I Love You Till Jannah

I Love You Till Jannah
Kejutan



Alia sudah bersiap-siap untuk kembali ke rantauan. Kali ini ia lebih bersemangat karena di seberang sana ada sosok terkasih yang sangat ia rindukan.


Seperti sebelumnya ia kembali ke kota khatulistiwa itu mengendarai sepeda motor bersama Isni dan Kak Verni. Perjalanan mereka memakan waktu satu malam menaiki kapal penyeberangan.


Setelah tiba di pelabuhan, mereka langsung memacu kendaraannya menuju rumah kontrakan. Alia membuka pintu rumah dengan kunci cadangan yang disematkan pada gantungan kunci motornya.


Ceklek...


Pintu terbuka. Mereka bertiga masuk dan membereskan rumah yang sudah mereka tinggalkan sejak dua minggu yang lalu.


Alia dan Isni membersihkan kamar mereka. Sedangkan Kak Verni membersihkan kamarnya sendiri. Selain itu, dapur, kamar mandi, dan juga ruang tamu tak luput dari tangan ahli mereka.


Setelah selesai membersihkan rumah, mereka istirahat sejenak sambil menonton televisi bersama sebelum lanjut memasak untuk makan siang.


"Al...mau masak apa?" Tanya Kak Verni sambil mengunyah keripik yang tadi mereka bawa dalam perjalanan.


"Terserah Kakak aja deh, junior ngikut, hehe." Alia nyengir memberi kode meminta Kak Verni yang menjadi koki siang ini.


"Iya Kak, terserah senior,, junior manut." Sambung Isni.


"Huuush..Kakak nggak nanyain kamu kok." Kak Verni mengerlingkan matanya menggoda sang adik.


"Hemmmm ternyata gitu ya, baru juga nyampe sini udah berubah jadi ibu tiri." Cebik Isni sambil mengerucutkan bibirnya.


Alia yang melihat tingkah lucu The Sisters itu sontak menggeleng pelan sambil tersenyum.


"Memangnya waktu di kampung Kak Verni bersikap seperti apa Is?" Alia yang penasaran tak bisa menahan tawanya melihat wajah Isni yang semakin ditekuk.


"Kalau di depan Mama dan Papa sikapnya kayak Ibu Kandung Al...baiiiiiik,,maniiiiis banget. Sekarang aja keluar aslinya." Isni masih terus saja mengeluarkan kekesalannya kepada sang Kakak.


"Cup...cup..cup...adik Kakak yang cantik mau makan apa? Biar Kakak masakin." Kata-kata Kak Verni bagaikan sihir yang mengubah wajah cemberut Isni menjadi berseri.


"Beneran Kak? Gitu dooooong. Aku mau dimasakin ayam kecap sm sayur sop ya, Kak. Emmmmm yummy." Isni sepertinya tidak sabar lagi ingin menyantap menu yang ia request.


"Dasar tukang makan.." Sewot Kak Verni mengacak rambut adiknya. Lantas ia berlalu menuju dapur.


"Naaaah kan nggak ikhlas gitu." Isni cekikikan melihat tingkah Kakaknya. Walaupun mereka sering berdebat tetapi mereka tetap saling menyayangi. Alia sangat salut kepada Kak Verni yang selalu menjaga, mengayomi, dan menjaga dia seperti adiknya sendiri.


Ketika sedang menunggu menu masakan special ala Kak Verni, tiba-tiba ponsel Alia berdering. Ia mengambil ponsel yang tergeletak tidak jauh darinya itu.


Wajahnya terlihat berseri-seri. Gurat kebahagiaan terpampang jelas di kedua manik mata bulat itu.


"Kamu kenapa Al? Senyum-senyum sendiri?" Isni yang melihat perubahan drastis wajah sahabatnya itu membuat ia menaikkan salah satu alisnya, keheranan.


"Ssssst...jomblo dilarang tau." Alia mencubit pipi tirus Isni kemudian bangkit dan berlalu menuju kamar.


