I Love You Till Jannah

I Love You Till Jannah
S2 Perasaan Tak Bertuan



Cinta....


Tidak ada kata yang bisa melukiskan betapa indahnya perasaan itu.


Cinta....


Siapa yang bisa menangkalnya jika ia mulai mengetuk relung hati?


Cinta....


Datang tanpa diundang, pergi tanpa dipersilakan.


Cintaku..


Akankah ia berbalas? - Delfia


Perkuliahan hari ini sudah mencapai ujung waktu. Alia dan kedua temannya, bermaksud meninggalkan kelas, setelah merapikan beberapa perlengkapan mereka.


Ketika sedang berjalan berjejer di lorong kelas, mereka bertiga dikejutkan dengan kehadiran sosok yang tadi pagi menjadi sumber perhatian dan pangkal kehebohan di dalam kelas.


Sosok itu berjalan mendekat dan semakin mendekat seraya tersenyum tipis dengan sedikit mendongakkan wajahnya. Hidung mancung dan mata tajam itu sudah menjadi ciri khas yang menunjukkan bahwa ia memanglah keturunan berdarah Arab.


Namun yang semakin menarik perhatian netizen adalah warna kulitnya yang cenderung putih seputih susu kental manis. Lebih condong kepada jenis kulit yang dimiliki oleh orang-orang Cina. Jadi, sebenarnya sosok itu berasal dari keturunan Arab atau Cina sih? Atau kombinasi kedua-duanya? Ah, sudahlah. Tidak penting, yang jelas untuk saat ini langkah tegapnya berhenti tepat di hadapan Delfia.


Delfia yang tadinya sedang tersenyum merekah dan santai bersama kedua sahabatnya, sekarang berubah menjadi kikuk dan tegang. Wajahnya terlihat sedikit pucat, telapak tangan yang terkait dengan telapak tangan Alia itu mendadak dingin seakan kehilangan ruhnya. Apakah ruh gadis ini sedang terbang ke awan? Entahlah.


"May this book can help you to find out the solutions of your problem." Ucap Mr. Berry sambil menyodorkan sebuah buku yang sedikit tebal kepada Delfia.


"Hah?? A..re...are you sure? I mean, is this book can solve my problem, Sir?"


Sepertinya Delfia telah salah kaprah. Otaknya mulai bertravelling ria, kabel syaraf yang menuju otak kecilnya telah putus dan terjadilah kesalahfahaman yang berpotensi mempermalukan dirinya sendiri.


"Sure.." Jawab Mr. Berry dengan keyakinan penuh.


"How?" Gadis berlesung pipi kembar itu memicingkan sebelah matanya. Ia tidak begitu yakin dengan pendapat si Dosen yang telah menjadi idolanya itu.


Alia dan Husna saling bertukar pandang. Mereka berdua memilih untuk berdiam diri dan memperhatikan dua insan yang masih fokus dengan pembicaraannya yang tidak nyambung sama sekali.


"By reading this book, go find it." Jawab Mr. Berry yang masih berusaha tersenyum, walaupun dia mulai menyadari adanya ketidakselarasan bahasa di antara mereka.


"Benarkah dengan membaca buku ini, aku bisa mendapatkan hatinya?" Batin Delfia.


"Okay, Sir. I'll figure it out. Thank you for the book." Delfia tersenyum manis, setelah melambaikan tangannya mengantarkan kepergian sang idola setelah berpamitan kepada mereka bertiga. Setelah itu, Delfia mematung sambil tersenyum konyol, membuat Husna menepuk kedua pipinya.


"Woooi...Mr. Berry udah pergi Fia, kenape elu masih aja senyum-senyum sendiri kayak crazy girl?" Suara cempreng Husna berhasil membuat Delfia keluar dari dimensi lainnya.


"Duuuh Una, apaan sih? Gangguin orang lagi seneng aja." Cebik Delfia sembari memonyongkan bibir mungilnya yang terlihat sedikit terbelah.


"Lagian elu seneng karena apa coba? Mr. Berry tuh cuma ngasi pinjem buku Research Methodology tau." Delfia terperengah, ditatapnya cover buku yang sebelumnya belum sempat ia lihat itu. Benar saja? Ucapan Husna memang benar adanya. Kenapa Delfia mikirnya terlalu jauh? Apa yang sebenarnya ia harapkan? Ia tersenyum kecut, dan menutupi wajahnya dengan buku itu.


"Astaghfirullah..gue pikir buku spesialis hati," batinnya.


Alia yang melihat tingkah lucu dari kedua temannya itu, hanya bisa menggeleng pelan dan terkekeh kecil. Sejurus kemudian ponselnya bergetar. Ia mengambil ponsel yang tersimpan di dalam tasnya. Menunjukkan sebuah panggilan masuk dari Aufar.


"Assalamu'alaik, Mas....Ooh, iya aku udah selesai kok. Emmm...okay okay aku ke sana sekarang." Setelah mengakhiri pembicaraan mereka, Alia menyimpan kembali ponselnya di dalam tas.


''You guys carry on, aku duluan ya..udah dijemput soalnya, I'll see you tomorrow." Alia melambaikan sebelah tangannya dan berlalu meninggalkan kedua sahabatnya itu.


"Enak ya Na jadi Alia, kemana-mana diantar jemput." Tutur Delfia setelah punggung Alia menghilang di tikungan lorong dengan wajah sok menderitanya.


