
"Mas, kenapa?" Dahi Alia berkerut melihat manik mata Aufar yang terlihat sendu saat menatapnya.
"Hemmm? Nggak papa sayang, eh tehnya aku minum ya.." Alia mengangguk pelan mengiyakan. Lalu Aufar mengangkat cangkir putih beralaskan piring kecil itu, kemudian menyesap manis dan hangatnya.
"Maaf ya Mas, aku bikinnya teh hangat. Abisnya nggak ada batu es, hehe." Alia merasa tidak enak hati menyediakan minuman hangat dalam cuaca panas siang itu.
Aufar tersenyum simpul, "Tehnya terasa adem di tenggorokan sayang.."
"Loh, kok bisa?" Alia menyipitkan matanya.
"Kan aku minumnya sambil mandang wajah kamu, yang selalu mengademkan hatiku." Senyuman khas Aufar tersimpul erat dibibir sensualnya.
Pipi Alia yang awalnya pucat sudah bertransformasi menjadi merah muda. Pasalnya ini bukan kali pertamanya Aufar membuat hati Alia jingkrak-jingkrak. Namun perasaan yang Aufar tanam di dalam lubuk hatinya semakin tumbuh subur bagaikan tanaman peliharaan.
Hal itu membuat getaran hangat di setiap sudut wajahnya walaupun hanya dengan kata-kata sederhana. Aufar yang sudah faham titik kelemahan kekasihnya itu, selalu punya banyak koleksi gombalan di dalam kamus cintanya.
"Mas ini ya nggak ada cuti ngegombal kah?" Alia mengerucutkan bibirnya menutupi kegugupannya.
"Kalau gombalin kamu itu nggak boleh cuti sayang, supaya bunga-bunga yang ada dalam hati kamu senantiasa bermekaran. Nah, kalo bunganya selalu mekar terus indahnya ditransfer deh kesini dan kesini." Aufar menunjuk mata dan bibir Alia tanpa menyentuhnya sedikitpun.
Pria berhidung mancung itu begitu mengagungkan dan menjunjung tinggi harga diri dan kehormatan wanitanya. Aufar tidak pernah menyentuh bagian apapun dari tubuh Alia kecuali dalam keadaan genting seperti tragedi terbawa kapal waktu itu.
Aufar selalu berhasil membuat Alia terbang ke awang-awang. Namun ia juga tidak lupa menurunkannya kembali, hehe.
"Iiiiiih raja gombaaaal emangnya hatinya aku taman bunga ya?..rasain ini rasain." Alia mencubit manja lengan Aufar yang tertutup baju kaos berlengan panjang.
"Aw..aw..jangn gitu dong sayang. Sakit.." Aufar memasang wajah memelas bagaikan kucing yang meminta makan kepada majikannya.
"Mas kiiyyyyuuuuut.." Alia terkekeh.
"Cieee sayang...itu kan bahasanya aku. Eh, sayang boleh nanya nggak?" Kali ini Aufar memasang wajah penuh keseriusan.
"Nanya apa mas? Serius banget." Alia membenarkan posisi duduknya menghadap Aufar.
"Kenapa kamu masih manggil aku MAS sih? Kan kita udah lama jadian."
"Sssssst, jangan keras-keras Mas, ntar ada yang dengar." Alia memposisikan jari telunjuk dibibirnya.
Aufar menutup bibir dengan telapak tangan kanannya. Ia lupa bahwa hubungan mereka masih backstreet. Bukan hanya dari orang tua Alia, tetapi juga dari semua orang, termasuk teman-teman Alia.
"Alia..." Teriak Kak Verni dari dapur. Membuat Alia bergegas menghampirinya.
"Iya, kenapa Kakak berteriak? Apa ada yang luka? Atau ada tikus ya?" Alia panik dan memeriksa tangan Kak Verni yang ia sangka terluka.
"Hahaha..kok mikirnya gitu sih. Ini Kakak masaknya udah kelar. Sana bawa ke depan ajak temenmu makan. Kakak dan Isni makan di sini aja. Nggak enak kan temenmu diajak ke dapur." Perintah Kak Verni sambil menyodorkan 2 piring nasi yang sudah lengkap dengan lauk dan sayurnya.
