I Love You Till Jannah

I Love You Till Jannah
S2 Haru Biru



Suasana menegangkan menyelimuti ruang tamu di apartemen Aufar. Pasalnya hari ini Jimmy datang bersama seorang wanita setengah baya, yang hanya duduk tertunduk di kursi rodanya. Wanita yang telah Aufar kenal beberapa pekan terakhir, karena merupakan pasien barunya.


Alia yang sedari tadi duduk di sebelah Aufar, hanya bisa bergelayut erat pada lengan sang suami. Ia ikut bergidik ketika Papa Fahri mengakui dosanya kepada sang istri di masa lalunya. Apalagi masa lalu itu berada di depan mata mereka saat ini.


Kak Fira dan Kak Farun yang juga tak kalah terkejutnya dengan rahasia besar yang baru saja mereka dengar, hanya bisa saling melempar pandang menyambut kedatangan asisten pribadi adiknya itu.


Sementara Mama Yani, masih terisak dalam pelukan Papa Fahri setelah drama pengakuan dosa tadi. Tangisnya semakin menjadi-jadi ketika melihat kondisi wanita yang hampir saja ia anggap sebagai orang ketiga dalam rumah tangganya itu. Merasa iba, itulah kesimpulannya.


"Anisa.."


Nama itu lolos begitu saja dari sepasang bibir Papa Fahri.


Mama Yani yang menyadari hal itu, sontak melepaskan rengkuhan tubuhnya dari Papa Fahri dan memberikan waktu kepada suaminya itu, untuk menghampiri wanita malang di hadapan mereka.


Fashback


Ketika berada di rumah sandera, sebenarnya Mama Yani mendengar perkataan Jammy. Tetapi, ia hanya berpura-pura tidak sadarkan diri untuk menghindari perlakuan tidak baik dari pelaku penculikan mereka.


"Haruskah gua ngabisin nyawa lu untuk membalas semua penderitaan nyokap gua selama ini?"


Kalimat itu selalu terngiang-ngiang di telinganya. Siapa wanita yang dimaksud Jammy? Apakah selama ini suaminya mempunyai wanita lain? Sejak kapan? Ah, pertanyaan-pertanyaan itu sungguh menghujam sanubarinya. Dadanya terasa panas dan terhimpit. Oh, Tuhan ... Cobaan apa ini?


Mama Yani masih terus menahan amarahnya ketika momen penyelamatan berlangsung, hingga momen perawatan selama di rumah sakit.


Namun, ia tidak bisa lagi menahan diri hari ini. Mama Yani mengajak semua anak dan menantunya berkumpul di ruang tamu untuk mengungkit penjelasan yang seharusnya dikatakan oleh Papa Fahri sejak awal. Kenyataan yang tidak seharusnya disembunyikan.


"Katakan pada kami kebenarannya sekarang juga!"


Tatapan Mama Yani tak lagi bersahabat. Ia tidak ingin menyembunyikan apapun dari anak-anaknya, karena mereka juga berhak tahu akan hal ini.


Papa Fahri menegakkan tubuhnya dari sandaran sofa dan mengabsen satu persatu wajah yang menatapnya penuh tanda tanya.


"Baiklah," tuturnya tak bisa mengelak lagi. Kerutan yang semakin jelas terlihat di seluruh wajahnya menampakkan bahwa sungguh sangat sulit baginya untuk terbuka.


Namun, menyibak tirai masa lalu memang harus ia lakukan saat ini. Mungkin inilah waktunya. Waktu yang tepat untuk menguak rahasia besarnya.


"Waktu itu, ketika aku pulang dari perjalanan bisnis di Jakarta Utara.." Lelaki setengah baya itu menghela nafasnya sejenak.


"Mobilku disalip oleh sebuah sedan berwarna hitam dengan kecepatan tinggi." Menunduk lemas. "Awalnya aku hanya menggeleng tidak peduli. Namun dengan jarak tempuh satu kilometer, aku melihat mobil sedan tadi menabrak sebuah pohon besar di pertigaan jalan." Lanjut Papa Fahri.


