I Love You Till Jannah

I Love You Till Jannah
BONUS CHAPTER 4



(POV Sosok Misterius)


Perlahan aku menarik tubuhku kembali dari posisi bersimpuh ku sembari mengucapkan terima kasih kepada calon Ibu mertuaku itu. Aku kembali mendaratkan tubuhku di sebelah Andri.


Samar-samar ku lihat ekor mata sahabatku itu terlihat basah. Ia menghapus titik bening itu perlahan sambil menepuk bangga sebelah pundak ku. Aku sangat hafal, Andri termasuk tipe cowok yang melankolis. Sudah bisa aku pastikan bahwa ia terbawa suasana haru yang menyelimuti ruangan itu.


"Congratulations, bro," bisiknya. Sejak sampai ke tempat ini, hanya dua kata itu yang lolos dari bibir kelunya. Aku membalasnya dengan senyuman penuh rasa terima kasih karena dia selalu ada di saat aku membutuhkannya.


Setelah drama haru biru itu berakhir, tiba-tiba Alan memasuki perannya. Dengan langkah tergopoh-gopoh ia masuk menghampiri kami.


"Kak, tadi Kak Urai berpesan, jika urusan Kakak sudah selesai, ia ingin bertemu dengan kalian di sini..."


Anak remaja yang aku yakini sebagai adik Alia itu menyerahkan secarik kertas berisi alamat yang telah Urai tuliskan diatasnya. Dengan mata yang masih sembab, aku menerima kertas itu dan membacanya.


"Terima kasih, Dek." Anehnya adalah bukannya memberi respon akan ungkapan terima kasihku, ia malah bertanya balik sambil mengernyit keheranan.


"Kenapa Kakak menangis? Apa Ayah memarahi Kakak?" Aku terharu mendengar pertanyaan polosnya. Anak ini benar-benar mirip seperti Kakaknya, caring.


"Ah, enggak lah..Ayahmu bahkan telah membuat hati Kakak sangat bahagia." Jawaban singkat ku itu entah dimengerti atau tidak olehnya.


"Tapi kenapa Kakak malah menangis?" Benar terkaan ku. Ia belum memahami sepenuhnya kalimat tersirat ku tadi.


"Dek..." Aku menyentuh sebelah pundaknya.


"Ada masanya seseorang menangis bukan karena hal buruk yang menimpanya, melainkan karena ia terlalu bahagia." Lanjut ku melengkapi kalimat yang terpotong tadi. Aku yakin setelah ini anak itu akan mengerti bahasa yang langsung keluar dari hatiku.


"Oo..begitu ya, hidup orang dewasa memang complicated." Ia mangut-mangut menandakan bahwa dirinya sangat mengerti dengan perkataan ku. Gaya bicaranya yang sok Inggris itu membuatku terkekeh menahan tawa. Ayah dan Ibunya hanya menggeleng pelan melihat tingkah anak bungsunya itu.


"Aufar..kamu ikut kita ke rumah ya, makan siang dulu!" Tutur Ibunya Alia.


"Emm..."


Aku bingung mau jawab apa gengs, mau menolak ajakannya khawatir dibilang tidak sopan. Jika ku terima, perut ini sudah tak bisa lagi menampung makanan. Secara tadi aku dan Andri makannya kebangetan. Aku melirik ke arah Andri meminta pendapatnya. Di luar ekspektasi ku, ia malah menganggukkan kepala.


"Baik, Bu.."


Kami berlima kembali ke rumah Pak Harry untuk makan siang bersama. Walaupun lidahku belum terbiasa dengan cita rasa masakan di daerah ini, tapi menurutku, masakan Ibunya Alia jauh lebih nikmat daripada makanan yang ada di restoran tadi. Entah ini karena pengaruh kebucinan ku atau memang benar adanya, sehingga membuat apapun yang berkaitan dengan Alia, selalu membuatku nyaman.


Setelah selesai dengan urusan perut bersama, Pak Harry menawarkan agar kami menginap saja di rumahnya malam ini. Namun dengan berat hati aku harus menolak tawaran beliau, karena kami harus bertolak kembali ke bumi khatulistiwa dengan penerbangan terakhir sore ini juga. Aku rasa banyak hal yang ingin beliau bicarakan. Begitu pula denganku, banyak teka-teki yang ingin aku temukan jawabannya.


Namun apa mau dikata, pertemuan singkat ini harus lebur di telan perpisahan.


"Pak, Bu...InsyaAllah minggu depan saya akan membawa keluarga besar saya berkunjung kemari. Anggap saja sebagai ritual lamaran, karena saya berasal dari keluarga yang berdarah jawa asli, maka budayanya masih sangat kental."


