I Love You Till Jannah

I Love You Till Jannah
S2 Salah Paham



Setelah menyimpan box yang berisi foto mesranya dengan sang mantan yang tertangkap lensa kamera tanpa sepengetahuannya, Aufar kembali melirik ke arah Alia untuk memastikan bahwa istrinya menyadari gerak-geriknya atau tidak? Ia bersyukur, ternyata Alia masih asik menggerogoti kertas kado pada box yang ia cengkeram posesif. "Syukurlah," batin Aufar.


Sebenarnya bukan ia tak ingin mengatakan yang sebenarnya, namun mengenang kejadian kemarin sore, Aufar merasa hanya tidak ingin merusak suasana hati Alia yang juga masih menjadi pertanyaan dibenaknya. "Apakah dia marah? Sedih? Cemburu? Atau tidak sama sekali?" Tanya Aufar di dalam hati. "Aku bingung sendiri dengan sikapnya, apa dia benar-benar tidak cemburu? Buktinya dia tidak marah bahkan tidak membahasnya sama sekali? Hemm," lanjut bergumam di dalam hati.


Jika suara hati Aufar bisa terdengar oleh Alia, mungkin ia akan merasa sangat sedih bahkan kecewa karena sang suami meragukan perasaannya.


"Sayang.." Sapa Aufar dengan lembut.


"Hem..." Alia hanya berdeham tanpa mengalihkan pandangannya.


"Besok kamu berangkat ke sekolah diantar Jimmy ya, aku harus ke rumah sakit pagi-pagi sekali." Tutur Aufar dengan wajah tak berdaya.


Alia menghentikan aktifitasnya. Memandang sang suami dengan tatapan iba. Alia sangat memahami bahwa Aufar sangat tidak menginginkan ia bertemu dengan Jimmy. Walaupun dokter tampan itu tidak mengatakannya secara langsung, namun sikapnya tidak bisa menyembunyikan apapun dari wanita bermata bulat itu. Sampai-sampai dua hari berturut-turut ia menyempatkan diri untuk mengantar dan menjemput Alia berangkat dan pulang kuliah.


"Enggak papa, Mas. Kalo perlu aku bisa naik taxi kok." Tutur Alia sambil mendaratkan sebelah telapak tangannya, menggenggam lembut telapak tangan Aufar.


"Jangan, Sayang! Kamu diantar Jimmy aja, biar lebih aman." Respon Aufar secepat kilat. Semburat kekhawatiran akan perkataan Fana kemarin membuatnya benar-benar tidak bisa membiarkan Alia pergi sendirian.


"Kamu kenapa sih, Mas? Kan aku cuma naik taxi doang? Dari sini langsung ke sekolah, terus balik lagi dari sekolah langsung ke gedung apartemen ini." Seloroh Alia yang mulai merasa suaminya bersikap berlebihan.


"Pokoknya aku tidak menerima penolakan!!!"


"Eh, kok gitu?"


"Ya harus!"


"Kok maksa?"


"Enggak papa, suka aja."


"Iah gitu amat?"


"Masih mau ngebantah titahnya suami? Nanti kena azab loh. Kayak di film-film itu, mau?"


"Oh my God, kok malah ngedo'ain gak baik sih, Mas?"


"Bukan ngedo'ain, tapi ngingetin."


"Iya iya, Pak Dokter. Besok aku berangkat sama Jimmy."


Tutur Alia patuh saat semua kertas yang membungkus kado itu terbuka sempurna. "Yang ini isinya apa ya?" Gumamnya lirih namun masih bisa terdengar di telinga Aufar.


Alia menjejalkan tangan mungilnya ke dalam sang kotak. Ia memutar-mutar tangannya mencoba menemukan kejutan selanjutnya. Ketika dirasa tangannya menyentuh sebuah kemasan plastik, Alia menariknya keluar dari persembunyian.


"Lah, ini apaan Mas?" Alia menggoyang-goyangkan barang itu di depan wajahnya sambil tercenung tidak mengerti.


Aufar yang lebih faham segera merampas barang itu sebelum sang istri menyadarinya.


"Mereka kata gua kaga kuat kali, harus minum yang beginian," batin Aufar sambil menyelipkan jamu kuat itu di bawah pangkal pahanya.


