I Love You Till Jannah

I Love You Till Jannah
S2 Sentilan Kejam



Sayup-sayup terdengar suara air mengalir yang mengganggu tidur Aufar. Perlahan tapi pasti, ia mengerjapkan kedua matanya dengan malas. Rasa kantuk dan pusing yang masih bergelayut di kedua kelopak matanya, membuat ia berkali-kali mencoba menyibaknya dengan susah payah.


Ketika kedua mata itu setengah terbuka, ia mengurut pelipisnya karena merasakan pusing yang amat sangat menyiksa. Aufar bangkit dari posisi awal, dan menyibak selimut yang membalut hangat tubuh polosnya. "What the ****?" Pekik Aufar setengah berteriak.


Ia mengedar pandangan ke seluruh sudut ruangan dengan tatapan gusar. Menelisik dan mengamati, sembari mencoba mengenali tempat dimana dirinya berada. Namun, sulit baginya untuk menemukan jawaban yang tepat. Hanya saja, bisa dipastikan bahwa ia sedang berada di kamar sebuah hotel.


Sesekali ia mencoba mengingat kejadian sebelum ia berada di tempat itu. Memorinya berbalik arah menelusup ke dalam ingatan yang hampir tak tampak dengan jelas. Seingat Aufar, dia meninggalkan Awan, lalu melenggang bersama komplotan preman berbadan kekar yang menggondolnya di tengah perjalanan pulang menuju villa. Namun kenapa dia tidak bisa mengingat kejadian setelah itu?


Lagi-lagi Aufar menekan pelipisnya, menahan rasa nyeri yang ditimbulkan akibat gerakan agresif dari urat-urat yang membesar di seluruh kepalanya. Dokter tampan itu tertunduk setengah badan dan bibir sensualnya tak henti mengaduh.


Dimana dia? Siapa yang berani menculiknya? Apa sebenarnya yang mereka inginkan darinya? Dia bukanlah seorang pelaku bisnis yang mungkin saja memiliki saingan yang membuat perhitungan tidak gentle seperti ini. Ya, penculikan merupakan cara yang tidak gentle dalam menyelesaikan masalah. Berkali-kali bibirnya mengutuk siapapun pelaku di balik misi penculikannya. Namun kondisi tubuh polos ini, membuktikan bahwa penculiknya hanya satu. Wanita..!


Lama Aufar terdiam dalam posisi menunduk, hingga akhirnya terdengar suara knop pintu kamar mandi yang perlahan terbuka. Menampakkan seonggok daging bernyawa dengan potongan body bak gitar spanyol. Mengenakan busana minim kurang bahan yang mengekspos bagian dada dan kaki jenjangnya. Wajah menggoda penuh pesona akan meluluh lantahkan kelaki-lakian siapapun yang memandangnya. Namun tidak dengan Aufar.


"Morning, Beb..kamu udah bangun? Gimana tidurnya semalam, nyenyak?" Melenggang dengan meliukkan tubuh sexy-nya ke arah Aufar.


Pandangan Aufar sontak melesat ke arah sumber suara yang memang ia kenali pemiliknya.


"Fana.." Lirih Aufar hampir tak terdengar. Fana berhasil mencapai titik terdekatnya. Duduk dengan posisi erotik menghadap si pujaan hati. Bagian dadanya memang sengaja dibuat maju dengan maksud menggoda laki-laki yang berada di hadapannya.


Sekali lagi Aufar merasa kalah telak dari wanita ular itu.


"Kamu sangat memabukkan, Sayang. Bisakah kita mengulanginya sekali lagi?" Pertanyaan Fana berhasil membuat bulu kuduk Aufar meremang. Bibirnya mulai bergetar hebat seperti ingin mengungkapkan sesuatu tapi tidak bisa.


Fana yang mengerti mimik wajah shock dari Aufar lantas bangkit dari duduknya, lalu berjalan menuju sebuah meja yang terletak tepat di hadapan tempat tidur yang berukuran king size itu.