Pak Harry dan Ibu Nana tersenyum hangat merespon kalimat yang mungkin sangat romantis di telinga mereka. Semua orang tua pasti menginginkan putrinya dipersunting dengan cara yang semestinya. Dan aku tahu keluarga besar ku sangat menjunjung tinggi budaya tersebut.


Dulu, sebelum menggelar pernikahan Kak Fira, Kak Farun juga memboyong keluarga besarnya dari India untuk melamar Kakakku. Hal itu ia lakukan sebagai bentuk penghargaan pada budaya kami. Walaupun sebenarnya dalam budaya mereka, yang datang untuk melamar itu adalah pihak mempelai wanita, namun mereka tidak mempermasalahkannya.


"InsyaAllah, Pak..kami pamit dulu.."


Aku dan Andri menyalami keduanya, tak lupa mencium punggung tangan dua insan yang tidak lama lagi akan menjadi orang tuaku itu. Untuk Alan, anak remaja yang sudah aku ketahui namanya itu, ku dekap tanpa ragu.


Anak itu sangat ramah dan mudah sekali akrab, sehingga tidak sulit bagiku untuk mendekatinya. Sebelum beranjak pergi aku merogoh saku celanaku, mengambil lima lembar uang merah yang sudah aku siapkan dan memberikannya kepada Alan. Senyuman merekah di bibir anak remaja yang aku tahu duduk di bangku SMA kelas X itu.


"Buat uang jajan.." Ujar ku sambil menyerahkan lembaran berharga itu.


"Makasih banyak, Kak. Setelah ini sering-sering ya.." Celetuk mulut polosnya. Aku hanya tertawa mendengar hal itu sembari mengacak-ngacak pucuk rambutnya.


"Pasti, asalkan kamu berjanji akan belajar dengan rajin. Jadilah pelajar cerdas seperti Kakakmu!" Instruksi ku padanya.


"Siap, Kak.." Ia memberiku hormat seolah aku ini sebuah tiang bendera yang berdiri tinggi menjulang di hadapannya.


Seusai canda singkat dengan calon adik ipar ku itu, kami berdua memasuki sebuah taxi yang tadi sudah aku pesan dan dengan berat hati kami harus meninggalkan halaman rumah sederhana itu.


Jangan ditanya seperti apa perasaanku saat ini, karena aku sudah tidak bisa menemukan lagi kalimat yang tepat untuk menggambarkan keindahannya. Alhamdulillah.


"Kita mau kemana, Mas?" Tanya Pak Sopir yang belum menemukan petunjuk arah dari kami.


"Oh, iya..tolong antar kami ke alamat ini ya, Pak." Aku menyodorkan secarik kertas yang diberikan Alan tadi.


Ya, benar sekali. Sesuai keinginan Urai, kami akan menemuinya. Masih ada waktu dua jam sebelum penerbangan. Aku ingin menggunakan kesempatan ini untuk menyelesaikan apa yang harus selesaikan dari dulu.


"Far, lu yakin mau nemuin anak itu?" Tanya Andri yang mulai meragukan keputusanku.


"Yakin lah, Ndri. Gua ingin memulai kehidupan baru bersama Alia dengan restu dari semua pihak. Lagian, gak ada untungnya juga menyimpan dendam kan?"


Aku menepuk pundak sahabatku itu seolah aku juga secara tidak langsung memberikan sugesti itu kepada dirinya. Ia terlihat menarik nafasnya panjang.


"Lu bener, Far. Sudah saatnya meluruskan kesalahfahaman di antara gua dan Urai. Mau gimana pun dia itu sahabat lama gua."


"Good..let's go!" Aku mengajak Andri keluar dari taxi setelah membayar tarifnya.


Tidak terasa, kami sudah berdiri di halaman sebuah cafe. Aku mengekori sekitar sambil berkacak pinggang. Taman buatan yang dilengkapi kolam ikan di pojok cafe itu menarik perhatian Andri. Ia berjongkok sambil membasahi tangannya dengan mengacak-ngacak air yang tadinya tenang. Mengusik kehidupan makhluk yang bersarang di dalamnya.


Menyadari kehadiran dua orang yang telah ia nantikan, Urai menyambut kami di pintu masuk cafe itu. Gelagatnya seperti dia adalah orang yang berkuasa di tempat ini.


"Apakah cafe ini miliknya?" Batinku. Wajahnya terlihat lebih ramah ketimbang pada saat bertemu di rumah Pak Harry tadi.


"Come on, guys..Sudah lama aku menunggu kalian." Ia melambaikan tangannya memberi kode kepada kami berdua untuk masuk ke dalam cafe.


Aku dan Andri saling melempar mata, keheranan melihat perubahan sikap Urai yang berbalik 180 derajat dari sebelumnya.


Bersambung...