"Loh, kenapa disembunyikan, Mas? Aku kan belum baca itu apaan." Protes Alia karena Aufar merebut barang itu secara paksa.


"Bukan apa-apa, Sayang. Mending kamu buka lagi kado yang lainnya!" Jawab Aufar enteng sambil mencubit mesra pipi sang istri yang terlihat menggelembung karena cemberut.


Akhirnya mereka melanjutkan misi pembukaan kado yang lainnya tanpa berhenti tertawa karena setiap box yang mereka buka, berisi sesuatu yang tidak biasa.


***


Seperti yang telah Aufar katakan kepada sang istri, hari ini ia berangkat ke rumah sakit lebih awal dari biasanya. Sebenarnya dokter tampan itu sangat merasa bersalah karena tidak bisa mengantar Alia ke tempat kerjanya untuk yang pertama kali. Namun apa boleh buat, keadaan sedang tidak berpihak padanya.


Setelah menata sarapan Aufar di dalam kotak makan merk terkemuka yang menjadi idola emak-emak sejagat raya, Alia memasukkannya ke dalam paper bag agar Aufar lebih mudah membawanya.


Aufar berjalan menuju dapur menghampiri sang istri, namun ada berbeda dari penampilannya. Aufar mengenakan kemeja biru telur bebek yang dilapisi jaket kulit berwarna hitam. Celana jeans berwarna hitam terlihat sangat cocok memadu warna jaketnya.


"Loh, Mas..jas putihmu mana?" Tanya Alia karena merasa ada yang aneh.


"Ketinggalan di rumah sakit, Sayang. Ya udah aku berangkat dulu ya. Thank you for the breakfast." Aufar mengecup sekilas kening bening sang istri, lalu disusul oleh kecupan bibir Alia di punggung tangannya.


"Take care, baby." Alia melambaikan tangannya sebagai akhir dari perpisahan mereka.


Berhubung masih jam 05.30, Alia kembali ke kamar untuk membereskan tempat tidur mereka yang berantakan seperti kapal pecah. Namun ketika ia ingin meraih selimut dan melipatnya, tak sengaja kakinya seperti menabrak sesuatu di bawah ranjang.


Perlahan Alia bangkit dan mendudukkan tubuhnya di pinggiran kasur. Ia membuka box yang berisi beberapa lembar foto itu.


Ketika tangannya berhasil menarik lembaran-lembaran itu, Alia terperanjat. Sebelah telapak tangan menutup mulutnya yang terlihat menganga karena terkejut bin kaget melihat foto mesra sang suami bersama wanita lain. Wanita yang sudah tidak asing lagi. Fana! Siapa lagi?


Bibir Alia terlihat bergetar hebat, dadanya tampak naik turun menahan emosi. Nafasnya mulai pendek-pendek seperti kehabisan stock oksigen. Kedua bola matanya terbingkai sempurna oleh cairan bening kepiluan. Alia shock. Alia geram. Alia sedih namun hampir tidak percaya bahwa laki-laki yang ada di foto itu adalah suaminya. Tapi kenyataannya itu memang sang suami.


"Jadi mereka benar-benar memiliki hubungan spesial?"


Tumpah. Air mata mencelos melewati batas bendungannya. Alia memejamkan kedua matanya berat menahan sesak di dalam dada. Andaikan ia mengetahui hal ini sebelumnya, mungkin ia tidak akan mau menikahi Aufar.


"Benarkah aku telah menjadi orang ketiga diantara mereka? Ya Tuhaaan..bagaimana ini? Wajar saja jika wanita itu membenciku. Aku sudah benar-benar sudah merebut Aufar dari dirinya."


Aneh! Bukannya merasa terkhianati, Alia malah menyalahkan dirinya sendiri. Ia berpikir bahwa dia lah yang merebut Aufar dari Fana. Dia lah yang menjadi penyebab retaknya hubungan diantara mereka. Dia lah orang ketiganya dan dia juga yang membuat Fana kehilangan sosok terkasih.


Alia memekik kecil. Menyesali kebodohan dan kepolosannya. Seharusnya ia tidak bisa begitu saja mempercayai perkataan Jimmy yang menyatakan bahwa boss-nya masih single. Jimmy itu bekerja untuk Aufar sudah pasti ia akan berada di pihak atasannya.


