
Alia sengaja melewatkan makan malamnya dan tertidur dengan perut kosong. Ia sudah mengambil keputusan. Ia akan berjuang. Ia akan melakukan apapun demi cintanya. Cinta yang baru bersemi di sanubari gadis polos bermata bulat itu.
Kharisma dan Aura cinta yang selalu dipancarkan oleh Aufar selalu tertanam semakin dalam di lubuk hatinya. Ia sudah memulainya. Tidak mungkin semudah itu ia mengakhirinya.
Alia melihat Aufar sedang berjalan mendekatinya. Pria berkulit putih dengan postur tubuh yang tegap bak seorang atlet itu menyunggingkan senyum hangat di bibir sensualnya.
Hal itu membuat Alia terpana. Ia terpesona. Seolah tidak ingin mengakhiri pemandangan yang mengindahkan itu. Aufar berhasil mencapai posisi terdekatnya dengan Alia. Tatapan mereka bertemu.
Alia harus mendongakkan wajahnya karena ketinggian Aufar yang melebihinya. Membuat Aufar dengan leluasa memandang wajah gadis mungil tercintanya. Ia membelai lembut pipi Alia. Merasakan kehangatan dan kelembutan pipi chubby nya.
Tangan Aufar kini berpindah memegang pundak Alia. Ia memiringkan dan mendekatkan wajahnya menyisakan jarak yang sangat dekat dengan wajah Alia. Sedikit lagi hidung mereka bersentuhan. Alia memejamkan matanya. Ia mengira Aufar akan menciumnya. Satu detik, dua detik, tiga detik sampai 10 detik tidak ada sentuhan apapun. Alia membuka matanya.
Ia melihat Aufar tersenyum gemas melihat tingkahnya. Pipi Alia bersemu merah. Rasa malu menghampirinya. Aufar tersenyum usil melihat respon kekasihnya itu. Sejurus wajah Aufar bergeser mendekati telinga Alia yang masih bersembunyi dibalik kerudungnya. Ia berbisik.
"Aku mencintaimu sayang, tolong jangan pernah tinggalkan aku."
Suara itu terdengar sangat indah di indera pendengaran Alia. Membuat bulu kuduknya berdiri dan air matanya mengalir bahagia. Tubuhnya terasa kaku. Berasa atmosfer di sekitarnya menghilang seketika. Kemudian ia terbatuk.
"Uhuk..uhuk..uhuk..."
Alia mengubah posisi tidurnya yang tadi telungkup pada bantal. Ia menghirup oksigen dengan cepat. Serasa tidak ingin siapapun merebut oksigen itu darinya. Ia memegang dadanya. Kemudian setelah nafasnya normal, ia membuka kelopak matanya perlahan.
"Hmmmm, ternyata hanya mimpi, hehe. Aku merindukanmu, Mas." Ia terkekeh sendiri. Lalu melihat jam yang ada di ponselnya. Menunjukkan pukul lima dini hari.
Alia membentangkan tangannya. Meregangkan otot-ototnya yang kaku pasca tidur malam yang panjang. Kemudian ia bangkit mendudukkan tubuhnya dan menarik nafas lalu menghembuskannya. Hal itu dilakukannya beberapa kali sebelum ia bangkit dan menuju kamar mandi.
Setelah membersihkan diri dan berwudhu Alia melaksanakan shalat subuh yang waktunya hampir habis itu. Kemudian Alia pamit kepada Ibunya untuk jalan santai. Ia keluar rumah menyusuri jalan di pagi hari sambil menghirup udara segarnya tanpa alas kaki.
Ia terus berjalan menyusuri jalan yang sudah lama tidak ia tapaki. Akhirnya, sampailah ia di sebuah pantai. Pantai masa kecilnya. Alia sungguh terkejut bahkan takjub. Pantai yang dulunya hanya menjadi tempat bermain anak-anak kecil seusianya, sekarang sudah menjelma menjadi tempat wisata yang indah. Banyak yang berubah dari pantai itu.
Pantai yang dulunya hanya pantai tanpa pengunjung dan hanya digunakan para petani untuk mengembala ternaknya, sekarang sudah sangat berbeda.
Disana banyak pendopo-pendopo kecil yang dibangun diatas air. Terdapat gertak yang terbuat dari kayu yang menghubungkannya.