Dengan lentik jari tangannya meraih sebuah ponsel touchscreen miliknya yang tergeletak di atas sana. Kemudian berbalik arah menghampiri Aufar yang masih dengan ekspresi wajah yang sama.


"Kamu beneran tidak mengingat kejadian semalam?" Fana bertanya dengan nada lembutnya.


Aufar hanya menggeleng pelan. Ia mulai merasakan ada hal tidak beres yang telah menimpanya. Raut kekhawatiran dan kegusaran terpampang nyata tanpa tirai penghalang. Sementara Fana, wanita itu tersenyum puas penuh kemenangan.


Tanpa berlama-lama lagi, Fana menunjukkan beberapa foto dan sebuah video yang berisi aksi tidak bermoral dari keduanya. Aufar berdecak kesal dan berkali-kali mengutuk dirinya sendiri.


Namun anehnya dalam video itu menampakkan bahwa Aufar melakukan hal itu dengan penuh kesadaran, bahkan terlihat dari ekspresi wajahnya yang begitu menikmati permainan terlarang tersebut dengan penghayatan dan gairah yang meletup-letup.


Video yang berdurasi 10 menit itu sungguh akan membuat siapapun yang melihatnya merasa malu. Suara *******, lenguhan, dan desisan kenikmatan dari bibir mereka sungguh akan membuat telinga berdiri tegak.


Tak ada paksaan..


Tak ada keraguan..


Apalagi kecanggungan..


Semuanya terlihat pure..


Yang ada hanyalah kemesraan yang berbalut gairah..


Oh Aufar...


Tamatlah sudah riwayatmu..


***


Alia terlihat mondar dan mandir sambil menggigiti kukunya. Sesekali ia menghempaskan kedua tangannya frustasi. Agaknya setelah memakan kebab turki kemarin kesehatannya sudah membaik. Namun masalah lain datang menghampiri. Perasaan khawatir bercampur curiga mulai menggelayuti hati kecilnya. Khawatir karena Aufar belum juga kembali dari kemarin pagi. Curiga karena takut akan kejadian membahayakan yang menimpa suaminya.


Ini tempat baru baginya, apa yang bisa ia lakukan? Akal sehatnya mulai berfikir mencari solusi. Namun hanya ada satu wajah yang terlintas di pikirannya. Jimmy!


Tapi bagaimana caranya ia meminta bantuan Jimmy? Bukankah Jimmy telah pamit bertolak ke Jakarta kepada dirinya dan Aufar di malam resepsi pernikahan mereka? Oh no..


"Maaf Pak, Sa..." Belum selesai Alia mengutarakan kalimatnya, terdengar langkah kaki mendekat ke arah mereka bertiga.


Sontak ketiganya menoleh ke arah sumber suara yang membuat Alia setengah tidak percaya bahwa sosok yang ada di hadapannya itu adalah Aufar.


"Maaaas..." Alia menghambur memeluk sang terkasih dengan air mata yang terjatuh tanpa permisi. Aufar yang masih belum bisa menerima kenyataan pahit yang menimpanya, tak bergeming sekalipun. Bahkan ia tak membalas pelukan Alia. Sementara Pak Ketut dan Made hanya bisa bertukar pandang dengan senyuman kikuk, melihat adegan mesra yang berada di hadapan mereka.


"Mas, kamu darimana? Aku sangat mengkhawatirkanmu. Kamu baik-baik aja kan?" Alia melepas pelukannya, menyeka air kekhawatiran yang membasahi pipinya. Ia mengabsen setiap jengkal tubuh sang suami, mencari bagian yang sekiranya terluka. Namun nihil, Aufar baik-baik saja secara fisik. Lalu Alia bernafas lega tanpa melanjutkan interogasinya.


Lama Aufar termenung dalam posisi berdiri. Ia masih tidak menyangka Fana bisa berbuat senekat itu. Aufar selama ini terlalu menganggapnya remeh. Ia berpikir setelah menikahi Alia, Fana akan putus asa dan berhenti mengejarnya. Namun takdir novel ini berkata lain. "Bu Author memang kejam," umpat Aufar di dalam hati.


