
"Kamu dimana, Sayang..?" Aufar mendesah frustasi. Berkali-kali ia mengacak rambutnya sendiri karena merasa menjadi lelaki paling bodoh. Berulang kali ia menapaki jalan yang sama, namun bayang-bayang Alia pun tak bisa ia tangkap. Lelaki itu sempat menyesal karena terlalu mudah melepaskan sang istri dan membiarkannya pergi meninggalkan apartemen. Tetapi disisi lain, dia juga tidak ingin Alia mengakhiri hubungan mereka hanya karena kesalahfahaman. Sungguh tidak adil.
Tidak adil bagi dirinya yang hanya berlakon sebagai korban di sini. Ini bukanlah murni kesalahannya. Dokter tampan itu bertekad bahwa ia akan membuktikan kepada sang istri jika memang dirinya tidak pernah berniat sedikitpun untuk berkhianat. Jangankan secara lahiriyah, di dalam batinpun tak pernah terbersit pikiran terkutuk seperti itu. Ruang di hatinya hanya ada satu. Tidak cukup untuk menampung banyak nama di dalam sana.
Aufar adalah tipe lelaki setia. Setia dalam segala hal. Terbukti bahwa selama perpisahannya dengan Alia saat itu, ia tidak pernah mencoba membuka hati kepada wanita manapun. Ia selalu menjaga hatinya untuk Alia seorang. No more places. Tidak akan tergantikan, dan hanya akan ada satu nama.
Namun kenyataan berkata lain. Tidak mudah baginya menjalani hidup di dunia halu. Walaupun sebenarnya dia tidak menginginkan hal ini, namun Bu Author selalu punya cara untuk mengecohnya. Mengecohnya dengan berbagai sentilan kejam. Mengasah kekuatan cintanya dengan tonjokan fitnah yang amat sangat keji. Mengganggu ketenangan rumah tangganya yang baru seumur jagung dengan berbagai masalah berikut levelnya yang semakin tinggi. Bukankah wajar jika Aufar akan mengumpat saat ini juga?
"Sekarang lu puas kan, Bu Author? Puas lu bikin gua dihujat netizen?" Pekik Aufar di dalam hati. Ada perasaan geram bercampur dendam di balik tatapan mata itu. Manik mata hitam kecokelatan miliknya, yang saat ini hampir digenangi cairan bening yang membingkai kedua bola matanya. Air mata ketidakberdayaan.
"Terima takdir, woooi..!" Terdengar jawaban yang suaranya agak samar di telinga Aufar. Lelaki itu terperanjat, dan tampak celingukan mencari sumber suara. Kala itu ia sedang duduk di sebuah taman, tepat di bawah sebuah pohon besar.
"Gue di sini, Far..." Sambung suara kedua, namun semakin terdengar samar. Pandangan Aufar kembali menyapu lingkungan di sekitarnya.
"Siapa, lu?" Tanya Aufar sembari memasang kuda-kuda, alias posisi terbaik siap tempur. Pandangannya sengaja di buat sigap, kalau-kalau yang berada di sana adalah gerombolan preman jalanan yang akan melanjutkan aksi pemalakan.
"Gue santet kiriman." Jawab suara ketiga, semakin tidak jelas. Aufar hampir saja teringat akan sesuatu. Dari ketiga suara tersebut sepertinya ia pernah mendengar warna suara itu. Namun lelaki yang sedang kebingungan ini, masih belum bisa fokus karena pikirannya hanya tertuju pada Alia.
Ketika menyadari adanya pergerakan dari belakangnya, Aufar sontak memutar rotasi tubuhnya seratus delapan puluh derajat. Posisi kedua tangannya di depan dada, telah siap mengepal dan menonjok siapapun yang ada di hadapannya.
"Hiyaaaaa.." Aufar melayangkan bogeman mentah. Namun sebelum tangannya mengenai wajah misterius yang ada di hadapannya. Terdengar suara serentak yang sangat keras dan memekakkan telinga.
"Stop it..!" Ujar kepala casper itu serempak.
"Kalian.." Aufar menarik tangannya perlahan dan memandangi wajah mereka satu persatu.
"Yo'i, siapa lagi yang suka nongol tiba-tiba kalo bukan kami, iyuh..?" Jawab kepala pertama, mengibaskan rambut panjangnya ke samping. Persis seperti adegan artis-artis yang berperan sebagai tokoh centil dalam serial FTV. Senyuman manjanya terlihat jelas di balik anak rambut yang masih menutupi sebagian wajahnya.
"Elu pasti lagi nyariin Alia kan? Ayo bermusuhan..!" Celetuk kepala kedua dengan rambut sebahu berwarna kuning. Tatapannya terlihat malas. Ditambah lagi ucapannya yang selalu terdengar seolah tidak punya otak.