Apalagi terdapat banyak sekali food court yang berjejer di tepian pantai. Bahkan wahana-wahana bermain untuk anak-anak juga ada disana. Alia sungguh takjub. Sangat sangat takjub.
Alia mendekati salah satu food court itu. Ia mendudukkan tubuhnya di salah satu kursi yang ada disana untuk beristirahat sejenak. Ia menyapu sekeliling tidak ada satu orang pun disana. Beberapa saat kemudian, ia bangkit menuju pantai dan menyusuri pasir-pasir basah yang terkena ombak.
Ia merentangkan kedua tanganya. Menghirup dinginnya udara di sekitar. Angin laut pagi itu berhasil menusuk hingga ke tulang-tulang kecil Alia. Alia memeluk tubuhnya sendiri, mencoba memberi kehangatan kepada tubuhnya yang terasa beku. Matanya lurus tertuju ke lautan luas. Ada kerinduan di manik matanya. Kerinduan kepada kekasihnya yang sekarang sedang berada di tengah-tengah gelombang lautan. Alia memejamkan matanya.
"Aku merindukanmu, Mas.."
Sejenak Alia terdiam, sebelum ia merasakan tangan seseorang memegang pundaknya dan menyebut namanya.
"Alia...."
Alia membuka matanya dan menoleh ke arah sumber suara.
Taraaaaa
"Eh, beneran ini kamu Al? Sejak kapan kamu disini?" Tanya Kak Urai yang masih belum mengalihkan pandangannya dari Alia.
"Ba-barusan aja Kak.."
"Haha, maksudku kapan kamu datang dari ponti?"
"Oh...ke-kemarin Kak. Kakak ngapain disini?" Alia sudah mulai bisa menguasai kekagetannya.
"Ooh, sudah dari tadi. Aku baru selesai mengecheck beberapa food court yang memerlukan perbaikan." Kak Urai menunjuk ke arah bangunan yang dimaksud.
"Kenapa Kakak yang mengechecknya? Apa ini usaha Kakak juga?" Alia mengerutkan dahinya penasaran.
"Iya Al, kebetulan asistenku sedang tidak sehat jadi aku harus melakukannya sendiri." Jelas Kak Urai. Ia ingin melihat wajah kebanggaan dari Alia namun ia tidak menemukannya.
Jika wanita lain yang mendekatinya hanya karena statusnya, maka berbeda dengan Alia. Ia tidak pernah menganggap semua itu. Berteman dengan Kak Urai adalah sebuah ketulusan bukan bisnis yang hanya ingin mendapatkan keuntungan.
Kak Urai berdiri di samping Alia yang memandang luasnya laut ciptaan Tuhan itu. Tidak ada percakapan diantara keduanya. Hanya deburan ombak dan nyanyian angin yang tak henti bersaut-sautan. Sesekali ia menoleh untuk memandang wajah yang sudah lama ia rindukan itu.
"Al..." Kak Urai memecah keheningan mereka.
"Iya Kak.."
"Apa kamu tahu?"
"Apa Kak?" Alia menoleh dan menatap kedua manik mata Kak Urai.
"Jika aku merindukanmu, maka aku akan datang ke tempat ini pada jam yang sama."
Deg..
Alia terkejut mendengar penuturan dari Kak Urai. Tatapan mereka terkunci. Sejenak memberi waktu untuk Kak Urai melanjutkan kalimatnya kembali.
"Karena aku tahu, kamu suka berkunjung kesini di pagi hari untuk melihat air lautan ini. Seperti yang kamu lakukan saat ini. Aku tidak menyangka hari ini Tuhan mempertemukan kita. Aku sangat senang bisa melihatmu lagi Al."
Alia tertegun. Ia masih tidak percaya bahwa laki-laki dewasa berstatus sebagai pengusaha muda yang sukses itu benar-benar menyimpan cinta yang besar untuknya. Bagaimana tidak? Kebiasaan kecil Alia saja ia bisa mengetahuinya. Sedetail itu kah Kak Urai mencintai dirinya? Batin Alia.
"Kak..."
"Aku masih menunggumu Al, hanya kamu satu-satunya gadis yang aku cintai dan yang aku inginkan."
Lidah Alia kelu. Otaknya berhenti bekerja hingga tidak ada satu patah kata pun yang keluar dari bibirnya.
Bersambung....
Maaf baru update🙏 Mohon terus dukung karyaku ya gengs💞 Terima kasih🙏