I Love You Till Jannah

I Love You Till Jannah
S2 Kado yang Tertunda



Alia sudah sampai di gerbang kampus saat sebuah mobil sedan berwarna putih terparkir sempurna di tepi jalan. Penampakan yang menyempurnakan kemewahan kendaraan roda empat itu adalah sesosok laki-laki tampan mengenakan kemeja putih dan jas berwarna hitam bertengger mesra di pundaknya. Pria itu tersenyum lebar seraya menyandarkan tubuhnya di samping mobil.


"Oh God..kenapa semakin hari dia terlihat semakin tampan saja? Abis makan apa coba? Eh, ngawur kan aku..! Bukankah wajah tampannya itu sudah bawaan dari dalam perut yak?" Alia bergumam sendiri sambil terkekeh kecil. Ia berjalan perlahan mendekati sang suami yang masih PW dengan posisinya.


"Kok Mas bisa tahu kalo aku udah selesai?" Tanya Alia yang sudah berdiri tepat di hadapan Aufar. Tinggi badannya yang semampai mengharuskan ia mendongakkan kepalanya untuk mencapai pemandangan bentuk sempurna ciptaan Tuhan yang telah menjadi suaminya tersebut.


"Bisikan hati," jawab Aufar lirih di telinga Alia. Hembusan nafas hangat aroma khas daun mint yang berasal dari rongga mulut Aufar selalu berhasil membuat Alia candu sehingga ia ingin terus menerus menghirupnya.


"Permen baru?" Tanya Alia ketika mereka sudah berada di dalam mobil.


"Permen lama, cuman kemasan baru." Jawab Aufar tanpa mengalihkan pandangannya dari jalanan.


Alia mengambil satu biji permen rasa mint yang tergeletak di atas dashboard. Tangannya mulai menggerogoti kemasan permen tersebut, namun tak juga berhasil. Aufar melirik sekilas tangan istrinya dan memandang iba kemasan permen yang sudah tampak kucel itu. Poor candy!


Tanpa permisi ia mengambil alih permen itu dan membukakannya untuk Alia. Aufar menyodorkan bungkusan permen tadi dalam kondisi kemasannya yang sudah menganga. Membuat Alia tersenyum usil, dan menggoda Aufar.


"Enggak sekalian disuapin nih?" Tanya Alia dengan nada manja level satu.


"Eh, maunya gitu?" Aufar balik bertanya.


"Iya dong, nanggung banget episode romantisnya." Nada manja level dua.


Mendengar kalimat terakhir Sang Istri, Aufar lantas menarik tangannya dari hadapan Alia dan menggigit permen itu dengan ujung giginya.


"Loh, kok malah dimakan sendiri sih?" Cebik Alia.


Wanita itu dengan kesal melipat kedua tangan di depan dadanya. Wajahnya terlihat ditekuk dan bibirnya dibuat mengerucut. Sungguh pemandangan yang menggemaskan bagi Aufar.


Perlahan dokter muda itu mendekatkan wajahnya kepada Alia dan menyuapkan permen itu kepada Alia dengan menggunakan bibirnya. Sontak Alia terperanjat. Tidak ada penolakan ataupun dorongan. Ia tersenyum geli dan menyambut kedatangan permen itu dengan senang hati. Sejenak bibir keduanya bertemu, tanpa adanya gejolak nafsu.


"Ini sih modus aja kayaknya," batin Alia. Sontak ia menggigit manja bibir bawah Aufar yang membuat suaminya itu meringis kesakitan.


"Iiiiis sakit dong, Sayang. Bukannya dikecup balik eh malah mau dimakan juga." Aufar menjauhkan wajahnya dari Alia. Ia kembali fokus memperhatikan jalanan sambil mengusap-usap bibir bawahnya yang terlihat sedikit merah. Sedangkan Alia hanya terkekeh kecil karena merasa berhasil terlepas dari jeratan suaminya.


