I Love You Till Jannah

I Love You Till Jannah
Sorry Say Goodbye



Dada Aufar terasa sesak. Untuk saat ini ia merasa lapisan ozon di atmosfer sudah benar-benar hilang, sehingga ia tidak bisa lagi menghirup oksigen yang ia butuhkan. Nafasnya mulai pendek-pendek. Tubuhnya masih bergetar menahan tangis. Namun ia masih memegang kemudi dengan baik walaupun pandangannya sudah tak bertujuan lagi.


Aufar memacu mobilnya dengan tak kalah cepat dari sebelumnya. Untung saja ia masih bisa mengingat jalan menuju ke rumah Andri. Akhirnya ia tiba di sana dengan selamat tanpa kurang satu apapun.


Ketika sampai di halaman rumah Andri, Aufar mematikan mesin mobilnya. Lalu ia menyandarkan tubuh rapuhnya pada kursi kemudi dengan pandangan fokus ke depan.


Bendungan bening di matanya sudah tak mampu ia tahan lagi. Cairan itu lolos begitu saja meninggalkan jejak kesedihan dipipinya. Ini kali pertamanya Aufar menangis.


Cinta yang ia bina dan impikan untuk masa depan ternyata kandas bersama jangkar kapal Marissa Nusantara. Oh, malang nian nasibnya. Ternyata perjalanan cinta tak semulus perjalanan karirnya.


Aufar mengepal erat kemudi mobil dan berakhir dengan pukulan-pukulan yang mendarat pada benda berbentuk lingkaran itu. Inilah bentuk peluapan emosinya.


"Bodoh kau Aufar, Bodooooooh..." Ia merangkul benda bulat itu sambil menangis tersedu-sedu diatasnya.


"Alia...aku tidak bisa seperti ini. Aku tidak bisa melupakan dirimu begitu saja bersama kenangan kita. I love you more than you know, sayangku..."


Ingin rasanya Aufar berteriak sekeras mungkin untuk meluapkan amarah dan kesedihannya. Berhubung sedang berada di lingkungan rumah Andri, ia hanya bisa menangisi kemalangan nasib asmaranya.


Sekarang Alia sudah memintanya untuk melupakan semua yang terjadi diantara mereka. Alia memintanya pergi sejauh mungkin dari hidupnya. Bahkan Alia tidak ingin lagi melihat wajahnya.


***


Flashback


Aufar masih merangkul erat tubuh Alia. Ini kali pertamanya ia memeluk tubuh kekasih hatinya itu. Ia tidak pernah tahu bahwa ini akan menjadi pelukan pertama dan seterusnya atau malah menjadi pelukan terakhir mereka.


Alia sudah terlihat lebih tenang dari sebelumnya. Gadis itu mulai sadar bahwa sedari tadi ia menangis dalam dekapan Aufar. Aroma khas tubuh dan parfum maskulin milik Aufar mampu menyihir suasana hati Alia menjadi lebih baik. Ia mengusap sisa air mata yang mulai surut di pipi chubby nya.


Karena merasa emosi Alia sudah terkendali, Aufar meregangkan dekapannya. Namun ia masih merangkul tubuh kesayangannya itu, membuat mereka menatap satu sama lain dengan jarak yang begitu dekat.


"Sayang, I'm so sorry... Tolong beri aku kesempatan untuk menjelaskan semuanya." Aufar mengusap lembut pipi Alia yang masih menyisakan buliran air berharganya dengan tatapan sendu. Ia benar-benar menyesal telah menyembunyikan kebenaran tentang dirinya selama ini dari sang kekasih.


"Sebenarnya apa tujuanmu, Mas?" Selidik Alia. Sepertinya hati Alia mulai luluh karena sesungguhnya ia tidak benci, hanya saja ia kecewa pada Pria yang selalu membuat hatinya jingkrak-jingkrak itu.


"Aku hanya ingin melihat ketulusanmu, sayang..percayalah selain identitasku tidak ada yang aku rahasiakan darimu, semua perasaanku padamu benar adanya. Dan satu lagi, kamu harus percaya kalau aku ini masih single. Semua yang kamu pikirkan itu tidak benar, sayang.." Aufar menatap hangat wajah Alia. Ternyata ia masih mengingat analisa salah dari Alia tadi.


"Sayang...aku sangat mencintaimu. Percayalah..." Aufar menangkupkan kedua telapak tangannya pada wajah Alia, sehingga ia bisa menatap keranuman wajah wanita yang sudah berhasil meluluhkan hatinya itu.


"Ma-maaf, Mas..a-aku tidak bisa." Alia menarik tangan Aufar dari wajahnya.


"Sayang....." Mendengar kalimat itu, sumpah demi apapun Aufar merasa kakinya tak lagi mampu menopang tubuh atletisnya. Langit yang berada diatasnya seakan runtuh berkeping-keping menimpanya.


