
Suara gemuruh mesin kendaraan bersayap berderu memekak telinga. Tangan berpegangan kuat pada handle kursi yang berada di sampingnya. Tubuh bersandar agak gerogi sembari mengucap kalimat permohonan keselamatan.
Landing..!
Dua sejoli yang baru saja kembali dari peraduan cinta, kini menyembulkan kepalanya bergantian dari pintu pesawat. Senyuman indah terukir manis di bibir Alia, namun tidak dengan Aufar. Hanya ada senyuman yang terkesan kikuk dan dipaksakan.
Sepanjang perjalanan menuju kota kelahirannya juga wajah Aufar hanya terlihat khawatir dan gelisah. Dokter tampan itu masih terngiang ancaman Fana, yang ia lontarkan sebelum Aufar meninggalkan kamar hotel.
Alia yang sedari tadi memandang wajah sang suami yang tertekuk masam. Merasakan suatu keanehan yang membuatnya kembali curiga.
Flashback
Setelah berhasil membawa Aufar memasuki mobil, salah seorang dari preman yang duduk bersebelahan, membekap hidung bangir Aufar dengan handuk kecil yang telah dibubuhi obat bius. Ketika Aufar sudah tak sadarkan diri, lalu preman yang lainnya tampak memberikan injeksi di lengan kirinya.
Beberapa saat kemudian, dua mobil yang mengangkut pasukan berotot bayaran itu, terparkir sempurna di halaman sebuah hotel yang tadi di kunjungi oleh Aufar untuk membeli kebab turki pesanan sang istri.
Dua orang dari preman-preman bayaran tersebut, menyembulkan tubuh kekarnya keluar dari kereta roda empat itu, lalu membopong tubuh Aufar menuju kamar yang telah di sewa oleh Ghifana Aurora.
Wanita ular dengan seribu misi tanpa permisi. Ia sengaja membuntuti Aufar dan Alia hingga ke pulau dewata ini, demi melancarkan rencana kotornya. Jauh dari keluarga dan juga dari orang kepercayaan Aufar akan memudahkan semua misinya berjalan dengan mulus.
Satu nama yang selalu menggagalkan trik barbarnya, Jimmy.
Jimmy terkadang menjadi ancaman terbesar baginya, ketika ia ingin melakukan apapun yang ia inginkan. Walaupun Jimmy sangat mencintai Alia, namun menurut Fana, laki-laki itu sangat lambat dalam bertindak.
Fana tidak bisa sesabar Jimmy..
Fana tidak bisa sefrontal Jimmy..
Fana juga tidak bisa sekuat Jimmy..
Yang ia bisa hanya menikung..
Itulah jalan satu-satunya..
Fana yang telah siap menanti kedatangan pangeran impiannya, menyibak pintu kamar hotel itu, setelah mendengar suara ketukan pada daun pintu.
CEKLEK
Daun pintu terbuka lebar menampakkan dua manusia berkulit cokelat gelap dengan penampilan awut-awutan. Di antara keduanya tergontai seonggok daging yang terkulai tak sadarkan diri.
Fana memerintahkan keduanya untuk membaringkan Aufar di atas ranjang. Setelah menyelesaikan tugas dan mendapatkan bayarannya, kedua preman itu pamit undur diri dan meninggalkan Fana bersama Aufar di kamar hotel itu.
Wanita yang berdarah indo-hindi tersebut tersenyum penuh kemenangan menatap wajah Aufar yang semakin tampak sempurna ketika terlelap. Finally, Aufar sudah berada dalam genggamannya.
"Maaf jika aku harus melakukan semua ini padamu, Beb. Aku sudah memintanya dengan cara yang baik, namun kamu selalu menolakku. Akan aku serahkan segalanya hanya untukmu malam ini. Maafkan aku yang pernah mengkhianatimu."
Matahari senja telah mengendap membawa kegelapan di langit pulau dewata.
Jari lentik Fana tampak naik turun membelai lembut wajah Aufar. Lelaki itu tampak mengedipkan kelopak matanya berkali-kali, mengondisikan pupil matanya yang terlihat naik turun. Ia mendesah pelan, memandang mata tajam dengan hidung bangir yang sedang menatapnya dengan penuh damba. Ia mencoba mengerjap kembali memastikan pandangannya benar atau sangat benar.
Namun entah apa yang salah dengan laki-laki itu, sekujur tubuhnya tiba-tiba terasa panas. Keringat mengucur deras dibalik baju kaos berlengan panjang yang ia kenakan. Tatapannya mulai nanar ketika kembali menatap wajah Fana yang seketika berubah-ubah menjadi wajah sang istri.
Aufar menggeleng sambil mengedipkan matanya berkali-kali. Tidak salah lagi, di hadapannya itu terlihat memang persis Alia. Sekali lagi Aufar menggeleng, mengucek kelopak matanya berulang kali. Namun tetap saja, netranya menangkap bahwa yang di hadapannya itu memang Alia.
"Sayang.." Sapa Aufar dengan gelombang lirih namun masih terjangkau oleh indera pendengaran Fana.
