I Love You Till Jannah

I Love You Till Jannah
S2 I Love You More



Sang Fajar mulai beringsut menempati singgasananya. Setelah Jammy, Fana, dan seluruh antek-anteknya di bawa ke kantor polisi, Aufar yang ditemani Husna dan Jimmy segera membawa Alia, Papa Fahri, dan Mama Yani ke rumah sakit terdekat.


Sebenarnya tubuh Jimmy masih terasa agak kikuk, namun ia masih mampu bergerak. Lama berada dalam penyanderaan membuat otot-otot tubuhnya kaku. Aufar menyarankannya untuk beristirahat, tapi menurutnya, ia malah harus banyak bergerak ketimbang hanya berbaring di atas ranjang pasien.


"Dokter bagaimana keadaan istri dan orang tua saya?"


Pertanyaan itu pasti akan dilontarkan oleh siapapun jika berada dalam posisi Aufar saat ini.


Seorang dokter wanita setengah baya yang baru saja keluar dari ruangan itu, tersenyum hangat sebelum menyambar pertanyaan Aufar.


"Mereka hanya shock, Tuan Muda. Biarkan mereka istirahat dulu. Saya sudah memberikan obat penenang," jelas Dokter itu sembari menepuk pundak Aufar menenangkan.


"Saran saya, setelah ini berikan suasana baru untuk istri Anda. Sepertinya ia sangat terguncang atas kejadian itu."


"Baik, Dokter. Terima kasih," tutur Aufar sebelum Si Dokter berlalu dari sana, disusul oleh seorang perawat wanita yang juga baru saja keluar dari ruang rawat.


Jimmy yang melihat atasannya terduduk di kursi besi yang berjejer di depan ruangan dengan bermuram durja, lantas mendudukkan tubuhnya pada kursi kosong di samping Aufar.


"Bini lu pasti baik-baik aja, Boss." Menyentuh pundak Aufar. "Dia wanita yang kuat, udah berkali-kali juga Fana ngelakuin hal keji buat nyelakain dia, tapi Tuhan selalu aja ngegagalin." Membuang pandangannya ke arah Husna yang duduk di deretan paling ujung dari kursi itu, lalu kembali menatap Aufar.


"Lalu apa rencana lu selanjutnya?" Tanya Jimmy memancing percakapan.


"Gua bakal buat pelaku penculikan Bokap, Nyokap, dan Bini gua mendapat hukuman yang setimpal." Aufar mengetatkan rahangnya, sementara kedua tangannya telah mengepal kuat bersatu di depan hidungnya. Tampak sekali jika emosinya sedang meletup-letup.


Jimmy hanya bisa menghela nafas. Menyela atau membela juga tidak mungkin. Jammy memang berada di pihak yang salah. Lelaki itu memang pantas mendapatkan hukuman karena perbuatannya selama ini. Sementara Fana, Jimmy tidak perlu lagi memikirkan wanita ular yang kejahatannya melebihi medusa itu. Jeruji besi memanglah tempat yang sangat cocok untuknya saat ini.


"Terus el--..." Kalimat Jimmy terpaksa terhenti karena Aufar menginterupsinya.


"Sebenarnya apa tujuan sodara lu ngelakuin semua ini ke keluarga gua, Jim?" Jimmy tak bisa berkata-kata. Bukannya ia tidak mau menjawab, melainkan pertanyaan itu terlalu mendadak Aufar lontarkan. Membuat Jimmy sedikit gelagapan.


Pasalnya rahasia itu seharusnya diketahui Aufar langsung dari Ayahnya. Jimmy tidak ingin merusak image Pak Fahri di hadapan anaknya sendiri. Karena sepengetahuan Jimmy selama ini, Aufar sangat hormat dan segan terhadap Ayahnya. Ia tidak ingin menciptakan kesalahfahaman di antara mereka.


"Karena Jammy benci ama Bokap lu," ujar Jimmy tersenyum kikuk.


"Why?" Aufar semakin kepo. Tatapannya berpindah arah, menuntut jawaban lebih lebih Jimmy.


"Ada yang lebih berhak menjawab pertanyaan lu ketimbang gua, Boss." Jimmy menghembuskan nafas kasar, tidak tahu lagi apa yang harus dikatakan.


"Elu jangan berbelit-belit deh, Jim." Aufar tampak tidak sabar.


"Far..." Potong Husna tiba-tiba. "Sebaiknya elu gak usah mikirin hal itu dulu." Husna berusaha membantu Jimmy keluar dari situasi sulitnya.


"Saran gue setelah ini, elu ajak Alia liburan gih." Aufar memicingkan kedua matanya tidak percaya. Bagaimana Husna bisa memikirkan liburan disaat dia masih dibuat bingung akan teka-teki Jimmy?


"Bener tu, Boss." Sambar Jimmy memprovokasi. Ia mengerlingkan sebelah matanya ke arah Husna.


"Kenapa lu pake kijip-kijip mata segala?" Selidik Aufar.


"Ah, gak kok. I--ini ada binatang masuk." Jimmy berpura-pura mengucek matanya.


"Ah...gaje kalian. Ya udah, gua masuk dulu." Aufar beranjak dari duduknya dan masuk ke dalam ruang rawat.


"Thanks, Doraemon. Gua tau lu tadi mau nyelamatin gue." Jimmy beringsut mendekati Husna.


