
Dengan perasaan dag dig dug der Alia melototkan kedua bola matanya ke arah Alan berharap agar sang adik menghentikan permainan ini. Namun berbanding terbalik dengan ekspektasi Alia, remaja yang sedang duduk di bangku SMA kelas X itu bukannya takut, malah semakin yakin untuk melanjutkan kalimatnya.
"Kak Aufar, kakak tahu enggak sebenarnya Kak Alia itu......." Alan melirik ke arah Alia.
Kedua bola mata Kakaknya itu semakin membulat, merekah hampir terlepas dari sarangnya. Irama jantung yang semakin tidak karuan dan menyeleweng dari ritme normal itu, membuat sekujur tubuh Alia menjadi panas dingin.
"Dasar krucil..." Umpat Alia, seandainya ia bisa mengatakan hal itu di depan Aufar maka hatinya akan merasa puas, namun sayangnya ia hanya bisa bergumam di dalam hati. Aufar yang menyadari perubahan raut wajah sang istri semakin tertarik dan menyiagakan indera pendengarannya untuk menangkap rahasia apa yang dimaksud oleh adik iparnya.
"Iya, apa Dek? Kenapa kamu menggantung kalimat mu begitu? Soal Alia kamu tidak usah khawatir, Kakakmu yang baik hati ini tidak akan menjewer telingamu jika kamu mengatakan rahasianya pada Kakak, trust me!"
Aufar merangkul pundak Alia dari samping, memasang tampang se-cute mungkin sambil mengulum senyuman. Tentunya hal ini membuat desiran darah Alia mengalir deras di dalam sana. Semakin takut, itu kesimpulannya.
Alan berjalan perlahan mendekati Aufar dan membisikkan sesuatu di telinga Kakak iparnya. Seketika itu juga Aufar membelalakkan kedua matanya dan mendaratkan sebelah tangan ke bibirnya. Ia berteriak kecil dan mengarahkan pandangannya ke wajah sang istri. Hal itu justru membuat Alia mengernyit, semakin penasaran dengan apa yang telah Aufar dengar. Mimik kesalnya semakin naik level karena tidak bisa mendengar apa yang disampaikan oleh si krucil tengil. Ya, Alia biasa memanggil Alan dengan sebutan krucil, krucil yang sangat ia sayangi.
Kelakuan Alan yang seperti ini selalu berhasil menaikkan tensi darah Kakaknya. Wajahnya terlihat bak buah tomat yang sudah matang, siap untuk diulek dengan cabai dan beberapa bahan pelengkap lainnya untuk dibuat sambal terasi kemudian dioleskan ke wajah Alan. Sungguh kejam, sadis.
"Ya udah, Kak..ayo masuk yang lainnya sudah tidak sabar ingin bertemu dengan kalian." Lagi-lagi Alan melirik Alia dan mengerlingkan matanya tanda mengejek. Alia membalas dengan tatapan tajam siap menerkam.
"Oh iya, ayo Sayang.." Aufar membawa Alia masuk ke apartemen tanpa melepaskan rangkulannya.
Tentunya melihat keharmonisan dan kemesraan yang Aufar pamerkan membuat semua anggota keluarga bersorak bak sedang menyambut kedatangan artis idola mereka.
"Cie..cie..manten anyar, maunya nempel mulu' iiih.." Celetuk Kak Fira.
"Wah...anak mantu Mama sweet banget sih." Mama Yani menimpali.
"Kayaknya udah berhasil nih," sambung Kak Farun sambil menaik turunkan kedua alisnya. Tentunya dari sekian bahasa penyambut, kalimat Kak Farun lah yang berhasil membuat pasangan sejoli itu mesem-mesem menahan malu.
"Alia..Aufar..duduk sini!" Papa Fahri menepuk-nepuk sofa di sampingnya. Sedangkan Pak Harry dan Ibu Nana masih memantau keduanya dengan senyuman. Sangat bahagia, makna tersiratnya.
"Gimana Bro, berhasil?" Papa Fahri langsung membisikkan kalimat mujarab itu ditelinga putranya. Pastinya hal itu membuat Aufar menggaruk-garuk tengkuknya yang tidak gatal.
"Pelan-pelan, Pa.." Hanya kalimat itu yang mampu ia ucapkan. Membuat Presiden Direktur PT. Anggara Export itu menyipitkan sebelah matanya.
"Masa' kamu kalah sama Papa yang udah kepala lima?" Sarkas Papa Fahri, yang hanya dibalas senyuman getir oleh Aufar.
Kedua keluarga besar itu terlihat begitu akrab. Semburat kebahagiaan mereka masih kental akan tawa dan canda ria. Tak terkecuali Alan dan kedua makhluk lucu yang sedang bermain bersamanya. Bulan dan Bintang. Keponakan Aufar itu selalu saja berhasil membuat Alan terpingkal-pingkal karena ulah menggemaskan mereka.
"Om Alan..itu yang duduk di samping Om dokter siapa?" Tanya Bulan mengarahkan telunjuknya kepada Alia.
"Oh...itu Tante baru kalian, namanya Tante Alia." Jawab Alan santai sambil menyusun block puzzle membentuk pistol air permintaan Bintang.
"Kalian harus menyayangi Tante seperti Om dokter ya, Tante Alia itu baik dan penyayang." Sambungnya lagi menanamkan sugesti positif di otak kedua krucil itu. Karena yang Alan ketahui, Kakaknya itu sangat menyukai anak-anak.
