I Love You Till Jannah

I Love You Till Jannah
Tanjung Priuk/Perpisahan



Hari ini, hari terakhir perjalanan mereka. Pihak kapal sudah mengumumkan bahwa tidak lama lagi kapal akan berlabuh di pelabuhan Tanjung Priuk, Jakarta.


Sebenarnya posisi kapal Marissa saat ini, sudah di wilayah pelabuhan tersebut tetapi karena banyaknya kapasitas kapal yang mengantri untuk berlabuh, jadi kami juga harus rela mengapung menunggu nomor antrian.


Alia dan teman-temannya sudah membenahi barang-barang bawaan mereka. Semua perlengkapan yang mereka bawa mereka pastikan tidak ada yang tercecer.


Berada dua hari di kapal Marissa membuat Alia sedikit banyak mengenal sosok Aufar. Beberapa kali Aufar mencoba mencari cara agar pertemanannya dengan Alia tidak berakhir sampai di sini saja.


Siang itu, sekitar pukul 10.00 WIB, Alia berdiri di teras kapal. Ia memandangi puluhan bahkan mungkin ratusan kapal yang sama-sama mengapung menunggu giliran berlabuh. Saat itu ia memakai celana jeans berwarna biru dongker dan kemeja berwarna putih bergaris-garis dengan kerudung senada dengan kemejanya.


Sepertinya Alia sedang mengucapkan salam perpisahan dengan kapal yang sudah memberinya berbagai kesan dan pengalaman yang tak terlupakan selama perjalanan ini.


"Kok melamun neng?" sapa Aufar yang saat ini berdiri di samping Alia.


''Eh, mas ah ngagetin aja." Alia terperanjat sambil memegang jantungnya agar tidak melompat.


"Sudah lama disini?"


"Nggak mas, barusan aja"


"Al..setelah ini kita akan berpisah, aku tidak tahu akan ada pertemuan untuk kesekian kalinya atau tidak..." Aufar tercekal, sebelum melanjutkan perkataannya lagi ia menarik nafas dalam.


"Alia...aku..aku sangat berterima kasih, kamu sudah mau berbicara denganku selama di kapal ini. Sebenarnya aku sedikit minder untuk hanya berbicara seperti ini. Aku sadar tidak banyak orang yang mau berteman dengan ABK seperti kami, tapi kamu berbeda. Kamu sangat berbeda dari mereka." Aufar berkata lirih.


"Mas Aufar ini ngomong apa sih? siapa yang nggak mau berteman dengan mas? Mas itu orangnya baik pasti semua orang ingin berteman. Mas...jika kita tulus mengenal seseorang maka orang lain tidak akan pernah melupakan kita. Percaya deh, walaupun hanya dengan pertemuan sesaat. Lagipula siapa bilang kita nggak akan bertemu lagi? Memang sih pepatah mengatakan dimana ada pertemuan, pasti ada perpisahan tetapi mas jangan lupa, karena dibalik perpisahan pasti akan ada pertemuan kembali mas."


Aufar tersenyum penuh optimis mendengar kata-kata Alia yang menambah angin segar akan kepesimisannya. Ternyata tanggapan Alia jauh dari apa yang dipikirkannya.


Ia mengira Alia akan melupakan pertemuan mereka dan melanjutkan hari-hari kedepannya tanpa mengingatnya kembali. Kekagumannya terhadap gadis berlesung pipi itu semakin bertambah. Rasa penasarannya untuk mengenal gadis itu lebih dekat mulai menggerogotinya.


Berada di samping Alia seperti ini bagaikan adanya medan magnet yang menariknya, menempelkannya lekat-lekat tanpa jarak sedikitpun. Aufar tidak ingin lepas. Keoptimisannya memuncak dan akhirnya ia memutuskan untuk tetap menghubungi dan menjalin silaturrahmi dengan Alia walaupun hanya di dunia maya atau sekedar bertukar pesan singkat. Tetapi ia juga ragu untuk meminta nomor ponsel Alia secara blak-blakan ia takut Alia illfeel dengan sikap barbarnya itu.


