I Love You Till Jannah

I Love You Till Jannah
Api Cemburu



"Ndri...lu dimana?"


"Di rumah bro, kenapa?"


"Gua OTW nih.."


Aufar melajukan mobilnya menuju kediaman Andri. Andri adalah salah satu sahabat Aufar yang tinggal di kota itu.


Begitu sampai di rumah Andri, Aufar langsung masuk dan menuju ke kamar sahabatnya itu.


Buuuuuk....


Aufar menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur dan memejamkan kedua matanya.


"Kenapa lu?" Tanya Andri yang sedang duduk di sofa kamar memangku laptopnya.


"Tau ah ndri...bingung gua." Aufar bangkit dari tidurnya dan duduk di tepi tempat tidur. Ia mengacak-ngacak rambutnya sambil menekan pelipis matanya.


Kebingungan karena tidak bisa menemukan Alia membuat kepalanya seperti mau pecah. Pasalnya sejak mengenal Alia, hubungan mereka baik-baik saja. Bahkan mereka tidak pernah bertengkar sedikitpun. Jadi, malam ini sungguh berasa petaka bagi Aufar.


Andri menutup barang pipih lebar itu dan meletakkannya di atas meja di samping tempat tidur. Ia menghampiri Aufar dan duduk di sampingnya.


"Ada masalah ama cewek itu?" Andri menepuk bahu Aufar.


"Hemmm..." Aufar hanya mampu berdehem. Aufar bahkan tak memiliki daya lagi untuk berbicara. Ia merasa sudah dekat dengan hal menakutkan yang selama ini ia bayangkan.


"Udah jujur tentang identitas lu?" Andri memicingkan matanya.


"Belum ndri, belum jujur aja gua udah nambah masalah baru. Gua pusing ndri, mana besok gua harus balik ke Jakarta. Tapi sampai saat ini gua juga belum nemuin dia."


Aufar menceritakan kronologi kejadian di restoran tadi. Andri mendengarkan dengan seksama. Sesekali Andri mengernyitkan dahinya karena merasa Aufar terlalu ceroboh.


"Ya udah, mendingan sekarang lu nginep disini aja. Kapalnya juga berangkat besok kan?"


"Nggak bisa ndri, gua ada jadwal piket ntar tengah malem. Lu bisa anterin gua ke pelabuhan sekarang?" Aufar menoleh ke arah Andri.


"Loh, terus mobil lu gimana?" Andri menaikkan satu alisnya.


"Biarin aja ama lu, kapan-kapan gua berkunjung lagi pas gua free. Lu jagain aja tu mobil dan pake aja kalo lu mau."


Aufar bangkit dari duduknya menuju kamar mandi yang berada di dalam kamar Andri. Ia berniat membasuh wajahnya. Membersihkan kotoran yang menempel di wajah tampannya.


"Alia pliiiis, pliiiis jangan tinggalin aku. Izinkan aku menjelaskan semuanya. Sebelum jarak benar-benar memisahkan kita." Aufar berbicara lirih dengan cermin yang berada di hadapannya.


Ketika sedang memandang pantulan wajahnya di cermin, ponsel Aufar berdering. Di rogohnya barang pipih yang ia simpan di saku celananya itu.


"Halo, Pa.."


"Dimana posisimu sekarang? "


"Aku masih di Pontianak Pa, ada apa? Tumben Papa nelpon malam-malam begini?"


"Papa minta tolong kamu ikut penerbangan paling awal besok ke Surabaya. Ada hal penting yang ingin Papa bicarakan."


"Tapi Pa..."


"Papa tidak ingin mendengar penolakan Aufar."


"Baiklah, Pa."


"Ya sudah, safe trip for tomorrow. See you.."


Aufar meraup wajahnya kasar. Belum juga menyelesaikan masalah pribadinya, Sang Papa malah memintanya kembali ke kota kelahirannya.


"Oh, No..apalagi ini.." Aufar berkacak pinggang dan mendongakkan wajahnya ke langit-langit.


"Alia...sayangku..dimana kamu?" Aufar kembali menghubungi ponsel Alia, tapi masih saja di luar jangkauan. Sepertinya Alia sengaja ingin menghindarinya.


Kemudian Aufar mencoba menghubungi Rizky. Ia mengatakan bahwa ia tidak bisa ikut perjalanan kapal esok hari karena ia harus kembali ke Surabaya. Setelah mendengar penjelasan dari Aufar akhirnya Rizky mengerti.


Setelah beberapa menit kemudian, Aufar keluar dari kamar mandi. Wajahnya terlihat semakin ditekuk. Andri yang melihat hal itu, spontan tergelak dan menggoda Aufar.


