I Love You Till Jannah

I Love You Till Jannah
Palembang



Sejak saat itu, Alia sudah tak lagi bersedih dan khawatir akan perkuliahannya. Sekarang ia sudah mulai terbiasa dengan Bahasa Asing itu. Mungkin diawal perkuliahan, Alia merasa dirinya paling bodoh diantara teman-temannya yang lain. Dulu ia sering duduk di baris belakang, datang ke kelas hanya diam, mendengarkan, mengerjakan tugas, dan pulang, sebgitu seterusnya. Tapi sekarang berbeda, Alia sudah lebih bersemangat dan percaya diri.


Hari ini permulaan awal semester lima. Tak terasa sudah dua setengah tahun Alia merantau. Setiap libur semester ia selalu menyempatkan diri untuk pulang ke kampung halaman sekedar untuk melepas rindu kepada keluarganya.


Drrrrrrt..


Handphonenya bergetar, Alia melihat ada panggilan masuk dari nomor yang tidak dikenal. Dengan ragu Alia menerima telepon itu.


"Assalamu'alaik.."


"Wa'alaikslm..ini benar dengan Alia?"


"Iya, saya sendiri. Maaf ini siapa ya?"


"Saya Kak Urai, temannya pak Harry. Apa kamu ingat?"


"Oh, iya ingat kak. Kakak apa kabar?"


"Alhamdulillah baik, kamu gimana kabarnya? Kakak sekarang di Pontianak, ada urusan bisnis. Apa kamu sedang free? Ada hal penting yang ingin kakak bicarakan langsung."


"Kebetulan saya free untuk dua jam kedepan kak. Mau ketemu dimana emangnya?"


"Di Cafe depan RS Bhayangkara ya, kakak tunggu."


"Siap kak"


Setelah menutup telepon Alia pamit kepada Friska untuk menemui Kak Urai. Tadinya Friska merengek mau ikut tapi Alia menjelaskan padanya bahwa ini urusan penting yang hanya akan dibicarakan empat mata saja.


Alia terlihat sedang menuju ke parkiran. Ia mengenakan pakaian batik corak berwarna cokelat, celana kain berwarna hitam dan kerudung orange agak gelap tidak lupa ransel kecil di pundaknya. Sesampainya di parkirana ia mengendarai motornya menuju cafe yang dimaksud kak Urai.


Sesampainya di depan cafe, Alia memarkirkan motornya terlebih dahulu. Mengunci ganda dan meletakkan helmnya di kaca spion. Alia tertegun melihat exterior cafe tersebut, semuanya bertema karamel. Perpaduan warna cokelat dan karamel ditambah pencahayaan lampu berwarna kuning membuat cafe tersebut terlihat elegan.


Ya, Alia jarang sekali menginjakkan kaki ke cafe kecuali ada keperluan mendesak seperti sekarang ini. Alia masuk ke dalam cafe, lagi-lagi ia dibuat kagum dengan interiornya. Matanya menyapu segala sisi, dan akhirnya tertuju pada seorang laki-laki muda di pojok ruangan. Tidak banyak orang yang datang mengunjungi cafe tersebut, sehingga memudahkan Alia menemukan siapa yang sedang ia cari.


"Assalamu'alaik Kak.."


Alia mendudukkan tubuhnya di kursi berhadapan dengan Kak Urai.


"Wa'alaiksalam Al..akhirnya ketemu juga ya, sudah lama kita tidak bertemu, sudah semester berapa kamu sekarang?"


"Iya benar sekali kak, sekarang saya semester lima kak."


"Waaah gak lama lagi dong Al wisuda."


"Aamiin, ngomong-ngomong kakak ada hal penting apa sehingga kakak ingin menemui saya?


"Begini Al, salah satu organisasi pelajar NU akan mengadakan Kongres dua minggu lagi di Palembang, Kakak bermaksud untuk mengajakmu untuk bergabung dengan kami. Kakak yakin pasti kamu mampu mewakili Kalbar."


"Maksudnya, saya sendiri kak?"


"Tidak seperti itu, ada sekitar 8 orang perwakilan dari cabang Kota kita selebihnya juga ada perwakilan dari kota-kota yang lainnya di Kalbar. Kamu tenang aja Al..Selvia adiknya kakak juga ikut kok. Kakak minta kamu mendampingi dia nanti."


"Hmmm...apa harus saya kak? masalahnya saya sekarang terikat pekerjaan part time sepertinya tidak semudah itu bisa pergi apalagi saya tidak bisa meninggalkan perkuliahan begitu saja kak. Apa kata orang tua saya nanti?" Alia tertunduk dan merasa tidak yakin bahwa orang tuanya akan mengizinkan ia pergi.