"Ya Ampun Kak...kirain ada apa heboh gitu manggilnya. Baiklah, makasih ya Kakak cantik." Alia mengambil alih kedua piring itu dari tangan Kak Verni dan membawanya ke ruang tamu.
Melihat hal tersebut, Aufar lantas mengernyitkan dahinya. "Kapan sayang masaknya? Bukannya dari tadi sayang disini bersamaku?" Alia tersenyum hangat melihat ekspresi sang kekasih.
"Ini yang nyiapin bundadari Mas.." Alia menyerahkan satu piring kepada Aufar.
"Bundadari? Kayak di film-film aja sayang." Aufar meraih sendok dan mencicipi makanannya.
"Gimana rasanya?" Alia terlihat sangat penasaran. Apakah Aufar akan memuji masakan Kak Verni seperti ia memuji masakan Alia tempo hari?
"Emmm, not bad sayang.." Aufar meletakkan kembali sendoknya di atas piring.
"Kok cuma not bad sih?" Alia sedikit kecewa pasalnya masakan Kak Verni ia rasa lebih enak dibanding masakannya.
"Kamu maunya aku jawab apa sayang?" Aufar menatap manik mata yang terlihat kecewa itu.
"Kak Verni koki handal di rumah ini. Mana mungkin masakannya cuma dapat penilaian not bad?" Cebik Alia yang masih tidak puas dengan jawaban Aufar.
"Dan siapa, Mas?
"Dan wanita yang ada di depanku sekarang." Senyuman Alia merekah. Sekelebat barisan gigi putih nan rapi itu terlihat jelas di kedua mata Aufar. Mereka tertawa bersama dan menyantap makan siangnya.
***
"Kapan kamu akan menikahi gadis itu, nak?" Tanya Ibu Rana yang sedang duduk bersandar di sofa ruang keluarganya. Kak Urai menutup surat kabar yang sedang ia baca dan menatap manik mata sang Mama yang terlihat serius dengan pertanyaannya.
"Mama sabar ya, aku masih berusaha merebut hatinya, Ma. Ia bukan tipe gadis yang mudah untuk didapatkan. Apalagi sekarang dia masih kuliah. Ayahnya akan melepas dia untuk menikah setelah menyelesaikan pendidikannya." Jelas Kak Urai memberi pengertian kepada sang Mama yang sudah tidak sabar dan khawatir pada anak sulungnya itu.
"Kamu sudah hampir kepala tiga loh, nak. Teman-teman seangkatanmu malah sudah ada yang mempunyai anak lebih dari satu. Sedangkan kamu masih saja santai dengan kesendirianmu." Ketus Ibu Rana memberi sindiran kepada Kak Urai.
"Ma..." Kak Urai menggenggam kedua tangan Mamanya dan menatap hangat manik mata hitam wanita paruh baya yang sudah mempertaruhkan nyawa untuk melahirkannya itu.
"Pernikahan itu bukan perlombaan, Ma. Aku hanya ingin memberikan Mama menantu yang sholehah yang bisa menjadi ibu terbaik untuk anak-anakku kelak. Aku inginkan wanita yang tidak memandangku hanya dari status keluarga kita, namun dengan ketulusan hati. Dan sosok itu cuma bisa aku temukan pada diri Alia, Ma. Jadi aku harus bersabar menunggunya. Mama juga yang sabar ya."
Ibu Rana tersenyum bangga mendengar penuturan putra yang sangat ia sayangi itu. "Iya, kamu benar nak. Alia itu memang benar gadis yang polos dan tulus. Mama suka banget sama anaknya. Dia sopan dan lembut kalau berbicara. Mama akan menyayanginya seperti Mama menyayangi Selvia." Ibu Rana mengelus lembut rambut sang putri yang sedang tertidur di pangkuannya.
"Makasih atas restunya ya, Ma. Tolong do'ain aku selalu agar dipermudah untuk membawa Alia ke pelaminan." Ucap Kak Urai sambil mencium salah satu tangan Mamanya yang masih ia genggam.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
tolong itu jempol dimerahin ya bebs☺️😁
Biar aku semangat update nya, wkwkwk
kritik dan saran terbuka lebar yah..berhubung novel ini bakal aku tamatin. Stay tune ya..insyaAllah akan ada season 2.
terima kasih untuk yang udh vote yah🙏