Setelah mendengar penuturan Alia, Aufar sangat yakin bahwa ini bukanlah pertemuan terakhir mereka. Ia mengulurkan tangannya bermaksud menjabat tangan Alia untuk penandai perpisahan sementara ini.


"Aku senang mengenalmu Al, semoga kita bisa bertemu kembali."


Alia tersenyum dan menyambut jabatan Aufar. "Aku juga senang mengenalmu mas, jangan nakal jadi ABK," Alia menarik tangannya dan menutup mulut sembari tertawa kecil.


"Maksudnya Al?" Aufar melongok bingung dengan kalimat terakhir Alia.


Alia masih terkekeh melihat ekspresi wajah Aufar yang menurutnya seperti ketakutan, wajah seorang pacar yang sedang disidang oleh pacarnya. "Itu loh mas, kata teman-temanku, ABK itu banyak yang nakal ya, suka godain cewek, terus nih katanya ABK itu sering punya istri dimana-mana ya?" Alia kembali terkekeh.


Aufar sangat gemes melihat tingkah Alia yang menurutnya sangat kocak itu. Beberapa hari sebelumnya ia mengenal Alia sebagai sosok yang kalem dan tidak banyak bicara. Sepertinya kali ini ia sudah berhasil menguak sjsi kekocakan gadis itu. Senyuman licik ingin menggoda terselip dibibirnya.


"Jadi kamu takut aku menggoda cewek lain?" Aufar menarik salah satu sudut bibirnya, penasaran dengan respon Alia.


"Iiiih apaan sih mas, itu tidak ada hubungannya denganku mas. Aku hanya memperingatkanmu sebagai teman."


DEG


Sengatan kekecewaan menghantam Aufar. Baru saja ia mengira Alia melambungkan hatinya, sesaat setelah itu kemudian dihempaskannya kembali. Ah, ia terlalu berharap banyak. Ia harus lebih introspeksi dan mawas diri. Aufar menghembuskan nafas berat. Mengapa hatinya terasa sakit setelah mendengar kata "teman"? Bukankah mereka memang hanya sekedar teman? Tapi mengapa mendengar kata-kata itu langsung dari mulut Alia terdengar begitu menusuk relung hatinya?


Mungkin sudah saatnya menyadarkan diri dari khayalan dan mimpinya yang terlalu tinggi itu. Dengan sikap Alia yang mau bertemannya saja itu sudah lebih dari cukup untuknya saat ini. Semoga kedepannya hatinya tidak akan pernah haus lagi akan harapan ingin terbalaskan rasa dihatinya. Semoga saja.


Perubahan ekspresi wajah Aufar membuat Alia merasa bersalah, apakah ada kata-katanya yang tidak sengaja menyakiti hati Pria tampan itu. Sebenarnya Alia juga kagum dengan ketampanan Aufar. Tampangnya sangat tidak cocok jika harus berprofesi sebagai seorang ABK. Tapi itulah kenyataan yang diketahuinya. Belum lagi sikap Aufar yang cenderung perhatian dan baik hati serta agamis menambah nilai plus untuknya.


Alia perlahan memegang bahu Aufar yang saat ini wajahnya fokus menatap perairan didepan mereka.


"Mas...maaf ya jika perkataanku ada yang menyinggung perasaanmu," Alia berkata lirih, tampak kilatan penyesalan diwajahnya. Aufar menatap wajah itu dengan lekat. Ah, kenapa ia manis sekali saat menyesal seperti ini. Rasanya Aufar ingin berlama-lama menatap wajah tersebut.


Wajah yang selalu menarik perhatiannya. Wajah yang selalu memenuhi pikirannya dalam dua hari ini. Wajah yang selalu terlihat hangat saat menatapnya dibanding wajah-wajah yang lain. Wajah yang selalu ingin diabadikannya walau hanya dalam bentuk lukisan tangan amatir. Wajah yang selalu membuat hatinya hangat dan tersengat aliran listrik jika menatapnya. Ah, apakah ini yang dinamakan cinta pada pandangan pertama? Aufar tidak tahu, yang ia tahu hanya ia tidak ingin berpaling dari wajah itu. Wajah yang membuat tidurnya tidak nyenyak.