"Aku tidak bisa melanjutkan hubungan yang dimulai dengan kebohongan ini, Mas." Jelas Alia. Ia menjauhkan dirinya dari Aufar dan berbalik memunggunginya.


"Jika aku bisa meminta kepada Tuhan, aku ingin Dia mengambil semua ingatanku tentangmu. Sungguh, ini juga tidak mudah bagiku. Namun kamu sudah menipuku Mas, dan aku tidak menyukai hal itu." Lanjut Alia sambil terisak.


"Pergilah, Mas...tinggalkan aku sendiri biarlah semua yang terjadi diantara kita menjadi kenangan manis yang akan aku tutup rapat dalam album tak terlihat. Kamu bebas Mas, bebas melanjutkan hidupmu. Anggaplah kita tidak saling mengenal. Anggaplah namaku tidak pernah terukir dihatimu. Anggaplah aku hanya angin lalu yang hanya menghilangkan sejenak rasa penatmu. Aku terima maafmu, but sorry I can't be with you anymore."


Alia masuk ke dalam rumah dan menutup pintunya tanpa mendengarkan jawaban dari Aufar.


Ia menyandarkan punggungnya di balik pintu yang menjadi pembatas antara dirinya dan Aufar. Lalu ia bersimpuh bersama deraian air mata yang sedari tadi ia bendung. Alia menutup erat mulutnya agar suara tangisan itu tidak terdengar oleh siapapun.


Kali ini Alia benar-benar hancur. Kepercayaan yang ia bangun selama ini telah runtuh bagai diterpa angin topan. Hatinya rapuh dan hancur berkeping-keping karena harus mengatakan semua itu kepada Aufar.


Sudah jelas hatinya menolak perpisahan ini. Namun ia tidak suka dengan kebohongan Aufar. Jika untuk hal kecil saja Aufar bisa membohonginya apalagi untuk hal-hal besar.


Alia tidak tahu, keputusan ini benar atau salah. Yang jelas saat ini, ia ingin menyelamatkan harga dirinya. Aufar sudah mengecewakannya.


Flashback off


***


Aufar terkejut ketika seseorang mengetuk kaca mobilnya. Ia mengangkat wajahnya dan melihat ke arah jendela, ternyata Andri. Ia menurunkan kaca mobilnya.


"Lu mau ampe pagi disini? Ayo masuk." Aufar keluar dari mobil dan mengekori Andri menuju kamarnya.


"Gua sengaja keluar rumah, karena lu nggak ada kabarnya. Tadinya gua ada niat mau nyusulin lu, eeeh pas gua buka pintu ternyata mobil lu udah di depan. So, gua samperin." Jelas Andri yang sudah merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.


Namun Aufar tak bergeming, membuat Andri mengernyit keheranan. Ia bangkit dan mendekati Aufar.


"Is everything all right?" Aufar terdiam sejenak dan menarik nafasnya dengan berat.


"It's over.. Alia udah tau semuanya. Gua terlambat, ndri..tapi gua bingung, siapa yang udah ngebongkar semua rahasia gua?"


Aufar menundukkan kepala yang ditopang oleh kedua tangannya. Andri yang sudah mengetahui permasalahan sahabatnya itu merasa sangat bersalah.


"Fa-Far.." Andri mulai terbata.


"Ma-mafin gua.." Lanjut Andri.


"Maksud lu?" Aufar mengangkat wajahnya dan menatap wajah Andri penuh selidik.


"Sebenarnya tanpa gua sadari, masalah lu ini semuanya berawal dari gua." Andri berkata lirih dan mulai tertunduk.


"Gu-gua..." Suaranya tercekat.


"Gua siap dengerin lu ndri, it's fine, go ahead!" Aufar mencoba berhusnudzon.


Andri menceritakan kronologinya tanpa melewatkan detailnya, mulai dari persahabatannya dengan Urai Abdillah sampai masalah penyerahan dokumen yang berisi informasi detail tentang identitas Aufar.


Aufar menarik nafas berat. Ia tidak ingin menyalahkan Andri, bagaimana pun Andri sudah mengatakan bahwa ia tidak tahu-menahu masalah yang terjadi antara, Urai, Alia, dan Aufar. Namun Aufar juga tidak menyangka bahwa ternyata laki-laki yang bernama Urai itu juga menginginkan Alia.


Semuanya sudah kepalang tanggung, untuk membuat perhitungan dengan laki-laki itu saat ini, juga sudah terlambat. Alia sudah tak ingin bertemu dengannya lagi. Hanya satu tujuan Aufar sekarang, pulang.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Jadi kamu beneran akan pergi nih Aufar? Oh, No...jangan pergi dulu sebelum tinggalkan jejak😁😅😘🙏