
Lampu jalan masih setia menerangi sepanjang perjalanan yang dilalui mobil Kak Urai. Tidak ada yang berani memulai pembicaraan. Alia menatap ke luar jendela, sedangkan Kak Urai masih fokus pada kemudinya. Namun sesekali ekor matanya melirik gadis ceria yang tiba-tiba murung itu.
Kak Urai melirik jam tangannya, menunjukkan pukul 20.00 WIB. Masih terlalu sore untuk kembali ke hotel dan tidur. Sekali lagi ia melirik ke arah gadis 18 tahunnya itu. Namun Alia masih tak bergeming dari posisi semula. Kak Urai memberanikan diri memulai percakapan.
"Alia..Pria tadi..." Belum selesai Kak Urai berbicara, Alia sudah menginterupsinya.
"Teman, dia temanku tempo hari yang tidak sengaja bertemu dengan Kakak di depan kontrakan." Alia memandang Kak Urai sambil tersenyum.
"Ternyata dia tidak menangis dan masih menutupi hubungan mereka," batin Kak Urai.
"Oh, iya aku ingat." Kak Urai memacu mobilnya dengan kecepatan sedang. Ingin rasanya ia bertanya lebih lanjut, namun ia urungkan.
"Kita mau kemana, Kak?" Tanya Alia yang melihat jalur yang mereka lewati bukanlah jalur menuju rumah kontrakannya.
"Sepertinya kamu perlu tempat untuk menenangkan pikiran." Jawab Kak Urai tersenyum simpul karena sudah menemukan ide tempat yang akan mereka tuju.
Sepuluh menit kemudian mobil Kak Urai berhenti di sebuah lapangan luas yang memang disediakan untuk memarkir kendaraan. Alia bisa melihat banyak sekali mobil dan motor yang terparkir disana.
Alia mengalihkan pandangannya pada Kak Urai. "Tempat apa ini, Kak?"
"Nanti juga kamu akan tahu. Aku yakin kamu pasti suka." Kak Urai membuka sabuk pengamannya, begitu juga dengan Alia.
Mereka keluar dari mobil bersamaan. Setelah memastikan pintu mobilnya terkunci, Kak Urai mengajak Alia berjalan melalui jalan setapak. Alia mengekori Kak Urai sambil mengamati keadaan di sekitar.
Selama di Kota ini, Alia tidak pernah sama sekali menginjakkan kaki ke tempat ini. Tempatnya terlihat sangat sepi. Terdapat banyak rumah penduduk yang tersusun rapat, namun seperti tidak ada tanda-tanda kehidupan disitu. Bulu kuduk Alia mulai merinding. Ia menatap punggung Kak Urai yang berjalan mendahuluinya.
"Ini Kak Urai atau demit ya?" Batin Alia. ia menggaruk-garuk tengkuknya dan menggosok-gosok lengannya dengan maksud mengusir rasa takut yang menggerogotinya.
"Kak...kita mau kemana?" Lagi-lagi Alia bertanya.
"Ikuti saja.." Suara Kak Urai terdengar dingin di telinga Alia. "Apa ini cuma halusinasiku saja?" Gumam Alia.
Setelah sampai di ujung setapak, Alia sangat takjub. Terlihat banyak cafe terapung di sana. Semua cafe didesign serupa untuk menambah nilai estetikanya.
Lampu kelap-kelip berwarna-warni menghiasi setiap sisi cafe. Ditambah lagi pemandangan Jembatan Sungai Kapuas dengan lampu hiasnya, menambah keindahan yang menghipnotis pandangan Alia.
"So beautiful.." Alia berkata lirih namun Kak Urai masih bisa mendengarnya.
"Sudah ku duga kamu pasti menyukai ini. Ayo.." Kak Urai menarik tangan Alia. Sambil berjalan Alia tidak sedikitpun mengalihkan perhatiannya dari tempat yang dianggapnya surga itu. Sungguh menenangkan.
Mereka memilih salah satu cafe untuk bersantai. Kak Urai memesan dua gelas jus alpukat kesukaan mereka. Ups, sebenarnya kesukaan Alia. Namun sejak mengenal Alia Kak Urai mencoba menyukai semua kesukaan pujaan hatinya itu termasuk makanan dan minuman yang ia sukai.
Seorang pelayan meletakkan pesanan mereka lengkap dengan sepiring nasi goreng seafood special kesukaan Alia.
Kak Urai menyodorkan satu gelas jus dan sepiring nasi goreng itu kepada Alia. Alia melirik Kak Urai seakan bertanya "mengapa?".
"Aku tahu kamu belum makan. Bukannya tadi kamu meninggalkan restoran sebelum menyentuh makanannya?" Pertanyaan Kak Urai membuat pikiran Alia yang sudah tenang kembali berkabut.
