
"Waaah, kamu romantis juga sayang." Aufar menerima kotak makan yang Alia berikan sambil tersenyum menggoda.
"Aaah...Mas bisa aja." Wajah Alia seketika itu merona karena tergoda oleh kata-kata Aufar.
Aufar meletakkan kotak makan itu di meja dan mempersilakan Alia duduk di atas tempat tidur sedangkan ia duduk di lantai bersandar pada lemari pakaian.
"Mas kenapa duduk di bawah? Alia menjatuhkan tubuhnya di lantai dan duduk berhadapan dengan Aufar.
"Loh, kamu duduk di atas aja sayang nggak papa." Berkali-kali Aufar meminta Alia kembali ke atas tempat tidur. Namun Alia menolaknya. Akhirnya setelah perdebatan kecil mereka, Aufar mengalah dan membiarkan Alia duduk di lantai bersamanya.
"Mas, kenapa gak dimakan?" Alia melirik kotak makan yang disimpan di atas meja.
"Sayang udah makan?" Aufar malah balik bertanya.
"Belum.." Jawab Alia singkat.
"Kalau sayang belum makan, kenapa malah menyuruh aku yang makan? Sini aku suapi." Aufar menarik paper bag berisi kotak makan itu dan membukanya.
"Kamu sengaja nggak makan biar aku suapin ya sayang?" Aufar melirik Alia kembali menggodanya.
"Iiiiis siapa juga yang mau disuapin." Alia ngeles sambil bersendekap membuang muka.
Aufar yang ketika itu melihatnya, terkekeh melihat tingkah manja sang pacar.
"Uuuuh..uuuuh pacar cantikku marah nih? Kan Mas cuma bercanda sayang. Sini Mas suapin..aaaaaa aaaaa ayo buka mulutnya." Aufar membuka mulutnya sendiri sambil menyodorkan sendok yang berisi nasi dan ayam kecap.
Alia yang melirik tingkah lucu pacarnya itu, membuatnya tersenyum. "Mas ini ya, memangnya aku balita masih harus disuapin?" Alia terkekeh.
"Loh..kamu kan balitanya aku sayang..baby little tantik.." Aufar tersenyum usil.
"Hah? Apaan tuh?
"Kekasih mungilku yang syantik." Aufar tergelak. Ketika itu juga Alia ikut tertawa lepas mendengar lelucon yang Aufar ciptakan.
"Ayo Mas, katanya mau suapin aku makan." Alia sudah mangap siap menerima asupan gizi dari makanan yang ia masak itu.
Aufar tersenyum dan menyuapi Alia dengan telaten. Mereka berbagi makanan bersama sampai tidak tersisa sedikitpun.
Aufar menyodorkan air mineral botol yang terletak di atas meja kepada Alia. Alia meraih botol air mineral itu, membuka penutup botol dan meneguknya dengan nikmat.
"Sayang, kamu pinter banget sih masak. Masakannya enak lagi. Udah lama pinter masaknya?" sambil mengambil satu botol air mineral dan kemudian meminumnya.
"Aaah mas gombal ni. Masa' iya beneran enak? Aku baru belajar masak waktu awal kuliah Mas. Soalnya kalau di rumah selalu dimasakin sama Ibu, hehe." Alia terkekeh sambil meletakkan botol air mineral di sampingnya.
"Nggak gombal kok sayang, serius enak. Mas aja sampe kenyang banget gini." Sambil memegang perutnya. Sebenarnya ia sudah makan siang tadi bersama Rizki. Namun demi menghargai Alia ia harus tetap memakan makan siang special dari kekasihnya itu.
"Emangnya Mas beneran belum makan tadi?" Alia mulai curiga.
"Hehe..sebenarnya, tadi mas udah makan sayang..sama Rizki." Aufar menggaruk-garuk tengkuknya yang tidak gatal sambil meringis menahan perutnya yang sakit karena kekenyangan.
"Haha kenapa Mas gak bilang tadi? Dan kenapa juga maksain makan lagi?" Alia tergelak melihat ekspresi sang kekasih.
"Aku harus menghargaimu sayang. Kamu adalah wanitaku. Apapun tentang kamu itu sangat berharga di mataku dan hatiku."
Tatapan mereka bertemu. Ingin rasanya Aufar menggenggam tangan Alia mentransfer rasa sayang dan rindunya. Namun ia masih bisa menguasai pikirannya.
"Zalia Aliyanti kekasihku..kamu itu sangat berharga. Aku tidak akan menyentuhmu sampai kamu halal bagiku. Tolong jaga diri ya. Bukan untukku, tetapi untuk dirimu sendiri. Jangan sampai mengecewakan orang tua dan berbaktilah kepada mereka."
