
Ketika Si Tomboi terlihat sedang komat-kamit meracau tidak jelas, tampak sebuah mobil perlahan menepi di depan mobilnya.
Husna telah memasang kuda-kuda dengan sempurna, entah mungkin orang itu akan berniat jahat padanya.
Beberapa saat kemudian, menyembullah sesosok lelaki dari balik pintu mobil. Penampilannya tampak lebih rapi dari biasanya.
"Dia lagi, apes dah..apes beet gua hari ini." Husna memutar bola matanya dengan malas. Kedua tangannya berkacak pinggang dan membuang pandangannya ke sembarang arah.
Lelaki itu berjalan menghampiri si tomboi dengan senyuman tipis. Sebelah tangannya melepas kacamata hitam yang bertengger di hidung mancungnya.
"Kayaknya ada yang butuh tumpangan nih." Mengelap kaca mata hitamnya, lalu meniupnya sekilas dan memakainya kembali. Kedua telapak tangan kini terselip pada saku celana kain yang ia menutupi kaki jenjangnya.
Awalnya Husna terdiam seribu bahasa, namun sejurus ia tersadar dari gengsinya. Ia harus secepatnya tiba di kampus, ada jadwal presentasi yang tidak boleh ia lewatkan. Jika tidak? Ia terancam tidak lulus pada mata kuliah itu.
Dengan berat hati, ia memaksakan diri untuk menganggukkan kepalanya, hampir tak terlihat. Lelaki itu mengernyit, antara yakin dan tidak. Sebenarnya ada keraguan di hatinya bahwa Husna akan menerima tawarannya kali ini. Namun, ketika ia melihat aksi Husna yang menendang ban mobil tadi, ia meyakini bahwa gadis ini memang sedang berada di dalam masalah.
"Elu ngomong apa barusan? Gua enggak bisa denger." Mengerutkan keningnya dan mengarahkan sebelah telinga ke arah Husna yang jaraknya sekitar satu meter di depannya.
"Gue belon ngomong, woooi.." Seloroh Husna, membuat lelaki itu terkekeh kecil.
"Iyee..gue butuh tumpangan, puas lu?" Husna membelalakkan kedua matanya sempurna.
"Woa..woa, easy girl. Mau numpang aja gengsi amat lu."
"Elu tuh suka nyari gara-gara yee. Seneng banget sih lu bikin gue naek darah?"
"Siapa?"
"Ya elu.."
"Nanya.."
Lelaki itu tergelak, melihat ekspresi kesal yang merayapi keseluruhan wajah Husna. Sehingga wajahnya tampak merah karena terlalu banyak tertawa.
Husna mendengus pelan, seraya memandang lelaki itu dengan pandangan membunuh. Kalau bukan karena dalam kondisi urgent, ia juga tidak akan mau menerima tawaran laki-laki yang menurutnya songong itu.
"Sebenernya elu niat mau nolongin gue kaga sih? Gue udah hampir telat ini." Melirik penunjuk jam di pergelangan tangannya.
"Elu sih banyak bacot, kan gue jadi telat juga sekarang." Tutur lelaki itu seraya melakukan hal yang sama seperti yang baru saja dilakukan oleh Husna. "Ya udah ayok.." Lelaki itu berbalik arah dan meninggalkan Husna yang masih mematung di tempatnya.
Ketika ingin membuka pintu mobilnya, lelaki itu melirik ke arah Husna yang masih terlihat termenung.
"Woooi..elu mau di situ ampe besok pagi?" Pekikannya menyadarkan Husna yang masih berkutat dalam dimensi lainnya. Ia mengerjap berkali-kali, lalu menatap lelaki itu dengan penuh tanya.
"Mobil gue pegimane?"
"Biarin aja ntar gua jual kiloan."
"Enak aja lu, ini cuma abis bensin bukan turun mesin."
"Banyak omong lu ya, udah cepetan masuk."
Husna memonyongkan bibirnya, berjalan dengan terburu-buru memasuki mobil si laki-laki.
