I Love You Till Jannah

I Love You Till Jannah
S2 Memalukan



Cuaca cerah di siang hari diiringi deburan ombak dari gulungan-gulungan besar hingga terhempas menjadi buih-buih putih di tepian pantai. Semilir angin yang meniup mesra suasana hati menambah romantisme ritual pengisian energi batin di siang ini.


Pulau Cinta, dimana Alia dan Aufar masih dalam nuansa honey-honey mereka. Sudah dua hari sejoli itu berada di pulau ini. Lusa mereka akan kembali ke Surabaya untuk menyiapkan perjalanan berikutnya yaitu menghadiri pernikahan Isni, sahabat Alia.


Sepasang kekasih halal itu baru saja selesai membersihkan diri masing-masing, seusai melaksanakan ritual pergumulan entah yang keberapa kalinya. Alia sudah tidak bisa menghitung lagi frekuensinya. Si dokter tampan suaminya itu ternyata maniak juga. Oh, Aufar..


Seusai mandi mereka bersantai ria menikmati camilan dan es kelapa susu yang sudah disediakan oleh si penjaga Villa sambil menonton serial kartun kesayangan Aufar.


Ketika sedang bersenda gurau sambil mengaitkan tangan satu sama lain, terdengar suara langkah kaki dari pintu masuk.


"Permisi, selamat siang, Tuan Muda, Nyonya Muda." Sapa Pak Ketut yang diekori oleh seorang wanita muda dibelakangnya. Sepertinya wanita itu putri dari Pak Ketut. Kalau dibilang istrinya, wanita itu terlihat masih sangat muda.


Tanpa mengomentari hal itu, Aufar dan Alia menyapa balik kedua orang yang Aufar ketahui sebagai penjaga villa.


"Selamat Siang, Pak.." Sapa mereka serentak dengan senyuman hangat khas manten anyar.


"Syukurlah Bapak di sini, saya minta tolong beresin kamar tidur ya, Pak." Pinta Aufar dengan sopan dan santun.


"Baik, Tuan.." Tanpa berlama-lama keduanya pamit undur diri, menuju kamar tidur.


Sesampainya di sana. Ayah dan anak itu terlihat tersentak alias terkejut dengan kondisi si kamar tidur. Bagaimana tidak? Pemandangan kamar seperti kapal pecah terpampang nyata di hadapan mereka. Bantal dan guling berserakan di lantai. Selimut sudah terkapar lecek di muka pintu. Penyangga kelambu yang terbuat dari kayu jati dan terpasang pada empat sisi di atas tempat tidur, patah sia-sia berhamburan di atas ranjang.


Pak Ketut dan putrinya terlihat saling melempar pandang, menggelengkan kepala pelan seiring senyuman tipis menyeringai di bibir keduanya.


"Ini tidak jauh berbeda dengan scene bulan madu dalam film Twilight Saga." Gumam Pak Ketut sambil meraih selimut yang terkulai lemas di depan kakinya.


"Sssst, Bapa..nanti kedengaran orangnya loh." Lirih sang putri sambil menepuk lembut pundak Ayahnya.


Made Puspita, gadis yang berusia dua puluh tahun itu terpaksa membantu sang Ayah menjaga Villa ini demi kelangsungan hidup mereka dan biaya pendidikannya. Sejak usianya menginjak sepuluh tahun, sang Meme (Ibu dalam bahasa Bali) telah meninggal dunia karena penyakit kanker getah bening yang dideritanya.


Setiap seminggu sekali Made menemani Ayahnya untuk membersihkan Villa ini, namun di saat Villa digunakan seperti sekarang, maka mereka akan menetap di sini sampai si pengunjung telah menyelesaikan gawainya.


"Kamu siapkan makan siang aja, Nak. Biar Bapa yang membereskan kamar ini!" Instruksi Pak Ketut yang diikuti anggukan kepala oleh sang putri.


Made berjalan menuju dapur dan menyiapkan menu makan siang special untuk Tuan dan Nyonya Mudanya. Ia membuat beef steak dengan potongan kentang goreng dan jagung kukus yang telah diserut. Ada juga beberapa potongan buncis dan wortel untuk melengkapi kandungan vitaminnya. Saos barbeque ala Made sangat berbeda dengan saos barbeque yang biasa dibuat oleh chef-chef papan atas negara ini. Made menambahkan sedikit mayonaise ke dalam saos buatannya agar menambah cita rasa khas yang bisa memanjakan lidah siapapun yang menikmatinya. Sangat cerdas!


"Beres.." Ia menata dua piring itu di atas meja makan, disandingkan dengan segelas jus jeruk pada masing-masing piring.


Setelah dirasa semuanya telah siap, Made segera menghampiri Aufar dan Alia. Namun sesampainya di ruang tengah, Made dibuat terkejut dengan pemandangan dua insan yang saling bertaut bibir dengan mesranya.


Gadis itu spontan membalikkan tubuhnya, dan mengutuk dirinya sendiri karena telah melakukan tindakan yang kurang sopan walaupun tak disengaja.


"Ma..maaf Tuan, Nyonya..makan siangnya sudah siap." Ia berlalu meninggalkan ruangan itu, menghampiri Ayahnya yang masih berjibaku dengan pekerjaan tadi.


Alia merasa sangat malu, sementara Aufar terlihat biasa-biasa saja.


