I Love You Till Jannah

I Love You Till Jannah
S2 Rubah Kecilku



Pagi cerah sudah menyapa, tidak ada yang terjadi antara pasangan halal itu. Mereka melewati malam panjang hanya dengan tidur bersama saling memeluk tubuh satu sama lain.


Setelah membersihkan diri dan sarapan, sepasang pengantin baru itu memutuskan untuk kembali ke apartemen Aufar. Semua anggota keluarga besar sudah berkumpul di sana untuk menyambut kedatangan mereka, baik dari keluarga Aufar maupun Alia.


Mobil yang dikendarai Aufar terparkir sempurna di basement gedung pencakar langit itu. Ketika tiba disana, Alia mengerutkan dahinya memandang ke arah Aufar yang sudah melepas sabuk pengaman dari tubuhnya. Timbul pertanyaan dibenak wanita bermata bulat itu, mengapa Aufar membawanya ke gedung apartemen yang selama ini ia tempati?


"Ayo, Sayang.." Ajaknya sambil membukakan pintu mobil untuk Alia. Entah sejak kapan laki-laki itu keluar dari mobil. Namun Alia tak bergeming, membuat Aufar membungkukkan badannya sedikit agar sejajar dengan kepala sang istri.


"Sayang..ada apa?" Tanya Aufar penasaran.


"Kenapa kita kesini, Mas?" Alih-alih menjawab pertanyaan suaminya, Alia malah melemparkan pertanyaan balik dengan wajah penuh selidik.


"Loh..bukannya tadi aku udah bilang kalo kita akan menemui keluarga besar?" Aufar menatap istrinya penuh keheranan. Sepertinya dokter tampan ini belum menyadari bahwa istrinya tidak mengetahui jika selama ini mereka tinggal di dalam gedung yang sama.


"Maksudmu Mereka semua berada di dalam gedung ini?" Tanya Alia memastikan kembali.


Aufar terdiam, sejenak mulai menyadari bahwa ia telah melupakan sesuatu. Kenyataannya adalah Alia tidak mengetahui jika Aufar juga memiliki unit apartemen di gedung ini. Ia menelan salivanya dengan susah payah. Menatap ragu wajah Alia yang sudah


mulai mencurigainya.


"Sayaaaang..." Panggilan penuh sihir itu selalu dilayangkannya sebagai senjata peluluh hati sang istri. Perlahan ia duduk berjongkok di hadapan Alia yang masih anteng di kursi mobil.


"Ayo kita masuk, pasti mereka udah nungguin kita." Bujuknya lagi sambil menggenggam telapak tangan sang istri sambil memberikan kecupan-kecupan kecil penuh kasih. Tatapannya yang dibuat sesendu mungkin seperti seekor kucing yang sedang meminta belas kasihan. Sumpah, diperlakukan seperti itu membuat Alia hilang akal, hatinya melting alias meleleh. Kedua pipi chubby itu perlahan merona merah bak diolesi blash on dengan harga exclusive.


Entah bagaimana ceritanya, Alia terlihat mangut-mangut saja merespon ajakan sang suami. Lalu ia bangkit dari duduknya. "Yup, berhasil...!!!!" Batin Aufar.


Jurus pertama saja sudah bikin hati istrinya klepek-klepek. Berarti untuk hari ini ia bisa menghemat jurus merayu. Duh, sepertinya dokter tampan itu semakin lihai saja dalam hal ini. Perlahan satu persatu tirai kelemahan Alia sudah bisa ia buka.


"Ayuk, Mas..." Alia bergelayut di lengan kekar sang suami. Kemudian mereka berjalan beriringan menuju pintu masuk. Tentunya setelah menutup pintu mobil Aufar dan menguncinya.


Ketika tiba di lobby, mereka memasuki salah satu lift. Kebetulan saat itu tidak ada orang lain yang menggunakan jasa kotak berjalan itu. Sehingga timbul pemikiran usil di benak Aufar.


Di saat pintu lift sudah tertutup, laki-laki itu tersenyum usil menatap Alia penuh makna. Alia tersentak saat menyadari tubuh atletis suami tampannya itu telah menghimpitnya perlahan sehingga menempel sempurna pada tembok.


Aufar mengunci tubuh mungil Alia dengan kedua lengan kekar di sisi kanan dan kiri kepalanya. Alia bergeming, ia menengadahkan kepalanya keatas untuk bisa menatap wajah tampan sang suami. Posisi ini sangat menguntungkan bagi Aufar, karena ia bisa dengan leluasa menatap wajah ayu sang istri. Sejenak tatapan mereka bertemu, terkunci bagai tak ingin berpaling.


Dalam jarak yang sedekat itu, Aufar baru menyadari bahwa Alia memiliki pesona yang sangat menggairahkan. Gejolak kelaki-lakiannya menghujam begitu saja bagai tersengat belut listrik. Ia memejamkan matanya sejenak, mencoba menguasai diri, mengembalikan kembali pikirannya yang telah berkabut gairah. Ia kembali mengingat bahwa Alia menginginkan hubungan mereka berjalan secara perlahan. Namun perasaan apa ini? Kenapa manik mata itu sangat menggoda? Sepertinya Aufar sudah terjerumus ke dalam permainannya sendiri. Alih-alih ingin menggoda Alia, dia sendiri malah yang menjadi korbannya.


