I Love You Till Jannah

I Love You Till Jannah
Ghifana Aurora



Alia masih dengan posisinya, tertunduk sedih dengan sejuta kekhawatiran dan ketakutan. Ia mulai meremasi jari-jemarinya yang mulai dibasahi keringat. Ia khawatir Pak Harry akan memintanya untuk menerima kembali lamaran Kak Urai.


"Tolong jangan paksa Alia untuk menikah dengannya, Ayah.." Alia semakin terisak bahkan terdengar semakin pilu melesat dan menusuk relung hati Pak Harry.


"Nak..." Pak Harry mengangkat dagu Alia agar mau menatapnya. Air mata Alia mengalir semakin deras malah mengalahkan derasnya keran air PDAM yang sering macet di rumah kontrakannya.


"Sebegitu takut kah kamu dengan Ayah? Apa yang membuatmu seolah merasa terancam seperti ini?" Tanya Pak Harry.


"A-aku..a-aku..takut Ayah akan marah kepadaku karena telah menolak Kak Urai tadi." Tubuh Alia masih gemetaran dalam tangis.


Pak Harry mengusap pipi anak sulungnya itu. Menghilangkan jejak cairan bening berharga sang putri dengan perasaan hancur, karena dengan tidak sengaja membuatnya menangis sesegukan seperti ini.


"Kamu pikir Ayah akan memaksamu menikah dengan Urai, hem?" Sambung Pak Harry sambil merangkul tubuh minimalis putrinya itu.


Ada rasa merdeka di hati Alia mendengar kalimat terakhir Ayahnya. Pasalnya ia termasuk dalam tipe anak yang patuh kepada kedua orang tuanya. Ia paling tidak bisa mengatakan "TIDAK" akan perintah orang tuanya, terutama sang Ayah.


"Sayang..." Ibu Nana menghampiri Ayah dan anak itu. Sedangkan Alan masih menjadi penonton adegan pilu sang kakak.


"Sudahlah...jangan menangis lagi ya... Ini kan hari bahagia kita. Tidak seharusnya kamu menangis. Ibu sudah pernah bilang kan kalau ayahmu tidak akan memaksamu dalam hal ini. Semua keputusan ada di tanganmu dan Ibu sangat bangga tadi kamu sudah bisa mengambil keputusanmu sendiri."


"Terima kasih ya Ibu, Ayah...aku sayang kalian.." Alia menghambur memeluk Ayah dan Ibunya bersamaan. Seketika itu pula perasaan lega menghampirinya seperti kecepatan angin.


"Eeeh...aku dikacangin nih?" Tanya Alan. Alia tersenyum.


"Dasar krucil..sini peluk!"


Keluarga kecil itu berpelukan seperti personil teletubbies, merangkul satu sama lain tenggelam dalam keharuan dan kebahagiaan.


***


XX Hospital Jakarta


Tok..Tok..Tok..


"Masuk..!"


Aufar melirik ke arah pintu ruang kerjanya, karena jam prakteknya sudah berakhir tidak mungkin ada pasien susulan tanpa perberitahuan terlebih dahulu dari asistennya.


Ceklek...(Pintu terbuka)


Terlihat seorang wanita berdiri tegak tersenyum manis kepadanya. Wanita itu menggunakan gaun selutut berwarna ungu muda tanpa lengan dengan motif pulkadot. Aura wajah cantik blasteran Indonesia-India terlihat jelas di mata Aufar. Mata tajam, hidung mancung dan bibir tipis itu sangat familiar di indera penglihatannya. Tak tertinggal, jas putih kebanggaannya melingkar di lengan mulusnya yang seperti susu UHT full cream cap sapi belang-belang.


"Fana..."


Aufar takjub sekaligus kaget. Tidak percaya bahwa yang berdiri di hadapannya saat ini adalah cinta pertamanya yang telah lama kandas ditelan kabut dusta.


Cinta yang pernah membuatnya takut membuka hati kembali. Cinta yang tak pernah membuatnya lupa akan sakitnya sebuah pengkhianatan. Cinta yang tak pernah menganggap pengorbanannya adalah sesuatu yang berharga. Cinta yang memang sudah ia kubur di dasar lautan yang paling dalam.


"Bahkan kamu masih mengingat namaku dengan baik, beb.."


Wanita itu tersenyum menyeringai dan duduk di kursi yang tersedia di depan meja kerja Aufar. Aufar hanya tersenyum kecut.


"Ada kepentingan apa kamu datang ke sini?" Mengalihkan pandangan dan melanjutkan pekerjaannya tadi.


"Kenapa kamu tanyanya gitu sih..? Ya, tentunya karena aku kangen banget sama kamu dong.." Meletakkan tangannya di atas tangan Aufar yang sedang memegang pena.


Aufar melirik tangan Fana dan menatapnya dengan tatapan membunuh seperti seekor predator yang siap memangsa buruannya. Menyadari hal tersebut, Fana secepat kilat menarik kembali tangannya dari punggung tangan Aufar.