"Siap, Om Alan.." Kedua krucil itu mengangkat sebelah tangannya menyentuh pelipis dengan maksud memberi hormat seperti menganggap Alan itu adalah komandan mereka.
"Good..Eh, kalian mau enggak diajak main ke Dufan?" Akal licik Alan mulai naik ke permukaan.
"Waaah Dufan, pasti seru, mau dong Om." Jawab kakak beradik itu serentak.
"Okay.." Kedua krucil itu berlari menghampiri dua sejoli yang sedari tadi hanya mati kutu, senyum-senyum menahan malu karena selalu dihujani ejekan oleh anggota keluarganya.
"Om dokter, Tante Alia.." Bulan dan Bintang terlihat kompak menyapa keduanya.
"Iya, Sayang..ponakan Om dokter yang pintar. Ada apa?" Aufar meraih Bintang yang lebih muda naik ke pangkuannya dan mengecup pucuk kepala anak itu. Sedangkan Alia meraih tubuh gembul Bulan ke dalam pelukannya.
"Om dokter..kata Om Alan, Om dokter sama Tante Alia mau main ke Dufan. Kita ikut ya, ya, ya..." Ucap Bulan dengan wajah menggemaskan. Mendengar hal itu, tentu membuat Alia dan Aufar kompak memandang Alan yang sedang duduk di karpet depan televisi. Tentu saja, Alan menyadarinya, tapi ia hanya berpura-pura tidak mendengarkan.
"Oh..jadi Om Alan dan ponakan Om dokter yang menggemaskan ini mau main ke Dufan?" Koreksi Aufar. Alan semakin terkekeh mendengarnya. Bulan dan Bintang menganggukkan kepalanya serentak.
"Okay, Om dokter sama Tante Alia bakal ajak kalian dan Om Alan main ke Dufan, tapi....kalian harus makan siang dulu, setelah itu kita pergi ke sana."
Aufar sengaja mengeraskan suaranya saat menyerukan nama Alan agar bocah remaja itu mendengarnya. Sedangkan Bulan dan Bintang bertepuk tangan sambil melompat-lompat kegirangan karena keinginannya dikabulkan. Berbeda lagi dengan Alia, ia yang merasa tidak enak dengan Aufar atas kelakuan usil adiknya, menatap Alan dengan mata burung hantunya.
"Yessss..!" Alan mengangkat dan mengepal sebelah tangannya mengekspresikan diri bahwa ia telah berhasil mencapai misinya, sambil menggoda Alia dengan senyuman penuh kemenangan.
"Dasar Alan krucil awas kau..." Mengumpat lagi di dalam hati tentunya.
Setelah selesai dengan urusan perut mereka alias makan siang bersama, Aufar menepati janji bahwa akan membawa Bulan, Bintang, Alan, dan Alia pergi mengunjungi tempat rekreasi terbesar yang berada di Ancol itu. Semuanya terlihat girang dan bersemangat tak terkecuali Alan. Remaja yang satu ini sengaja memanfaatkan kedua krucil itu untuk mencapai hajatnya.
Mereka pamit kepada para orang tua, tak terkecuali kepada Kak Fira dan Kak Farun yang sebenarnya tidak enak jika harus merepotkan Alia mengurus anak-anaknya di taman rekreasi itu nantinya. Namun Alia meyakinkan Kak Fira untuk bersikap santai saja, karena mulai saat ini ia sudah menganggap Bulan dan Bintang seperti anaknya sendiri.
Apa??? Anak??? Bukannya bikin aja belum ya?? Rese' Authornya! ðŸ¤
Melihat keakraban Alia dan Kak Fira tentu saja membuat hati Aufar sejuk seperti berada dalam suhu di bawah 0 derajat celcius. Sungguh pemandangan yang sangat mengharukan baginya. Akhirnya, ia berhasil membawa Alia bersatu dengan keluarga ini. Ia berharap sosok penyayang yang dimiliki istrinya akan melengkapi keutuhan keluarga Anggara.
Ketika dirasa semuanya sudah siap, mereka pamit dan pergi untuk sekedar mencuri kesenangan hari ini menuju negeri seribu satu malam menggunakan karpet terbang kebanggaan.
Di mobil, Alia mencoba mengungkit kembali rahasia apa yang disampaikan Alan kepada Aufar. Dengan suara yang sedikit berbisik agar tidak terdengar oleh ketiga krucil di belakangnya, Alia menyentuh lengan Aufar yang masih setia pada kemudinya.
"Maaas.." Panggilnya dengan suara yang dibuat terkesan lebih manja. Tentu saja hal itu berhasil membuat Aufar menoleh dan tersenyum hangat. Bahagia, pastinya.
"Iya, Sayang..ada apa?" meraih telapak tangan Alia dan memberinya kecupan dalam.
"Tadi Alan bilang apa?" Tembak langsung tanpa basa basi.
"Beneran mau tahu nih?" Sedikit melirik ke arah Alia, yang hanya dijawab dengan anggukan kepala darinya.
"Alan bilang....kalau kamu sangat mencintai aku."
Aufar mengucapkan kalimat itu lirih dengan mata yang berbinar-binar. Sumpah demi apa, wajah Alia spontan bermetamorfosis menjadi kepiting rebus yang sudah siap menjadi santapan lezat bagi Aufar. Malu, jelas dong. Secara, selama ini Alia belum pernah mengucapkan kalimat ajaib itu secara terang-terangan. Sungguh membuatnya malu berkepanjangan. Sudah jelas bahwa setelah ini, adik satu-satunya itu benar-benar harus diberi pelajaran.
"Oh, Alan..." Batinnya.
Bersambung