Perlahan tapi pasti, Alia mendorong tubuh kekar suaminya dengan lembut di saat pintu lift sudah terbuka lebar. Senyuman kemenangan tersungging dibibir manisnya. "Sepertinya kali ini senjata makan tuan ya, Mas?"


Bisik Alia lembut di telinga Aufar, membuat laki-laki itu membuang muka sambil tersenyum menghalau rasa malu.


"Rubah kecilku.." Lirih Aufar yang masih mengulum senyuman, lalu keluar dari kotak berjalan itu menuju unit miliknya.


Ketika telah tiba di depan pintu, Alia menarik lembut tangan sang suami yang hendak menekan tombol passcode.


"Ini unit milikmu, Mas?" Tanya Alia dengan mimik penuh selidik.


"Iya, Sayang...kenapa?" Lagi-lagi Aufar pura-pura amnesia.


"Sejak kapan kamu tinggal di apartemen ini? Pertanyaan selanjutnya, nada suara wanita itu sudah naik satu tingkat.


"Sejak mengikuti pendidikan profesi, aku sudah tinggal disini, Sayang. Kamu kenapa sih?" Aufar merangkum wajah pemilik pipi chubby nan menggemaskan itu.


"Berarti selama ini kita tinggal dalam satu atap?" Suara Alia perlahan melemah, wajahnya tampak sendu dan tertunduk. Aufar menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan. Ia mulai mengerti kemana arah pembicaraan sang istri. Lalu ia kembali merangkum wajah sendu itu ke dalam genggamannya.


"Sayang...maaf ya, bukannya aku tidak ingin menemui mu..aku hanya takut kalau kamu tidak ingin bertemu denganku saat itu. Aku benar-benar kehilangan kepercayaan diriku sejak hari dimana kamu menyuruhku untuk pergi dan melupakan namamu. Sejujurnya aku selalu menantikan hari dimana aku bisa menatap wajahmu sedekat ini, Sayang.." Aufar memberi jeda pada kalimatnya.


"Maafkan aku, karena selama ini terlalu pengecut. Seharusnya aku menjemputmu sendiri di bandara waktu itu, mengantarmu ke apartemen dan menemanimu ke kampus tanpa harus melibatkan Jimmy," sesal Aufar. Ia meraih tubuh mungil itu ke dalam dekapannya. Menghujani pucuk kepala sang istri dengan kecupan-kecupan kecil penuh cinta. Raut penyesalan terpampang nyata tak terhingga menyebabkan kedua sudut matanya basah.


"Aku mengerti, Mas..." Hanya kalimat itu yang bisa Alia ucapkan. Ia lebih nyaman berdiam diri, menerima transferan kehangatan dan menghirup aroma tubuh maskulin suaminya. Sungguh menenangkan.


Kedua love birds itu larut dalam dekapan asmara yang mereka sendiri tidak ingin terlepas dari keindahannya. Hingga tanpa mereka sadari, pintu apartemen itu terbuka lebar menampakkan sosok Alan yang berdiri tercengang di muka pintu.


"Astaghfirullah..kalian berdua sudah menodai mata polos ku ini." Alan menutup wajahnya dengan sebelah tangan namun ia meregangkan sela-sela jarinya.


Mendengar penuturan sang adik, Alia dan Aufar terkekeh kecil dan perlahan melepaskan pelukan mereka.


"Kalau ingin menutup wajah itu yang ikhlas dek, jangan setengah-setengah." Ejek Aufar yang menghadiahkan tonjokan manja di bahu sang adik ipar.


"Abisnya Kalian berdua tidak sopan sih, berpelukan di tempat umum seperti ini. Bahaya tau, Kak." Cebik Alan sambil mendaratkan sebelah tangannya ke paha.


"Kok kamu bisa tahu kalau kami sudah tiba disini, dek?" Tanya Alia yang pipinya sudah merona menahan malu. Ia berusaha mengalihkan perhatian adiknya yang masih dibawah umur itu.


"Aku kan punya telepati yang kuat, Kak. Apa kakak sudah lupa?" Tutur Alan yang sudah menyilangkan kedua lengannya di atas perut.


"Iya iya..kakak lupa." Alia mengiyakan saja perkataan adiknya, berharap percakapan itu cepat berakhir.


"Apa maksud kalian?" Aufar yang dari tadi mendengarkan percakapan diantara kakak beradik itu, mulai tertarik dengan topik yang baru saja ia dengar.


"Sudah, sudah, Mas..gak usah dilanjutin. Lupain aja ya.." Pinta Alia agar Aufar menyudahi percakapan ini. Alan menyipitkan sebelah matanya karena mendengar kalimat sang kakak.


"Kakak takut aku membuka rahasia kakak kepada Kak Aufar ya?" Alan menaik-naikkan kedua alisnya menatap Alia dengan senyuman menggoda menyeringai di kedua sudut bibirnya. Alia melototkan kedua bola matanya ke arah Alan berharap agar sang adik menghentikan permainan ini. Bukannya takut, Alan malah melanjutkan kalimatnya.


"Kak Aufar, sebenarnya Kak Alia itu......."


Bersambung