Mobil yang dikendarai Aufar melaju dengan kecepatan sedang. Ia sengaja ingin menikmati pemandangan sore itu walaupun dibubuhi dengan kemacetan yang mengular di perempatan.


"Gimana dengan pekerjaanmu hari ini, Mas? Tanya Alia di sela-sela suara musik pop barat yang mengalun menemani perjalanan mereka.


"Pasien yang waktu itu aku ceritakan padamu, hari ini kembali menemuiku." Aufar memulai ceritanya ketika mobilnya berhenti karena lampu merah lalu lintas yang menyala.


"Belum ada perubahan yang signifikan sih dari kondisinya, namun aku semakin tertantang untuk mengungkap kasus ini." Aufar menceritakan tentang pasiennya yang bernama Nyonya Anisa Subekti kepada sang istri.


Nyonya Anisa Subekti adalah pasien yang mengalami trauma masa lalu yang mendalam sehingga menyebabkannya mogok bicara dan memilih untuk menyiksa dirinya sendiri dengan beberapa kali melakukan percobaan bunuh diri.


"Lantas bagaimana dengan keluarganya? Apa kamu sudah menemui mereka?" Alia melanjutkan pertanyaannya.


"Itulah yang masih tidak bisa ku percaya. Sejak medical check up yang pertama, wanita paruh baya itu hanya ditemani oleh perawat pribadinya. Aku jadi semakin curiga." Aufar menancap gasnya ketika lampu lalu lintas berubah menjadi warna hijau.


"Aku harus menyelidikinya." Lanjutnya lagi sambil mengalihkan pandangannya sekilas ke jendela mobil seolah-olah sedang memikirkan sesuatu.


***


Di pulau seberang sana, terlihat seorang gadis yang seumuran dengan Alia, sedang memandang layar ponselnya. Berkali-kali ia melakukan panggilan video, namun nomor yang ia tuju selalu di luar jangkauan. Gadis itu tampak gusar dengan ekspresi wajah yang tidak bisa ia sembunyikan. Khawatir!


Tut.. Tut...Tut...


"Assalamu'alaik.." Sapa Alia di depan layar ponselnya.


"Wa'alaksalam..cie..cie..mentang-mentang udah jadi istri ditelepon aja susah banget. Belum lagi kalo jadi menteri keuangan. Jangan-jangan kamu udah lupa ya kalo punya temen seperti aku?" Cerca Isni kepada Alia tanpa ragu.


"Ahahaha..lebay deh! Kamu apa kabar, Is? Tanya Alia kepada Isni yang mengawali percakapan mereka dengan penuh drama.


"Oh ya? Apa itu Is?" Alia menegakkan tubuhnya bersandar di muka tempat tidur. Pandangannya semakin menajam karena tidak ingin melewatkan detail sekecil apapun dari cerita sahabatnya itu.


"Dua minggu lagi aku dan Kak Urai akan menikah, Al. Kami berharap kamu dan suamimu bisa hadir dalam momen bahagia itu. Aku sudah mengirimkan e-invitation-nya ke alamat email mu. Check aja ya." Jelas Isni dengan wajah yang berseri-seri.


"Alhamdulillah, aku turut bahagia Is. Selamat ya, dear. InsyaAllah aku usahakan hadir, semoga Mas Aufar juga bisa ikut."


Alia terlihat sangat antusias. Pasalnya sejak penolakannya terhadap lamaran Kak Urai, Alia menaruh harapan lebih agar Isni dan laki-laki itu berjodoh. Ternyata diam-diam Tuhan menjawab do'anya.


"Sip deh, aku tutup dulu ya Al. Aku masih ada kerjaan nih. See you next two weeks. Assalamu'alaik.." Pamit Isni yang dijawab dengan lembut oleh Alia.


"Telepon dari siapa, Sayang?" Aufar tiba-tiba masuk ke dalam kamar dengan memeluk beberapa kotak yang seperti bungkusan kado.


"Isni, Mas. Dia ngundang kita untuk hadir dalam acara pernikahannya dengan Kak Urai yang akan dilaksanakan dua minggu lagi. Tapi...." Alia memotong kalimatnya.


