I Love You Till Jannah

I Love You Till Jannah
S2 Kilas Balik



Irama sendok dan garpu menjadi back sound ritual pengisian energi malam ini di kediaman keluarga Pak Harry. Sang kepala keluarga, Ibu Nana, Alan, Alia dan juga Aufar, tidak ingin melewatkan menu andalan nan special ala ibu mertua dengan tiga varian berbeda.


Tak ada satupun yang berani angkat bicara, angkat wajah, bahkan angkat sendok. What? Tidak, tidak, tidak seperti itu. Sendok dan garpu bukanlah makhluk bernyawa yang juga merasakan ketidaknyamanan atmosfer di ruang makan ini. Canggung bin kikuk bin dingin bin tidak asik.


Sejak sore kemarin, Pak Harry seperti tak enak hati kepada sang menantu, karena ia mengira bahwa Aufar pasti telah memikirkan hal yang tidak-tidak tentangnya. Hal yang tidak jauh dari konsep perselingkuhan, begitulah sekiranya.


Padahal Alia telah menceritakan keseluruhan kisah bermain hati sang ayah kepada sang suami, yang awalnya memang sangat menyakitkan dan tidak mengenakkan bagi mereka bertiga. Alia, Alan, dan Ibu Nana telah melewati masa-masa sulit dimana mereka benar-benar terpukul dengan keputusan sang Ayah. Namun lama kelamaan, kondisi memaksa mereka untuk membiasakan diri membagi hak yang seharusnya mereka terima sepenuhnya dari Pak Harry, yaitu kasih sayang.


It's okay, maybe ini semua memanglah takdir yang harus mereka lalui. Tidak ada yang bisa mengubah apapun yang telah tertulis dalam skenario Tuhan. Peristiwa apapun yang terjadi dan dilewati oleh umat manusia, tak terlepas dari jamahan kekuasaanNya. Mungkin sebagian orang sering mengatakan bahwa, Tuhan tidak akan menguji hambaNya, di luar kemampuannya. Ya, itu benar.


Jika tidak, dua wanita dewasa dan satu lelaki remaja ini tidak mungkin mampu bertahan hidup dalam tekanan dan penuh cibiran dari ratusan pasang bibir yang tidak bertanggung jawab sampai detik ini. Mungkin bagi Alia, hal ini terasa lebih mudah karena ia telah lama hidup di rantauan. Tidak terlalu merasakan siksaan batin secara langsung. Namun bagi Ibunya dan Alan, tentu saja masa-masa itu merupakan kubangan Neraka Jahannam yang meluluh lantahkan impian, harapan, jiwa, raga, hati dan pikiran.


Aufar sesekali berdeham dan melirik sang istri yang masih fokus dengan santapannya yang tersisa dua suapan. Diabsennya satu per satu wajah anggota keluarga barunya itu dengan tatapan iba, terutama sang Ibu mertua.


"Apa benar Ibu sudah mengikhlaskan dan menerima takdir ini?" Gumamnya di dalam hati, sambil menenggak setengah gelas air putih bening.


Ketika pantat gelas berwarna cokelat pramuka itu berhadapan lurus dengan wajah Pak Harry, Aufar mematungkan diri dan menatap wajah si Ayah mertua dari pantulan gelas.


"Apa aku harus menceritakan masalahku kepada Ayah? Sepertinya Ayah punya jurus jitu dalam masalah meluluhkan hati seorang wanita. Buktinya Ibu anteng aja berada disisinya walaupun telah dimadu," tuturnya kepada diri sendiri.


Ya, tadi sore perdebatan kecil terjadi diantara dirinya dan Alia. Wanita itu masih saja berpikir bahwa sang suami hanya bercanda dan membuat lelucon dengan konten 'keterlaluan' seperti yang terjadi dalam video-video frank yang sering ia tonton di channel yutub kesayangannya.


Jujur saja, Aufar agak kowalahan menghadapi kepolosan sang istri, yang selalu saja berpikiran positif terhadapnya. Di satu sisi, ia sangat bersyukur karena Alia telah sepenuhnya percaya padanya, tanpa keraguan sedikitpun. Namun di sisi lain, Aufar sebenarnya sangat tersiksa jika harus menyimpan kebenaran ini terlalu lama. Ia khawatir suatu saat nanti Alia akan mengetahuinya dari orang lain. Maksudnya, Ghifana Aurora. Wanita yang paling licik dari yang terlicik yang selalu menghantuinya siang dan malam dalam alam dimensi lainnya.


"Ah, tapi tidak mungkin juga aku membuka aibku sendiri pada Ayah mertuaku. Bisa anjlok martabatku sebagai menantu idaman. Bisa-bisa Ayah sendiri yang memisahkan aku dari putrinya. Tidak, tidak, tidak bisa." Aufar nampak berkerut kening dan sedikit menekan pelipisnya. Agaknya ia merasa pusing sendiri.


Berbicara jujur pada Alia pun tidak mungkin dipercayainya lagi. "Aku gak akan pernah percaya kalo kamu bahas itu lagi..!" Ancam sang istri ketika mereka sedang berdebat selama perjalanan pulang dari keraton.