Aufar duduk tenang di samping Alia, ia juga merangkul sang Mama yang mulai terisak mendengar kisah tersebut. Papa Fahri yang menyadari hal itu, menatap sendu ke arah sang istri bahkan tidak sanggup untuk melanjutkan ceritanya.


"It's okay Pa, go ahead..!" Seru Aufar meyakinkan Sang Ayah. Ia mengelus lembut punggung Sang Mama menenangkan.


"Aku keluar dari mobilku, dan memeriksa mobil sedan itu. Kebetulan tidak ada orang lain di sana. Aku kebingungan ketika tidak menemukan satu sosokpun di dalam mobil itu." Papa Fahri menghela nafasnya tertunduk kembali.


"Sesaat kemudian, aku menyadari bahwa di depan sana ada sebuah jembatan beton yang dibawahnya mengalir sungai dengan bebatuan besar. Yang membuatku kaget bukanlah jembatan ataupun sungai itu, namun sesosok wanita muda yang berdiri membentangkan kedua tangannya di tepi jembatan itu, siap untuk terjun bebas."


Mendengar hal itu, Alia dan Kak Fira memekik kecil dan menutup mulut mereka dengan kedua tangan masing-masing. Mungkin mereka merasa seolah melihat langsung kejadian tersebut dengan mata kepala mereka sendiri.


"Te--terus, Pa.." Ucap Kak Fira semakin penasaran.


Papa Fahri tersenyum tipis karena putrinya itu menanggapi ceritanya dengan antusias tanpa amarah yang ketara.


"Melihat hal tersebut, tentu saja aku menghampirinya dan berusaha menenangkan wanita itu. Ketika ia menyadari keberadaanku, ia menoleh sedikit, menampakkan keningnya yang berlumuran darah segar. Mungkin akibat benturan pada setir mobil tadi."


Mama Yani tidak sedikitpun mengangkat kepalanya dari pundak Aufar. Raganya mendengarkan cerita itu dalam tangis, namun hatinya tetap saja ingin menolak kenyataan ini. Namun, hal itu tidak adil bagi sang suami. Ia harus memberikan kesempatan bagi Papa Fahri untuk menuntaskan ceritanya.


"Awalnya ia berontak dan masih nekat untuk terjun, namun dengan segala cara yang telah aku coba, akhirnya ia mau turun dan mengurungkan niatnya."


"Cara apa yang kamu lakukan sehingga dia tidak jadi bunuh diri?"


Tiba-tiba Mama Yani angkat suara dan menatap sendu ke arah suaminya. Membuat Aufar, Alia, Kak Fira, dan Kak Farun sontak melempar pandangan ke arah Sang Mama.


Mama Yani menyeka air mata, lalu menegakkan tubuhnya. Pasalnya ia sudah bisa membaca kejadian apa yang terjadi selanjutnya.


"A--aku terpaksa berjanji menikahinya, karena dia tengah mengandung saat itu." Semuanya tertegun tidak percaya.


"Hanya demi menyelamatkan nyawanya dan nyawa janin yang berada di dalam kandungannya. Tidak lebih." Papa Fahri meneruskan kalimatnya.


Seketika itu juga cairan bening keharuan itu, tumpah ruah dari kedua manik mata Mama Yani, Alia dan Kak Fira. Sementara Aufar dan Kak Farun hanya bisa tertunduk membayangkan betapa sulitnya posisi Sang Ayah kala itu.


"Sesungguhnya tidak mudah bagiku untuk mengutarakan hal itu padanya, tetapi mengingat hal itu wajib aku lakukan, maka aku harus melakukannya.." Papa Fahri menyeka air mata yang jatuh di pipinya mengingat nasib buruk apa yang akan menimpa wanita muda itu.


"Aku tidak pernah berniat mengkhianati kalian, sungguh. Aku hanya ... aku ..." Belum selesai Papa Fahri meneruskan kalimatnya, Mama Yani sudah menghambur memeluknya.