"Far..far...nggak nyangka aja gua seorang mahasiswi semester lima aja bisa bikin lu udah kayak seorang suami yang kehilangan istrinya,,haha."


"Ketawa aja lu puas-puas, dasar jomblo abadi." Aufar menepuk kepala Andri.


"Eits..jangan salah lu..gua bukan jomblo abadi tau." Andri membalas tepukan Aufar.


"Trus apa coba?" Aufar menaik-naikkan alisnya dengan wajah datar.


"Gini-gini gua udah punya gebetan tau."


"Aaah..elu punya gebetan aja bangga." Aufar kembali merebahkan tubuhnya di tempat tidur.


"Lah, daripada elu..ditinggalin pacar di restoran, kabur ama cowok lain lagi..hahaha"


Rasa cemburu kembali menguasainya. Ia bangkit dan meraih kontak mobilnya.


"Eh, mau kemana lu Far?"


"Gua pergi dulu, ntar gua balik lagi."


Aufar terus saja bergegas keluar dari rumah Andri dan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


***


Alia dan Kak Urai sedang berada di dalam mobil. Ia masih memegang erat map biru yang diterimanya dari Kak Urai tadi.


Wajah Alia terlihat jauh lebih tenang dari sebelumnya. Tidak sia-sia Kak Urai membawanya melihat air. Hobi Alia yang satu itu memang benar-benar ampuh sebagai obat penawar dari segala kegundahan hatinya.


"Should I take you home?" Tanya Kak Urai.


"Sure. It's almost midnight." Alia tersenyum ke arah Kak Urai.


"Kak, thank you for tonight by the way." Lanjut Alia.


"Anytime my love.." Kak Urai tersenyum hangat.


"Iiih apaan sih?" Alia mentowel lengan Kak Urai.


"Bukankah itu kenyataannya Al? Kamu aja yang nggak pernah menanggapinya serius." Kak Urai menatap lurus ke depan.


Alia tertunduk. Merasa tak enak hati. Untung saja mobil Kak Urai sudah sampai di halaman rumah kontrakannya. Kalau tidak suasana mencekam di dalam mobil bisa membuatnya beku karena kekikukan.


Kak Urai keluar mobil mengikuti Alia. Ia mengantar Alia sampai di depan pintu rumah.


"Alia tunggu.." Alia menghentikan langkahnya dan berbalik menghadap Kak Urai.


Kak Urai menatap hangat manik mata bulat pelipur laranya itu dan menggenggam salah satu tangan Alia karena tangan yang satunya lagi menimang map biru.


"Al...aku tidak akan membiarkan siapapun menyakitimu. Aku harap kamu bisa membuka hatimu untukku. Aku berjanji tidak akan pernah mengecewakanmu." Kak Urai berkata dengan mantap jiwa.


"Kak, ini sudah larut malam. Sebaiknya Kakak kembali ke hotel ya..besok aku juga ada mata kuliah. Jadi aku harus istirahat." Alia mengacuhkan penuturan Kak Urai.


"Baiklah, Al. Selamat beristirahat ya.." Kak Urai melepaskan genggaman tangannya dan berlalu meninggalkan Alia.


Ketika Alia akan membuka pintu rumah, terdengar suara ketukan sepatu fantopel mendekatinya. Alia menoleh ke arah siluet yang terlihat jelas di hadapannya.


"Ma--Mas..." Suara Alia tercekat. Pasalnya pandangan Aufar terlihat nanar. Api kecemburuan sudah menjalar ke seluruh tubuhnya.


Sebenarnya sedari tadi Aufar sudah menunggu tidak jauh dari kontrakan Alia sebelum mobil Kak Urai tiba di sana. Benar saja, semua adegan antara Kak Urai dan Alia tadi sudah pasti Aufar menyaksikannya sendiri dari dalam mobil.


"Kenapa kaget?" Aufar mengepal pergelangan tangan Alia membuat Alia meringis kesakitan.


"Mas...lepas!" Alia menggoyangkan tangannya agar terlepas dari genggaman Aufar.


"Kenapa? Apa hanya dia yang boleh memegang tanganmu?" Aufar melemparkan tatapan tajam kepada Alia membuat Alia ketakutan.


"Mas, kamu menyakitiku.." Air mata Alia lolos begitu saja, memohon Aufar untuk melepaskan genggamannya.


Ketika itu juga Aufar tersadar dan perlahan meregangkan genggamannya.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Bersambung...


See you tonight ya gengs, insyaAllah aku tambah satu bab lagi..


jangan lupa kasi semangatnya😁💞