I Love You Till Jannah

I Love You Till Jannah
S2 Menarik Perhatian



Februari 2015


Gedung megah berpoles warna kuning dan dekorasi khas pernikahan tampak sangat indah dan teduh dipandang mata. Janur kuning yang melengkung menyisi di sebelah kiri pintu gerbang menambah jiwa para jomblo yang berlalu lalang meronta-ronta menagih kemerdekaan. Kemerdekaan dari kesendirian pastinya.


Resepsi kali ini bertema simple namun cukup elegan, Isni dan Kak Urai juga tidak ingin menggelar resepsi yang terlalu mencolok. Isni hanya menggunakan gaun selutut dengan sedikit kain yang terjuntai di lengannya. Sedangkan Kak Urai mengenakan setelah jas hitam tanpa dasi. Sangat sederhana.


Kedua mempelai sepakat bahwa mereka tidak ingin duduk anteng di pelaminan selama resepsi berlangsung, seperti pengantin pada umumnya. Namun mereka ingin membaur bersama para undangan bak sedang menjamu mereka di kediaman sendiri. Bagi keduanya duduk berdua di pelaminan akan terasa sangat membosankan dan kikuk.


Keluarga dari kedua mempelai pun terlihat mengenakan pakaian yang sederhana, namun tetap terlihat seragam. Mereka menyambut para tamu undangan yang satu per satu mulai memasuki gedung serba guna sore itu.


Dari pintu tampak Pak Harry dan Ibu Nana melenggang masuk tanpa sosok si Alan. Sepertinya anak itu tidak ingin terlibat dalam acara yang baginya sangat membosankan. Pak Harry dan Ibu Nana langsung menghampiri Kak Urai dan Isni yang sedari tadi telah memasang wajah sumringah ke arah mereka.


"Selamat ya, Bos." Ayah dari Zalia Alianti itu menjabat tangan Kak Urai sembari menepuk pundaknya.


Si Raja dalam acara ini lantas menyambut tangan sahabatnya itu sambil tersenyum kecut, "makasih, Pak." Ada kejanggalan di hatinya ketika mendengar ucapan dari lelaki setengah baya yang telah gagal menjadi mertuanya itu.


Pak Harry yang mengerti dengan bahasa mata Kak Urai, lantas mendekatkan wajahnya ke telinga lelaki yang telah menjadi suami Isni itu. "Yang ikhlas, bro..istrimu tak kalah baiknya dari putriku," bisik Pak Harry. Lalu menarik tubuhnya dan mencoba tersenyum menguatkan.


"InsyaAllah, Pak." Kak Urai menganggukkan kepalanya sembari tersenyum.


Ibu Nana yang sedari tadi berbicara dengan Isni, hanya bisa melirik sedikit ke arah Kak Urai dan suaminya. Ada rasa haru bercampur kasian kepada sosok yang selama ini teramat baik kepada putri dan keluarga mereka.


"Isni sudah bertemu Alia belum?" Tanya Ibu Nana, memegang sebelah pundak gadis yang seumuran dengan putrinya itu. Ia mencoba mengalihkan perhatiannya dari perasaan iba terhadap Kak Urai. Wanita paruh baya ini, bisa mengerti dan merasakan bagaimana perasaan gamang lelaki yang pernah melamar anak gadisnya itu.


"Sudah, Tante. Tadi pagi Alia dan Kak Aufar hadir kok pas ijab qobul." Tersenyum merekah tampak sangat bahagia.


"Syukurlah.." Respon singkat dari Ibu Nana.


"Tapi sampai jam segini kok Alia belum datang ya, Tan? Padahal tadi dia bilang bakalan datang lebih awal. Para tamu juga sudah banyak yang hadir." Menunjukkan wajah yang seketika berubah menjadi resah.


"Mungkin masih di jalan, Sayang. Kamu yang relax dong. Jangan cemberut gitu. Masa' pengantinnya cemberut. Oya, Tante ketemu Mamah kamu dulu ya.." Ibu Nana mengusap lembut pipi Isni, lalu berbalik arah menjauh darinya.


Kak Urai yang menangkap ekspresi resah sang istri, lantas meninggalkan Pak Harry bersama beberapa tamu yang lainnya dan menghampiri Isni yang hanya berjarak dua meter darinya. "Kenapa?" Menggenggam kedua tangan Isni yang terasa amat dingin.


"Enggak papa kok, Kak. Aku cuma lagi nungguin Alia." Desiran deras mengalir di dalam dada Kak Urai ketika Isni mengutarakan nama wanita yang memang tertanam subur di dalam hatinya selama ini.


"Kenapa masih saja terasa sama?" Gumam Kak Urai di dalam hati.


Ketika keduanya masih asyik berbincang, pasukan Papa Fahri pun memasuki perut gedung. Mereka berempat memang tampak seperti pasangan selebriti. Papa Fahri menggandeng tangan Mama Yani, sedangkan Aufar yang mengangkat sedikit kepalanya congkak, menggandeng tangan sang istri tersayang dengan senyum merekah.