"Yang kamu lakukan itu sudah benar, Pa.." Mama Yani semakin mengetatkan rengkuhannya pada tubuh Papa Fahri yang semakin bergetar karena tangis.


"Aku tidak pernah mengkhianatimu, Ma. Percayalah padaku. Aku hanya ingin menyelamatkan mereka."


Haru semakin membiru. Selaras dengan langit yang terlihat mendung di luar jendela kaca. Keganjilan yang mengganggu pikiran Mama Yani sekarang tidak lagi ada. Semuanya melebur bersama kejujuran yang terlontar dari bibir kekasih halalnya.


"Anisa..."


Suara Papa Fahri berhasil membuat Ibu Anisa mengangkat wajahnya. Kedua mata sendunya, menangkap sosok yang selama ini berhasil menambat hatinya. Sosok laki-laki yang telah menyelamatkannya dari maut dan yang telah mengajarkannya arti sebuah rasa, yaitu CINTA.


Tidak disangka-sangka, kebaikan dan perhatian yang Papa Fahri berikan padanya, membuat ia jatuh hati sedalam-dalamnya. Sedangkan, lelaki yang menghamilinya kala itu, tidak lain adalah kekasihnya sendiri. Namun lelaki itu kabur begitu saja di hari pernikahan mereka. Maka dari itu, Ibu Anisa memutuskan untuk mengakhiri hidupnya, karena ia tidak sanggup meneruskan hidup yang berlumur aib. Ia juga telah memutuskan untuk tidak kembali lagi pada keluarganya.


Kehadiran Papa Fahri waktu itu, membuat semangat hidupnya bersemi kembali. Namun lenyapnya sosok itu, juga membuat ia hampir tidak bisa menginjakkan kaki dengan benar ke bumi ini.


"Fahri..." Buliran bening sebesar biji kacang itu membasahi pipi Ibu Anisa tanpa permisi.


Jimmy yang baru kali ini mendengar suara Sang Mama, sontak terperangah dan segera berlutut di samping kursi rodanya.


"Mama..." Tutur Jimmy dengan bibir bergetar. Pasalnya ia memang sangat merindukan suara itu. Suara yang sudah belasan tahun tidak ia dengar.


Papa Fahri yang melihat hal itu sontak menghampiri Ibu dan Anak itu, lalu berlutut di hadapan kursi roda Ibu Anisa.


"Maafkan aku Anisa.." Meraih telapak tangan Ibu Anisa ke dalam genggamannya.


"Kamu sudah tahu jika aku memiliki istri dan dua orang anak. Waktu itu aku sangat sibuk mengurusi bisnis, sehingga tidak sempat menemuimu dan putra kembarmu."


Jimmy yang mendengar hal itu, sontak menoleh ke arah Papa Fahri dengan tatapan tidak terima.


"Bukankah putra Anda juga?" Koreksi Jimmy. Tersirat gemuruh dari tatapan lelaki itu, namun ia masih bisa menguasai emosinya.


Papa Fahri tersenyum mendengar hal itu. Ia sangat memaklumi kesalahfahaman Jimmy dan Jammy terhadap dirinya, karena memang dari awal keduanya tidak mengetahui jati diri mereka yang sesungguhnya.


Untuk meluruskan kesalahfahaman tersebut, Papa Fahri lantas menceritakan kenyataan yang sebenarnya.


Jimmy tersentak. Fakta yang baru saja ia dengar, ternyata tidak seperti yang ia pikirkan selama ini. Penilaiannya terhadap sosok Pak Fahri adalah salah besar. Pak Fahri yang dianggapnya seorang monster, ternyata merupakan sosok malaikat atas kelahirannya ke dunia ini. Tanpa terasa kedua sudut mata Jimmy basah oleh air mata penyesalan.


Walaupun ia tidak terlibat dalam penculikan Pak Fahri dan istrinya, namun ia merasa bersalah karena telah berburuk sangka kepada lelaki setengah baya yang merupakan Ayah biologis dari atasannya itu.