"Tuh kan aku udah bilang di sini lagi ada orang, Mas.." Kedua pipi chubby itu merona merah bak kepiting rebus. Ia mendorong mesra dada bidang sang suami, menciptakan jarak di antara keduanya.


''It's okay, Sayang. Mereka juga faham kok." Seringai menggoda khas Aufar tersungging sempurna di sudut bibir sensualnya.


"Tapi kan aku jadi malu." Alia menutup wajah dengan kedua telapak tangannya.


"Sudahlah, ayo kita makan siang. Aku sudah lapar sekali." Aufar menarik lembut pergelangan tangan sang istri dan merangkul tubuh mungil itu dari samping.


"Jangan begitu, Mas. Nanti mereka lihat."


"Sssssst...."


Tak ada lagi penolakan ataupun kalimat protes dari bibir Alia. Memasrahkan diri, manut dan patuh kepada suami adalah hal yang terbaik. Perlahan Aufar menggiring tubuh sang istri hingga tiba di meja makan. Lelaki tampan dengan seribu pesona itu menarik salah satu kursi untuk sang permaisuri.


Dengan senyuman hangat, Alia mendudukkan tubuhnya anteng di atas kursi, lalu Aufar duduk di kursi yang berhadapan dengan Alia. Mereka menikmati makan siang di meja makan yang berada di balkon samping dengan pemandangan pantai dan hembusan angin mesra pulang cinta.


"Jalan-jalan yuk.."


Diraihnya tangan mungil nan halus itu dalam genggamannya. Tanpa adanya penolakan si empunya mengekori langkah sang suami mengeksplore pulau kecil milik Papa Mertuanya itu.


***


Di seberang pulau nun jauh di sana, Isni dan Kak Urai sedang melaksanakan ritual persiapan pernikahan mereka. Ritual ini dikenal dengan istilah 'tangas' dalam bahasa setempat. Dimana tubuh sang calon pengantin di bungkus dalam sebuah tikar pandan. Sedangkan bagian atasnya ditutup dengan selembar kain hingga tak ada celah yang tersisa. Pengap!


Di dalam tikar itu sudah tersedia sebuah panci besar yang berisi air rebusan kembang tujuh rupa dan beberapa campuran lainnya yang beraroma wangi. Mereka diharuskan mengaduk air yang bersuhu panas itu dalam waktu dua puluh hingga tiga puluh menit.


Ritual ini bertujuan untuk mengeluarkan keringat-keringat kotor yang terdapat dalam tubuh calon pengantin, sehingga pada hari H, keringat yang keluar dari tubuh mereka tidak lagi keringat yang berbau tidak sedap.


Hal itu dilakukan selama tiga hari. Hari ini adalah hari pertama mereka. Bagi Isni, ini bukanlah hal yang baru, karena ia pernah merasakan ritual ini ketika kakaknya akan melangsungkan pernikahan. Namun berbeda dengan Kak Urai, hal ini sungguh membuatnya jengah hampir tak bisa bernafas.


"Huffft....aku enggak bisa nafas ni, apa enggak bisa dibuka aja sebentar penutup atasnya?" Protes Kak Urai dengan nafas tersengal-sengal.


"Relax, Kak.." Isni mencoba menenangkannya. "Kalau Kakak banyak gerak malah akan mengurangi energi Kakak dengan cepat." Jelas Isni sambil mengaduk air bunga itu.


"Kamu kok bisa kuat sih?" Tanya Kak Urai.


"Aku pernah melakukan ini sebelumnya." Jawab Isni tanpa mengalihkan pandangannya.


"What? Maksudmu, kamu pernah nikah sebelum ini?" Kak Urai salah kaprah.


"Haha..Kakak ada-ada aja. Maksudku, aku pernah ikut bertangas waktu pernikahan Kak Verni.


"Oh..aku kira kamu udah janda." Ejek Kak Urai di sela-sela tarikan nafasnya yang semakin pendek.


"Udah mau habis nafas juga, masih bisa ngejek gitu. Aku masih segel lah, Kak.." Isni mengerucutkan bibirnya dengan air muka yang bersungut manja.


"Aha...cup cup cup, aku kan cuma becanda Is, ntar cantiknya terbang bersamaan dengan uap ini loh." Rayu Kak Urai dengan gombalan level satu.


"Ah, enggak mempan."


"Yakin?"


"Ho'oh.."


"Jadi?"


"Enggak jadi.."


"Nikahnya enggak jadi?"


"Iiiiih Kak Uraaaaai...." Isni memukul-mukul tubuh calon suaminya yang bertelanjang dada dengan kayu yang ia gunakan sebagai pengaduk air bunga tadi.


"Aduh, aduh...panas loh Is..." Kak Urai meringis kepanasan.


"Ah, biarin.."


Keduanya lantas tertawa disela-sela ritual wajib yang masih menyiksa bagi Kak Urai. Kemudian tak terasa tiga puluh menit berlalu begitu saja, dan mereka keluar dari lingkar neraka yang berhasil membuat kepala Kak Urai oleng sempurna.


Sesaat setelah keluar dari lingkaran tikar pandan itu, dan...


BRUUKK...


Tubuh Kak Urai ambruk di lantai tak sadarkan diri, membuat Isni dan beberapa orang yang menjaga ritual itu tersentak dan memekik kecil dalam kebut kepanikan.


Bersambung..