
Bagi gadis remaja seperti Alia, mungkin kasus ini bisa diberi label tepat dengan istilah SE-LING-KUH. Namun bagi Alan, bocah ingusan yang masih duduk di bangku SD kelas VI itu, mungkin belum cukup memahami istilah tersebut. Entahlah, yang jelas kedua kakak beradik itu sungguh dalam posisi yang menggamangkan.
Alan kecil yang sedari tadi hanya memperhatikan Ibu dan kakaknya yang saling berpelukan dari muka pintu, akhirnya menghambur ke samping kiri sang Ibu dan menangkupkan pelukannya bersatu. Sehingga mereka bertiga membentuk gundukan pilu menyayat jiwa siapapun yang melihatnya.
Karena kecerdasan kedua bersaudara itu, akhirnya mereka berhasil menenangkan sang Ibunda dari rasa terpuruknya. Alia memberikan wejangan positif agar Ibunya tetap kuat menerima kebenaran yang telah terkuak.
Sepuluh menit kemudian, Pak Harry kembali dari tempatnya bekerja. Memarkirkan motor kesayangannya di halaman samping rumah, lalu masuk ke dalam rumah dengan santainya. Ketika melewati batas pintu masuk, ia tak lupa memberi salam.
"Assalamu'alaikum.."
Sunyi senyap, tidak ada jawaban dari dalam. Ia menambah langkahnya dan berjalan menuju dapur. Ditemuinya sang istri yang sedang berdiri di depan meja yang sedang membuatkan secangkir kopi untuknya, seperti biasa. Tak ada tanda-tanda mencurigakan yang bisa membuat Pak Harry menyadari jika wanita yang telah dinikahinya selama dua puluh dua tahun itu telah mengetahui aksi poligami yang telah ia lakukan.
TAP..
Rengkuhan hangat dari belakang hinggap ditubuh Ibu Nana. Tangan kekar yang telah menafkahinya selama dua puluh dua tahun itu melingkar posesif di pinggangnya yang sudah tak seramping dulu.
"Mana anak-anak?"
CUP..
Kecupan sayangnya mendarat di pipi kiri sang istri. Hal itu bukannya membuat hati Ibu Nana berbunga-bunga, melainkan menambah goresan tajam menyayat relung kalbunya. Tubuhnya semakin mematung kaku, detak organ pemompa darahnya bertabu tak terkendali di dalam sana. Ditambah lagi cairan pilu telah membingkai kedua bola mata itu ketika ia berusaha membendungnya mati-matian agar tidak tertumpah ruah. Sakit..! Begitulah rasanya.
"A--anak-anak di--di kamar," masih bisa menjawab pertanyaan sang suami walaupun terbata-bata.
Tanpa memberikan respon Pak Harry melepaskan rengkuhannya dari tubuh wanitanya, lalu pergi meninggalkan sang istri dan berjalan menuju kamar anak-anaknya.
Ketika tiba di sana, ia mengetuk daun pintu yang memang telah terbuka lebar itu, lalu berkata, "tolong bawa adikmu ke taman bermain, Ayah ingin bicara empat mata dengan Ibumu!" Perintah Pak Harry tanpa basa-basi dan style tegasnya. Ia tahu bahwa saat ini Alia sudah tak bisa lagi diajak bersenda gurau seperti sebelum-sebelumnya.
Tanpa memandang wajah sang Ayah, Alia hanya merespon dengan berdeham, namun tetap tertunduk. Ia hanya berputa-pura sedang membaca buku pelajaran.
Padahal hatinya sangat dongkol. Apalagi pelupuk matanya telah digenangi air mata kebencian. Ingin rasanya ia berteriak dan menyergah sang Ayah saat itu juga, namun ia masih ingat dengan pesan sang Ibunda, bahwa apapun yang terjadi, ia harus tetap hormat kepada laki-laki yang telah membesarkannya dengan penuh kasih sayang itu.
Setelah mendapatkan respon cuek dari sang putri, Pak Harry hanya bisa menarik nafas dalam dan menghembuskannya dengan kasar. Mau bagaimana lagi? Nasi sudah menjadi bubur. Tidak mungkin ia berani menyalahkan sikap acuh Alia atas dirinya, yang ia sendiri telah mengetahui asbabnya. Paling tidak lelaki yang berusia empat puluh tahunan itu sudah bisa menyadari bahwa apa yang telah ia lakukan, bukanlah hal yang bisa diterima begitu saja oleh anak-anaknya.
Namun sifat egois Pak Harry tak membuatnya rela mengutarakan kata "maaf" yang seharusnya memang ia ucapkan kepada kedua putra-putrinya. Entah karena ia merasa hal ini tidak ada salahnya dimata agama, atau memang ia sengaja tidak ingin meminta maaf? Hanya Tuhan yang tahu isi hati lelaki satu ini. Ia hanya melengos dan berlalu dari kamar Alia, kembali menuju dapur menemui sang istri.