"Kenapa kamu sekarang seperti ini sih, beb? Menakutkan dan mengerikan seperti binatang buas." Cebik Fana.


"Aku bahkan bisa memangsamu hidup-hidup jika kamu berani bersikap seperti tadi. Apa yang kamu lakukan di rumah sakit ini? Jangan membuang waktuku. Silakan keluar jika urusanmu sudah selesai!" Cerca Aufar tanpa jeda.


"Relax beb..Aku bukanlah virus menakutkan yang harus kamu hindari. Aku sadar dulu aku telah mengambil keputusan yang salah. Sikapku saat itu pasti sangat menyakitimu. Dan aku baru menyadari bahwa aku sangat mencintaimu. Aku tidak bisa melupakanmu. Maafkan aku ya...aku harap kita bisa kembali bersama lagi." Memberikan tatapan sesendu mungkin agar Aufar mau memaafkannya.


Mendengar penuturan Fana membuat hati Aufar mendidih seolah ia sedang duduk diatas bara api. Ingin rasanya ia mengadili wanita itu saat ini juga atas perlakuan tak berakhlaknya dulu.


Namun Aufar memilih untuk tidak melakukan apapun untuk membalas perlakuan buruk Fana kepadanya. Menurutnya kehidupan Fana saat ini sudah cukup menjadi hukuman bagi wanita itu.


Flashback


Dulu hubungan mereka sangat harmonis dan mesra. Sampai-sampai seluruh kampus menjuluki mereka sebagai sweet couple. Aufar sangat mencintai Fana, begitu juga sebaliknya. Bahkan kedua orang tua mereka pun sudah menyetujui hubungan di antara keduanya sampai jenjang pernikahan.


Namun sejak mengetahui Fana mengkhianatinya. Aufar sudah membuang sejauh mungkin perasaannya kepada wanita itu. Bukan hanya tentang perasaan yang tersakiti, namun tentang prinsip menjaga kehormatan yang tidak dipegang teguh oleh Fana membuat Aufar muak.


Bagaimana tidak? Di hari menyedihkan itu, Aufar menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri Fana berhubungan int*m dengan saudara sepupunya. Aufar tidak menyesali mengapa Fana bisa mengkhianatinya? Tetapi permasalahannya, mengapa harus dengan saudara sepupunya sendiri?


Kala itu Aufar sempat terpuruk dengan keadaan. Ia pun terpaksa meninggalkan kuliahnya untuk sementara waktu karena harus menjalani perawatan di rumah sakit. Pihak keluarga sempat ingin membawanya ke rumah sakit di luar negeri untuk menjalani perawatan yang lebih baik, namun Aufar menolaknya. Pada akhirnya, ia bisa bangkit dan melanjutkan kembali pendidikannya.


Flashback end


Hal itu juga yang menjadi salah satu alasan mengapa Aufar selalu menjauhkan dirinya dari makhluk yang bernama wanita. Karena selain memiliki sifat yang lembut dan meluluhkan, makhluk yang bernama wanita itu juga berpotensi menjadi seekor predator yang mematikan baginya.


Sampai akhirnya ia bertemu dengan sosok gadis polos dan lugu dari pulau seberang. Pesona gadis itu mampu mengubah stigma tidak bakunya selama ini terhadap wanita.


"Beb..." Suara lembut Fana seketika menyadarkan Aufar dari dimensi lainnya.


"Kenapa kamu masih disini? Bukannya tadi aku sudah memintamu untuk keluar dari ruanganku? Apa perlu aku panggil security biar sekalian menyeretmu keluar dari rumah sakit ini? " Tegas Aufar.


Mendengar kata-kata Aufar, Fana tersenyum licik sembari berkata, "kamu mungkin bisa mengusirku dari ruangan mu ini, beb.


Tapi kamu enggak akan pernah bisa ngusir aku dari rumah sakit ini."


"Kenapa tidak bisa? Pengusik sepertimu tidak seharusnya ada di rumah sakit ini, pergi Fana sebelum aku kehilangan kesabaranku..!" Aufar beranjak dari kursinya dan menatap tajam wajah Fana.


"Lama tidak bertemu, ternyata kamu semakin galak ya beb, baiklah jika kamu mau aku pergi dari ruangan ini, aku akan pergi sekarang. Tapi ingat..aku akan sering mengunjungimu karena aku yakin kamu pasti sangat merindukanku, see you sayang..." Ujar Fana sambil tersenyum licik dan berlalu keluar dari ruangan Aufar.


"Aaaaaaaarrrrrrggggggh...." Aufar menggebrak meja kerjanya.


"Berani-beraninya wanita itu muncul di hadapanku! Dasar wanita tidak tahu malu. Aku tidak akan membiarkanmu masuk kembali dalam kehidupanku, Fana. Pantang bagiku untuk menjilat ludahku sendiri."


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Jempol, jempol, jempol...tolong dimerahin ya, bebs...💞


Terima kasih untuk yang masih sudi stay dan dukung karya recehku🙏 baik dalam bentuk like, komen, bintang bahkan sumbang poin🤗semoga kalian semua sehat selalu🤲