I Love You Till Jannah

I Love You Till Jannah
Tersulut Emosi



Sejak hari itu mereka berkomitmen untuk menjaga kepercayaan satu sama lain. Bahagia saat bertemu dan merindu saat terpisah jarak.


Pekerjaan Aufar yang menuntutnya tidak bisa stay pada satu tempat membuat mereka harus menahan rindu. Namun semua itu mereka jalani dengan saling mendukung satu sama lain.


Tak jarang Alia menangis karena menahan rindu yang sudah menggunung. Tetapi Aufar sebisa mungkin menguatkannya dan selalu memotivasi Alia.


Hubungan yang mereka jalin ini terbilang backstreet karena Alia tidak pernah memberitahu keluarganya tentang status hubungannya tersebut. Aufar menyadari bahwa memang belum waktunya ia menghadap orang tua Alia.


Berhubung Alia masih belum menyelesaikan pendidikannya, ia harus bersabar dan menahan diri sampai waktunya tiba.


***


Di sebuah ruang kerja di cafe ternama, terlihat seorang laki-laki tampan yang wajahnya sedang dikuasai amarah. Pria itu sedang memandang beberapa lembar foto yang baru saja diserahkan oleh orang kepercayaannya.


Ya, itu Kak Urai. Dia benar-benar tersulut emosi. Tangannya gemetar dan dadanya sesak menahan amarah. Namun karena tak mampu menahan emosinya, akhirnya ia berteriak dan menyapu semua barang di atas meja kerjanya.


"Aaaaargh....Aliaaaaa....."


Beberapa menit kemudian, pintu ruangannya terbuka. Yuna, sekretaris Kak Urai yang ketika itu masuk ke ruangan ingin mengetahui apakah gerangan yang terjadi?


Selama bekerja dengan Kak Urai ia tidak pernah mendengar Boss nya itu marah apalagi sampai memporak porandakan meja kerjanya.


"Ma-maaf pak, ada apa ini? Kenapa bapak terlihat sangat marah? Ada yang bisa saya bantu pak? A-apa pekerjaan saya ada yang salah?"


Kak Urai masih tak bergeming, ia menundukkan kepalanya sambil berdiri di samping mejanya. Kedua tangan diletakkan diatas meja menopang tubuhnya.


"Apa salahku Yun? Apa aku kurang baik memperlakukan dia? Apa aku benar-benar tidak pantas untuknya? Sehingga ia lebih memilih laki-laki lain?"


Kak Urai berteriak dan membombardir Yuna dengan pertanyaan yang Yuna sendiri mulai menangkap arah pembicaraan bosnya tersebut.


Sejak awal Yuna juga sudah tahu bahwa boss nya itu sangat mencintai Alia. Bahkan tidak jarang Kak Urai berbagi cerita tentang Alia kepadanya. Ia tidak keberatan. Walaupun sebenarnya ia juga menaruh hati kepada laki-laki yang sudah lima tahun menjadi atasannya itu.


"Ma-maaf pak, ma-maksud bapak Alia ya? Apa yang kali ini ia lakukan sehingga membuat bapak seperti ini?"


Yuna tidak kuasa melihat laki-laki yang dicintainya itu bersedih seperti ini. Sungguh ingin sekali ia menemui Alia dan membawanya ke ruangan itu agar Alia menyaksikan betapa hancurnya seorang Urai Abdillah karena ulahnya.


Yuna geram. Ia gelisah dan bingung harus berbuat apa agar bisa mengobati kesedihan Kak Urai. Akhirnya ia memberanikan diri untuk mendekati Kak Urai dan menyentuh bahunya.


"Pak..."


Merasa mendapat perhatian, tanpa disadari Kak Urai berbalik memeluk erat tubuh ramping Yuna. Yuna sangat terkejut dengan respon dari Kak Urai.


Yuna menyadari bahwa pelukan mereka kali ini bukan atas dasar Kak Urai mencintainya tapi karena laki-laki itu sedang berada pada titik lemahnya.


Saat ini ia membutuhkan bahu Yuna untuk bersandar. Melepaskan semua kesedihan dan mengusirkan beban hati yang melandanya.


Terlepas dari hal tersebut, Yuna tetap bahagia. Akhirnya ia bisa merasakan kehangatan dekapan laki-laki impiannya itu. Walaupun hati laki-laki itu bukan untuknya, tapi tak apa memeluknya saja sudah cukup membuatnya bahagia.


"Apa yang kurang dariku Yun? Kenapa dia tidak bisa melihatku sedikit saja? Mengapa dia tidak merasakan bahwa aku sangat mencintainya?"