Sesekali Husna mencuri pandang pada lelaki berhidung mancung di sampingnya. Sumpah demi apapun, ia sempat merasa iri dengan hidung laki-laki itu. Secara hidungnya mancung ke dalam. Tak seindah hidung makhluk aneh di sampingnya. Sontak ia menyentuh ujung hidungnya sendiri dan menggosok-gosoknya pelan.
"Pasti elu pengen punya hidung kayak gua kan?"
"Iiih, GR amat sih lu penyihir."
"Apa tampang gua seserem itu?
"Elu bisa diam kaga sih?"
"Kalo gua enggak mao?"
"Gue sumpel nih mulut lu, pake.."
"Pake apa?"
Husna terlihat berpikir sejenak, lelaki di sampingnya ini, ternyata banyak omong juga. Si gadis tomboi merogoh tas selempang dan mengambil ponselnya yang ia simpan di dalam sana. Ketika ingin mengetik sebuah pesan, lelaki itu menyambar barang pipih yang berada dalam genggaman Husna dalam sekejap mata.
"Iiih apaan sih lu? Balikin kaga..!"
"Gua lagi ngomong, enggak sopan banget lu."
"Nama gua Jimmy bukan penyihir. Ingat itu..!"
Jimmy mengembalikan ponsel Husna tanpa mengalihkan pandangannya dari jalanan. Setelah beberapa kali cekcok, tak ada lagi perdebatan di antara keduanya. Mereka sibuk dengan pikirannya masing-masing.
Sehingga setelah lima belas menit, mobil Jimmy menapaki gerbang kampus Husna. Gadis itu segera melepas sabuk pengamannya dan menyembul keluar. Namun, ia membalikkan tubuhnya sejenak dan merunduk sehingga membuat Jimmy memutar pandangannya ke arah Husna.
"Gue Husna. Thanks udah kasi gue tumpangan."
Husna menutup kembali pintu mobil Jimmy sebelum mendengarkan respon dari lelaki itu. Jimmy yang juga sedang terburu-buru, hanya menanggapi sikap kikuk Husna dengan lengkungan tipis di kedua sudut bibirnya. Lalu bertolak menuju tujuan sesungguhnya.
***
Dua love birds masih saling mengeratkan pelukan satu sama lain. Lengan melingkar, tubuh menempel sempurna. Nafas masih terdengar memburu. Tubuh keduanya masih dilumuri keringat sehabis melakukan pergumulan singkat sebagai menu pembuka sarapan pagi ini.
"Maafin aku, Sayang.." Alia menarik kepalanya yang menempel pada dada bidang sang pendamping hidup. Ia melihat buliran air mata sebesar biji kedelai berguguran begitu saja dari pelupuk mata Aufar.
"Kenapa Mas tiba-tiba minta maaf?" Tanya Alia kebingungan.
"Aku telah mengkhianati cinta dan kepercayaanmu.." Laki-laki itu masih saja mengutuki dirinya sendiri, namun tentu saja hanya berani ia katakan di dalam hati.
"Ma..maafkan aku yang belum bisa membahagiakanmu, Sa..sayang." Aufar mulai terbata-bata. Ia belum cukup berani untuk mengakui semuanya kepada Alia. Sekali lagi, ia tidak siap untuk ditinggalkan oleh wanita pujaan hatinya itu. Wanita kedua yang sangat ia cintai setelah sang Mama.
"Maaas..." Menyeka air pilu sang suami dengan sentuhan lembut.
"Apa ada yang ingin kamu ceritakan padaku?" Lanjutnya sambil menatap sendu kedua netra hitam kecokelatan milik Aufar.
Mendapat pertanyaan yang sangat relevan dengan suasana hatinya, sontak membuat Aufar semakin salah tingkah. Sungguh ia belum siap untuk jujur apalagi memberitahukan kepada Alia kronologi kejadian di hotel itu yang imbasnya akan sangat melukai hati wanita yang berada tepat di hadapannya. Bahkan Aufar bisa memastikan bahwa Alia akan sangat hancur jika sampai melihat video syur antara dirinya dan Fana.