"Mungkin aja belum waktunya," gumam Aufar lirih namun masih terdengar di telinga Alia.


"Apanya yang belum waktunya, Mas?" Menyentuh pundak sang suami dengan lembut. Pak Harry, Ibu Nana, dan Alan lantas mendongak ke arah sepasang kekasih halal itu.


Aufar terperanjat dan menoleh sembari menggeleng, tersenyum kikuk. Namun tetap saja terlihat tampan.


***


Ritual pengganjalan lambung dan sekitarnya telah berakhir sudah. Masing-masing dari mereka kembali ke kamar dan mengistirahatkan diri.


Berbeda dengan Aufar, ia masih saja terjaga dengan pandangan menerawang ke langit-langit kamar yang menampakkan atap daun khas zaman dahulu. Pikirannya kembali membayangkan kilas balik masa kecil sang istri yang tinggal di gubuk sederhana ini. Mengapa Aufar menyebut rumah ini sebagai gubuk? Karena luas rumah ini, kira-kira hanya sebesar garasi di kediaman kedua orang tuanya.


Ia mulai menerka-nerka masa sulit yang dihadapi Alia semasa masih duduk bangku SD sampai SMA dengan keadaan ekonomi kedua orang tuanya yang tergolong menengah ke bawah. Rasanya ingin sekali ia mendengarkan dongeng pengantar tidur yang memuat kisah dokumentasi tentang sang istri di waktu kecil. Sungguh ia merasa sangat penasaran.


Ditariknya pandangan ke sebelah kanan, menampakkan keranuman wajah sang istri yang telah tidur terlebih dahulu, di atas lengan kirinya. Ia menarik sedikit sudut bibirnya ke atas, sembari menyentuh sekilas ujung hidung si wanita tidur. Aufar terkekeh kecil. Ia berpikir, bahkan sedang terpejam pun, Alia tetap terlihat memesona baginya. Bukan hanya pesona dari luar, melainkan juga pesona yang terpancar dari dalam sana.


Lama si dokter berkutat dalam posisi memberikan jatah sapuan bibir di wajah Alia. Saking semangatnya hingga menyebabkan Alia terbangun dari tidurnya. Kedua mata wanita itu, mengerjap berkali-kali, menyesuaikan cahaya karena Aufar lupa mematikan lampunya.


"Kok belum tidur, Mas? Mengangkat sedikit kepalanya karena ia merasakan ada kecupan yang mendarat di area hidung dan sekitarnya.


"Lagi mandangin kamu," kedua pipi Alia mendadak memanas mendengar jurus gombalan yang telah lama tidak dipraktikkan oleh suaminya itu.


"Mandangin, apa nyiumin?" Koreksi Alia.


Aufar hanya mengulum senyuman. Ia mulai merasakan bahwa agaknya Alia tidak termakan gombalan itu. Ia menyipitkan kedua matanya, mencoba menelisik kenyataan yang disembunyikan oleh Aufar di balik senyuman pepsodent yang sedang ia sematkan pada bibir sensualnya.


Istri Dokter Aufar ini, lantas bangkit mendudukkan tubuhnya dan bersandar ke muka ranjang.


"Mikirin apa sih, Mas?" Lanjutnya, menatap lekat kedua bola mata teduh milik Aufar.


"Mikirin kamu.."


"Tuh kan, aku serius, Mas.."


"Serius juga Sayang, aku tadi memang lagi mikirin kamu. Kalo enggak percaya..."


"Apa?"


"Aku makan kamu sekarang nih."


Bangkit dari tidurnya dan menggelitik pinggang ramping Alia, sehingga membuat wanita itu terpingkal-pingkal, namun Aufar terus membungkam mulut Alia dengan bungkaman cinta agar teriakannya tidak mengganggu anggota keluarga lain yang sedang beristirahat.


"Jadi Sayang belum percaya nih?" Aufar mendaratkan kepalanya di atas paha sang istri. Candaan ala pasangan muda ini, agaknya berhasil membuat jiwa jomblo Alan yang juga masih terjaga dan setia dengan game online-nya, meronta-ronta.


"Tentang apa?"


"Tentang ceritaku tadi sore."


"Cerita?"


"Iya, cerita tentang yang itu."


"Oh, percaya kok."


"Hah?"


Aufar sontak bangkit dan menatap manik hitam pekat yang berada tepat lurus di hadapannya.


"Jadi kamu udah percaya?"


"Kenapa girang sekali?"


"Kebiasaan, bukannya jawab pertanyaanku, malah nanya balik."


"Duh, pake acara merajuk segala."


Alia beringsut mendekati Aufar dan bergelayut mesra di lengan kekarnya dengan kepala bersandar pada pundak sang suami. "Apa sih yang enggak aku percaya dari kamu, Mas?" Tuturnya dengan lemah dan lembut.


"Te..terus menurut ka..kamu gi..gimana?"


"Gampang kok Mas, tenggelamkan aja ke lautan."


"Siapa?"


"Enam kepala casper itu."


GUBRAAAAK...


Bersambung...