I Love You Till Jannah

I Love You Till Jannah
S2 Sahabat Kocak



Hari ini adalah hari yang ditunggu-tunggu oleh Alia. Sabtu ceria yang mempertemukan ia kembali dengan teman-teman kampusnya yang super kece dan kocak.


Ada yang berbeda hari ini, Alia berangkat ke kampus tidak diantar oleh Jimmy, melainkan Aufar sendiri yang mengantarkannya sampai di gerbang kampus kebanggaan.


Ketika mobil yang Aufar kendarai tiba di tempat tujuan, Aufar membuka sabuk pengamannya, lalu keluar dari mobil untuk membukakan pintu untuk Alia. Membuat Alia klepek-klepek dengan perlakuan suaminya pagi ini.


Sejak bangun tidur subuh tadi, Aufar bersikap lebih romantis. Bukan berarti selama mereka bersama laki-laki itu tidak memperlakukan Alia dengan manis, namun hari ini tingkat ke romantisannya benar-benar naik sampai pada taraf bucin yang biasa Alia dengar dari teman-temannya.


Pagi ini Aufar menyiapkan air panas untuk Alia mandi, memasak sarapan lezat untuk mereka berdua, bahkan Aufar menyempatkan diri untuk mengantar Alia ke kampus terlebih dahulu sebelum berangkat ke rumah sakit, yang tidak pernah ia lakukan sebelumnya.


Ada apakah dengan hari ini?


Alia menyembulkan tubuhnya keluar dari mobil ketika Aufar membukakan pintu.


"Silakan, Mrs. Anggara.." Aufar membungkukkan badannya dengan sebelah tangan di atas dadanya. Seperti tindakan seorang pelayan kerajaan yang mempersilakan Sang Putri yang baru saja turun dari kereta kencana.


"Emmm how sweet.."


Alia mentowel mesra sebelah pipi Aufar seraya tersenyum haru dan bahagia. Sumpah demi apapun, hari ini hari yang sangat membahagiakan baginya. Padahal menurut Alia, ia hanya melakukan jurus menumbuk racikan bumbu dapur yang resepnya ia temukan di gugel itu, tadi malam. Namun ia tidak menyangka, hal itu bisa berpengaruh besar bagi mood suaminya hari ini. Alia mulai berpikir, bagaimana jika ia memberikan hal yang semestinya Aufar dapatkan? Wah, seperti apa tingkah bucin selanjutnya yang akan Aufar lakukan untuknya? Emm..pasti akan lebih membahagiakan baginya.


"Best of luck for today, Sayang. Jika sudah selesai, hubungi saja aku, aku kan menjemputmu. Sekarang, aku berangkat dulu ya.." Aufar mengecup singkat kening Alia setelah wanita itu mencium punggung tangannya.


Kemudian ia meminta Alia untuk masuk ke kampus terlebih dahulu, sebelum akhirnya ia melajukan kembali kendaraannya menuju rumah sakit. Walaupun letak kampus Alia berlawanan arah dengan tempat kerjanya, Aufar sengaja menyempatkan diri untuk sekedar menyenangkan hati sang istri. Ya, benar sekali! Selama ini, kemana-mana Alia selalu diantar oleh Jimmy. Dokter muda itu terkadang merasa tidak enak hati, kalau-kalau Alia akan merasa bahwa suaminya tidak peduli kepada dirinya.


Lagipula menurut laporan yang ia terima dari Syifa melalui aplikasi hijau bulatnya, tidak banyak pasien yang akan menemuinya hari ini. Jadi, sudah bisa dipastikan bahwa Aufar juga bisa menjemput Alia pulang dari kampusnya hari ini.


"Ehm..ehm..Ada yang dianterin kuliah ama cowok baru nih, ganteng lagi. Yang biasa kemana bu? Udah gitu pake ritual kecup kening segala. Duuuuh adem liatnya." Ejek Husna ketika Alia tiba di kelas mereka.


"Seriously? elu kagak boong kan, Na'? Waaah...enak banget sih idup lu, Al. Dikelilingi ama cowok ganteng, bagi atu napa? Kagak kesian lu ama gue yang hidup ngejomblo udah berabad-abad?" Cerocos Delfia yang sifat bapernya tidak kaleng-kaleng.


"Eh cokelat batangan! Biasa aja kale ngomongnya. Kagak usah bawa-bawa efek bavvvveeeer lu itu. Dasar lebay bin alay lu." Cebik Husna yang sifatnya lebih tomboi dari yang tomboi.


"Apaan sih lu Na', sirik ajeee. Bilang aja lu juga udah bosen ngejomblo kan? Trus mau juga dapat sedekahan cowok ganteng dari Alia, weeeek😛." Sahut Delfia yang tidak terima dengan celetukan si Husna.


"Iiiih lu tu yeee, sini deh gue toyor pake sodet." Husna mengarahkan tangannya ke Delfia, berusaha menggapai kain kerudung yang dipakai gadis itu. Namun gadis ceria berlesung pipi dalam itu berhasil mengelak dengan jurus kanuragan amatir kebanggaannya.


"Enggak kena, enggak kena, wkwkwkwk..." Husna bersungut kesal karena gagal memberi pelajaran pada sahabat kesayangannya yang cerewet luar biasa itu.