Ia merasa sangat berdosa kepada Alia. Ia merasa telah mengkhianati sang istri dengan biadabnya. Ia telah menodai kesucian cinta yang Alia berikan padanya selama ini. Ia benar-benar telah menghancurkan rumah tangganya sendiri secara perlahan. Bagaimana jika Alia mengetahui hal itu? Apakah Alia akan mempercayai penjelasannya? Apakah wanita itu akan tetap berada di pihaknya jika takdir kejam si Penulis mulai menghantamnya?


"Tega nian dikau Bu Author? Momen bulan madu pun bisa-bisanya kau ganggu. Dasar Penulis ngaco..!" Lagi-lagi Aufar hanya bisa mengutuk sang penulis di dalam hati.


Alia yang merasa ada hal yang berbeda dari sosok sang suami, lantas menyentuh pundak Aufar dengan sentuhan hangat. Ia mengira mungkin suaminya hanya kelelahan saja.


"Kita ke kamar aja yuk, pasti Mas lelah sekali."


Seperti sapi yang dicocok hidungnya, Aufar mengekori Alia dengan langkah gontai. Tak terasa air matanya melinang ketika memandang punggung wanita yang ia cintai, berjalan di hadapannya tanpa merasa curiga atau sejenisnya. Sebelum Alia menyadari hal itu, Aufar buru-buru mengusap jejak air pilu bercampur penyesalan itu, lalu memaksakan senyumannya ketika Alia menoleh tanpa melepaskan tautan jari mereka.


"Sayang..sebaiknya kita kembali ke Surabaya sekarang." Suara bariton Aufar berhasil membuat Alia menghentikan langkah kecilnya.


"Kamu enggak pingin istirahat dulu?" Alia bertanya sambil mendekatkan tubuhnya pada Aufar, menyentuh pipi sang suami dengan lembut. Jari telunjuknya bergerak naik turun membelai indah wajah sempurna ciptaan Tuhan yang telah menjadi kekasih halalnya itu.


Aufar yang merasa canggung tiba-tiba membenarkan posisi tubuhnya dan memalingkan wajahnya ke samping sambil berdeham.


"A..aku..aku enggak capek kok, enggak papa kan kalo kita pulang sekarang?" Aufar kembali memaksakan senyumannya.


"Aku sih manut kamu, Mas. Kamu kan imamnya aku."


SEERRRRRRR


Desiran darah mengalir deras menggesek pembuluh darah yang berada di dalam dada Aufar. Kalimat terakhir sang istri berhasil menyayat sanubarinya sehingga merasa semakin berdosa dan bersalah.


"Ya Tuhaaan..."


***


"What? Jadi elu bener-bener ngelakuin hal itu?"


"Menurut elu selama ini gue maen-maen gitu?" Respon seseorang dibalik sambungan.


"Wah, bener-bener lu ya, tapi baguslah rencana gua bisa segera diluncurkan."


"Gue bakalan tepatin janji gue asalkan elu juga ngelakuin hal yang sama." Negosiasi di penelpon.


"Aaah, gampang. Gua cabut dulu, ntar gua telepon lagi."


Jimmy mengakhiri panggilan suaranya, lalu beranjak dari kursi kantin kampus itu. Kemudian ia bergegas melewati lorong kelas menuju Aula kampus yang terletak di halaman tengah namun agak ke belakang.


Ketika sedang berjalan ria sambil menunduk merapikan jas yang ia kenakan, tak sengaja tubuh Jimmy menabrak seseorang.


"Aaawwww," terdengar suara mengaduh dari bibir orang yang telah ia tabrak.


"Maaf, maaf, saya sedang buru-bu..." Jimmy memotong kalimatnya setelah menyadari dan mengenal sosok yang ia tabrak.


Bersambung..