I Love You Till Jannah

I Love You Till Jannah
Teman Tapi Modus



Jam dinding menunjukkan pukul tiga sore, Alia mengambil perlengkapan mandinya yang sudah ia siapkan di dalam koper. Lalu ia menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Ada kewajiban yang menunggunya, menyerahkan seluruh hidup dan matinya di atas sajadah cinta Sang Pencipta.


Ketika masuk ke kamar mandi, bibir Alia ternganga. Pandangannya menyapu seluruh ruangan yang jauh lebih luas dari kamar rumah kontrakan yang ia tempati sebelumnya. Semua perlengkapan mandi lengkap dengan handuk kimono dengan warna kesukaannya sudah tertata rapi disana.


"Ya Rabbi...sebegitu detail kah orang itu menyiapkan semua ini untuk ku?" Batin Alia. Tanpa ia sadari bibir indahnya membentuk lengkungan tipis senada dengan suasana hatinya yang hampir tak terlihat. Ia merasa sangat diperhatikan.


Selepas mandi dan bersuci dari hadats kecil, Alia melakukan ritual agamanya. Memposisikan tubuhnya paling terendah dari segalanya dan mengucapkan ribuan kalimat syukur kepada Dzat Yang Maha Pemberi segala nikmat dalam hidupnya.


"Ya Allah..Ya Tuhanku..sesungguhnya aku selalu lalai dalam beribadah kepadaMu, namun Engkau selalu memberikan semua yang aku butuhkan. Malah sekarang Engkau mencukupi kehidupanku dengan sesuatu yang aku sendiri tidak pernah mengharapkannya. Ya Allah..Ya Salam..selamatkan lah orang yang telah berbuat sebanyak ini untuk diriku. Limpahkan lah hidupnya dengan kasih sayangMu dan Lindungi lah ia dimana pun ia berada. Aamiin ya Robbal 'aalamiin🤲."


Alia mengakhiri do'anya dengan linangan air mata kekhusyu'an. Mencurahkan segala isi hatinya kepada Dzat pemilik jiwa semua makhluk di muka bumi ini. Setelah merapikan peralatan ibadahnya, Alia duduk di tepi tempat tidur yang berukuran sepuluh kali lipat dari tubuhnya itu.


"Apa yang harus aku lakukan di tempat sebesar ini sendirian? Seandainya ada Friska atau Isni, pasti akan lebih menyenangkan."


Alia meraih ponselnya berniat akan menghubungi keluarganya bahwa ia telah tiba di tempat tujuan dengan selamat. Namun disaat yang bersamaan ia melihat satu pesan singkat masuk. Alia membuka pesan itu yang ternyata dari Jimmy.


"Selamat sore, Nona Zalia. Maaf jika mengganggu waktu istirahatmu. Aku hanya ingin menginfokan bahwa besok aku akan menjemputmu untuk bertemu pihak akademik kampus terkait penyerahan berkas adminitrasi milik Anda. Have a nice day, see you tomorrow Nona Zalia, Jimmy."


Alia membaca pesan dari Jimmy sambil senyum-senyum sendiri tanpa membalasnya.


"Bawahannya saja sesopan ini, bagaimana dengan atasannya ya?"


Alia bergumam lirih sambil menerawang ke langit-langit kamar mencoba mencari jawaban yang belum juga ia temukan.


"Slow down, Alia. Nanti juga kamu bakal tahu siapa sosok misterius itu. Tuhan sendiri yang akan membawanya ke hadapanmu. Percaya lah."


Setelah itu, ia melanjutkan niatnya yang terinterupsi pesan singkat Jimmy. Seusai menghubungi keluarganya, Alia merebahkan tubuhnya sempurna di atas tempat tidur dan tanpa sadar karena lelah perjalanan Alia terlelap menuju alam mimpi.


Alia mengerjapkan kelopak matanya ketika jam dinding sudah menunjukkan pukul 18.00. Lumayan tidur singkat berhasil mengembalikan stamina tubuhnya dari penatnya perjalanan.


"Astaghfirullah...sudah waktunya maghrib."


Alia bangkit dari tidurnya dan menuju kamar mandi untuk bersuci kemudian kembali menemui Sang Pemilik Hatinya di peraduan cinta makhluk dengan penciptaNya.


***


"Gimana, Jim?" Tanya atasannya dengan wajah tidak sabar.


"Udah boss, lu tenang aja, semua beres. Tapi kenapa sih lu enggak mau temuin cewek itu langsung?" Tanya Jimmy penasaran. Saat ini Jimmy sedang berada di ruangan kerja milik atasannya.


"Belum saatnya, Jim. Lu lakuin aja semua perintah gua. Jangan sampe keceplosan! Dan satu lagi, jaga jarak lu! Gua enggak mau lu deket-deket ama pujaan hati gua." Perintah atasannya.


