
Setelah kejadian itu, Aufar membawa Alia dan ketiga krucil itu kembali ke apartemen. Kondisi Alia yang terlihat shock, membuat ketiga krucil itu mengerti tanpa harus melalui drama merengek karena tidak ingin berhenti bermain. Lebih-lebih Alan, dia yang terlihat sangat khawatir dengan kondisi Kakak satu-satunya itu. Walaupun terkesan usil, anak remaja yang belum menginjak usia tujuh belas tahun itu sangat menyayangi Alia.
Sudah bisa ditebak bukan? Sesampainya di apartemen, semua anggota keluarga pasti sangat terkejut bahkan tidak percaya akan kejadian yang dengan sangat rapih diceritakan oleh Jimmy. Jimmy? Ya, laki-laki yang tingkat ketampanannya hampir mengimbangi Aufar itu juga ikut bersamanya membawa Alia hingga ke apartemen.
Namun entah mengapa, sedari tadi tatapannya tak lepas dari sosok seorang laki-laki paruh baya yang yang telah membesarkan dan merawat boss-nya sejak kecil itu. Tepat sekali, Pak Fahri.
Ada apa dengan Pak Fahri? Kenapa Jimmy sangat tertarik dengan sosok yang walaupun sudah berkepada lima, namun masih terbilang bugar itu? Entahlah.
Setelah melewati segenap drama yang dalam tanda kutip bukan drama k*rea dari para wanita tertua mereka, Aufar mengantar Alia ke kamar utama agar ia bisa beristirahat dan menenangkan pikirannya.
Setibanya di kamar utama, Alia tercengang. Ia mengekori setiap sudut ruangan. Dinding kamar yang berukir wajah konyol tokoh kartun kesukaan Aufar itu terpampang nyata disana melotot dan menyeringai ke arah Alia. Spontan Alia terkekeh.
Tentu saja hal itu karena melihat tembok kamar yang selama ini memeluk Aufar dari sorotan mata netizen yang hampir tidak mengetahui sisi lain dari dokter tampan itu. Sungguh sangat jauh dari aura maskulin yang disandang oleh setiap laki-laki tampan.
Tampan? Baru sadarkah Alia akan ketampanan Aufar? Apakah itu bentuk pujian darinya untuk sang suami? Ah, tidak, tidak! Ia terus menggelengkan kepalanya dan tergelak sehingga membuat Aufar mulai menangkap penyebabnya.
"Biasa aja kali, Sayang.." Cebik Aufar memonyongkan bibirnya sok imut. Namun hatinya merasa lega melihat gelak tawa lepas sang istri. Perlahan tapi pasti shock ringan yang dialami Alia akan minggat begitu saja tanpa harus diusir dengan susah payah.
Mereka melewati batas pintu kamar. Aufar tiba-tiba saja menggendong tubuh mungil sang istri dalam sekali hentakan. Kaki jenjangnya dengan lihai menutup daun pintu yang merasakan siksaan akibat dorongan yang Aufar ciptakan tanpa belas kasihan dan rasa hormat.
Sudah barang tentu Alia terkejut dengan sikap tanpa permisi dari Aufar. Dentuman irama pergerakan organ pemompa darahnya semakin menjadi-jadi. Menciptakan getaran gempa lokal di dalam sana. Semoga saja Aufar tidak merasakannya, karena itu akan sangat membuatnya merasa malu yang berkepanjangan. Namun terlambat, jarak yang minimal bahkan tak terlihat itu membuat dada kedua pasangan halal ini menempel sempurna bagaikan perangko. Lekat.
"Ma..mas, tolong..tu..turunkan a..aku...."
Lirih Alia yang mulai masuk ke dalam sesi salah tingkahnya. Matanya lurus menilik manik hitam pekat yang menatapnya tak kalah mendamba. Kedua telapak tangan lembut itu entah sejak kapan mendarat begitu saja pada dada bidang Aufar. Lengkungan tipis hampir tak terlihat tersungging pada kedua sudut bibir penuh laki-laki itu.
"Beri aku alasan kuat kenapa aku harus menurunkan mu?"
Senyuman penuh keusilan itu mulai terekam jelas pada lensa bulat Alia. Semakin membuatnya gelisah. Bukannya ia tidak memahami kewajibannya sebagai seorang istri. Tetapi jika Aufar menuntut haknya saat ini juga sepertinya kurang tepat. Banyaknya netizen di luar kamar itu, membuat Alia merasa hal ini tidak sopan untuk dilakukan.
"Aku..aku kebelet pipis, Mas." Sempurna. Alasan klasik yang ia rasa tidak bisa ditolak oleh Aufar lolos begitu saja dari bibir manis gadis berlesung pipi dangkal itu.
"Jangan menipu suami, Sayang..dosa tahu?" Aufar terkekeh mendengar excuse yang menurutnya pasaran itu.
