I Love You Till Jannah

I Love You Till Jannah
S2 Bebas



TAP


TAP


TAP


Suara sepatu heels Fana menggema di seantero kamar dimana Alia berada. Dengan perasaan pongah ia menarik sebelah sudut bibirnya sinis. Berdiri tegak di samping single bed yang menampung tubuh mungil wanita malang yang sudah sering dijadikan sasaran kejahatannya itu.


Malang nian nasib wanita tersebut. Baru saja ia menyaksikan kenyataan pahit tentang skandal sang suami, kini tubuh ringkihnya harus terkurung di dalam ruangan kecil ini sebagai seorang sandera.


Fana menaikkan sebelah kakinya ke tepian ranjang, menarik dagu Alia semaunya dan membuka kain hitam penutup mata wanita itu dengan kasar.


Spontan Alia mengerjap berkali-kali, mengondisikan pandangannya yang masih terlihat kabur.


"Wanita bodoh, seharusnya dari awal aku sudah membuatmu seperti ini," geram Fana semakin mempererat genggamannya.


Alia yang merasakan sakit di bagian wajahnya, hanya bisa meringis tak bisa melepaskan diri. Tangan dan kakinya telah terikat posesif dengan tambang.


"Apa salahku padamu, Fana?" Tanya Alia dengan mata berkaca-kaca.


"Cih, pake nanya lagi." Menarik wajah Alia semakin mendekat padanya. "Siapa suruh berani-berani menikahi pujaan hatiku," tutur Fana dengan gertakan gigi yang menggeram.


"Hahaha.." Tawa Alia tiba-tiba meledak, membuat Fana memicingkan sebelah matanya.


"Bukankah kalian sudah sering bermain di belakangku. Lantas apalagi yang kau inginkan dariku, hah?" Alia mulai tersulut emosi. Ia masih ingat betul betapa gilanya permainan ranjang yang telah diperankan oleh Fana dan Aufar.


Mendengar hal itu, Fana tersenyum puas dan tergelak. "Haha, ternyata kau sudah menerima dan menyaksikan hadiah kecil darinya, sayang." Menghempaskan wajah Alia dengan kasar. Membuat tubuh mungil Alia hampir terhuyung ke lantai.


"Baguslah, kalau begitu aku tidak harus menceritakannya lagi padamu secara lisan." Fana menepuk-nepuk kedua tangannya seolah merasa jijik karena telah menyentuh wajah Alia.


Wanita ular itu membalas tatapan tajam Alia sejenak, kemudian berbalik arah, hendak berlalu dari kamar tersebut.


"Sekarang giliran lu," tutur Fana kepada seorang lelaki yang sedari tadi berdiri di muka pintu, menyaksikan percakapannya dengan si sandera.


Setelah Fana melenggang dari sana, lelaki itu sontak menambah langkahnya masuk, dan mendorong daun pintu kamar dengan kakinya, sehingga membuat pintu itu terkunci otomatis.


Alia yang merasakan atmosfer menyeramkan, lantas beringsut menempelkan tubuhnya ke wajah ranjang. Ia menelan salivanya dengan susah payah, memandang siluet tubuh lelaki yang belum ia ketahui wajahnya itu. Keringat dingin tanpa segan membasahi sekujur tubuhnya yang semakin bergetar. Air mata pun telah membingkai kedua bola mata bulatnya.


TAP


TAP


TAP


Langkah kaki lelaki itu berhenti di depan ranjang. Menampakkan wajahnya yang terkena biasan cahaya remang dari lampu tidur yang menyala di atas nakas.


Dan...


Alia membulatkan kedua matanya sempurna. Ia tidak percaya dengan apa yang ada di hadapannya. Wajah yang sangat familiar, menatapnya tanpa ekspresi.


"Ji-Jimmy.."


Lolos. Nama itu berhasil ia ucapkan walaupun harus terbata karena masih ketakutan.


"Be-benarkah itu kamu, Jim?" Alia menurunkan kedua tangannya yang tadi ia rengkuh bersamaan dengan kedua kakinya.