Sesuai yang telah direncanakan, tubuh mereka dibalut dengan dress code hasil rancangan dari seorang designer terkenal di Surabaya. Mama Yani memang selalu ingin semuanya terlihat sempurna. Termasuk dengan apa saja yang berkaitan dengan anak menantunya.


Dengan langkah gagah dan anggun mereka berjalan menghampiri sang empunya hajat dan mengucapkan selamat.


Kedua manik mata Kak Urai yang sedari tadi hanya fokus kepada Alia, hanya bisa menelan salivanya dengan susah payah. Ia segera menundukkan pandangannya, khawatir tidak bisa mengendalikan perasaannya sendiri. Sementara Isni, lebih fokus menyambut kedatangan sang sahabat tanpa menyadari perubahan raut wajah sang suami.


Padahal mereka sudah bertemu pagi tadi, namun tetap saja ajang pertemuan duo sahabat ini terlihat seperti orang yang sudah bertahun-tahun tidak saling bertatap muka. Apalagi sifat pecicilan dan petakilan yang dimiliki istri Urai Abdillah itu, semakin menambah kehebohan sehingga memecah seluruh ruangan.


"Aaah, biarkan saja saat ini dunia milik mereka berdua." Bisik Aufar kepada Kak Urai.


"Mereka memang begitu, bro. Sejak dahulu kala." Aufar tersentak mendengar respon dari lelaki yang pernah menjadi rivalnya itu.


"Memangnya mereka hidup sejak zaman purba?"


"Bukan Pak Dokter, tapi homo sapiens."


"Oh, pantesan sama-sama pecicilan."


"Tapi cinta kan?"


"Pasti dong," keduanya terdengar tertawa renyah diselingi beberapa kalimat penyambung canda.


Ketika langit senja telah berubah menjadi gelap, acara hiburan pun dimulai. Tampak seorang penyanyi wanita dengan long dress berwarna merah cabe tak berlengan meliuk-liukkan tubuhnya mengikuti irama musim yang sedang mengiringi syair demi syair lagu dangdut yang sedang ia dendangkan.


"Maaas," Alia mendekati Aufar tanpa mengalihkan perhatiannya dari wanita yang tengah beraksi di atas panggung mini di pojokan gedung paling depan.


"Kok aku enggak asing ya sama wanita itu, Mas ingat sesuatu enggak?" Semakin menajamkan pandangannya kepada penyanyi yang mulai menuruni panggung dan mengajak beberapa tamu undangan untuk ikut berjoget ria.


Aufar tersenyum lebar dan merangkul pundak sang istri. "Itukan Markonah, yang waktu itu datang ke resepsi kita dengan gaya tergopoh gopohnya." Mengarahkan sebelah tangannya yang sedang menggenggam sebuah sloki ke arah penyanyi yang gerakan tubuhnya semakin heboh itu.


"Markonah, Markonah, Markonah..?" Alia tampak berpikir keras namun memorinya tak kunjung menemukan klise yang bisa mengingatkannya pada wanita itu.


"Sudah, enggak perlu kamu pikirkan, Sayang. Palingan bentar lagi dia berubah wujud." Tutur Aufar sambil menenggak segelas wine berwarna merah pekat dengan tangan kanannya. Sedangkan tangan kirinya masih merangkul posesif tubuh sang istri.


"Dia kan hobi nangkring di pohon malem-malem." Respon Aufar santai seperti di pantai. Alia semakin bingung. Makhluk apakah wanita itu sehingga hobi nongkrong di pepohonan?


"Ma-maksud kamu kuntilanak?" Alia melongo hampir tak percaya dengan terkaannya sendiri. Wajahnya terlihat sangat konyol.


"Hem...apalagi?" Aufar tergelak melihat ekspresi wajah sang istri.


"Gimana ceritanya kuntilanak bisa berubah wujud jadi biduan dangdut sih, Mas? Kamu ngerjain aku kan, kan?" Alia mulai menggelitiki pinggang Aufar dengan gemas.


Aufar yang merasa geli mulai terkekeh sambil berusaha mengelak. "Iya iya..ampun, Sayang. Just kidding kok." Meraih kedua tangan sang istri ke dalam genggaman, dan mengecupnya dalam. Aksi Aufar itu membuat Alia tak bisa berkutik dan hanya tersenyum menahan malu.


"Ehem..ehem, sebenarnya yang lagi nikahan kalian atau kita sih?" Celetuk Isni yang bergelayut mesra di lengan Kak Urai.


Kedua pipi chubby Alia tampak semakin merona, di saat semua wajah tertuju kepada mereka. Namun Aufar dengan santainya merengkuh tubuh mungil itu ke dalam dekapannya. Aksinya itu mendapatkan apresiasi dan standing applause dari semua tamu undangan. Mereka bergerombol mengelilingi dua pasangan itu dan meninggalkan biduan dangdut tadi sendirian di lantai aksinya.


Poor Markonah..!