"Yaelah...boss..boss..lu tu aneh ya, kalo lu enggak mau gua deket-deket tu cewek ngapain juga lu nyuruh gua jd bodyguard buat soulmate lu itu?"


"Jangan banyak tanya lu, kerjain aja apa yang gua mau, atau lu mau kehilangan pekerjaan lu sekarang juga, hem?" Ancam pria itu.


"Easy boss, easy...I'm just joking." Jimmy menggaruk-garuk kepalanya yang mulai terasa gatal.


"Pokoknya lu harus pastiin besok semua urusan administrasi kampusnya beres. Terus lu beliin semua keperluan yang ia butuhkan!" Lanjut atasannya.


"Siap, boss qu." Jimmy memberi hormat dengan tegap layaknya seorang prajurit yang sedang menerima perintah dari komandannya.


***


Keesokan harinya Alia sudah siap dengan kostum kampusnya. Walaupun ia belum tahu peraturan berpakaian seperti apa yang berlaku di kampus barunya nanti. Namun ia berusaha untuk menyesuaikan. Gadis itu terlihat sangat anggun dengan kemeja garis-garis dan celana jeans berwarna biru, ditambah lagi pasmina putih yang membalut mahkotanya dengan sempurna.


Ting..Tong...(bel apartemen berbunyi)


"Pasti Tuan Jimmy." Alia bangkit dari duduknya kemudian membuka pintu. Benar saja, Jimmy dengan senyum mengembang seperti diberi soda kue berdiri di hadapannya.


"Selamat pagi, Nona Zalia." Sapa Jimmy dengan wajah yang berbinar melihat penampilan Alia.


"MasyaAllah..benar-benar kecantikan yang sempurna," batin Jimmy.


"Selamat pagi, Tuan Jimmy." Sapa Alia kembali dengan senyuman khasnya.


"Tuan..." Alia mencoba menyadarkan Jimmy yang sejak tadi senyum-senyum sendiri.


"Aku hanya mengucapkan selamat pagi, Tuan..Haha." Lagi-lagi Jimmy merasa malu.


"Maaf Nona..hehe. Jangan panggil aku Tuan. Panggil saja namaku, Jimmy." Pinta Jimmy sambil menundukkan kepalanya sedikit.


"Baiklah, asalkan kamu berhenti memanggilku dengan sebutan Nona." Nego Alia.


"Tidak bisa, Nona." Bela Jimmy.


"Kenapa?" Alia menaikkan salah satu alisnya.


"Karena Anda itu special bagi..." Jimmy hampir keceplosan. "Anda adalah penerima beasiswa dari atasan saya, jadi saya sudah semestinya harus hormat terhadap Anda." Lanjut Jimmy.


"Apa hari ini kamu juga akan membawaku menemui atasanmu itu?" Tanya Alia sambil meraih map berisi dokumen penting miliknya dan pergi bersama Jimmy meninggalkan apartemennya menuju parkiran.


"Tidak, Nona. Saya akan mengantar Anda ke kampus kemudian membeli semua keperluan Anda."


Jawab Jimmy ketika mereka sudah berada di dalam mobil. Seperti sebelumnya Jimmy duduk di kursi kemudi dan Alia duduk di kursi bagian belakang tepat di belakang Jimmy. Sesekali Jimmy mencuri pandangan dari balik kaca spion di hadapannya.


Ada sedikit rasa kecewa di hati Alia, namun ia tidak ingin menunjukkannya kepada Jimmy.


Harapannya untuk bertemu sosok misterius yang dianggapnya malaikat itu harus tertunda lagi. Semoga secepatnya Tuhan akan mempertemukan mereka berdua, karena Alia tidak bisa melupakan nadzar yang sudah ia ucapkan.


"Jim..."


"Iya, Nona.."


"Di kota ini aku tidak punya siapa-siapa, bahkan donatur yang telah berbaik hati memberikan beasiswa padaku saja tidak ingin menemuiku. Apa kamu mau jadi temanku? Sepertinya kamu orang baik." Alia berbicara sambil menatap keluar jendela.


"Tentu saja Nona Zalia, kita bisa berteman. Dan perlu Anda ketahui bahwa bukannya atasan saya tidak ingin menemui Anda, namun saat ini ia sedang sibuk. Suatu saat nanti ia pasti akan menemui Anda di waktu yang tepat." Jelas Jimmy meluruskan kesalahfahaman Alia.


"Benarkah begitu, Jim? Terima kasih karena sudah mau menjadi temanku ya.." Alia terlihat sumringah dari pantulan kaca spion di hadapan Jimmy.


"Akankah aku benar-benar bisa menjadi temanmu, Nona Zalia?" Gumam Jimmy dalam hati.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Happy reading gengs? Siapa aja yang udah enggak sabar kalo Alia dipertemukan dengan sosok misterius yang budiman itu? Jimmy please jangan modus🤭


Komen yooo🤗