"Maksud lu apaan sih, Taaaan? Elu mao ngasi info ke si Opar, apa mao ngajakin gelut?" Sela kepala ke empat yang mulai geram dengan celetukan kepala kuning. Mereka berdua memang terkesan selalu tampak romantis namun saling menghujat.
"Gua pundung konaaaaah..." Responnya sambil cekikikan. Ada ekspresi gurauan yang merayapi setiap garis wajahnya yang bermata sipit.
"Gue sleding juga lu yeee.." Kepala keempat yang bersuara cempreng bak makhluk astral berambut panjang itu menimpali.
"Oh, sorry gua lagi gak mood, gua mules." Lanjut kepala kedua.
"Tau si koneng, berak aja lu sono..." Seloroh kepala ketiga dengan pipinya yang tampak bulat seperti kentang.
"Berak sekebon..." Timpal kepala baru yang tampak asing pada indera penglihatan Aufar
"Emang kebon siape yang mao diberakin?" Tanya kepala kelima dengan balutan kerudung abu-abu monyet kesayangannya.
"Kalian ke sini mau ngelawak atau mau bantuin gua nih?" Kesal Aufar yang merasa ketujuh kepala casper itu malah tertawa riang di atas penderitaannya. Tentu saja, sebagai santet kiriman mereka mulai tersadar dan bungkam bersamaan. Ada rasa bersalah yang ketara pada wajah masing-masing.
Ketujuh kepala casper itu saling melempar pandangan dengan mimik serius. "Kami tau dimana Alia sekarang.." Respon kilat dari ketujuh santet kiriman itu.
"Dimana, dimana?" Dengan antusias Aufar bertanya.
"Mending elu temuin si Jimmy. Bini lu ada ama tu orang."
Jawaban serentak bak sebuah pertunjukan kor itu sontak membuat Aufar bergidik ngeri.
"Kalian ini bukan penyihir kan?" Aufar menyentuh tengkuk belakangnya yang mulai meremang. Ada rasa takut yang mulai merayapinya.
"Siapa bilang kami penyihir? Kami ini geng penolong, Far. Cuman kadang suka sengklek emang." Jawab mereka kembali serentak.
Aufar tampak lebih tenang setelah mendengar jawaban dari mereka. "Itu kepala baru, siapa? Gua baru liat." Sontak pandangan keenam kepala casper itu tertuju pada kepala baru.
"Itu kepala ketujuh. Namanya kang panggul." Tiba-tiba Bu Author masuk scene. Mendengar suara penguasa novel ini, mereka mendongakkan pandangannya bersamaan ke langit malam.
"Oh, gua kira Nyai pelet, abisnya rambutnya panjang gitu kayak perempuan." Respon Aufar, tidak mengindahkan suara Bu Author yang masih membuatnya kesal itu.
"Sewaktu-waktu dia emang bertukar kepribadian ama kepala keenam. Makanya modelnya kek begitu." Bu Author melanjutkan penjelasannya.
"Gua enggak ngomong ama lu juga.." Cebik Aufar semakin kesal. Sepertinya setelah ini dia benar-benar dendam kesumat pada Authornya sendiri.
"Ya udah, thanks for the informations. Sampaikan salamku pada Bu Author. Terima kasih karena udah ngirim kalian ke sini."
"Lah, ngapa kaga lu sampein sendiri ke orangnya sih? Pumpung nongol tuh." Celetuk kepala kelima sambil mengunyah cokelat batangan.
"Gua males ngobrol ama dia." Sahut Aufar bersungut kesal. Ya udah, gua cabut ya. See you next time.." Aufar melambaikan tangannya.
"See you too, Pak Dokter.." Respon ketujuh kepala casper itu dengan air muka sumringah dan tidak ketinggalan ekspresi kamvret dari lahir itu selalu ketara di wajah mereka.
Aufar berbalik arah, dan berjalan menuju mobilnya. Namun ketika ia hendak membuka pintu mobil, kepala keenam bergegas menghampirinya.
"Ada apa?" Aufar mengurungkan niatnya untuk memasuki mobil ketika menyadari kepala keenam berada di sampingnya.
"Elu jangan dendam ama Bu Author ya, Far. Gua tau dia sayang banget ama lu. Kali ini dia cuma pingin nguji ketangguhan elu aja. Sejauh mana lu mampu membijaki masalah ini."
Aufar tersenyum getir mendengar kalimat yang menurutnya sangat romantis sekaligus menyayat hati. Ia hanya menganggukkan kepala sekali sebagai respon kepada kepala keenam. Kemudian lelaki yang mengantongi harapan bertemu sang istri itu, masuk menggapai kemudinya dan melenggang pergi dari sana.
Bersambung..