
Tok...tok...tok...
"Permisi...Pizza Time..." Ucap abang kurir Pizza yang telah Aufar order sebelumnya.
"S**t!!!!" Aufar memejamkan mata berdecak kesal. Ia melepaskan rangkuman tangannya dari dagu Alia dan kembali membalutkan kain panjang itu di kepalanya.
"Sebentar ya, Sayang. Kamu di sini aja jangan bergerak!" Titahnya sembari beringsut turun dari ranjang.
"Maksudnya aku disulap dalam mode patung gitu?"
Alia menyipitkan sebelah matanya. Pertanyaan polos itu berhasil menarik kedua sudut bibir Aufar membentuk lengkungan hampir tak terlihat. Bukannya menjawab pertanyaan istrinya, ia malah mengedipkan sebelah matanya sambil berjalan menuju pintu.
Ceklek...(Pintu terbuka)
Wajah sumringah Abang Pizza terbingkai sempurna di hadapan Aufar.
"Permisi, dengan Tuan Aufar?" Ia kembali tersenyum ramah. Aufar hanya mengonfirmasi pertanyaan Abang Pizza itu dengan anggukan kepala. Raut wajah dokter tampan itu terlihat dingin dan tidak ada tampang ramah-ramahnya. Pasalnya ia masih kesal dengan kehadiran si Abang Pizza yang datang pada waktu yang tidak tepat.
Si Abang Pizza bergidik keheranan melihat ekspresi wajah pelanggannya yang terlihat ditekuk sepuluh lipatan itu. "Apa ada yang salah dengan kata-kataku tadi?" Batinnya. Melihat si Abang Pizza yang tak bergeming dari posisi awal, Aufar melambaikan sebelah tangannya di depan wajah si kurir.
"Woi...mau sampai kapan lu ngelamun begitu? Gua sibuk nih, bikin lama aja." Kekesalan Aufar yang tadinya berada pada level satu menjadi naik ke level yang lebih tinggi.
"Eh..maaf, ini Tuan pesanan Anda." Abang Pizza menyerahkan kantong plastik berisi tiga boxes dengan lambang khas berwarna merah diatasnya. Aufar segera meraih kantong plastik itu, dan melihat bill yang terselip di dalam sana.
"Lu tunggu disini, gua ambil duit dulu!" Ucapnya yang masih memasang wajah tak kalah datarnya dari semula. Si Abang Pizza hanya menganggukkan kepala sambil tersenyum kikuk.
Beberapa menit kemudian Aufar kembali membawa uang untuk membayar bill Pizza itu. Ketika berada di muka pintu, ia mengerutkan dahinya. "Ngapain lu celingak celinguk kayak angsa?" Ternyata Aufar memergoki si Abang Pizza yang sudah mulai kepo akan sosok yang berada di atas tempat tidur.
"Hehe..enggak papa, Tuan." Jawabnya sambil menggaruk-garuk lehernya yang tidak gatal.
"Cengengesan lagi lu, udah datengnya enggak tepat waktu." Sepertinya suami dari Zalia Aliyanti ini memang belum move on dari mode dongkolnya.
"Lah..." Respon Abang Pizza kebingungan.
"Maaf Tuan, bukannya saya sudah datang tepat waktu ya, Tuan. Malah lebih cepat dari yang seharusnya." Protes si Abang Pizza tidak terima dengan cercaan Aufar.
Sepertinya terjadi ketidaksinkronan pemahaman diantara mereka berdua. Aufar tersentak mendengar penuturan si kurir, "bener juga kata ni orang," batinnya.
"Ya udah, cepetan deh lu pegi! Nih duitnya." Aufar menyodorkan lima lembar uang merah berlambang bapak-bapak memakai peci hitam kepada Abang Pizza.
"Kembaliannya, Tuan?" Si Abang Pizza menyerahkan uang kembalian yang telah ia ambil dari dalam tas pinggangnya.
"Enggak perlu, lu ambil aja." Ucap Aufar sambil memberi kode dengan tangannya kepada si Abang Pizza agar segera berlalu.
"Baiklah, Saya pamit ya Tuan, terima kasih banyak atas tip-nya." Si Abang Pizza pamit dengan sopannya walaupun ia merasa kali ini mendapatkan keapesan karena berhadapan dengan pelanggan yang sedikit songong menurutnya.
"Itu barusan makhluk dari planet mana ya? Ganteng-ganteng tapi songong. Eh, walaupun songong ternyata baik juga tu orang, lumayan nih lebihannya." Si Abang Pizza bergumam sambil tersenyum bahagia dan berlalu meninggalkan lorong hotel.
***
'Aurora' by Alan Walker feat K-391
I've been looking through my memories
I've been tryna see your face
But you moving like a mystery
And you look the other way
If you found me in the pouring rain
Would you let me in?
Would you looking to your memories?
Tell me where you've been?
