I Love You Till Jannah

I Love You Till Jannah
S2 Rahasia Ayah



Di sebuah pantai yang terletak tak jauh dari kediaman orang tuanya. Ombak bergulung, berdebur bergantian pada bibir pantai. Nyiur hijau di tepian, siar-siur daunnya melambai dan meliuk kesana-kemari. Burung-burung bernyanyi gembira mengitari langit senja sore itu.


Angin sepoi-sepoi membelai kain panjang penutup kepala yang membalut mahkota terindah di pucuk kepala Alia. Senyumannya kembali mengembang ketika dua lengan kekar melingkari pinggangnya posesif, lalu menggenggam erat kedua telapak tangannya. Dada bidang yang menempel sempurna di punggungnya, berhasil mentransfer hawa hangat yang berlawanan dengan dinginnya angin laut.


Dagu berbelah dalam kepunyaan si dokter tampan mendarat lembut di pundak sang istri. Sesekali ia mengecupnya dalam dengan perasaan sayang yang teramat sangat.


Senyuman Alia tampak mengembang bak roti bantal ketika merasa disayang seperti ini. Sebelah tangannya menadah kesamping, meraih pipi kiri sang suami dan bergerak naik turun mengelus manja. Pandangan keduanya tertuju pada satu tujuan, yaitu samudra luas tak bertepi.


Hal ini membuat Aufar menyingkap kilas balik perjalanan karirnya ketika menjalankan tugas di dunia pelayaran. Di tengah lautan luas itulah, Tuhan mempertemukannya dengan wanita luar biasa yang sekarang telah bisa ia genggam tangannya tanpa harus merasa berdosa. Tanpa harus sembunyi-sembunyi, dan tanpa harus merasa terbebani.


CUP..


Kecupan singkat mendarat di pipi Alia. Tentunya hal itu berhasil membuatnya terperangah dan memutar kepalanya ke arah si bibir usil. Pandangan mereka bertemu dalam senyuman dan tatapan yang tak bisa diartikan.


"Sayang..."


"Hem..."


"Jika suatu saat nanti kamu mengetahui sesuatu yang tidak pantas tentang diriku, apa kamu akan meninggalkanku?"


Sukses. Kalimat itu terasa menggelitik indera pendengaran Alia. Kedua bola matanya terbuka sempurna dan menelisik jauh ke dalam manik mata hitam kecokelatan milik Aufar.


"Kenapa kamu bertanya seperti itu, Mas?" Semakin mengeratkan genggaman tangannya.


"Aku hanya ingin tahu isi hatimu." Mengedipkan matanya berkali-kali menghalau kecanggungan yang mulai menyelimuti wajahnya.


"Maaaas, I love you black and blue, don't you know that?" Merangkum wajah tampan sang suami ke dalam genggamannya dengan tatapan sendu.


"Now, please tell me something..!" Lanjutnya dengan tatapan curiga.


"Anything, Sayang?" Menatap lekat manik mata hitam pekat milik Alia dengan tatapan teduh.


"A-apa kamu sendiri akan meninggalkanku di saat aku dan keluargaku tak lagi tampak terhormat di matamu?" Tanya Alia sedikit ragu.


Dengan wajah penuh keyakinan dan mantap jiwa Aufar menjawab, "never.." Responnya secepat kilat seperti sambaran kilat di ufuk selatan yang menjadi saksi bisu ungkapan hatinya saat itu.


Alia menyimpul senyuman dan menenggelamkan wajahnya yang mulai merona merah bak jambu air kedalam dada bidang Aufar, setelah lelaki itu menggeleng tegas dan merentangkan kedua tangan kearahnya. Lama mereka terdiam haru dalam posisi saling berpelukan. Menganggap santuy puluhan pasang mata yang tertuju kepada mereka berdua bak sedang menyaksikan drama telenovela versi hijab.


Rasa haru bercampur bahagia akan nikmat yang telah Tuhan berikan sejauh ini kepada dirinya. Kedua mata dokter muda bin tampan itu tampak berkaca-kaca.


Telah sejak lama ia berjanji akan menjaga wanita yang sedang berada di dalam dekapannya itu. Menghujaninya dengan jutaan kebahagiaan dan membawanya hidup dalam kenyamanan yang hakiki sehingga tak akan pernah Alia dapatkan dari sosok manapun.


Keduanya tampak tersenyum hangat ketika tubuh mereka kembali berjarak dengan tangan saling bertautan memandang birunya laut lepas.


