I Love You Till Jannah

I Love You Till Jannah
S2 Jembatan Masalah



Isni telah menyelesaikan konser showernya, sekaligus mengenakan pakaian ganti yang telah ia bawa ke dalam bilik kecil itu. Ketika ia menyembulkan tubuhnya keluar dari kamar mandi, tiba-tiba sepasang tangan kekar menarik pinggang rampingnya hingga membuat tubuhnya menempel sempurna pada tubuh orang tersebut.


Gadis itu agak tersentak dan setengah percaya bahwa sosok yang merangkulnya adalah Kak Urai.


"Maaf membuatmu khawatir." Tutur Kak Urai ketika wajah Isni berada tepat di hadapannya. Walaupun agak menunduk, ia sangat menyukai posisi ini. Agaknya posisi ini, akan menjadi posisi favoritnya ketika ingin memandang lekat wajah calon kekasih halalnya.


Isni yang masih kebingungan, bibirnya kelu seketika. Hanya kedua bola mata bening itu terlihat sedikit berkaca-kaca. Bahagia bercampur haru menggerogoti jiwanya. Pasalnya tadi ia sempat berpikir bahwa akan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan pada calon imamnya tersebut.


"Aku hanya bercanda, Is.." Kalimat Kak Urai berhasil membuat Isni yang awalnya haru biru berubah air muka menjadi kesal.


"Iiiiiiih, dasar ya tukang boong, awas aja nih rasain, rasain." Isni mencubit-cubit kecil lengan kekar Kak Urai. Tindakan Isni berhasil membuat lelaki yang ia cintai itu meringis kesakitan.


"Ampun, ampun, ampun, Is." Isni tak menghiraukan kata-kata Kak Urai, ia terus saja menyalurkan kekesalannya dengan memukul-mukul manja pundak Kak Urai.


Bagaimana tidak? Ia sudah menangis tersedu-sedu akibat kejadian yang Kak Urai anggap sebuah lelucon itu. Namun hal tersebut semakin membuatnya sadar bahwa betapa besar rasa takut kehilangan akan sosok yang sebentar lagi membangun biduk rumah tangga bersamanya.


"Aku benci Kakak, iiiiiiih..." Umpat Isni di sela-sela tonjokannya. Cairan bening benar-benar sudah menggenangi kedua sudut matanya.


"Benar-benar cinta kan?" Koreksi Kak Urai di sela-sela ringisannya.


Kemudian Isni menghentikan aksinya dan menutup wajah dengan kedua tangannya. Sayup-sayup terdengar tangisan pilu dengan suara agak ditahan dari bibirnya. Hal itu berhasil membuat Kak Urai terenyuh. Ia meraih tubuh mungil tapi gempal itu ke dalam dekapannya. Saat ini ia telah yakin, bahwa gadis pilihannya itu benar-benar sangat mencintainya. Lalu bagaimana dengan hatinya sendiri? Hanya dia dan Tuhan yang tahu.


"Sssssst...I'm really sorry, aku tidak bermaksud membuatmu sedih." Sesal Kak Urai sambil mengelus lembut punggung calon istrinya.


***


"Sayang, udah siap? Hurry up baby!" Tanya Aufar yang sudah berdiri tegap di muka pintu keluar. Sesekali ia melirik penunjuk waktu yang melingkar di pergelangan tangannya.


"Maaaas...." Alia keluar dari kamar Villa dengan wajah pucat pasi. Sebelah tangan memegang erat perut bagian bawahnya. Kedua tungkainya melangkah gontai tak terarah.


Melihat hal itu Aufar tak tinggal diam. Ia bergegas menangkap tubuh sang istri yang hampir saja jatuh ke lantai. Kedua lengan kekar itu reflek memeluk tubuh mungil Alia ke dalam dekapannya.


"Kamu kenapa? Kamu sakit? Yang mana yang sakit, Sayang? Kita ke rumah sakit aja ya." Bombardir pertanyaan itu lolos tanpa penghalang dari bibir sang dokter. Wajahnya terlihat lebih panik dari sebelumnya.


