I Love You Till Jannah

I Love You Till Jannah
POV Aufar Dwi Anggara Part 2



Tepat di tahun kedua, I just found someone very special. Awalnya aku mengira usianya masih dibawah umur, karena tubuh mungil dan wajah imutnya. Ternyata aku salah.


Ia adalah seorang Mahasiswi di salah satu Universitas Negeri di Kota Khatulistiwa. Gadis tangguh dan mandiri. Gadis cerdas dan berprestasi. Kuliah dengan bantuan beasiswa namun masih mau bekerja part time di sela-sela kesibukan perkuliahannya. Satu kata untuknya, Salut👍.


Hari pertama aku melihatnya, ia memasuki dek (lantai) tiga kapal ini. Malam itu, aku sedang bersantai menemani Rizky berjaga malam di loket informasi. Tatapanku terkunci pada seorang gadis bertubuh tidak terlalu tinggi.


Ia berjalan berdampingan dengan temannya. Bola mata yang besar dan pipi chubby itu terlihat sangat menggemaskan. Tanpa aku sadari, sudut bibirku membentuk lengkungan tipis yang hampir tak terlihat, beautiful. Kata itu lolos begitu saja dari bibir ini.


Dia datang bersama rombongan, entah awalnya aku juga tidak tahu dalam rangka apa mereka melakukan perjalanan ini. Namun dari sekian banyak orang, hanya sosoknya yang paling dominan di mataku. Senyuman manis dan tawa kecil itu sungguh renyah terdengar di indera pendengaranku. Berasa mendengar lantunan musik klasik dari grup band legenda.


Apakah ini yang dinamakan love in the first sight? I don't know, yang jelas setelah momen itu, aku ingin selalu memandang wajahnya. Menatapnya lekat-lekat dari jarak yang begitu dekat. Bahkan hati ini ingin mengenalnya lebih jauh lagi.


Sebenarnya selama dua tahun bekerja di kapal ini, tidak sedikit wanita yang aku temui. Dari berbagai kalangan bahkan bermacam model dan bentuk. Namun, mereka sama sekali tidak menarik dimataku.


Selama ini aku memang terkesan menghindari interaksi lebih intim dengan lawan jenis. Aku masih ingin fokus dengan pekerjaanku. Bukan berarti aku tidak menyukai wanita, hanya saja aku tidak ingin mereka menjadi penghambat dalam karirku. Aku ingin meraih mimpi lebih tinggi lagi dan lagi.


Namun setelah melihat gadis itu, jantungku berdetak tidak karuan. Pandanganku serasa terhipnotis oleh pesonanya. Menurutku, ia gadis yang sederhana, sama sekali tidak berlebihan dalam penampilan. Wajahnya hanya dipoles dengan make up tipis yang terkesan natural. Cara berpakaiannya juga sopan dan menutup sempurna Auratnya. Namun, memandangnya seperti memberikan ketenangan tersendiri. Senyumannya menghancurkan tamengku.


Sejak malam itu, aku selalu mengawasinya. Bukan maksud untuk menguntitnya. Namun rasa penasaranku amat sangat besar. Jiwa detektifku meronta-ronta☺️ tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini. Kali ini saja, aku ingin mengikuti kata hatiku.


Aku melihat ia menuju ke arah mushalla, aku yakin ia akan melaksanakan kewajibannya. Aku membuntutinya dari jauh dan perlahan masuk ke tempat wudhu, setelah aku rasa ia sudah selesai bersuci. Aku sengaja membuat diriku terlihat seperti cleaning service agar ia tidak curiga.


Aku yakin ia akan terkejut dengan kehadiranku, terbukti saat akan keluar dari tempat wudhu ia terperanjat melihatku. Aku meminta maaf dan Ia membalasku dengan senyuman. Manis sekali. Sungguh kecantikan yang alami. Ia berlanjut menuju mushalla.


Kemudian aku melanjutkan niatku untuk bersuci dan menyusulnya untuk melaksanakan kewajiban. Di depan pintu mushalla aku kembali melihat senyuman manis itu. Ingin sekali aku menahannya agar tidak berlalu begitu saja. Namun aku khawatir ia akan illfeel jika aku bersikap barbar dan sok akrab.