"Kamu tidak khawatir Al, sebelum menemuimu kakak sudah meminta izin kepada Pak Harry."


Alia mengangkat kepalanya, "Apa ayah mengizinkan kak?"


"Iya, beliau percayakan semuanya pada kakak."


"Asssiiiiik" Alia tertawa kecil sambil menutup mulut dengan telapak tangannya.


"Jadi kamu mau kan Al?"


"Saya coba izin dulu sama boss ya kak, untuk kuliah sepertinya saya akan kehilangan pertemuan selama satu minggu."


"Tidak usah khawatir Al..kamu bisa minta tolong temanmu untuk mengejar ketinggalan materi dan tugas kuliah."


Alia merasa sangat bahagia, jiwa petualangnya mulai kembali menggerogoti jiwanya. Terakhir dia mengikuti event kelas X Aliyah. Setelah itu ia vacum, dan memfokuskan diri pada perkuliahan. Ia juga tidak tertarik untuk bergabung dengan organisasi-organisasi Mahasiswa di kampusnya. Entahlah, sepertinya ia belum menemukan organisasi apa yang cocok untuknya. Sejak di bangku sekolah dasar Alia sudah terbiasa mengikuti acara ataupun kegiatan yang mengajak dirinya untuk berpetualang. Mungkin dengan menerima tawaran Kak Urai Alia bisa berkiprah kembali dalam dunia organisasi.


Satu jam berlalu, tidak terasa mereka berdua sudah berbicara ngalur ngidul. Semua tema dibahas. Alia bertanya beberapa hal tentang organisasi pelajar NU tersebut. Kak Urai memang temannya Ayah Alia tetapi usianya masih terbilang masih muda. Waktu Alia masih duduk di bangku SMA, Kak Urai sering berkunjung ke rumah Alia karena berurusan dengan Ayahnya. Jadi wajar, jika Alia mengenal Kak Urai lebih dekat.


Kak Urai memang sudah lama tertarik pada Alia, tetapi sepertinya Alia tidak menyadarinya bahkan Alia tidak pernah tahu jika Kak Urai pernah melamarnya kepada Pak Harry.


Kak Urai memandang wajah Alia lekat-lekat, wajah yang sama yang pernah membuat hatinya tenang dan sejuk jika memandang wajah itu. Binar kekaguman kembali muncul di wajahnya. Kak Urai tersenyum simpul sambil menggelengkan kepalanya, tidak menyangka bahwa ia akan dipertemukan kembali dengan gadis pujaannya itu.


"Sayang sekali ya Al.."


"Maksudnya kak?" Alia menyerngitkan dahi. tidak faham dengan maksud perkataan Kak Urai.


"Sayang sekali kamu tidak bisa menjadi istriku Al.." Gumam Kak Uray di dalam hati.


"Eeeh..maksudnya sayang sekali sudah lama kita kenal baru kali ini bisa bertemu berdua seperti sekarang ini."


"Haha, kakak ini kenapa? memangnya ada yang salah ya kak selama ini?"


"Gak ada kok Al..hehe"


"Kakak bakal lama ya di Pontianak?"


"Kenapa Al? pengen dekat-dekat kakak terus ya?"


"Iiiisss Kakak ini apa-apaan sih, gak lucu"


"Becanda Al..."


"Ya sudah kak, kalau tidak ada yang ingin dibicarakan lagi. Saya kembali ke kampus dulu ya," Pamit Alia. Ia tidak ingin ketinggalan mata kuliah selanjutnya.


"Baiklah Al..hati-hati ya, nanti malam kalau gak sibuk kakak jemput ya kita makan malam di luar gimana?"


"Nanti dikabari via sms ya kak, saya pamit dulu Assalamu'alaik.."


Alia beranjak dari duduknya, begitu pula Kak Urai. Sebenarnya Ia ingin sekali mengantar Alia ke kampus tapi dia yakin Alia pasti menolaknya apalagi Alia mengendarai motornya sendiri.


Kak Urai memandangi punggung Alia yang semakin jauh darinya. Ia menghembuskan nafas lega, ia merasa bahwa kesempatan yang ia tunggu-tunggu berada di depan mata. Kesempatan untuk mendapatkan hati Alia.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


kesempatan untuk like dan komen juga terbuka lebar kok man temaaan💞 Terima kasih🙏🙏🙏