Ia ragu, apakah setelah hari ini ia akan bisa tidur nyenyak? Ah, entahlah. Mungkin hanya sebatas kekaguman saja. Aufar menangkis segala pikiran yang membuat hatinya terbawa suasana.


"Mas.." Alia membuyarkan lamunan Aufar.


"I-iya Al...? Maaf.."


"Mas kenapa? Kata-kataku benar-benar telah melukai hatimu ya?" Alia menyipitkan matanya terlihat sangat menyesal.


"Ti-tidak Al..A-aku ha-hanya.." Ah, Aufar benci kalimatnya yang terbata-bata. Sebelum Aufar menyelesaikan kalimatnya, Alia menyambarnya terlebih dahulu.


"Maafin aku ya mas, Aku tidak bermaksud seperti itu percayalah." Melihat manik mata Alia ntah mengapa jantung Aufar selalu berdegup kencang. Ia harus menghentikannya sebelum Alia benar-benar mendengarnya.


"Tidak Al, tidak ada kata-katamu yang salah ataupun menyinggung perasaanku. Kamu tidak perlu khawatir."


Jawaban Aufar melegakan hati Alia. Ia takut meninggalkan kesan buruk sebelum perpisahan mereka. Alia senang bisa mengenal Aufar. Setidaknya Aufar sudah mengukir koleksi kenangan dalam perjalanan hidupnya.


"Ya sudah, kalo begitu, aku pamit ke dalam ya mas. Aku ingin memastikan kondisi Kak Selvia."


"Baiklah Al..Jaga dirimu baik-baik, beri tahu teman-temanmu untuk bersiap-siap sepertinya lima belas menit lagi kapal akan berlabuh."


"Siap mas. Terima kasih ya mas, mas juga jaga diri baik-baik" Dalam sekejap mata Alia sudah berlalu meninggalkan Aufar dengan hati yang masih sakit seperti tertusuk duri.


***


"Kak, gimana kondisi kakak? Tidak lama lagi kapal ini akan berlabuh. Semua barang-barang kakak sudah aku masukkan ke dalam koper." Alia nyerocos saja seperti bebek.


Kak Selvia yang sedang duduk diatas matras sambil memainkan ponselnya tersenyum melihat gadis pujaan hati Kakaknya itu, "Iya, Alhamdulillah kakak sudah sehat Al. Ini Berkat bantuan temanmu tadi malam itu. Sampaikan ucapan terima kasihku padanya ya Al."


***


Benar kata Aufar, lima belas menit kemudian kapal sudah berada di tepi pelabuhan. Begitu pintu dibuka semua penumpang bergantian untuk keluar dari kapal melalui dua pintu penumpang.


Kak Selvia menyeret kopernya didampingi oleh Alia menuju ke pintu keluar. "Al, dimana temanmu itu?" Kak Selvia melongokkan wajahnya kesana kemari mencari sosok yang ia rasa sudah membantunya dan Alia. Alia juga melakukan hal yang sama. "Iya ya, dimana dia ya Kak? Aku juga sekalian mau pamitan, dia benar-benar baik."


Dari kejauhan, sosok itu menguntit gerakan mereka. Aufar berdiri di samping meja biliyar yang ada di lantai tiga kapal tersebut. Jaraknya sekitar sepuluh meter dari posisi Alia saat ini. Walaupun banyak penumpang yang mengantri untuk keluar disana tetap saja sangat mudah untuk mengunci wajah familiar itu. Sepertinya ia ingin mengucapkan say goodbye tetapi ragu-ragu.


Satu detik, tiga detik, lima detik, sepuluh detik, mata mereka bertemu. Mereka terkunci dalam pandangan yang tak terbaca. Alia maupun Aufar mengakhiri tatapan tersebut. Serasa ketika itu juga waktu berhenti, hanya ada mereka berdua disana. Alunan musik klasik seperti terdengar nyata.


DEG


Alia mengakhirinya. Ia menundukkan kepala, sejenak berpikir sebelum akhirnya menatap mata indah itu lagi. Tatapannya terhipnotis seperti heroin yang membuatnya ingin dan ingin terus menatapnya.