"Kaga ada kata maaf dan makasih dalam persahabatan, Jim." Husna tersenyum hangat penuh keikhlasan.


Fashback


Entah bagaimana harus memulai percakapan. Husna tidak faham. Sedari tadi ia tak bergeming dari kebungkamannya. Gadis yang terkenal tomboi itu, hanya bisa tertunduk meremasi jari-jemarinya sembari menggigiti bibir bawahnya. Nampaknya ia sedang salah tingkah.


"Gua minta maaf atas nama saudara gua..." Suara bariton Jimmy berhasil membuat gadis itu mendongak ke arahnya.


"Maaf kalo selama penyanderaan gua, Jammy melakukan hal-hal yang aneh ama lu." Jimmy melanjutkan kalimatnya yang sempat terpotong.


Husna tersenyum kikuk, "gak ada hal aneh yang dilakuin Jammy ke gue, kok." Sejurus kemudian kembali tertunduk. "Selain ... Dia ngakuin gue sebagai pacarnya di depan Alia dan Aufar." Jimmy menutup mulut dengan sebelah tangannya, menahan tawa.


Hal itu membuat Husna melirik sinis ke arah asisten pribadi Aufar tersebut.


"Elu ngetawain gue?"


"Elah, siapa juga yang ngetawain elu? GeEr lu."


"Elu tu gak pernah berubah ya."


Jimmy menoyor puncak kepala Husna yang masih tertutup rapat dengan topi kesayangannya.


"Dan elu masih sama nyebelinnya." Husna membalas perlakuan Jimmy, yang berhasil membuat lelaki itu terkekeh.


"Ampun, ampun deh, gua nyerah..."


Jimmy memasang tameng di hadapan wajahnya agar tidak terkena serangan bertubi-tubi dari si tomboi ganas.


"Abisnya lu nyebelin sih.." Husna menghentikan aksinya dan membuang pandangannya ke sembarang arah.


"Biasanya yang nyebelin itu asyik dijadiin temen." Jimmy menaik-turunkan kedua alisnya ketika Husna kembali memandangnya dengan tatapan membunuh. Gadis berpipi tembam itu mencoba menelisik makna tersembunyi dibalik ucapan Jimmy.


"Galak amat neng, gua cuma ngajakin temenan juga, bukan ngajakin kawin." Jimmy mengulurkan tangannya.


Husna menghela nafas. Ditatapnya agak lama tangan lelaki yang pernah disandera Jammy itu, kemudian disambutnya hangat uluran tangan Jimmy dengan senyuman simpul.


"Just be a friend..."


"Yeah, a bestfriend..."


Flashback End


"Gue tau, elu pasti punya rahasia besar soal bokapnya Aufar." Husna menyilangkan kedua lengannya di depan dada.


"Elu bener," respon Jimmy singkat sembari tertunduk lemas.


"Sabar ya, Jim. Apapun yang terjadi di masa lalu kalian, gue harap hubungan yang udah terjalin dengan apik, gak akan pernah putus hanya karena kesalahfahaman." Husna menyentuh pundak Jimmy sekilas, dan hanya direspon anggukan kepala oleh lelaki itu.


CKLEK (Pintu Tersibak)


Aufar melangkah masuk mendekati tubuh mungil yang masih terbaring tak sadarkan diri di atas ranjang pasien.


Ia menarik sebuah kursi dan duduk tepat di samping ranjang.


"Sayang..." Ucapnya dengan suara parau. Berada di dekat wanita itu adalah titik lemahnya. Ia bisa saja sok kuat di hadapan orang lain, namun tidak di hadapan Alia.


"Sayang, maafkan aku. Aku telah lalai menjagamu." Aufar berkata sembari meraih tangan sang istri ke dalam genggamannya. Dikecupnya bertubi-tubi tangan putih mulus itu, dengan penuh kasih sayang.


Rasa takut kehilangan masih saja memburu di dalam dadanya. Aufar tidak bisa membayangkan nasib buruk macam apa yang akan dialami sang istri, jika Tuhan tidak memberinya petunjuk melalui Husna.


Tak terasa air pilunya mengalir begitu saja membasahi punggung tangan Alia. Seketika itu juga, wanita itu mengerjap berkali-kali mengondisikan pandangannya yang belum terlalu jelas.


"Mas..." Suara serak basah Alia berhasil membuat Aufar mengangkat wajahnya.


"Sayang..." Ujar Aufar tersenyum penuh bahagia.


"Sayang, aku minta maaf, sebenarnya aku..."


"Ssssssst..." Jari telunjuk Alia menempel di depan bibir sang suami.


"Aku udah maafin kamu kok, Mas." Alia menghela nafasnya yang masih terasa pendek-pendek. "Aku yakin semua itu bisa terjadi karena ulah Fana."


Tidak ada raut kebencian ataupun sejenisnya di wajah bening wanita itu, yang ada hanyalah senyuman hangat tanda berlapang dada.


Aufar bangkit dari peraduannya, lalu mengecup dalam kening bening Alia dengan penuh cinta.


"Aku sangat beruntung karena bisa memiliki wanita sepertimu, Sayang." Menurunkan wajahnya dan menatap kedua manik mata wanitanya dengan lekat.


"I love you.."


Kalimat Aufar berhasil membuat Alia menyabit senyuman indahnya.


"I love you more.."


Bersambung..