Alia tercengang mendengar kata-kata Aufar. Bagaimana bisa Aufar secepat itu merubah suasana lucu menjadi hikmat seperti ini.
Alia tidak merespon dengan kata-kata, ia hanya mengagangguk pelan. Menatap lekat manik mata Aufar. Bagaimana bisa ada ABK yang berhati mulia seperti ini, batinnya.
Awalnya tadi Alia sudah berpikiran buruk terhadap Aufar ketika Aufar membawanya masuk ke kamar. Namun saat ini, benar-benar menjadi bukti bahwa Pria yang di hadapannya itu benar-benar Pria baik-baik.
Mulai saat ini tidak ada lagi yang perlu ia ragukan dari Aufar. Pria tampan yang berprofesi sebagai ABK itu bukanlah pribadi yang sering dikatakan orang-orang di luar sana.
Biarkan mereka berkomentar. Tangan Alia hanya ada dua. Tidak akan mampu menutup semua mulut yang berbicara buruk tentang Aufar. Ia hanya cukup menutup kedua telinganya saja. Membentengi hatinya.
"Sayaaaaang..." Aufar melambaikan tangan di depan wajah Alia yang terlihat sedang termenung.
"E-eh..kenapa Mas? Alia gelagapan sambil melotot kepada Aufar.
"Loh, kamu yang kenapa? Kok malah ngelamun? Masih hobi ngelamun sayang?" Aufar terkekeh sambil menutup mulutnya.
Ketika itu juga Alia tersenyum malu. Ia terpesona dengan wajah tampan yang berbicara bijak di hadapannya tadi. Membuat ia terbang ke awang-awang dan lupa turun ke bumi🤭.
"Iiih mas ini.." Alia menepuk bahu Aufar yang kekar. Membuat ia salah tingkah.
Pria itu benar-benar pintar menguasai hati Alia. Aufar kadang terlihat sangat berwibawa. Terkadang ramah seramah-ramahnya. Kadang juga bijaksana. Malah tiba-tiba terlihat sangat lucu seperti sekarang ini.
Alia makin kepincut. Merasa ingin selalu berada di dekat Aufar. Sikap penyayang dan humoris Aufar bagaikan magnet baginya. Ingin rasanya ia meminta Aufar berkerja saja di kota ini. Namun jika sifat egoisnya mulai berkecamuk, ia selalu alihkan dengan memikirkan masa depannya dengan Aufar.
Setidaknya, perpisahan mereka saat ini hanya demi masa depan mereka berdua. Alia menyelesaikan pendidikannya sambil mengumpulkan rupiah. Sedangkan Aufar fokus bekerja untuk tabungan pernikahan yang sudah mereka bicarakan sebelumnya.
***
Setelah Kak Urai pulang, Pak Harry berbalik ke sofa berniat mengambil rok*knya. Ia malah menemukan sebuah amplop tegeletak di atas meja.
Ia meraih amplop tersebut dan membukanya. Betapa terkejutnya ia setelah melihat isi amplop tersebut. Ya, amplop itu berisi foto Alia bersama Aufar yang sengaja ditinggalkan Kak Urai agar terlihat oleh Pak Harry.
Pak Harry mulai berpikir. Dari mana datangnya foto ini? Siapa laki-laki yang bersama Alia? Apakah Urai sengaja meletakkan foto ini diatas meja agar ia tahu tentang anak gadisnya? Apa sebenarnya motif Urai? Batinnya.
Pak Harry masuk ke dalam kamar dan meletakkan foto itu di atas meja.
Kemudian ia melaksanakan shalat dzuhur dan makan siang bersama Ibu Nana. Kebetulan saat itu Alan belum pulang dari sekolah.
"Bu..apa Alia ada menghubungi Ibu hari ini?" Selidik Pak Harry.
"Belum ada Pak, biasanya dia menghubungi Ibu malam hari. Ada apa Pak? Apa nak Urai menanyakan Alia?" Ibu Nana menatap lekat suaminya itu. Ia mulai penasaran.
"Tidak Bu.." Jawab Pak Harry singkat.
Ibu Nana bisa membaca raut wajah suaminya itu. Ia semakin penasaran. Tidak biasanya suaminya itu bertanya soal Alia kepadanya. Ia harus mencari tahu, batinnya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Loh loh Kok malah laporan sih Kak Uraaai😭
Pak Harry bakal marahin Alia nggak ya?🥺