I Love You Till Jannah

I Love You Till Jannah
S2 Kejutan



Di sebuah cafe bernuansa hijau telur bebek, Husna dan Jimmy duduk berhadapan. Meja yang mereka pilih tepat


di samping anak tangga yang bentuknya meliuk seperti ular. Namun bukan ular tangga.


Cafe ini sengaja di-designed menjadi dua bagian, indoor dan outdoor. Bagian indoor terdiri dari dua lantai. Lantai pertama dibentuk seperti bar mini, sedangkan lantai paling atas sengaja dibuat gaya terbuka dengan hiasan full lampu kuning yang mengitari pagar pembatasnya.


Di bagian depan cafe juga terdapat panggung minimalis sebagai wadah untuk para pemuja seni menunjukkan aksinya. Terdapat beberapa meja dan kursi juga yang tersusun rapi mengitari panggung mini tersebut.


Husna yang baru kali ini menginjakkan kaki di sana, sedari tadi celingukan saja seperti kepala angsa.


"Enggak usah S.P.O.K!" Menoyor kening Husna semaunya.


"Elu kenape sih suka banget noyor gue?" Husna mengusap-usap keningnya yang sedikit berkerut. Menatap tajam ke arah Jimmy tidak terima. "Mao gue sleding lu?" Ancam gadis tomboi itu.


Ucapan Husna sukses membuat Jimmy tergelak. "Galak banget neng, ntar enggak laku lu, kalo gaya lu gini terus ama laki-laki." Jimmy mengocok-ngocok minumannya dengan sedotan sembari tersenyum sinis, lalu menyesap rasa asam dan manis dari minuman itu.


Si Tomboi memutar kedua bola matanya dengan malas. "Kalo cowoknya model elu mah, gue ogah." Melakukan hal yang sama seperti Jimmy pada gelas di depannya. "Lagian dimana-mana ngajak ke bar itu minumannya yang keren dikit napa, ini malah dikasi jus jeruk," cebik Husna kemudian.


Jimmy terkekeh melihat tingkah gadis yang sudah menjadi sahabatnya itu. "Ini lebih sehat dibanding alkohol tau." Jimmy berniat mengacak-acak pucuk kepala Husna. Membuat gadis itu refleks memundurkan tubuhnya beberapa centimeter sebelum Jimmy berhasil menyentuh kepalanya.


Gadis berpipi tembam itu sempat mengira bahwa Jimmy akan mengangkat topinya.


Jimmy yang melihat bahasa tubuh Husna yang terbilang tiba-tiba itu, lantas memicingkan sebelah matanya, keheranan.


"Kenapa lu?"


"Kaga ape-ape."


"Terus, barusan elu mikir gua mau ngapain?"


"Udah ah, kaga usah dibahas." Husna menarik dalam topinya semakin ketat. "Jadi sebenernya ngapain elu ngajak gue ke sini, hah?"


Jimmy terlihat agak ragu, namun ia tidak memiliki sosok lain lagi untuk mengungkapkan seluruh isi hatinya, selain Husna.


Wait! Bagaimana dengan Mr. Berry? Bukankah dia juga sahabat tempelnya Jimmy? Ah, lelaki bermata sipit dan berambut kuning itu sudah bahagia bersama Delfia. Jimmy tidak ingin mengusik ketenangan mereka.


Lalu bagaimana dengan Husna? Apa hanya gadis tomboi ini yang tega untuk diusik oleh Jimmy? Jawabannya, ya benar.


Waktu bergulir begitu cepat. Dua pekan terakhir ini, memang terasa sangat menyesakkan sekaligus membahagiakan bagi Jimmy. Setelah mengetahui kondisi kejiwaan Ibunya yang semakin membaik, hal itu sungguh merupakan nikmat yang tak tertandingi baginya. Namun sejak mengetahui kenyataan bahwa Pak Fahri bukanlah ayah kandungnya, ia merasa sangat bersalah sekaligus menyesal.


Tak henti-hentinya ia mengucapkan kata maaf ketika berkomunikasi dengan lelaki paruh baya yang sangat berjasa bagi eksistensinya di dunia ini. Walaupun kontak mereka selama ini hanya membahas seputaran pekerjaan, namun tetap saja Jimmy merasa sungkan.


"Gue masih gak enak sama Aufar dan keluarganya," akunya dalam tunduk.


Husna yang mengerti arah pembicaraan Jimmy, lantas mendadak serius dengan tatapannya. "Pan gue udah bilangin, ntu semua di luar kuasa elu lah, Jim. Om Fahri pasti memaklumi kok. Gue yakin deh." Menatap lurus ke arah Jimmy yang masih saja bergeming dari posisinya.


Husna menghela nafasnya. "Elu harus bisa berdamai dulu ama diri lu, Jim. Baru elu bisa berdamai dengan kenyataan."


Kalimat bijak fans berat kartun Doraemon itu sukses mengangkat wajah Jimmy sejajar dengan wajahnya.