Mendengar pertanyaan itu, Jammy justru tersenyum kecut. Ia menarik kedua telapak tangan yang tadi disisipkan pada kedua saku celananya, lalu berkacak pinggang.


"Kalo iya, kenapa?"


Suara bass milik Jammy sontak membuat Alia terperangah. Suara itu, suara itu memanglah suara Jimmy. Ia tidak salah orang.


Air mata yang tadinya membingkai bola matanya, kini jatuh satu persatu sebesar butiran kacang hijau, membasahi pipi chubby Alia.


"Kenapa kamu tega melakukan ini semua, Jim? Apa salahku?"


"Alia..Alia..kamu itu sok polos atau memang bodoh, hah?"


"Ji-Jimmy, kamu..."


Alia terperanjat. Ia tidak menyangka Jimmy bisa berkata kasar seperti itu padanya. Jimmy yang ia kenal, adalah pribadi yang baik dan penuh sopan santun.


Jammy menambah langkahnya dan mencondongkan tubuhnya agar sejajar dengan wanita yang ada di hadapannya.


"Aku sangat mencintaimu, Zalia. Tetapi kamu malah menikahi lelaki lain." Jammy menatap kedua bola mata Alia dengan lekat. Menampakkan tatapan seseorang yang benar-benar merasa telah dikecewakan.


"Ji-Jimmy..."


Alia kehabisan kata-kata, ia hanya bisa membalas tatapan intens Jammy dengan ekspresi wajah melongo.


Kenyataan dimana Jimmy adalah dalang dari penculikannya, membuat Alia terkejut parah. Ditambah lagi, kenyataan bahwa lelaki itu menaruh hati padanya, sungguh tidak bisa diterima oleh akal sehatnya. Apalagi ia telah menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri, bahwa lelaki yang telah dianggapnya sahabat itu, terlihat sangat akrab dengan Fana.


"Ja-jadi selama ini kamu dan Fana.."


"Dan hari ini aku sangat bahagia, karena aku telah mendapatkan apa yang aku inginkan selama ini," tutur Jammy sambil menegakkan tubuhnya.


"Setelah ini ucapkanlah selamat datang pada kematianmu, Zalia..!" Lanjutnya dengan smirk khas pembunuh bayaran.


Lelaki itu tampak melonggarkan simpulan dasinya, dan menariknya dari peraduan. Perlahan tapi pasti ia membuka jas dan jam tangan yang melingkar posesif di pergelangan tangannya. Kemudian ia membuka kemeja yang membungkus tubuh six pack-nya, lalu melemparnya ke sembarang arah.


Hal itu sontak membuat Alia semakin menggigil ketakutan, ia kembali merengkuh tubuhnya, membentengi diri. Namun sayang, Jammy langsung menarik kasar kakinya, sehingga membuat wanita itu terbaring sempurna.


Jammy membuka ikatan tali yang tersimpul pada kaki Alia, lalu mengikat kedua kaki wanita itu terpisah dan menautkan ujung tambang itu pada sudut ranjang. Begitu pula dengan tangannya.


Lelaki itu tersenyum puas. Perlahan tapi pasti ia menaiki ranjang dan menindih tubuh mungil tak berdaya itu. Bisa Alia rasakan, tubuh bagian bawah milik Jammy telah mengeras. Alia semakin takut.


Ia berontak dan masih berusaha melepaskan diri. Namun apalah daya, kekuatan simpulan tambang yang menahan tubuhnya lebih posesif dari kekuatannya yang hanya seberapa.


"Tolong... Tolong..." Pekik Alia sekuat tenaga. Tubuhnya semakin berontak ketika Jammy berusaha melepas kain penutup tubuh bagian atasnya.


"Diam..!" Sergah Jammy semakin geram. Lelaki itu berhasil merobek sebagian baju yang Alia pakai.


Ketika Jammy hendak mendaratkan ciumannya, pintu kamar pun terbuka lebar.


BRAAAK


Jammy reflek menoleh ke arah pintu dan mendapati Aufar berdiri di sana dengan wajah yang tampak merah menyala.