"Maaas.." Alia menggoyangkan telapak tangannya di depan wajah Aufar, karena lelaki itu tak kunjung menjawab pertanyaannya.
"Eh, iya.." Aufar mengerjap, tersadar dari lamunannya.
"Tuh kan beneran ngelamun. Sebenarnya ada apa sih, Mas?
"Enggak papa, Sayang.." Aufar menarik tengkuk Alia sehingga mengikis jarak di antara wajah mereka.
Kedua netra hitam pekat milik Alia, menilik ke dalam manik mata suaminya. Menyadari bahwa ada kecurigaan di hati sang istri, Aufar segera menyatukan kening mereka dan menempelkan bibirnya pada bibir Alia. Keduanya mulai menutup kelopak mata masing-masing.
Alia yang merasakan kecupan dalam sang suami lantas membalasnya dan menyambut indera pengecap Aufar yang sudah mulai meminta izin melewati gerbang kenyal miliknya. Pagutan itu pun terjadi dengan hangat dan lembut. Hingga akhirnya mereka melepasnya secara bersamaan, namun dengan posisi kening yang masih menyatu. Aufar kembali menitikkan cairan bening dari kedua bola matanya.
"I love you, Sayang. Tak akan ada yang bisa menggantikan posisimu di dalam sini." Meletakkan sebelah tangan Alia pada dada kirinya.
Alia merangkum wajah Aufar ke dalam genggamannya, seperti yang sering ia lakukan. "I love you too, Mas. I trust to you.."
Mendengar kalimat itu, Aufar semakin terisak dan semakin membuat Alia penasaran dan mengernyit curiga.
***
Di kota kelahiran Alia
Isni dan Kak Urai sedang berada di dalam mobil. Kendaraan yang dikemudikan oleh calon suaminya itu melaju perlahan dan hati-hati. Kali ini, mereka akan berkunjung ke sebuah butik yang merancang busana pengantin, yang akan mereka kenakan pada hari bahagia nanti.
Beberapa saat kemudian, mobil Kak Urai terparkir sempurna di halaman sebuah butik milik sahabatnya Ibu Rana, Mamanya Kak Urai.
Ketika keduanya telah memasuki fitting room, tampak Mama Rana dan Selvia telah berada di sana. Sebenarnya Kak Urai dan Isni telah lama melakukan fitting baju pengantin itu, namun karena ada beberapa yang harus di permak, jadi hari ini mereka akan memastikan bahwa semuanya telah siap sesuai dengan harapan.
"Naaah..ini baru pas, jeng..." Mama Rana memberi komentar kepada si pemilik butik setelah Isni dan Kak Urai keluar dari ruang ganti. Mereka saling bertukar pandang dan tersenyum simpul ketika melihat penampilan satu sama lain.
Kilas balik tentang keinginan bersanding di pelaminan dengan Alia yang tiba-tiba muncul di benak Kak Urai, sesegera mungkin ia tepis. Ia memejamkan kedua matanya sejenak dan berdecak frustasi. Agaknya hatinya masih terpaut dalam kisah lama. Namun, deg kebaikan bersama, ia harus bisa berkompromi.
Ada banyak hati yang harus ia jaga, terutama hati gadis manis yang sedang berdiri di hadapannya. Ia yakin suatu saat nanti cinta itu akan tumbuh seiring berjalannya waktu, semoga saja.
Isni masih menatap diam wajah lelaki tampan di hadapannya. Dari awal ia memang tidak mengetahui apapun yang terjadi antara Alia dan Kak Urai. Sehingga tidak akan ada negative-thinking di dalam benaknya.
Gadis itu meraih sebelah tangan Kak Urai, membuat sang calon suami membuka kedua matanya sempurna. Kak Urai tersenyum, walaupun agak terkesan dipaksakan.
"Apa kamu mulai merasa ragu dengan pernikahan ini, Kak?" Menatap kedua manik mata Kak Urai dengan penuh tanya.
DEG
"Bagaimana dia bisa merasakannya?" Batin Kak Urai.
Bersambung...