Pasalnya, ia masih memikirkan kesehatan Alia yang tiba-tiba menurun sejak tadi malam. Wanita itu terus saja muntah kecil setiap jamnya. Tadinya mereka berencana akan menuju kota nusa dua untuk membeli makanan yang Alia inginkan.


"Aku enggak papa, Mas. Nanti juga kalo udah makan makanan yang aku pengen, pasti sembuh kok." Ucap Alia lirih, sesekali ia mengkusuk-kusukkan wajahnya ke dada bidang sang suami. Mencium aroma tubuh khas maskulin yang selalu membuatnya candu bak nikotin.


"Lagian, dokternya juga ada di sini. Ngapain kita ke rumah sakit, Mas." Celetuk Alia sambil tersenyum tipis. Kedua tangannya masih melingkar sempurna di tubuh kekar sang suami.


"Iya, tapi kan di sini enggak ada peralatan kesehatan lengkap kayak di rumah sakit, Sayang." Aufar tetap kekeh pada ucapannya. "Kita ke rumah sakit aja ya, itu lihat wajah kamu udah kayak zombie." Ledek Aufar di sela-sela kekhawatirannya.


Tak bisa dipungkiri, raut kepanikan tak bisa ia sembunyikan bahkan dibalik candaannya yang berhasil membuat sang istri menarik sedikit kepalanya menjauh dari dada Aufar, lalu memicingkan kedua matanya sambil mengerucutkan bibirnya manja.


"Belum lama nikah, aku udah dido'ain jadi zombie. Mau nikah lagi kamu, Mas?" Cebik Alia sedikit menundukkan pandangannya sok sedih.


"Cup, cup, cup, Sayang kok sensitif banget sih? Just kidding baby. Kamu aja enggak habis-habis, gimana mau nikah lagi?" Aufar mentowel manja kedua pipi Alia dan direspon dengan senyuman kecut oleh sang istri.


"Ya udah, Sayang di sini aja istirahat ya, biar aku yang ke kota." Instruksi Aufar sambil membopong tubuh mungil Alia menuju kamar. Wanita itu hanya mengangguk patuh tanpa protes. Dia juga merasa kondisinya saat ini tidak memungkinkan untuk bepergian.


Setibanya di sana, Aufar membaringkan tubuh Alia di atas tempat tidur, menyibak selimut dan menutupi tubuh lemas itu hingga batas dada. Kemudian ia mengecup dalam kening bening Alia sebelum akhirnya menghilang ditelan daun pintu jati kamar villa tersebut.


Sepeninggalan Aufar, Alia memutuskan untuk tidur. Ia bertekad kuat untuk sehat sebelum pulang ke Surabaya besok.


Tanpa berlama-lama lagi, Aufar di temani Pak Ketut berangkat menuju kota menggunakan speed boat. Sesampainya di dermaga, Aufar meminta Pak Ketut agar kembali ke Villa untuk memastikan keamanan Alia. Walaupun ada Made di sana bersama sang istri, tetap saja sifat berlebihan milik Aufar timbul ke permukaan.


Di sana ia sudah ditunggu oleh sopir pribadi Papa Fahri yang tempo hari menjemput mereka di Bandara, Awan begitulah panggilannya.


"Baik, Tuan. Kebetulan, ada sebuah hotel yang menyediakan menu tersebut." Jelas Awan dengan pandangan yang masih fokus menatap jalanan.


"Good, langsung saja ke sana!” Aufar tersenyum puas karena dengan mudah bisa menemukan apa yang ia cari.


"Siap, Tuan."


Beberapa menit kemudian, mobil yang Awan kendarai terparkir sempurna di halaman sebuah Hotel Mewah di Nusa Dua. Gedung ini memang tergolong dalam kategori pencakar langit, namun terlihat minimalis dan elegan dengan corak khas Bali.


"Selamat datang di Amaroossa Suite Hotel, Tuan. Silakan, ada yang bisa kami bantu?" Seorang petugas penyambut tamu berjenis kelamin laki-laki mempersilakan Aufar masuk dengan senyuman hangat sehangat kopi di pagi hari.


