telunjuk Jimmy.
Di depan pintu masuk cafe, tampak seonggok daging bernyawa berambut kuning sebahu dengan senyuman tipis namun sangat memukau. Berdiri tegap dengan kedua tangan menelusup ke dalam saku celana yang ia kenakan.
Senyuman Delfia semakin mengembang disaat lelaki itu melambaikan tangan ke arahnya sambil tersenyum khas penuh pesona. Sumpah demi apapun jantung Delfia semakin bertabu-tabu melihat senyuman itu. Berasa ini seolah mimpi yang terlihat sangat nyata. Efek teramat bahagia.
Husna mendorong tubuh sang sahabat sehingga Delfia maju beberapa langkah ke depan. Kedua tungkainya melangkah penuh bunga-bunga. Ketika sampai di hadapan Mr. Berry, ia menyambut uluran tangan sang dosen pujaan hati dengan tetap tertunduk malu tapi mau.
"Aku suka.."
"Hah?" Delfia mendongak dengan wajah konyol.
"Aku suka liat kamu senyum. Please jangan nangis lagi."
Mr. Berry menyentuh sekilas lesung pipi dalam milik Delfia. Membuat tatapan keduanya bertemu dan bertaut. Lama mereka hanyut dalam posisi itu sehingga Delfia terlebih dahulu menurunkan pandangannya dalam senyum karena pipinya mulai memanas.
"So.." Tutur Mr. Berry memecah kecanggungan.
"What?" Respon Delfia dengan mendongakkan wajahnya kembali.
"Udah..nikah aja." Celetuk Jimmy setengah berteriak. Ia kembali terkekeh ketika melihat wajah jomblo yang tersiksa di sampingnya.
Lantas keduanya serentak menoleh ke arah Jimmy dan Husna dengan acungan jempol dari Mr. Berry.
"Baper itu menyiksa ya, Na?"
"Ape sih lu? Gua pantang baper."
"Aaaah gengsi lu.."
"Elu juga jomblo pan?"
"Enak aja, gua punya sosok idaman tau."
"Idaman yang kaga bisa dimiliki pasti."
DEG
Kalimat Husna benar-benar menyekak tenggorokan Jimmy sehingga sontak kering kerontang bagaikan berada di tengah padang pasir yang amat tandus.
Benar kata Husna. Alia adalah sosok idaman yang memang tidak bisa ia miliki dengan cara baik-baik. Namun Jimmy telah bertekad dengan mantap jiwa. Jika suatu saat Alia tak lagi bahagia bersama Aufar, maka disitulah ia akan bertindak.
Bersambung..