"Ooh.." Aufar meletakkan barang bawaannya di atas kasur.


"Nah, apa ini Mas?" Ia mengalihkan pandangannya pada beberapa kotak yang telah mendarat di atas tempat tidur.


"Kado pernikahan dari teman-teman di rumah sakit. Sebenarnya sudah lama mereka mengirimnya padaku, tapi aku lupa mengeluarkannya dari mobil." Jawab Aufar sambil meraih salah satu kotak kado yang dibungkus dengan kertas metalik berwarna biru.


"Kuy..dibuka..!" Ajak Aufar.


Alia yang penurut, mengikuti begitu saja jejak suaminya. Melukai satu persatu kertas yang membungkus kado itu dan mencabiknya tanpa belas kasihan. Seandainya kertas itu bisa berbicara, mungkin suaranya akan terdengar sangat memilukan di telinga Alia.


"Apaan ini?" Suara Aufar mengejutkan Alia yang sedang khusyu' dengan misinya.


Lengan kekarnya sedikit terangkat menganyun-ayun dan merentangkan kain brokat berwarna merah terang berbentuk segitiga dengan kedua tangannya.


Melihat hal itu, Alia terkekeh geli melihat kado pertama yang Aufar buka ternyata sepasang underwear dengan warna yang dibuat kompak. Hanya saja bahannya berbeda jenis. Aufar menilik setiap sisi barang tersebut sehingga membuatnya mengerutkan keningnya.


"Kurang bahan, tapi......aku suka, hahahaha." Tuturnya sambil tergelak.


Next box sudah terlepas dari sampulnya. Alia memegang kotak yang berukuran paling kecil itu dan membukanya.


"Taraaaaa..." Satu persatu tangan Alia mengeluarkan potongan kertas kecil yang sengaja di isi oleh si pemberi untuk memberikan kesan penasaran kepada si penerima.


"Huffft....dapet." Alia meraih sebuah benda yang terlihat seperti balon berukuran kecil yang belum berisi udara, berwarna putih.


"Ini apa sih?" Ia mendekatkan wajahnya meneliti balon itu. "Balon ini buat apa, Mas? Apa mereka pikir kita akan merayakan hari ulang tahun?" Alia terkekeh kecil karena tidak mengetahui jati diri barang tipis yang dianggapnya balon itu.


Aufar yang melihat tingkah polos sang istri, langsung meraih barang itu dari tangan Alia.


"Ini bukan balon untuk perayaan ulang tahun, Sayang." Aufar sengaja memotong kalimatnya.


"Terus?" Tanya Alia semakin kepo.


"Tapi balon ini berfungsi untuk menyampul barang pusaka." Jelas Aufar yang tentu saja belum bisa difahami oleh Alia.


"Barang pusaka?" Ia mengedipkan kedua kelopak matanya berkali-kali tampak sedang memikirkan sesuatu.


"Iya..Mr. Banana." Bisiknya lirih di telinga sang istri, yang membuat kedua mata Alia terbuka sempurna.


"Ya ampun, Mas. Pantesan aja kamu mesumnya enggak ketulungan. Ternyata teman-temanmu adalah komunitas orang-orang mesum ya? Ahahaha.." Alia tak lagi bisa menahan tawanya ketika Aufar menggelitik pinggang rampingnya.


Setelah selesai bercanda mesra mereka melanjutkan misi pembukaan kado tersebut. Kali ini Aufar sedang memegang sebuah kotak berukuran sedang yang dibungkus dengan kertas kado berwarna merah cabai keriting.


Ketika kotak sudah terbuka, tampaklah beberapa lembar foto mesranya dengan seorang wanita yang selama ini selalu mengusik ketenangan hidupnya. Aufar melirik Alia yang tengah sibuk mencabik kertas kado pada kotak yang lain, lalu ia buru-buru menyembunyikan kotak tersebut di bawah ranjang sebelum Alia melihatnya.


Bersambung...