"Ketika aku kembali ingin menemui kalian, kalian sudah tidak berada di sana. Aku sudah bertanya pada tetangga terdekat, namun mereka bilang tidak tahu." Papa Fahri meneruskan penjelasannya. Jimmy tersenyum tidak enak hati menanggapi ucapan Papa Fahri.


"Kami tidak mampu membayar kontrakan, maka dari itu kami diusir dari rumah itu." Papa Fahri tertunduk, merasa bersalah akan hal itu.


"Maafkan aku, Nak.." Ujarnya menyentuh pundak Jimmy. "Lantas kenapa kondisi Mamamu bisa jadi seperti ini?" Tanya Papa Fahri kepada putra dari istri keduanya itu.


"Karena Mama sangat mencintai Anda, Tuan. Mama merasa kehilangan separuh jiwanya." Jimmy menjawab dengan suara parau dan pandangan yang masih tertunduk malu.


Ibu Anisa yang sedari tadi hanya menyimak dan tidak membuang pandangannya dari Papa Fahri, sontak merasa terganggu oleh sosok wanita yang tiba-tiba datang mendekatinya.


"Aku tidak menyangka, takdir menjebakmu dalam lingkaran hati yang dalam. Terpaut erat pada sosok yang telah menyelamatkanmu, walaupun kamu mengetahui bahwa ia adalah suami wanita lain," tutur Mama Yani dengan tatapan penuh iba.


"Pa, biarkan mereka tinggal bersama kita.." Kalimat susulan dari Mama Yani sontak membuat semuanya terkejut. Tak terkecuali Ibu Anisa.


Wanita itu tampak lebih bersemangat ketika bertemu dengan Papa Fahri. Bak dibubuhi obat dewa, penderitaan yang menghujani hidupnya selama ini tersapu sudah.


"Ti-tidak, Nyo-Nyonya.."


"Tidak, Nyonya.."


Kalimat itu serentak Jimmy ucapkan bersama Ibu Anisa. Membuat keduanya saling bertukar pandang, kemudian saling melempar senyum. Ada rasa bahagia yang terselip di hati Jimmy, ketika melihat senyuman hangat tersemat di bibir Ibu kandungnya itu.


Namun keduanya segera mengakhiri kontak mata di antara mereka, lalu beralih kepada sosok permaisuri sesungguhnya di dalam keluarga Anggara.


"Setelah mengetahui fakta yang sebenarnya, sudah barang tentu tempat kami bukanlah di sini, Nyonya. Terima kasih, atas kemurahan hati, Anda." Jimmy mengatakan itu semua dengan wajah bersemat senyuman hangat.


"Jim.." Aufar tiba-tiba menyela dan mendekat. "Benar kata Mama, sebaiknya kalian tinggal bersama mereka sampe Nyokap lu sembuh." Aufar menyarankan yang terbaik sambil menepuk pundak Jimmy.


"Thanks, Boss. Gua yakin setelah hari ini Mama akan sembuh dengan sendirinya, iya kan, Ma?"


Jimmy menoleh ke arah Sang Mama yang tersenyum bangga ke arahnya. Ibu Anisa hanya mengangguk pelan tanda merestui ucapan putranya.


"Jadi, Elu juga mau resigned nih jadi asisten gua? Aufar melipat kedua lengan di depan dadanya dengan tatapan sok cool-nya.


"Iya dong. Kan bini lu udah gak butuh bodyguard lagi sekarang.." Jimmy tersenyum miring, lalu melirik sekilas ke arah Alia. Membuat wanita itu terkekeh dibuatnya.


"Apa lu ngelirik-lirik bini gua?" Aufar mentowel pipi Jimmy.


"Elah..sombong amat, mentang-mentang udah jadi super hero.." Ejekan Jimmy berhasil membuat semuanya tertawa renyah.


Namun, tiba-tiba...


"Howeeek...howeeeek..."


Semuanya terlonjak mendengar suara itu, lalu melempar pandang pada satu titik.


Bersambung..