***


Malam semakin larut. Setelah berakhirnya acara resepsi pernikahan tadi, Kak Urai langsung membawa Isni ke salah satu hotel yang salah satu kamar mewahnya telah di sewa oleh Sang Mama sebagai kado pernikahan mereka. Awalnya Isni ingin menolak, namun Ibu Rana tak ingin menerima excuses apapun. Akhirnya di sinilah mereka berdua. Duduk di pinggiran ranjang dengan kaki berjuntai ke lantai. Pastinya dengan perasaan campur aduk dan suasana yang sembilan puluh persen terasa kikuk.


Hanya sisa sepuluh persen lagi, yang membuat Bu Author sendiri juga kebingungan. Akankah keduanya mau menghabiskan malam pengantin ini dengan aktifitas yang semestinya? Atau malah menghabiskan waktu malam hanya dengan tidur dengan bersalip punggung.


Ketika keduanya sedang sibuk dengan pikirannya masing-masing, tiba-tiba muncul enam kepala (anggap saja casper) dari sela-sela tirai jendela kamar hotel itu.


Kak Urai dan Isni sontak terperanjat dan saling memeluk satu sama lain. Sebenarnya bukan karena rasa takut, tetapi tepatnya karena terkejut. Untung saja jantung keduanya diciptakan oleh Dzat yang Maha Hebat, jika saja organ pemompa darah itu buatan manusia biasa, mungkin akan meloncat dari tempatnya begitu saja karena saking terkejutnya.


"Siapa kalian?" Tanya Kak Urai dengan sebelah alis terangkat ke atas. Kedua manik matanya bergantian memandangi wajah kamvret keenam kepala casper itu. Sementara Isni hanya bisa berpegangan erat pada lengan sang suami dengan ekspresi wajah ketakutan.


"Kami adalah santet kiriman dari..." Jawab Kepala pertama lengkap dengan make up sempurna bak wajah seorang model.


"Jan sebut-sebut namanya wooi..!" Sela kepala kedua berambut kuning dengan mata agak sipit.


"Eh kita ngapain sih ke sini?" Tanya kepala ketiga mirip sebuah kentang dengan wajah sok polos padahal isi kepalanya penuh dengan filosofi banana dan ajang sunat menyunat.


"Lupa lu mpok? Kita ke sini di suruh ngasi tips malam pertama tuh ama mereka berdua." Seloroh kepala keempat dengan senyuman masam. Wajahnya mirip sekali dengan biduan yang bernyanyi di acara resepsi tadi.


"Aku diam aku sosis." Sela kepala kelima lengkap dengan kerudung yang menutupi seluruh rambutnya.


"Ehem, ehem, buruan oooi..jadi ngasi tips kagak nih? Gua mau ngamen lagi pumpung ni ari kaga ujan." Kepala keenam angkat bicara dengan wajah datarnya namun suaranya terdengar sangat hangat dan indah. Sepertinya biasa turun naik panggung, bahkan menyusuri jalanan mengenalkan karya hebatnya.


Kak Urai dan Isni saling bertukar pandang. Bingung, pastinya. Bisa-bisanya mereka bergelut ria di atas misi rahasia. Tetapi bisa dipastikan bahwa kepala mereka terancam mengalami kebotakan dini jika sampai mendengar tips malam pertama dari kepala-kepala casper yang hanya berisi pisang, terong, sosis dan cabe-cabean ini.


"Siape yang mao ngasi tips duluan?" Tanya kepala keempat memulai misi.


"Gua.." Jawab Kepala kedua mengibaskan rambut kuningnya berkali-kali.


"Bentar gue kebelet boker, gue ke toilet dulu," tutur kepala pertama menginterupsi.


"Mau dibantu cebokin kagak?" Respon kepala ketiga yang mirip sebuah kentang.


"Woooi tungguin gue ikut ke toilet," kepala kelima mengekori sahabat ngomiknya itu.


"Yaelah..mending gue ngamen ajalah daripada bacot di sini." Kepala keenam seketika itu tenggelam dibalik tirai.


Kepala kedua, ketiga dan keempat saling beradu pandangan. Agaknya mereka memikirkan hal yang sama.


"Cabuuuuut...!" Ucap mereka serentak kemudian menghilang di telan tirai berwarna jingga yang tampak bergoyang-goyang.


Tingkah para kepala casper tadi sungguh menjadi hiburan dan menghangatkan suasana kikuk yang menyelimuti sepasang anak Adam yang telah sah menjadi suami istri ini. Mereka tertawa renyah sambil mengingat kekocakan intermezzo receh yang disuguhkan oleh Bu Author.


Perlahan tapi pasti, Kak Urai mengelus lembut pipi gembul Isni, lalu merangkumnya ke dalam genggaman. Pandangan keduanya saling bertemu, menilik dan menelusup ke dalam kornea masing-masing.


Tak ada bahasa lisan..


Tak ada lagi kecanggungan..


Hanya ada lenguhan dan *******..


Selamat berhalu ria bersama imajinasi kalian..


Bersambung...