"Jangan-jangan mereka sudah menikah, dan aku? Aku telah merebut suami orang? Ya Allah..kenapa aku jadi seorang pelakor?" Alia masih tersedu-sedu dibalik beribu pertanyaan yang ia lontarkan pada dirinya sendiri.


"Kenapa kamu tega, Mas? Kenapa kamu tega menyakiti hati dua wanita sekaligus?"


Rintihan dan isakan terus bersahut-sahutan memenuhi kamar itu. Untuk beberapa saat ia menikmati kesedihannya. Membiarkan semua stock air matanya keluar hingga habis. Melontarkan keluar kerikil-kerikil pilu yang mengganjal saluran pernafasannya. Meluapkan emosi jiwa yang tak tertahankan hingga membuatnya hampir pingsan.


BRUUKK...


Tubuh Alia ambruk di atas tempat tidur. Membenamkan wajahnya di atas bantal dan menangis sepuas-puasnya. Sesegukan! Saking sedihnya, ia hampir melupakan bahwa harus berangkat ke sekolah.


Perlahan ia mendongakkan kepalanya, melihat wajah jam yang sedang duduk manis di atas meja di samping tempat tidur. Alia bangkit dari tidurnya. Menghapus jejak air mata yang masih setia membelai kedua pipinya. Lalu dengan langkah gontai beranjak pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Setelah selesai dengan ritual mandinya, Alia mendengar ponselnya bergetar. Alia yang masih mengenakan handuk kimono yang membalut tubuhnya, lantas menerima panggilan suara yang ternyata dari Sang Mama Mertua.


"Assalamu'alaik, Ma.."


"Wa'alaiksalam, Alia sayang..maaf ya Mama mengganggumu pagi-pagi begini." Tutur wanita setengah baya dari seberang telepon.


"Enggak papa, Ma. Aku juga baru selesai mandi." Jawab Alia yang berusaha menyembunyikan isakan kecil yang masih tersisa.


"Kamu kenapa, Nak? Kok kayaknya lagi nangis?" Batin seorang ibu tidak akan pernah meleset walaupun itu ibu mertua.


"Eh..eh, en...nggak kok, Ma." Jawab Alia yang suaranya mulai terbata.


"Beneran?"


"I..iya, Ma.."


"Ya sudah, mungkin perasaan Mama aja. Oh ya Al, Aufar sudah membicarakan soal resepsi pernikahan kalian belum?" Tanya Mama Yani.


"Hah? Resepsi pernikahan?" Lirih Alia, namun masih terdengar oleh Mama mertuanya.


"Iya Sayang..resepsi pernikahan kalian, yang akan dilaksanakan dua minggu lagi. Mama kira Aufar sudah membicarakannya denganmu." Jelas Mama Yani yang membuat Alia terkejut hebat.


"Dua minggu lagi? Bukankah Isni akan menikah di waktu yang sama? Bagaimana ini?" Pekik Alia di dalam hati.


"Ba..baik Ma, nanti akan aku bicarakan dengan Mas Aufar."


"Ya sudah, Mama harap kalian sepakat ya. Mama dan Papa udah enggak sabar menanti hari itu. Oh iya, vxxvxvvcgcrstMama dengar kamu mulai bekerja ya hari ini?" Tanya Mama Yani yang sudah mengetahui kabar itu dari Aufar.


"Iya, Ma. Ini mau siap-siap buat ke sekolah." Jawab Alia sambil mendudukkan tubuhnya di depan meja rias.


"Baiklah, kalo gitu Mama tutup teleponnya ya, kamu hati-hati, Sayang. Best of luck untuk hari pertamanya. Assalamu'alaik.."


"Iya, makasih ya Ma. Wa'alaiksalam.."


Setelah menyimpan ponselnya di atas meja rias, Alia kembali menelaah bahasa Sang Mama Mertua.


"Jika aku ini pelakor? Kenapa Mama tampak antusias sekali untuk mengadakan resepsi pernikahan itu? Ini sebenarnya bagaimana Ya Allah? Aku bingung." Air mata kembali membasahi pipi Alia.


"Loh bukankah tadi stock air matanya sudah habis? Ah, Entahlah." Batin Author.


Bersambung..