
Dengan langkah gontai menahan kekesalannya, Fana berjalan meninggalkan gedung itu. Ia bergegas menuju tempat yang dimaksud oleh Jimmy. Di perjalanan tak henti-hentinya ia berdecak kesal. Kenapa rencana untuk mencelakai Alia selalu saja gagal? Jimmy benar-benar sangat berpengaruh dalam hal ini.
"Sebenarnya apa sih maunya si Jimmy itu? Selalu saja serba salah aku dibuatnya!" Gerutu Fana sambil berjalan memasuki sebuah cafe yang biasa mereka jadikan special place untuk melangsungkan meeting tersembunyi seperti hari ini.
Wanita blasteran Indonesia-India itu mengekori setiap sudut ruangan cafe, hingga akhirnya lensanya menangkap sosok yang ia cari. Siapa lagi kalau bukan Jimmy. Ya, Jimmy. Sosok misterius yang Author sembunyikan kedoknya dibalik sikap baik dan frontalnya sejauh ini🤭. Bagi para readers yang sudah terlanjur nge-fans sama Akang Jimmy jangan menyesal ya.😁 Akang Jimny akan tetap melakukan yang terbaik kok sebelum tiba waktunya.✌️
Laki-laki tampan itu memilih meja paling pojok agar pembicaraan mereka tidak bisa didengar oleh orang lain. Walaupun saat ini, ia menutupi wajahnya dengan masker, namun indera penglihatan Fana sangat hafal akan postur tubuh asisten pribadi laki-laki incarannya itu.
Tanpa ragu Fana mendudukkan tubuhnya pada kursi yang berseberangan dengan Jimmy, membuat dirinya berhadapan lurus dengan tatapan macan pemuda itu.
"Lu telat lagi!" Kalimat pembuka berhasil diucap Jimmy setelah Fana memesan minuman dan cemilan untuknya.
"Ini juga udah pake kecepatan maximum kali." Cebik Fana yang masih merasa kesal terhadap Jimmy.
"Lu tu enggak pernah berubah ya, selalu aja gegabah dalam bertindak. Gua kan udah sering ngingetin lu buat meminimalisir sikap barbar lu itu! Tapi kayaknya otak lu itu isinya maksiat mulu'." Cerca Jimmy dengan menghadiahkan sentilan kecil di kening Fana.
"Lu tu yeee..kasar aja terus ama gua? Giliran ama Alia, lu tu sopannya pake banget." Sosor Fana sambil mengelus keningnya yang sedikit sakit akibat perbuatan Jimmy.
"Alia itu istrinya boss gua, wajar aja kalo gua bersikap sopan. Nah elu?" Jawab Jimmy santai sambil memicingkan matanya ke arah Fana.
"Pokoknya kedepannya gua enggak mau kalo lu bertindak ceroboh lagi kayak tadi. Jangan sampe obsesi lu itu ngancurin rencana yang udah gua susun rapih selama ini! Lu tahu kan akibatnya?" Penekanan demi penekanan sudah terdengar jelas dari balik masker yang Jimmy gunakan. Membuat Fana bergidik ngeri.
"Gua tu bingung yee ama elu, sebenarnya apa sih yang membuat elu mepet si Aufar? Dan satu lagi, gua perhatiin kayaknya lu suka kan ama istri boss lu itu?" Tanya Fana yang mulai penasaran.
"Kepo lu, it's none of your business, got it? Yang gua pengen dari lu itu adalah lu harus dapetin dokumen yang gua mau, ngerti lu! Kalau elu enggak mau reputasi lu hancur berkeping-keping di tangan gua! Lu tahu kan kalo rahasia lu itu banyak banget dalam kantong gua?" Ancam Jimmy.
Fana yang menatap sorot mata keseriusan dari Jimmy lantas tak berani lagi membuka mulutnya. Perdebatan kusir yang terjadi diantara dua orang yang belum jelas statusnya itu harus terinterupsi dengan kehadiran seorang pelayan cafe yang mengantarkan pesanan mereka.
"Silakan Tuan, Nona..." Pelayan yang berjenis kelamin laki-laki itu melirik sedikit ke arah Fana kemudian tersenyum kemudian berlalu dari sana.
Fana menyesap jus alpukat ditambah lelehan cokelat diatasnya dengan kasar tanpa ampun. Seolah-olah ia sedang menelan Jimmy bulat-bulat masuk ke dalam perutnya. Tambah kesal, itulah makna yang tersembunyi di balik wajah cemberutnya.
"Apa sebaiknya gua bernegosiasi ama mafia satu ini ya? Barangkali itu bisa dijadiin cara buat gua lepas dari bayang-bayang ni laki." Pemikiran Fana mulai travelling. Ia sudah tidak ingin mengundur waktu lagi. Keberadaan Jimmy selalu membuatnya merasa lebih takut melebihi ketakutannya pada sosok genderewo atau mbak kunti sekalipun.
"Jim..gimana kalo lu ama gua bekerja sama?" Senyuman licik Fana mulai naik kepermukaan.
"Maksud lu?" Tanya Jimmy mengernyitkan dahinya.
"Gimana kalau gua bantuin lu buat dapetin Alia? Jadi gua bisa dengan leluasa merebut hati Aufar kembali. Sebagai gantinya lu harus lepasin gua dari kerangkeng ghaib lu ini!" Fana mencoba bernegosiasi berharap Jimmy akan menerima usulannya.