Di Taman Bermain
"Kenapa kakak bawa aku ke sini?" Alan kecil bertanya dengan polosnya.
"Untuk bermain dong," jawaban santai tanpa beban. Memalingkan wajahnya ke lain arah, menghapus titik bening yang bergulir di pipinya. "Kamu main sana, kakak tunggu di sini!" Memandang kembali wajah sang adik yang mulai mencurigai gelagat tak mengenakkan.
"Ayah sama Ibu bertengkar ya, Kak?" Lolos. Bagaimana anak sekecil itu bisa mengerti situasi yang cukup rumit? Bahkan untuk mengerjakan PR saja, ia masih memerlukan bantuan kakaknya.
"Siapa yang bilang begitu?" Alia remaja menatap sendu wajah Alan kecil dari samping. Ada rasa bersalah di dalam hatinya, karena telah menyembunyikan kepahitan ini dari sang adik.
Namun apa boleh dikata? Anak sekecil Alan seharusnya masih happy-happy bermain dengan anak seumurannya, bukan malah menanggung beban pikiran dan jiwa yang berat seperti yang sudah dirasakannya saat itu.
"Tadi Ibu nangis sesegukan, pasti nangisin Ayah kan?" Lagi-lagi pertanyaan Alan yang sangat mudah itu, tidak bisa dijawab dengan gampang oleh Alia.
"Alan..." Melorotkan tubuhnya sehingga membuat posisinya berhadapan dengan lutut sang adik yang sedang duduk di kursi kayu panjang.
"Apapun yang terjadi antara Ayah dan Ibu, kita tidak berhak mencampurinya. Mereka punya ikatan hati yang kita sendiri belum memahami tentang hal itu. Jadi Alan enggak usah mikirin Ayah dan Ibu ya, Alan main aja, okay!" Mengelus pipi tembem Alan sambil menahan hawa panas yang sebenarnya telah menguasai kedua bola matanya.
Ia khawatir dengan apa yang sedang terjadi di antara Ayah dan Ibunya di rumah. Bagi Alia remaja, apapun keputusan yang akan diambil sang Ibunda, ia tidak akan melarang ataupun menyuruhnya. Ibunya lah yang merasakan suka dan duka mengenai kehidupan rumah tangga yang ia jalani. Alia tidak ingin mempengaruhi ataupun ikut campur.
Namun di sisi lain, ia juga kasihan kepada Alan, jika Tuhan menakdirkan Ayah dan Ibunya untuk berpisah. Bagaimana nasib adik bungsunya itu? Ia masih terlalu kecil untuk menerima takdir pahit tersebut. Perpisahan kedua orang tua mereka pasti akan mempengaruhi psikologi sang adik lebih dalam. Bisa-bisa Alan kecil minder dan tidak ingin melanjutkan sekolahnya. Ya, saat itu dipikiran Alia hanya ada satu. Yang akan terjadi pada hubungan kedua orang tuanya tidak lain adalah.......B-E-R-C-E-R-A-I.
Di rumah Pak Harry
"Kenapa kamu tega, hah? Kenapa kamu tega mengkhianatiku? Apa salahku? Dimana letak kekuranganku yang bisa kamu dapatkan dari perempuan itu? Dimana hah? Apa? Katakan! Jawab aku! Jawab aku! Huhuhuuu..."
Tangis Ibu Nana memecah ketika Pak Harry tak juga memberikan jawaban dari beberapa pertanyaan beruntun yang ia lontarkan. Lelaki itu hanya bisa tertunduk pasrah menerima pukulan-pukulan dari sang istri yang lurus menghantam dadanya.
"Oh, aku tau, dia pasti daun muda, iya kan? Sedangkan aku sudah berumur seperti ini. Sudah tak sebening dia lagi. Sudah tak se-hot wanita j*lang itu lagi. Kulitku sudah tak semulus selingkuhanmu itu, iya kan? Jawab Harry! Jawab! Katakan padaku apa yang membuatmu berpaling dariku? Katakaaaaaan! Hiks..hiks..hiks.."
Ibu Nana tak bisa lagi menahan diri. Ia bersimpuh di hadapan sang suami bersimbah air mata pilu. Pak Harry yang masih berdiri, mematung tanpa sepatah katapun. Diam seribu bahasa.
"Selama ini aku sudah menuruti semua perintahmu. Selama ini aku sudah berusaha untuk menjadi yang terbaik untukmu. Sampai-sampai aku meninggalkan keluargaku demi dirimu. Huhuhuuuu..." Ibu Nana kembali histeris. "Tapi apa balasanmu? Kamu main hati Harry, kamu tak berperasaan! Pergi kamu dari sini, pergi!" Agaknya kali ini teriakan Ibu Nana terdengar hingga ke ujung jalan rumah mereka.