"Kaga usah bavveeeer.." Pekik Husna di telinga Delfia.


"Diiih GR amat sih lu, kalo ngimpi tuh jangan ketinggian Fi, ntar kalo jatoh sakit loh." Nasihat Husna.


''Lagian Mr. Berry pan udah punya bini, ngapain elu naksir-naksir laki orang? Awas lu jadi pelakor!" Lanjut Husna sambil membenarkan topi yang ia gunakan, lalu melangkahkan kakinya pergi meninggalkan Delfia.


"Eh, Una..! Elu mau kemana? Tadi pertanyaan gue belum elu jawab. Una...Una....!" Delfia menghentak-hentakkan kakinya kesal karena Husna tidak sedikitpun berbalik arah untuk melihatnya.


***


"Udah lama, Mas?" Tanya Alia yang sudah duduk tenang di kursi mobil.


"Enggak kok, Sayang. Baru aja nyampe. Kamu udah dari tadi selesainya?" Aufar bertanya balik.


"Baru aja keluar kelas, Mas." Ali tersenyum sambil meletakkan beberapa buku yang ia timang di atas dasboard.


Aufar melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Membelah jalanan padat Ibu Kota. Pandangannya fokus pada kemudinya, namun sesekali ia menggapai telapak tangan sang istri, dan mengecupnya bertubi-tubi. Seketika itu juga, pipi Alia bersemu merah bak daging kornet. Hawa panas mulai menjalar di setiap inci wajahnya. Malu, itulah yang ia rasakan di dalam sana.


Setelah beberapa lama berpacu, Aufar menghentikan mobilnya di sebuah swalayan yang letaknya sudah tidak begitu jauh lagi dari apartemen yang mereka tempati.


"Mau beli apa, Mas?" Tanya Alia.


"Bahan makanan, Sayang. Aku pengen masak sendiri buat makan malam kita." Jawab Aufar sambil melepaskan sabuk pengamannya. Ia keluar dari mobil, dan seperti biasa membukakan pintu untuk Alia.


Mereka berjalan sambil bergandengan tangan masuk ke dalam swalayan. Aufar meraih satu troli dan mendorongnya menyusuri lorong bahan pangan yang tersedia di sana.


"Sayang mau dimasakin apa?" Tanyanya sambil membelai lembut kain kerudung yang menutupi kepala istrinya.


"Emmm, fettucini Alfredo with shrimp and cream cheese yang buanyaaak banget..." Alia antusias sekali menyebut nama makanan itu. Saking antusiasnya, ia sampai merentangkan kedua tangannya.


"Sejak kapan Sayang suka makan pasta? Bukannya makanan favorit Sayang itu nasi goreng ya?" Aufar memicingkan sebelah matanya.


"Sejak kenal, Mas..eh maksudku anu.." Eh, agaknya Alia salah bicara. Pasalnya, sejauh ini ia belum pernah terlalu terbuka mengenai dirinya di depan Aufar. Malu dong jadinya! Ia menurunkan kedua tangannya perlahan, dan tersenyum masam ke arah Aufar.


Benar! Sejak mengenal Aufar, Alia mulai menyukai segala sesuatu yang berkaitan dengan laki-laki tambatan hatinya itu. Mulai dari hobinya, warna favoritnya, makanan, minuman, dan banyak lagi yang lainnya.


"How sweet..." Aufar tersenyum haru mendengar penggalan kalimat yang terpotong tadi.


"Ayo, kita cari bahan-bahannya." Ajak Aufar sembari meraih sebelah pundak Alia dan merangkulnya sari samping. Sedangkan tangan sebelahnya ia gunakan untuk mendorong troli.


Mereka mulai berburu bahan-bahan untuk membuat pasta yang dimaksud oleh Alia dengan berbagi tugas, sehingga waktu yang mereka habiskan untuk berbelanja lebih efisien.


Bahan-bahan untuk membuat pasta fettucini sudah lengkap di dalam troli. Mulai dari mie, udang, cream cheese, susu cair, tepung maizena, bawang bombai, seledri, dan bumbu-bumbu pelengkap lainnya.


Setelah melakukan pembayaran di meja kasir, Aufar menenteng barang belanjaannya. Sebelah tangannya melingkar mesra di pinggang ramping sang istri.


Ketika sedang melewati pintu keluar, tubuh kekar Aufar tidak sengaja menabrak tubuh seorang wanita yang berlawanan arah.


"Aw.....sakit." Pekik wanita itu yang sudah terjatuh di lantai. Wajahnya tampak tertunduk, bersembunyi di balik rambut panjangnya yang tergerai ke bawah.


"Maaf, Nona.." Aufar melepaskan barang bawaannya dan berjongkok untuk membantu wanita itu bangkit.


Wanita itu mendongakkan wajahnya, ketika mereka berdua telah berdiri sempurna, Aufar kembali meminta maaf.


"Maafkan saya, Nona. Saya tidak se...." Suara Aufar tercekat setelah melihat wajah wanita itu. Begitu juga dengan Alia. Ia sudah tidak asing lagi dengan sosok wanita yang baru saja ditolong oleh suaminya itu.


"Kau..." Alia dan Aufar serentak mengucapkan kata itu, mereka berdua saling bertukar pandang. Mencoba menguasai diri masing-masing agar tak tersulut emosi.


Bersambung..