Jimmy terlihat berfikir sejenak, seperti layaknya gambaran sosok Albert Enstein yang sedang mendaratkan jarinya pada pelipis mata.
"Emangnya apa rencana lu?" Jimmy sepertinya mulai tertarik. Tidak bisa dipungkiri, perasaannya kepada Alia adalah benar adanya. Selama ini ia hanya berusaha menutupinya dari permukaan.
Fana, wanita licik ini sangat pintar membaca situasi. Senyuman kemenangan menyeringai di bibir sexy-nya. Ia mendekatkan bibirnya ke telinga Jimmy dan membisikkan rencana busuknya. Dasar bunga bangkai! Busuk!!!
"Okay, gua terima kerja sama ini. Tapi ingat soal dokumen itu, lu tetap harus nyerahinnya ke gua se-ce-patnya!" Ujar Jimmy dengan tegas sambil menunjukkan jari telunjuknya ke arah Fana.
"Iya, iya, gua ngerti, bawel..!!" Fana melanjutkan ritual ngemilnya setelah berhasil membujuk Jimmy dengan rencana kotornya.
***
Alia mengerjapkan kelopak matanya ketika waktu sudah menunjukkan pukul 17.00 waktu setempat. Ia terbangun tepat pada waktunya. Wanita bermata bulat itu, menggeliat seperti cacing, meregangkan otot-otot di tubuhnya yang terasa kaku. Lumayan, istirahat singkat, membuatnya merasa lebih baik.
Ketika akan bangkit dari posisi awalnya, Alia merasa ada sesuatu yang berat menimpa dirinya. Sontak ia membuka selimut dan melihat sebelah tangan Aufar melingkar mesra di pinggang rampingnya. Alia tersenyum melihat hal itu. Perlahan ia raih tangan kekar sang suami dan menciumnya dalam dengan penuh rasa syukur.
"Akhirnya aku bisa bersama kamu, Mas." Alia memiringkan tubuhnya, membuat wajahnya yang masih berbalut kerudung itu, berhadapan dengan wajah tampan sang suami yang masih tertidur pulas.
"Kamu hanya milik aku seorang, Mas. Perasaanku tidak pernah berubah, sama seperti awal pertemuan kita di kapal itu. Maafkan aku yang harus membuatmu pergi kala itu. Aku sayang kamu."
Jari lentik Alia mulai nakal. Menyusuri setiap inci wajah tampan suaminya. "Aufar memang tampan," batinnya sambil tersenyum. Jari telunjuk Alia mulai mengabsen wajah Aufar. Mulai dari hidung mancungnya, alis tebal, rahang kokoh, dan...bibir. Bibir sensual ini sudah mencuri ciuman pertamanya. Alia tersenyum simpul mengingat momen first kiss mereka tadi.
"Kamu tu ternyata pinter ya masalah begituan, jangan-jangan kamu udah sering ya ngelakuinnya?" Cebik Alia yang mulai baper mengingat kemampuan ciuman Aufar yang menurutnya mumpuni. Namun ia masih saja mengelus bagian dari wajah Aufar yang tak luput dari pandangannya itu. Sehingga pada akhirnya iya harus terkejut dengan suara bariton Aufar.
"Aku cuma ngelakuinnya sama kamu kok, Sayang.." Berhasil. Suara Aufar membuat Alia tersentak. Kekehan kecil terdengar dari mulut dokter muda itu.
"Ja-jadi kamu cuma pura-pura tidur, Mas?" Tanya Alia yang mulai menjauhkan tubuhnya dari Aufar. Namun gagal, lengan kokoh itu berhasil menarik kembali tubuh mungil Alia sehingga mengikis jarak diantara keduanya.
"Sebenarnya aku tadi masih tidur, Sayang. Tapi jari lentik mu ini membangunkan aku dari mimpi indah ku." Jawab Aufar yang masih mengunci tubuh Alia dan menyentuh pucuk hidung sang istri.
"Ma..maaf, Mas. Udah gangguin tidurnya kamu." Ucap Alia yang merasa bersalah. Ia tertunduk menyesali perbuatannya yang ia rasa mengusik Aufar.
"Hey..hey.." Aufar meraih dagu runcing Alia agar mendongak menatapnya.
"It's fine, Sayang. Lakukan saja semaumu. Now, I'm yours." Kata-kata Aufar membuat bulu kuduk di sekujur tubuh Alia merinding. Ia mulai mencium aroma mesum terselip dibibir sensual suaminya.
"Ma...mas...aku mandi dulu ya, udah mau maghrib ini." Alia mencoba melepaskan dekapan Aufar, namun tetap saja gagal total.
"Enggak mau coba simulasi dulu?" Aufar tersenyum menggoda penuh makna.
"Uuuuuh simulasi-simulasi, ingat!!! Pelan-pelan aja, Mas..."
Alia tersenyum nakal sambil mencubit perut Aufar. Tentu saja hal itu, membuat suaminya meringis kesakitan.
Kesempatan ini digunakan Alia untuk kabur melesat memasuki kamar mandi. Ia sempat mengejek Aufar dengan menjulurkan lidahnya sebelum akhirnya bayang-bayangnya hilang di telan pintu. Melihat tingkah lucu sang istri tentu saja membuat Aufar tergelak tak kuat menahan tawa.
Bersambung