Keesokan harinya aku menemuinya yang sedari tadi berdiri di teras kapal. Ia menerawang jauh ke lautan yang terbentang luas. Aku yakin ia sedang memikirkan sesuatu. Aku rasa aku tidak berhak untuk menanyakan permasalah hidupnya.


Aku mencoba mendekatinya. Beruntung ia sangat ramah jadi aku tidak merasa diacuhkan. Menurutku ia sangat berbeda dengan teman-temannya yang lain.


Lama berbicara dengannya membuatku mendapatkan informasi yang sangat ingin aku ketahui, ya namanya. Alia..nama yang bagus, sangat cocok dengan orangnya.


***


Setelah pertemuan di kapal waktu itu, wajah Alia selalu terpampang nyata di benakku. Memori terbesarku ini sudah dipenuhi dengan bayangannya.


Aku mencoba mengiriminya pesan singkat berharap ia akan membalasnya. Aku sudah menyimpan nomor ponsel pemberiannya. Ternyata seperti yang aku harapkan, ia merespon pesanku. Kami jadi sering bertukar pesan dan melakukan panggilan suara.


Kebiasaan baru ini, tentu sangat mengubah drastis keseharianku. Semangat bekerjaku semakin menggebu-gebu. Aku selalu termotivasi dengan kisah hidup yang ia ceritakan. Kekagumanku bertambah padanya.


Dari awal perasaan ini memang sudah bertunas. Tentunya ditambah frekuensi interaksi yang rutin dan pertemuan yang terbilang sering, maka akan membuatnya tumbuh subur.


Aku memutuskan untuk mengutarakan perasaanku pada Alia. Awalnya aku ragu, aku takut ia akan menolak perasaanku ini. Namun aku harus mencobanya.


Setelah aku mengetahui bahwa perasaanku disambut dengan hangat olehnya, hatiku sangat bahagia. Pasalnya aku tidak yakin ia akan memiliki perasaan yang sama, karena yang aku tahu, kebanyakan wanita zaman sekarang lebih mengejar status sosial seorang laki-laki ketimbang ketulusan hatinya.


Namun Alia sangat berbeda. Ia tidak peduli dengan status sosialku. Ia dengan lapang dada menerimaku walaupun sepengetahuannya aku ini hanya seorang ABK (Anak Buah Kapal).


Tidak ada yang mengetahui hubungan yang terjalin diantara kami, karena ia memintaku untuk merahasiakan semua ini dari siapapun, termasuk teman-temannya. Di mata orang, kami hanyalah teman biasa.


Aku menghargai keputusannya. Tidak merasa keberatan sedikitpun. Apalagi setelah mengetahui bahwa Ayahnya melarang keras ia mempunyai hubungan special dengan lawan jenis. Aku hanya perlu bersabar sampai waktunya tiba.


Aku bersungguh-sungguh dengan perasaanku kepadanya. Hanya saja, aku melakukan kesalahan besar dengan tetap menyembunyikan identitasku darinya. Melihat ketulusannya kepadaku, aku berniat untuk menceritakan semuanya tentang diriku dan keluargaku. Aku masih menunggu waktu yang tepat.


Ditengah kebahagiaanku dengan kehadiran Alia, tanpa disangka-sangka, tidak ada angin tidak ada hujan, pihak rumah sakit memutuskan MOU dengan pihak Pelayaran secara tiba-tiba. Itu berarti aku harus kembali bekerja di rumah sakit. Sebenarnya aku agak curiga, pasti ada seseorang dibalik pemutusan kontrakku ini. Aku akan menyelidikinya.


***


Malam itu aku mengajak Alia makan malam pertama setelah perpisahan kami karena ia pulang kampung menghabiskan waktu libur semester bersama keluarganya.


Namun malang bersambut. Aku melakukan kesalahan karena kecerobohanku sendiri. Malam itu Alia pergi meninggalkanku begitu saja di restoran dengan seorang laki-laki yang tidak aku kenal. Sebenarnya aku pernah bertemu dengannya. Namun hanya sekali itupun hanya sempat menyapa tanpa berkenalan lebih lanjut.


Cemburu? Marah? Pasti. Namun aku yakin, Alia kecewa padaku. Ia mulai mencurigaiku. Aku mulai takut. Hal yang selama ini aku takutkan akhirnya datang menghampiriku tanpa permisi.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Fix..no more secret ya gengs✌️✌️✌️


jangan lupa like, komen, dan bintang limanya disentuh okeh🙏😘 love you all💞