"Al..sepertinya itu dia, teman barumu." Kak Selvia yang sedari tadi mengikuti arah tatapan Alia, membuatnya memutus tatapan tersebut.


"Eh, iya Kak..ayo kita temui dia." Alia dan Kak Selvia berjalan perlahan menghampiri Aufar. Aufar terlihat sedikit gugup tak sepercaya diri seperti sebelumnya. Mungkin ia sadar bahwa Kak Selvia menangkap basah tatapan penuh makna yang ia lontarkan kepada Alia.


"Mas,.."


"Al..."


Mereka kembali terkunci oleh tatapan mata. Kak Selvia mulai curiga, dia tidak ingin wanita pujaan hati kakaknya itu direbut orang lain. Ketika itu juga ia langsung menginterupsi.


"Ehemm....Hai, perkenalkan saya Selvia temannya Alia. Terima kasih sudah banyak membantu kami selama di kapal ini." Kak Selvia langsung membuyarkan keduanya.


"Eh iya, salam kenal mbak Selvia. Saya Aufar. Sama-sama mbak kami hanya melakukan tugas untuk selalu melayani semua penumpang di kapal ini dengan baik, terima kasih sudah memilih kapal ini untuk menemani perjalanan Anda, Semoga kami tetap bisa menjadi pilihan Anda untuk perjalanan-perjalanan selanjutnya." Ucap Aufar dengan sopan sambil sedikit membungkukkan tubuhnya.


Alia berdigik heran, "Kenapa bahasa Aufar terdengar sangat formal ketika berbicara dengan Kak Selvia?" gumamnya dalam hati.


"Baiklah, terima kasih kembali, kami pamit dulu, Ayo Al.." ajak Kak Selvia sembari merangkul bahu Alia.


Sejurus kemudian mereka membalikkan badan membelakangi Aufar. Hatinya terasa gusar, sedih, bingung menjadi satu. Bagaimana jika setelah ini ia tidak bisa bertemu kembali dengan Alia? Bagaimana caranya agar dia masih tetap bisa berkomunikasi dengan gadis berpipi cubi itu? Akhirnya ia mengumpulkan keberaniannya. Fix. ia akan meminta nomor ponsel Alia


Jarak Alia semakin menjauhinya, hatinya kembali ciut mengingat statusnya yang diketahui Alia tidaklah hanya pekerja sebuah kapal, apakah Alia akan mengabulkan permintaannya atau malah menolaknya? pikiran-pikiran itu membuatnya kembali ragu. Tetapi ia tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini. Ini kesempatan terakhirnya. Nasib diujung tanduk. Tidak masalah jika Alia menolak permintaannya, yang penting ia sudah berusaha. Tanpa ragu, ia memanggil Alia.


"Alia..Al..tunggu Al.."


Karena jaraknya yang belum terlalu jauh, suara panggilan itu sangat terdengar jelas oleh Alia. Ketika itu juga ia membalikkan tubuhnya. Alia melihat Aufar mendekat menghampirinya.


"Al..bagaimana caranya aku bisa menghubungimu nanti jika aku tidak memiliki nomor ponselmu?" Aufar to the point banget ya. Tidak apa yang penting ia sudah jujur,,hehe


"Oh iya mas, sebentar.'' Alia mengambil secarik kertas yang sudah ia berisi nomor ponselnya disana dan memberikannya kepada Aufar. "Ini mas" Aufar tersenyum penuh kemenangan.


"Terima kasih ya Al..aku akan menyimpannya."


Alia mengangguk sambil tersenyum, "Aku pamit ya mas."


Alia dan Kak Selvia keluar meninggalkan kapal itu. Bukan hanya kapal tetapi Alia telah meninggalkan Aufar tanpa berbalik lagi. Aufar memaklumi mungkin Alia malu kepada temannya. Tidak masalah, yang terpenting adalah nomor ponsel Alia sudah digenggamannya. Ia akan menghubungi Alia lagi di waktu senggangnya.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Ini dua episode aku jadiin satu ya man temaan..kenapa? gak papah..hehe


like dan komen serta votenya ya 💞 terima kasih🙏