I feel you coming closer
Counting in the dark
I feel at home
I see you light up the sky
A dance in the night, Aurora
I see the stars in your eyes
Believe in your lies, Zalia...
"Eh...." Jimmy menjeda nyanyiannya.
"S**t , kenapa gua jadi nyebut nama tuh cewek. Tapi pas juga ini syairnya pake nama Alia. D**n it! Sadar lu Jim...sadar." Jimmy mengutuki dirinya sendiri namun ia kembali melanjutkan syair lagu yang sempat terpotong nama Alia tadi.
Mine for a moment and then you're gone
And I'm still holding on
to a light in the sky
A dance in the night, Zalia
Ketika sedang asyik bersenandung, tiba-tiba Jimmy mengurangi kecepatan kendaraannya dan menghentikan nyanyian syair luka tak berdarah yang sedang ia rasakan. Ia perlahan memarkirkan mobil itu di bahu jalan. Dengan jarak sekitar lima meter dari posisinya saat ini, mata telanjangnya menangkap sosok yang tidak asing lagi baginya. Sosok seorang wanita yang sedang berbincang-bincang dengan kedua preman yang hampir saja melecehkan istri atasannya tadi. Ia terlihat sedang menyerahkan sebuah amplop coklat yang Jimmy yakini berisi uang bayaran.
"Benar kata Boss," Jimmy mengambil ponselnya dan menjepret beberapa pose yang bisa dijadikan modal untuk membuat perhitungan dengan wanita itu.
"Bukannya itu cewek yang gua temui waktu itu di rumah sakit ya? Apa sebenarnya hubungan cewek itu dengan boss? Kenapa cewek itu pengen banget nyelakain Alia?" Jimmy terlihat berpikir keras mencoba menemukan jawaban dari pertanyaannya.
"Gua harus selidiki ini lebih dalam. Gua enggak mau kalo Alia ampe jadi korban akibat kelakuan kotor cewek itu lagi. Kayaknya dia harus diberi pelajaran!" Jimmy memukul setirnya menahan geram. Pandangannya masih fokus ke arah Fana yang sudah kembali memasuki mobilnya dan meninggalkan tempat itu.
Perlahan Jimmy membuntuti mobil Fana dari kejauhan. Ia tidak ingin kehilangan jejak. Di pepetnya terus mobil wanita itu dari jarak yang tidak membuat Fana curiga bahwa ada yang sedang menguntitnya.
Beberapa saat kemudian, mobil Fana memasuki area parkir sebuah gedung pencakar langit. Jimmy mengurangi kecepatannya dan memarkirkan mobilnya di depan gerbang gedung itu.
"Bukannya ini gedung apartemen boss ya? Ngapain dia kesini? Gua harus ikutin nih cewek." Jimmy melepas sabuk pengamannya, memakai kaca mata dan topi guna menutupi wajahnya. Kemudian ia keluar dari mobil untuk membuntuti Fana yang sudah melewati pintu masuk.
Ketika sampai di lantai dua belas, lagi-lagi Jimmy tersentak melihat Fana menuju ke unit apartemen yang letaknya berhadapan dengan unit milik Aufar.
"Wah, niat banget nih cewek nguntitin si boss."
Ketika Fana sedang menekan tombol kode unitnya, Jimmy keluar dari persembunyian dan menghampiri wanita itu. Fana menoleh ke arah Jimmy yang sudah berdiri di sampingnya.
"Siapa lu?" Tanya Fana Ketus.
"Yakin lu enggak ingat ama gua?" Jimmy membuka topi dan kacamata yang bertengger di hidung mancungnya. Melihat wajah asli Jimmy, Fana memutar balik memorinya. Ia tercengang ketika sedang mengingat sesuatu. Tangannya perlahan menutup mulutnya yang sudah membentuk huruf O.
"E-elu..yang waktu itu..."
"Iya gua..bagus kalo lu udah ingat." Jimmy terlihat santai dan tersenyum kecut. Namun berbeda dengan Fana. Tubuh wanita blasteran Indonesia-India itu bergetar ketakutan seperti sudah tertangkap basah atas kesalahan besar yang memalukan.
"Ma-mau apa lu nemuin gua?" Suara Fana sudah mulai terbata. Ia menelan salivanya dengan berat, seperti sedang berhadapan dengan seekor singa yang menyeramkan.
"Elu masih pura-pura enggak tau?" Jimmy mengerutkan dahinya menatap tajam ke arah Fana.
"O..oke..gu..gua faham. Ta..tapi please kasi gua waktu..ka..karena gua belum mendapatkan apa yang lu mau."
"Good girl..gua mau secepatnya lu kelarin masalah ini, kalo lu mau hidup lu aman!" Jimmy tersenyum licik kemudian meninggalkan Fana yang masih mematung dengan tubuh bergetar yang hampir saja ambruk ke lantai.
Bersambung