Setelah dirasa cukup puas memandangi air yang merupakan hobi lamanya itu, Alia mengajak Aufar berjalan menyusuri tepian pantai. Sesekali bermain air dengan kaki telanjang melawan ombak yang berdatangan silir berganti.


Ketika sampai pada titik yang berhadapan tepat dengan sebuah food court, Aufar menghentikan langkahnya dan mematung. Tatapannya terkunci pada satu sosok yang sangat ia kenali.


Alia yang merasa berbicara tanpa direspon oleh sang suami, lantas menutup mulutnya dan mengikuti arah pandai lelakinya itu.


TAP..


"Ayah.."


Kata itu lolos dari sepasang bibir milik Aufar. Lirih, namun masih terdengar jelas di telinga Alia.


"Iya, itu Ayah." Alia merespon dengan senyuman yang agak terpaksa.


"Siapa wanita yang bersamanya? dan Siapa gadis kecil yang duduk di pangkuannya itu?" Aufar sedikit berpikiran negatif dengan apa yang tengah ia saksikan. Namun ia tidak ingin berasumsi. Sesegera mungkin ia halau sehingga tergulung ombak berbuih.


"Kenapa Ayah bisa dengan wanita lain selain Ibu, Sayang?" Pertanyaan selanjutnya terlontar ketika Alia belum juga menjawab. Ia sedikit menggoncang tubuh sang istri, ketika ia melihat wanita berkerudung abu-abu monyet itu tampak terpesona dengan pemandangan di depan mereka.


"Sayang.." Alia mengerjap berkali-kali seperti baru tersadar dari tidur singkat.


"Ma-maaf, Mas. Ayo kita pulang saja." Menarik tangan sang suami, lalu berbalik arah menjauhi sang Ayah.


***


Sepanjang perjalanan pulang, Alia hanya berdiam diri. Mereka berdua sedang mengendarai sepeda motor milik Alia yang dulu sering ia gunakan untuk pergi ke kampus sewaktu menyelesaikan pendidikan sarjananya.


Karena merasa ada yang aneh, Aufar bersikeras menghibur sang istri dengan berbagai cerita kocak, namun tetap saja gagal. Alia hanya sesekali merespon, itupun dengan kata singkat sebagai bentuk interaksi dua arah saja. Sampai akhirnya Aufar memutuskan untuk bertanya langsung kepada si empunya badan. Ia benar-benar sangat penasaran dengan apa yang telah ia saksikan di depan matanya. Akankah sama dengan apa yang melayang di pikirannya?


"Sayang.."


"Hem.."


"Kamu yakin enggak pingin cerita?"


"Cerita apa, Mas?"


"Masalah Ayah." Alia tercekat. Sejenak menarik nafas panjang dan menghembuskannya secara perlahan.


"Wanita itu istri mudanya Ayah, dan gadis kecil itu adalah...putri mereka."


DEG


Bagai disambar petir di sore hari, dada Aufar terasa panas dan bergetar hebat. Ia saja selaku menantu bisa merasa terguncang dengan berita yang baru saja ia ketahui tentang Ayah mertuanya. Apalagi Ibu mertua, istri, dan adik iparnya?


Memikirkan hal itu, membuat Aufar lagi-lagi mengingat video syurnya dengan si Fana. Dadanya seketika terasa terhimpit batu besar ketika mengenang perasaan sang istri jika suatu saat Alia mengetahui semuanya. Sesak.


Dalam hal ini, Aufar adalah victim. Ia hanya dijadikan kambing hitam dalam permainan kotor wanita ular itu. Namun apakah Alia akan mempercayainya jika ia membela diri? Apakah benar Alia tidak akan meninggalkannya ketika mengetahui hal itu?


Aaaah, momen neraka itu sungguh meresahkan jiwa dan raganya. Berhasil mengganggu ketenteraman hatinya, dan mengusik tidur malamnya. Seperti saat ini, ia mulai sibuk dalam dimensi lainnya.


"Mas.." Alia berkali-kali menepuk pundak sang suami dari belakang.


"I-iya, Sayang.." Jawabnya terkejut dan mulai terbata.


"Jangan melamun loh, kita lagi di atas motor nih." Alia yang menyadari keterkejutan sang suami, sungguh ia bisa memaklumi dengan sepenuh hati. Hanya saja, ia pribadi tidak mengetahui sesungguhnya, apa yang sedang menari dalam pikiran si pengemudi motor itu.