Yuna merasakan kemejanya basah. Sepertinya Kak Urai sedang menangis. Tanpa diminta ia membalas pelukan Kak Urai tak kalah eratnya. Mencoba mentransfer kekuatannya kepada Kak Urai. Seolah-olah mengatakan bahwa ia akan selalu ada untuk Kak Urai dalam suka maupun duka.


"Aku tidak pernah memandang wanita lain karena aku sangat menjaga hatiku untuknya, Yun. Tidakkah ia bisa melihat betapa besar cinta untuknya di mataku? Haruskah aku merebut dan memaksanya agar ia menjadi milikku seutuhnya?"


Kak Urai terus saja meluapkan emosinya. Tanpa direspon sedikitpun oleh Yuna. Ia tahu bahwa Kak Urai tidak memerlukan solusi apapun darinya. Ia hanya membutuhkan seseorang untuk mendengarkannya. Ya, ia bahagia menjadi pendengar Kak Urai.


Tak terasa mereka cukup lama berada di posisi berpelukan. Yuna tidak ingin melepaskan pelukannya hingga Kak Urai mendapatkan kembali pikirannya yang sempat berkabut.


Kak Urai meregangkan pelukannya dan berbalik arah membelakangi Yuna. Bukannya karena benci, tetapi karena ia merasa malu bagaimana ia bisa menunjukkan sisi lemahnya kepada wanita yang bekerja sebagai sekretarisnya itu.


"Ma-maaf..."


Setelah beberapa lama terdiam, hanya kata itu yang mampu keluar dari bibir manisnya. Yuna bisa memahami atasannya itu sedang dikuasai rasa malu. Ia tersenyum kecil.


"Apa bapak memerlukan sesuatu?" Yuna mencoba menguasai diri dan mencairkan suasana beku diantara mereka.


"Tidak, terima kasih. Kamu boleh keluar." Kak Urai berkata dengan tegas. Kharisma dan wibawanya kembali.


"Apa bapak yakin?" Tanya Yuna memastikan.


Yuna yang memahaminya langsung berbalik arah menuju pintu keluar. Ketika sampai di muka pintu, ia membalikkan tubuhnya menatap kembali Kak Urai yang masih membelakanginya.


Kemudian ia mengalihkan pandangannya ke beberapa lembar foto yang berserakan di lantai. Ya, foto Alia dan Aufar di sebuah cafe dekat pelabuhan tempo hari.


Ia melihat banyak sekali foto yang diambil dalam pose yang berbeda. Sepertinya orang suruhan Kak Urai yang mengambil foto itu, batin Yuna.


Dalam foto itu Alia dan seorang Pria yang tidak Yuna kenal itu terlihat sangat akrab dan bahagia. Wajar saja Kak Urai merasa sakit hati. Apalagi melihat tatapan Alia kepada pria itu sangatlah berbeda. Tatapan penuh cinta.


Setelah itu, Yuna mengalihkan tatapannya kembali ke pada Kak Urai. Ingin rasanya ia bertanya langsung, tetapi ia urungkan.


Yuna berpikir, jika ia membahas foto itu lagi bukannya membantu Kak Urai keluar dari lubang kesedihan tetapi malah bisa merusak mood nya kembali.


Kak Urai yang menyadari bahwa Yuna masih memperhatikannya dari muka pintu cepat-cepat membuyarkan lamunan wanita itu.


"Tinggalkan aku sendiri Yun.." Lagi-lagi suaranya terdengar dingin. Laki-laki yang tadi terlihat rapuh itu sudah berubah menjadi sosok yang beku sebeku es batu🤭.


Yuna menghunuskan hidungnya dan menggerutu kecil. "Tadi aja nangis-nangis di bahuku dengan melow nya, sekarang eeeh dingin lagi. Dasar si boss tampan." Yuna terkekeh menggeleng pelan dan keluar dari ruangan itu.


Setelah pintu ruangannya ditutup kembali, Kak Urai mendudukkan tubuhnya di kursi kerjanya. Kedua tangan menyapu wajahnya kasar. Tatapannya memandang langit-langit ruangan itu. Ia terlihat sangat frustasi. Lagi-lagi pikirannya kembali mengingat Alia.


"Alia...Alia...haruskah aku melakukannya?"


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Melakukan apa kakak tamvaaaan? Semangat yaaah


Gengs, nih aku kasi bonus foto yang bikin Kak Urai tersulut emosih🤭 Apa kalian ikutan emosi???😁