Ia kembali memikirkan bagaimana nasib Aufar di sana? Apakah ia bisa pulang dengan membayar semua tagihan bill nya? Atau mungkin harus mencuci piring bekas makanan semua pelanggan yang datang? Ah, kasian Aufar.
"Apakah aku keterlaluan meninggalkannya begitu saja?" Alia mulai menyalahkan dirinya. Pasalnya ia tidak berniat melakukan hal itu. Namun kekecewaannya kepada Aufar membuat sifat labilnya timbul kepermukaan.
"Kamu makan dulu ya..." Ucapan Kak Urai membuyarkan lamunan Alia.
Sebenarnya Alia enggan menyantap makanan di hadapannya. Namun karena ia ingin menghargai Kak Urai, ia terpaksa menghabiskan makanan favoritnya itu.
Setelah memastikan Alia sudah menghabiskan makanannya, Kak Urai memulai misinya.
Selain bertemu dengan koleganya, kedatangan Kak Urai ke kota itu juga untuk melajukan rencana yang sudah ia susun untuk merebut hati Alia kembali.
"Al...boleh aku bertanya?"
"Kakak mau nanyain soal pria tadi ya?" Terka Alia.
"Kok tahu?"
"Mau nanya apa, Kak?" Alia menyesap manisnya perpaduan rasa buah alpukat dan susu coklat di hadapannya. Ia mencoba menutupi kekecewaannya. Walaupun hati dan pikirannya tertuju pada Aufar tapi ia tidak ingin Kak Urai mengetahuinya.
"Namanya Aufar Kak, aku mengenalnya di kapal yang rombongan Kongres tumpangi tempo hari."
"Apa pekerjaannya?" Lanjut Kak Urai.
"Apa Kak Selvia tidak mengatakan tentang hal ini kepada Kakak?" Selidik Alia.
"Tidak pernah," Kak Urai berbohong. Pasalnya ia ingin mendengarnya langsung dari bibir Alia.
"Dia seorang ABK, Kak.." Alia rasanya tidak ingin lagi melanjutkan percakapan ini. Ia takut akan keceplosan tentang hubungannya dengan Aufar yang sebenarnya.
"Jika kamu tidak keberatan, aku ingin menanyakan satu pertanyaan lagi." Kak Urai ragu, namun ia masih berharap jika Alia mau menjawabnya.
"Silakan, Kak..."
"Apa kalian punya hubungan special? Maksudku lebih dari seorang teman?" Kak Urai menatap manik mata bulat nan hitam pekat itu. Berharap Alia akan jujur tentang semuanya.
"Kak, sebenarnya, aku dan Aufar..." Suara Alia tercekat. Ia tidak boleh goyah. Tameng yang sudah ia pasang tidak boleh runtuh. Memang Kak Urai adalah sosok yang baik untuknya selama ini. Namun untuk hal pribadi seperti ini Alia tidak ingin berbagi. Apalagi hal ini akan sangat menyakiti hati Kak Urai.
"Kami benar-benar hanya sebatas teman Kak, nggak lebih." Kak Urai sudah tidak bisa lagi memaksa Alia untuk terbuka. Terpaksa ia harus melancarkan misinya.
"Ambil map ini! Kamu bisa mempelajarinya setelah sampai di rumah nanti." Kak Urai menyerahkan map berwarna biru kepada Alia.
***
Wajah Aufar masih memerah menahan amarah dan cemburu yang belum kunjung pergi dari dirinya. Ia mengepal tangannya sekuat tenaga, mencoba melepaskan emosinya. Namun tidak bisa. Ia beranjak dari duduknya dan membayar bill yang sebelumnya ia minta.
Aufar melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Ia harus menyusul Alia. Ia tidak ingin masalah kecil ini berkepanjangan dan bertransformasi menjadi masalah besar.
Sepanjang perjalanan ia mencoba menghubungi ponsel Alia berkali-kali namun di luar jangkauan. Fix, tujuan satu-satunya adalah rumah kontrakan Alia.
Saat tiba disana, Aufar mengetuk pintu rumah dengan sopan berharap Alia yang membukakan pintu. Namun harapannya pupus setelah Isni mengatakan bahwa Alia belum kembali sejak tadi pergi bersamanya.
Perasaan Aufar semakin kacau. Pasalnya Alia pergi bersama laki-laki lain. Apalagi ia tidak mengenal laki-laki itu. Baikkah dia? Yakinkah Alia aman bersamanya? Aufar berdecak frustasi. "Kemana laki-laki itu membawamu, sayang? Aku sangat mengkhawatirkanmu." Aufar masuk kedalam mobil dan memacu kendaraanya menuju kediaman sahabatnya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Maaf cuma bisa update satu bab ya gengs🙏 InsyaAllah besok dua bab yah💞
jempol jangan lupa digoyang🤭