DEG
Jantung Fana seperti berhenti berdetak, apakah ia tidak salah dengar? Aufar memanggilnya dengan sebutan Sayang. Persis dengan panggilan yang pernah Aufar lontarkan padanya ketika mereka masih sama-sama berstatus mahasiswa. Panggilan manis yang sangat menenangkan jiwa ketika dirinya bersama laki-laki itu menjalin kasih. Kilas balik hubungannya yang telah kandas oleh kesalahannya sendiri, berhasil membuatnya berdecak kesal dihantam tombak penyesalan.
Berhubung sudah kepalang tanggung, ia tidak ingin rasa insecure ini menggagalkan rencana yang telah ia susun dengan rapih dan apik. Ia tidak ingin menjadi pemeran antagonis yang tidak optimal. Sudah cukup lama ia cuti dari sekian bab manis dalam novel ini. Apalagi ketika resepsi pernikahan kemarin, ia sama sekali tidak diundang. Bu Author Sungguh keterlaluan.
Kali ini, tinggal selangkah lagi Aufar pasti akan tunduk di bawah kuasanya.
Lama mereka saling tatap dalam diam. Aufar yang sudah tidak bisa lagi menahan libido yang semakin memuncak hingga menyongsong ubun-ubunnya, lantas menerkam dan menghabisi Fana dalam pergumulan panas yang terlarang.
Fana pun tak tinggal diam, ia tidak ingin menyia-nyiakan momen yang sudah lama ia nantikan. Memiliki Aufar seutuhnya dengan penyatuan tubuh mereka. Wanita sexy itu memberikan service terbaiknya sehingga membuat Aufar semakin menggila terbakar gairah.
Setelah selesai dengan proyek pertama yang memakan waktu hampir satu jam itu, mereka berdua terlelap tak sadarkan diri. Tubuh polos keduanya yang belum kering oleh keringat, tampak saling berpelukan erat bak sepasang kekasih yang sedang dimabuk asmara.
Keesokan harinya, ketika Fana telah menunjukkan foto-foto dan video panas mereka kepada Aufar. Laki-laki itu tampak murka, dan membanting benda pipih yang berada dalam genggaman Fana ke lantai hingga membuat benda itu hancur tak berbentuk lagi.
Melihat hal tersebut, Fana hanya menyeringai licik. Ia sama sekali tidak merasa dirugikan, toh ia sudah memiliki salinan dari video dan foto-foto tersebut.
Aufar lantas mengumpulkan pakaiannya yang berhamburan di lantai, entah bagaimana caranya Fana melepaskan kain penutup tubuhnya itu? Lantas masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Fana masih pada posisinya ketika Aufar keluar dari bilik kecil itu. Tatapan tajam Aufar sedikitpun tidak membuatnya gentar. Perlahan tapi pasti ia berjalan mendekati Aufar yang masih tidak mengalihkan pandangan darinya.
"Marry me, as soon as possible." Tutur Fana dengan seringai liciknya.
Oh, Tuhaaan..
Cobaan apalagi ini?
"Jangan ngimpi, lu..!" Aufar menabrak tubuh yang menghalanginya, lalu berjalan menuju pintu keluar.
"Baiklah, aku pastikan video itu telah sampai di ponsel Alia sebelum kamu sampai di villa."
DEG
Kalimat Fana berhasil menghentikan langkah kaki Aufar. "****," umpat dokter tampan bernasib malang itu sambil mengusap wajahnya kasar.
Flashback End
***
Mr. Berry dan Husna masih mematung di halaman parkir memandang punggung Delfia yang kian menjauh hingga tak terlihat lagi. Mereka saling bertukar pandang. Husna tampak mengedikan kedua bahunya ketika wajah dosennya ia seperti sedang menagih sebuah jawaban.
Gadis tomboi itu sebenarnya ingin sekali mengklarifikasi masalah sosok wanita yang biasa tertangkap lensa bulatnya sering bepergian bersama sang dosen.
Husna masih berasumsi, antara yakin dan tidak yakin bahwa dosen mudanya itu telah memiliki seorang istri.
"Ehem.." Suara Mr. Berry membuyarkan lamunan Husna.
"Are you okay, doraemon?" Husna menyipitkan sebelah matanya ketika mendengar panggilan khas yang hanya diketahui oleh segelintir orang itu diucapkan oleh Mr. Berry.
"Of course, Sir. But how do you know that I'm a big fan of doraemon?" Tanya Husna menagih jawaban.
"Dari salah satu Penulis Singa.co." Jawab Mr. Berry santai sambil membuang wajahnya ke sembarang arah. Sepertinya ia tidak ingin melanjutkan percakapan ini sebelum Husna mencurigai sesuatu.
"Aku kembali ke Aula dulu, ada seseorang yang menungguku di sana." Mr. Berry pamit dan berbalik arah. Namun ketika jaraknya lumayan jauh dari Husna, ia menghentikan langkahnya dan berbalik arah.
"Doraemon, sampaikan salamku pada Fia." Teriak Mr. Berry. Husna menganggukkan kepalanya kikuk. Ada banyak umpatan dan pertanyaan di dalam hatinya.
Mr. Berry sedikit melirik ke arah Husna setelah mendapatkan isyarat jawaban dari gadis itu, lalu melenggang menjauh menuju Aula.
Bersambung...