Langkah tegapnya semakin mendekati tempat tidur, namun laki-laki itu masih anteng saja mendekap Alia dalam gendongannya, seakan tidak ingin melepaskan sang pujaan hati begitu saja. Ia mendekatkan wajahnya tanpa rasa ragu membuat jarak diantara keduanya semakin terkikis.
Alia sontak memejamkan kedua matanya seolah tak ingin menyaksikan secara langsung apa yang akan diperbuat oleh sang suami terhadap dirinya. Namun kecupan hangat yang mendarat pada kening beningnya berhasil membuat kedua bola mata Alia terbuka sempurna. Kemudian ia kembali menutupnya merasakan transferan rasa penuh kasih sayang dari kecupan itu.
"You're the drug that I'm addicted and I want you so bad."
Wanita itu kembali membuka kedua matanya ketika Aufar mendaratkan seluruh tubuhnya dengan lembut di atas ranjang berukuran king size itu. Sangat luas jika hanya ditiduri Aufar seorang diri.
Laki-laki itu duduk anteng di pinggiran ranjang dengan sebelah lengannya mengunci tubuh Alia. Sedangkan tubuhnya sedikit condong mendekati kepala sang istri. Sebelah tangannya lagi ia gerakkan naik turun menyusuri pipi halus dan putih itu. Tidak ada tindakan protes dari Alia, wanita itu terbujur kikuk hampir tak bisa menghirup oksigen dengan leluasa. Tegang sekali bahkan hampir jengah.
Kesempatan ini sungguh sangat menguntungkan bagi Aufar, tak ingin membuang waktu lagi. Ia mengabsen setiap inci wajah istrinya dengan kecupan cinta. Mulai dari kening, kedua kelopak mata, dua pipi chubby, pucuk hidung, dan dagu runcing Alia. Sungguh diperlakukan seperti ini membuat Alia merasa sangat berharga dan disayang.
Terakhir, bibir sensual itu mendekati bibir manis Alia. Menatapnya dengan lekat, membuat Aufar semakin tidak sabar untuk mengeksplore setiap incinya. Merasakan rasa manis yang sepertinya sangat menjanjikan.
Aufar menarik wajahnya sejenak, seolah meminta izin kepada sang empunya sebelum menyentuhnya. Perfect. Anggukan Alia bagaikan melodi indah penuh kemenangan baginya. Finally, entah bagaimana ceritanya kedua bibir itu sudah menempel sempurna. Kecupan-kecupan kecil dihadiahkan oleh Aufar sebagai salam pembuka.
Perlahan tapi pasti ia mencuri kesempatan untuk bisa masuk lebih dalam lagi menembus gerbang pembatas Alia. "Not bad" batin Aufar ketika merasakan gerakan balasan dari istrinya. Indera pengecap Aufar yang mulai nakal menggoda bibir Alia yang masih tertutup sempurna. Berharap gerbang itu mau bernegosiasi dan memberikan kesempatan baginya untuk menikmati rasa kenyal nan lembut yang dimilikinya. Stop!!! Penasaran dengan kelanjutannya?
Baiklah, karena ini hari jum'at mari kita lanjutkan! wkwkwkđź¤
Berhasil! Gerbang kenyal itu perlahan terbuka, mempersilakan tamunya untuk masuk dengan suka rela. Tentu saja Aufar tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan emas ini. Sunggingan senyum tipisnya terbentuk kembali.
Ia mulai meng***p, menye***p dan melu**t bibir atas dan bawah milik Alia dengan frekuensi yang sama agar tidak terjadi insiden iri dan dengki di antara keduanya.
Tentu saja semua itu ia lakukan dengan lembut dan penuh kasih sayang. Ia ingin memberikan kesan yang tak terlupakan bagi Alia untuk ciuman pertama mereka ini. Membawa Alia terbang bersama irama gerakan bibir masing-masing.
Tiba-tiba Aufar menghentikan pag***nnya karena ia merasa Alia menahan nafasnya selama aktifitas itu.
"Bernafas, Sayang.." Instruksinya ditengah deru nafasnya yang sudah semakin berat.
"Kamu tetap bisa bernafas disaat kita berci***n!" Lanjutnya lagi sebagai penjelasan.
"Ta..tapi aku tidak bisa, Mas." Jawaban polos itu lolos tanpa melalui proses review, sambil merasakan keanehan akan kedua bibirnya yang terasa sebal bahkan mengembang. Tentu kalimat itu berhasil membuat Aufar tersenyum.
"Akan aku tunjukkan.." Ketika akan melanjutkan niatnya, lagi-lagi netizen memasuki perannya.
Tok..Tok..Tok...(Pintu kamar diketuk)
"Kak...Kak Aufar..." Jelas sekali itu suara Alan. Dasar Alan!
Aufar mematung, menarik kembali jarak yang tadinya terkikis diantara mereka. Perlahan ia memejamkan mata menahan kekesalan yang tidak bisa ia keluarkan. Alia yang terkekeh melihat mimik kesal sang suami, mulai menutupi bibirnya dengan sebelah tangan. "Aku ingin tertawa tapi takut dosa," batin Alia.
Bersambung