"Elu tu......" Kalimat Husna terpotong oleh suara Alia.


"Udah-udah, kalian berdua apa-apaan sih? Pagi-pagi udah bikin ribut aja. Makin sakit nih perutku dengerin ocehan kalian." Pangkas Alia di sela-sela candaan kedua teman barunya.


"Elu sakit, Al? Kenapa maksain ke kampus?" Tanya Delfia yang wajahnya berubah ekspresi 180 derajat berbanding terbalik dengan sebelumnya. Khawatir, itulah kesimpulannya.


"Iya, elu kenapa, Al?" Sela Husna.


Walaupun penampilan gadis ini terlihat tomboi bin oboi, namun jiwa kewanitaannya masih sangat lekat di wajah orientalnya. Jika diperhatikan, sebenarnya Husna terlihat lebih manis dibanding Delfia, hanya saja kelembutan sifat Delfia membuatnya terlihat lebih anggun. Wajar saja, Delfia punya daya tarik yang tidak dimiliki oleh Husna, yaitu lesung pipi dalam dan kelembutan.


Alia terbilang masih baru mengenal keduanya, namun ia merasa dua sosok ini berhasil mencuri perhatiannya dibanding teman-teman yang lain. Canda tawa hangat, dan kekocakan yang klop sekali dari keduanya membuat Alia sangat betah dan senang berteman dengan mereka.


Ketika sedang asyik berbincang-bincang ria, seorang dosen pria muda tampak masuk ke dalam kelas mereka. Seketika itu juga membuat ruangan kelas yang awalnya ribut menjadi hening. Semua mata terpana, terpesona, bahkan terhipnotis melihat ketampanan pria yang tergolong sangat muda untuk menyandang profesi itu. Tak terkecuali Husna dan Delfia.


"Good morning, everybody.." Sapa si Dosen Muda sambil tersenyum hangat.


"Morning, Sir.." Jawab mereka serentak.


"Duuuuh ketampanannya semakin meningkat karena senyuman maut itu." Delfia memekik pelan di telinga Husna.


"Diem enggak lu, bawel. Dia udah punya bini!" Husna melototi Delfia semakin geram.


"Hah? Yang bener aja lu, Na'? Elu tau darimane?" Delfia tidak bisa mengontrol suaranya sehingga terdengar membahana seantero kelas yang berukuran 6x7 meter itu.


Seketika itu juga semua mata tertuju kepada mereka berdua, tak terkecuali si Dosen.


"Kalian apa-apaan sih? Fia, kamu juga. Ngapain teriak-teriak?" Bisik Alia di balik kerudung yang Delfia kenakan. Delfia mematung kikuk sedangkan Husna hanya bisa menepuk keningnya.


"Is there something wrong, guys?" Tanya si Dosen kepada Husna dan Delfia.


"N..no..no, Sir. Nothing's wrong. I'm so sorry for disturbing you. Please continue.."


Husna mencoba menjawab dibalik sikap mematungnya Delfia. Bibir gadis itu seketika menjadi kelu entah mengapa? Namun pandangannya tetap lurus fokus kepada Sang Dosen yang mungkin ke depannya akan menjadi idolanya itu.


"Alright everybody. Let me introduce myself." Dosen muda itu menulis dua kata di papan tulis dengan spidol tidak permanen yang sudah tersedia di meja.


"Herdian Berry.." Lolos. Rantai yang membelenggu bibir Delfia sepertinya sudah terlepas, sehingga ia bisa dengan lancar membaca tulisan di papan tulis tanpa hambatan dan nada terbata. Lengkungan tipis terbentuk di bibir manisnya.


"That's my name. If you guys have another questions, please.." Ucap Mr. Berry dengan tegas.


"Phone number, Sir." Celetuk salah satu dari mahasiswi yang lain.


Tentu saja, sikap barbar dari setiap mahasiswi selalu berhasil membuatnya tersenyum. Apalagi ini bukanlah untuk yang pertama kalinya dimintai nomor ponsel oleh mahasiswa/mahasiswinya.


Tanpa disangka-sangka, Dosen muda yang bermata sipit dan berambut kuning itu menuliskan dua belas digit di papan tulis.


"Anything else?" Tanyanya lagi.


Perkenalan singkat itu berakhir dengan gelak tawa dari semua anggota kelas karena berbagai pertanyaan konyol yang diajukan oleh mahasiswi-mahasiswi kepo. Namun tidak dengan Delfia. Gadis itu terlihat lebih kalem dari sebelumnya. Belum pernah ia merasakan desiran deras yang mengalir di dalam dadanya seperti saat ia melihat Mr. Berry untuk pertama kalinya.


Bertahun-tahun hidup dalam kesendirian tanpa adanya sosok laki-laki yang berhasil memikat hatinya, membuatnya merasa sedang berada di dunia lain setelah bertemu dengan sosok Mr. Berry.


Ada apa dengan Dosen Muda itu? Apakah ia termasuk dalam tipe yang Delfia idamkan selama ini? Bagaimana jika Mr. Berry sudah berkeluarga? Tak terbayangkan betapa hancur hatinya. Jika benih cinta pada pandangan pertama yang baru sebesar biji kecambah itu, harus mati sia-sia sebelum sempat berkembang.


Bersambung..