Tanpa menunggu lagi, Aufar langsung melompat ke atas ranjang dan menarik tubuh Jammy turun ke lantai. Bogeman mentah pun Aufar hadiahkan ke wajah yang telah banyak menipunya itu.


Emosi Aufar semakin tersulut ketika mengingat bahwa Jammy yang telah menculik kedua orang tuanya. Ditambah lagi, wanita yang ia dicintai hampir saja dilecehkan oleh penjahat kelas kakap itu.


"Aufar, stop it..!" Husna tiba-tiba menghampiri dokter tampan, suami dari sahabatnya itu. Husna melerai dan melepaskan cengkeraman Aufar dari tubuh Jammy.


Kini, wajah Jammy sudah babak belur. Jika tidak dihentikan oleh kedatangan Husna, mungkin Jammy sudah mati konyol di tangan Aufar.


Flashback


Setelah sepuluh menit menunggu, rumah besar itu telah dikepung oleh pasukan anggota kepolisian setempat.


Aufar dan Husna membebaskan Jimmy, sedangkan seorang laki-laki yang merupakan anggota intelkam polsek setempat itu, ditemani beberapa orang temannya, membebaskan kedua orang tua Aufar.


"Boss, gua minta maaf," tutur Jimmy merasa tidak enak hati. Pasalnya semua ini terjadi karena ulah saudara kembarnya.


"Udahlah, ini semua bukan salah lu," ujar Aufar menepuk bahu Jimmy.


Husna yang terlihat salah tingkah, hanya bisa tersenyum kikuk saat Jimmy melirik ke arahnya.


"Gua mau nyeritain kenyataan yang sebenarnya, tapi bukan sekarang." Jimmy menghela nafas. "Mending elu selamatin bini lu dulu, Boss."


Aufar mengangguk faham, dan bergegas meninggalkan ruangan itu.


Di saat ia mencari-cari ruangan mana yang dijadikan tempat untuk menyekap sang istri, tiba-tiba telinganya menangkap suara Alia, yang memekik minta tolong.


"Itu dia.."


Aufar lantas berlari menuju sumber suara dan bertemu dengan dua orang preman yang berjaga di depan ruangan itu.


Tanpa permisi lagi, Aufar melumpuhkan dua orang bodyguard itu dengan jantannya.


Setelah berhasil melumpuhkan dua orang preman yang berjaga di depan pintu tadi, Aufar juga berhasil menyibak daun pintu yang terkunci rapat itu dengan sekali tendangan.


Flashback End


"Elu harus lepasin Alia, Far."


Aufar tersadar ketika Husna menyebut nama Alia. Pasalnya ia hampir lupa diri karena dikuasai emosi negatif. Dokter muda itu bangkit dan melepaskan ikatan tambang yang menahan tubuh sang istri. Kemudian merengkuh tubuh mungil itu ke dalam dekapannya.


"Maafkan aku, Sayang.."


Alia yang masih shock, hanya bisa menangis dalam pelukan sang suami dengan hebatnya. Aufar yang merasakan getaran tubuh sang istri perlahan menutupi tubuh wanita itu dengan selimut dan mengelus punggungnya menenangkan.


Detik itu juga Jimmy dan seorang anggota kepolisian memasuki ruangan tersebut untuk menangkap Jammy. Sementara Fana telah diringkus bersama para preman yang lainnya di lantai bawah.


Melihat Jimmy yang berdiri berdampingan dengan Husna, Alia terperangah dan memandang wajah sang suami seolah menagih jawaban.


"Iya, Sayang. Dalang dari semua ini bukanlah Jimmy. Melainkan saudara kembarnya."


Alia setengah memekik. Ia kembali menangis sesegukan. Wanita itu terharu bercampur sedih. Pasalnya ia hampir saja mencoret Jimmy dari daftar nama sahabatnya. Ternyata kenyataan tidak seperti apa yang ia lihat.


"Sssst, kamu sudah aman sekarang."


Aufar menggendong tubuh sang istri dan membawanya keluar dari ruangan itu. Sementara Husna dan Jimmy saling bertukar pandang, tidak tahu apa yang harus diucapkan.


Bersambung..