Lama ia menatap wajah putih di hadapannya dengan penuh haru. Gadis yang menurutnya sangat galak bahkan tak mempunyai perasaan itu, ternyata bisa bijak juga dalam berucap.


"Elu benar juga, Hus. Gua memang belum bisa berdamai ama diri gua." Jimmy membuang pandangannya ke sembarang arah dengan menopang kedua sikutnya di atas meja.


"Ya Allah, baru juga mau serius ini. Bacot lu udah kayak sambel terasi," sarkas Jimmy mendengus kesal.


"Abisnya elu juga, pake Hus Hus segala." Husna berekspresi tidak suka seraya bersedekap ke arah lain. "Panggil gue Una, U-n-a, UNA. Ingat ntu!"


Jimmy menghela nafasnya berat, tidak habis pikir dengan tingkah makhluk aneh di depannya ini. "Panggilan aja, dijadiin masalah. Apalagi kalo gua nyium elu."


"What?" Husna beranjak dan refleks menggebrak meja. Membuat semua tatapan orang-orang yang berada di cafe itu tertuju kepada mereka berdua.


"Biasa aja, elu jadi tontonan gratis tuh." Jimmy membekap mulut dengan sebelah tangannya sembari terkekeh kecil.


***


Jauh dari Kota Metropolitan, terdapat sepasang anak adam yang sedang bersantai di tepian Pantai Ilica Halk Palji, salah satu pantai umum yang terkenal di Kota Izmir, Turki.


Ketika mendengar kata Turki, kebanyakan orang pasti langsung teringat dengan indahnya pemandangan dari wisata balon udara di Kapadokia atau dua kota besarnya yang terkenal yaitu Istanbul dan Ankara.


Padahal masih banyak destinasi lain yang tak kalah menarik untuk dikunjungi, seperti kota Izmir. Selaku kota terbesar ketiga di Turki dengan julukan 'The Pearl of Aegean', Izmir pastinya menyajikan tempat-tempat wisata eksotis serta bersejarah tanpa meninggalkan unsur modern. Seperti pantai yang sedang dikunjungi oleh Aufar dan Alia saat ini.


Flashback


Ketika berada di Bandara Soekarno Hatta, Alia sempat tersentak ketika Aufar mengajaknya menaiki pesawat dengan tujuan Turki. Kening Alia berkerut tebal menatap Aufar. Pasalnya, malam itu ia membaca dengan benar tujuan negara yang tertulis pada tiket yang ia pegang.


"Bukannya tujuan kita ke Australia ya?" Tanya Alia kebingungan.


Aufar terkekeh. "Itu tiket untuk Mama dan Papa, Sayang. Kamu gak baca namanya ya? Hayoo..." Aufar kembali terkekeh melihat ekspresi sang istri. Ia merasa berhasil memberikan kejutan kecil ini.


"Kamu itu ya..." Alia mencubit gemas pinggang suaminya seraya tersenyum lebar.


Aufar mengaduh. "Aw... Seneng banget ya, Sayang?" Tanyanya lagi tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah sang istri, sembari mengusapi pinggangnya yang terasa sedikit nyeri bak digigit semut.


"Seneng banget lah, makasih banyak ya..." Alia spontan memeluk pinggang Aufar.


Mungkin karena saking senangnya, Alia lupa membaca visa yang sempat diberikan oleh Aufar padanya, dua hari sebelum keberangkatan. Jadilah semua ini menjadi kejutan yang amat sangat membahagiakan. Pastinya akan menjadi potret kenangan terindah dalam hidupnya. Mengunjungi negara favorit setelah sekian lama memimpikannya.


Flashback End


"Ngomong-ngomong, kenapa kamu menyukai Turki, Sayang? Lebih tepatnya kota ini." Merangkul pundak sang istri dari samping sambil berjalan menyusuri pantai. Kedua alas kaki mereka tertenteng anteng di tangan sebelahnya.


Alia tersenyum simpul sembari menyentuh tangan sang suami yang berada di pundaknya. Sementara tangan yang satunya lagi memeluk erat pinggang lelaki itu. "Karena ... Izmir merupakan kota sekuler, Sayang. Banyak banget masjid-masjid bersejarah seperti Hagia Sophia Blue Mosque atau pun Sabanci Central Mosque yang menjadi icon khas Turki banget."


"Cuma karena itu aja?" Aufar menyipitkan sebelah matanya menoleh ke arah Alia tidak percaya.


Alia kembali tersenyum menanggapi interupsi dari suaminya itu. "Gak cuma itu, Sayang. Karena dulunya sempat menjadi wilayah milik Yunani, pada akhirnya banyak sekali sisa-sisa arsitektur bersejarah yang bertahan di Kota ini. Kayak Saat Kulesi atau yang dikenal dengan sebutan Izmir's O'clock Tower yang kita kunjungi tadi."


Alia melepas rangkulan Aufar dan mengejar ombak yang beringsut mundur.


Aufar yang melihat tingkah menggemaskan dari istrinya, akhirnya tidak tahan godaan. Ia juga ikut bermain air di sana setelah Alia berkali-kali melambaikan tangannya dengan girang.


Bersambung..