"Apa benar di restoran hotel ini, menyediakan kebab turki?" Tanya Aufar kepada si petugas.


"Benar Tuan, mari saya antar."


Aufar mengekori sang petugas menuju restoran hotel yang terdapat di pojokan kiri lantai dasar tersebut. Petugas itu memberi isyarat kepada salah satu pelayan di sana untuk melayani Aufar. Lalu ia pamit undur diri untuk kembali ke posisinya semula.


"Selamat pagi, Tuan. Ini menu kebab turki yang Anda inginkan, silakan dipilih." Ucap seorang pelayan wanita.


Aufar tersenyum sambil menyambut buku menu yang diserahkan oleh si pelayan. Ia tampak menyusuri satu persatu deretan jenis kebab yang tersusun rapi di sana. Akhirnya beef kebab dengan topping mozarella jatuh sebagai pilihan terbaiknya.


"Baik, mohon ditunggu sebentar ya, Tuan." Pelayan tersebut pamit undur diri meninggalkan Aufar dengan secangkir latte di atas meja. Aufar melepas jaket yang membalut tubuhnya dan melingkarkan jahitan kain itu pada sandaran kursi.


Ketika sedang menunggu, Aufar dikejutkan oleh sebuah tepukan dipundaknya.


"Long time no see, Beb.." Positif, suara itu tidak asing lagi. Panggilan itupun sangat khas dan menggelikan di indera pendengaran sang dokter.


Aufar memutar kepalanya untuk memastikan asumsinya dan ternyata terkaannya tidaklah salah.


Ghifana Aurora! Siapa lagi?


"Pasti gegara Archie Fana bisa ada di scene ini! Kenapa juga harus milih Dokter Aurora, kayak enggak ada Dokter laen aja, huuuuh. " Umpat Aufar di dalam hati mengingat kejadian di Wellness Hotel yang diceritakan oleh Jimmy ketika acara resepsi pernikahannya tempo hari.


"Kebetulan sekali kita bertemu di sini." Tanpa ragu Fana menarik salah satu kursi dan duduk di samping Aufar, sangat dekat. Hal itu membuat Aufar tidak nyaman dan jengah.


"Kenapa lu bisa ada di sini?" Aufar bertanya dengan nada datar dan tatapan dinginnya.


"Vacation, apalagi?" Jawab Fana enteng.


"Mana Alia? Kenapa kamu sendirian aja, Beb?" Lanjutnya sambil celingak celinguk mencari sosok yang ia cari.


"Enggak usah sok peduli..!" Aufar memutar singkat bola matanya. Sempat merasa aneh dengan sikap sopan dan sok perhatian Fana. Namun dia tidak ingin kecolongan lagi. Wanita ini pasti memiliki rencana terselubung.


"Kamu kenapa sih, Beb? Aku jahat salah, aku baik salah. Aku kan cuma berusaha menjadi pribadi yang lebih baik aja." Tuturnya dibalik mimik sendu yang dibuat-buat.


"Enggak usah sok menyesal kalo lu enggak benar-benar tulus." Jawab Aufar dengan nada malas. Ia benar-benar merasa jengah saat ini. Rasanya tak ingin lagi berlama-lama di sana jika bukan karena kebab turki itu.


"Sial...! Bagaimana dia bisa membaca pikiranku?" Pekik Fana di dalam hati.


Beberapa saat kemudian, pelayan restoran menghampiri Aufar dan menyerahkan pesanannya yang sudah dikemas dalam satu box berbalut paper bag. Aufar segera bangkit menuju meja kasir untuk membayar tagihannya.


Setelah selesai, ia berlalu tanpa menghiraukan seonggok daging hidup yang duduk di sampingnya tadi. Namun saking terburu-burunya, dokter tampan itu melupakan sesuatu miliknya yang sempat ia lingkarkan di sandaran kursi tadi. Fana tersenyum licik dan meraih barang tersebut dengan perasaan riang.


"Terima kasih telah membuat rencanaku menjadi lebih mudah Dokter Aufar yang terhormat." Ia mencium barang tersebut, lalu kembali ke kamarnya.


Bersambung..