Mendengar kalimat terakhir istrinya, Pak Harry sontak menggeram, dan berjongkok sehingga posisi tubuhnya setara dengan sang istri. Kedua tangannya mengepal, sedangkan tatapan singanya tertuju lurus menghujam wajah Ibu Nana.
"Apa hakmu mengusirku dari rumahku sendiri? Disini semuanya adalah hakku, semua atas kepemilikanku! Apa yang kau punya sehingga kau berani mengusirku?"
Sungguh tak berperasaan. Di saat kesalahannya belum bisa termaafkan, bukannya kata "maaf" yang ia ucapkan, tapi malah mencerca wanita yang telah ia sakiti perasaannya itu.
"Oh, jadi kau mengusirku? Kau mengusirku demi wanita setan itu?" Ibu Nana semakin naik pitam dan sudah tak lagi memperhatikan norma kesopanan. "Jika itu yang kau mau, aku akan pergi dari rumah ini. Nikmatilah hidupmu bersama kekasih barumu itu. Aku akan membawa anak-anak bersamaku." Wanita itu bangkit, lalu segera bergegas keluar rumah.
Namun ketika ia hampir mencapai muka pintu, Pak Harry berhasil menangkap pergelangan tangannya dan bersimpuh di hadapannya. Ibu Nana menghentikan langkahnya, namun tak berpaling arah. Ia menyadari bahwa suaminya telah berlutut di belakangnya.
"Ma--maafkan aku, agaknya aku telah salah bicara. Tolong jangan pergi! Aku tidak bisa hidup tanpa anak-anak." Lolos. Air mata sekali lagi bergulir deras di kedua pipi Ibu Nana tanpa suara. Penuturan sang suami semakin menghujam sanubarinya.
Bagaimana bisa lelaki itu hanya mengatakan bahwa ia tidak bisa hidup tanpa anak-anak? Lantas bagaimana dengan dirinya? Apakah wanita seperti dia hanya dianggap seonggok boneka yang hanya dikurung di dalam kamar dan dinikmati wanginya? Oh, malang nian nasib Ibu Nana.
Flashback end
Aufar tak bergeming, pandangannya sangat sendu menatap lurus kedua bola mata sang istri yang sedari tadi sembab. Kisah yang ia ceritakan tentunya membuat Alia mengingat kembali kepedihan yang telah ia lalui bersama Ibu dan adiknya. Namun Aufar masih belum puas, ada poin yang belum ia dapatkan dari cerita tersebut. Ia menyungging senyuman kikuk ketika Alia menoleh ke arahnya dan tersenyum hangat.
"Ada lagi yang ingin Mas tanyakan?" Pertanyaan pancingan itu sengaja Alia tuturkan.
"Lantas kenapa Ayah tidak menceraikan wanita itu? Dan...bagaimana Ibu bisa bertahan sampai sekarang?" Berhasil. Alia berhasil memancing pertanyaan inti yang memang ingin sekali ia dengar dari bibir Aufar.
"Karena wanita itu telah mengandung anak Ayah, Ibu tidak ingin anak itu lahir tanpa ayahnya. Dan Ibu....Ibu bertahan hingga detik ini hanya demi kami, anak-anaknya." Alia menarik nafasnya sejenak.
"Ibu tidak ingin Alan tidak mendapatkan kasih sayang seorang Ayah, apalagi waktu itu dia masih sangat kecil." Lanjutnya dengan suara lirih dan merunduk.
"Lalu bagaimana denganmu, Sayang? Apa Ibu tidak mempertimbangkan tentangmu?"
"Siapa bilang Ibu tidak memikirkanku? Ibu sangat menyayangiku, Mas. Ia tidak ingin aku menikah tanpa waliku. Ia sangat tau jika aku lebih dominan pada Ayah dibanding padanya." Tetesan bening itu kembali jatuh membasahi pipi chubby wanita bermata bulat itu.
"Aku sangat menyayangi Ayah Mas, tapi.....hiks, tapi sekarang dia sudah mempunyai putri yang lain, hiks...hiks...hiks.." Tangis Alia memilu ketika mengingat bahwa sang Ayah telah memiliki putri dari wanita lain. Hal itu membuat Aufar menarik tubuh mungil Alia ke dalam pelukannya.
"Ssssst...Aku di sini, Sayang." Menghujani pucuk kepala Alia dengan kecupan sayang. "Aku akan selalu bersamamu dan akan selalu berada di sisimu." Tutur Aufar sambil mengelus lembut punggung Alia dan menenangkannya.
Bersambung..