"Assalamu'alaikum Mas..." Tersenyum lebar membuat suaranya terdengar lantang dan menggebu-gebu.


"Wa'alaikumsalam sayangku, kok kedengarannya girang banget?"


"Mas maunya aku nangis-nangis gitu ya?"


"Ya, nggak gitu juga sayang, pasti ada sesuatu nih. Nggak mau cerita?"


"Nggak ah, ntar mas bahagia." Alia menahan tawanya.


"Maksudnya? Sayang gak suka kalau Mas bahagia?"


"Ya, nggak gitu maksudnya." Alia masih menggoda Aufar.


"Iya, terus apa sayang? Jangan bikin Mas penasaran deh.."


"Mas bisa cari tahu sendiri." Alia memutus sepihak panggilan suara Aufar dengan maksud menggoda Aufar. Namun setelah ia tunggu-tunggu Aufar tak kunjung menelponnya kembali.


"Yah...segitu aja. Tahu gitu tadi nggak dimatiin. Iiiih..." Cebik Alia, ia merasa kesal sendiri. "Telepon balik nggak ya?" Batinnya.


Sekitar lima belas menit kemudian terdengar ketukan pintu. Isni yang masih setia di depan televisi, akhirnya bangkit dan mengintip dari jendela depan. Ia membulatkan matanya sempurna, kemudian berlari ke kamar menyusul Alia.


"Kamu kenapa Is? Kayak dikejar hantu aja." Alia yang masih kesal dengan Aufar tadi lantas menyerngitkan dahinya.


"I...itu Al...itu..." Suara Isni tercekat tidak bisa melanjutkan kalimatnya.


"Apa sih Is...?" Tanya Alia kembali.


"Se-sebaiknya kamu pakai kerudung. Temui itu...temanmu yang waktu itu." Isni menggoyang-goyangkan bahu Alia.


"Ya udah, tenang ya. Biar aku yang buka pintu." Alia memakai kerudungnya lalu keluar dan membuka pintu.


Ceklek....


"Ma--mas Aufar..."


"Kejutan sayang..." Aufar tersenyum ternyata usahanya tidak sia-sia. Ia sengaja tidak memberitahu Alia bahwa jadwal kapal dipercepat sehingga bertepatan dengan kembalinya Alia ke kota itu.


"Bagaimana bisa? Bukan seharusnya besok Mas baru nyampe sini ya?" Alia masih kebingungan.


"Sampai kapan kamu mau interogasi aku di depan pintu, sayang? Nggak mempersilakan aku masuk dulu?" Aufar mengalihkan topik pembicaraan Alia.


"Eh, iya Mas, maaf...silakan masuk Mas." Alia mempersilakan Aufar duduk lalu ia pergi ke dapur untuk membuatkan teh manis untuk Aufar.


"Siapa yang datang Al?" Tanya Kak Verni yang masih sibuk dengan ayam kecapnya. Ia sudah selesai memasak sop ayam permintaan adik tersayangnya.


"Temen Kak, waaah aromanya wangi sekali. Aku jadi laper Kak." Alia mengendus aroma masakan yang menggoda indera penciumannya itu.


"Ntar, belum selesai. Sekalian ajak temenmu makan ya." Kak Verni melanjutkan kembali aksinya.


Setelah selesai membuat teh, Alia kembali menemui Aufar dan meletakkan cangkir berisi teh manis itu di depan Aufar. Di rumah kontrakan mereka tidak ada sofa, jadi ruang tamunya lesehan saja.


"Mas, belum jawab pertanyaanku." Alia menatap tajam manik mata Aufar seakan menagih jawaban, ditambah lagi kekesalannya yang belum redup karena kejadian tadi.


"Bukannya Mas udah jawab ya?"


"Kapan?" Tanya Alia semakin cemberut.


"Loh tadi." Aufar semakin tersenyum usil melihat wajah gadis pujaan yang sangat dirindukannya itu.


"Apa coba?" Alia melipat kedua tangan diatas perutnya dan menyandarkan punggungnya pada dinding ruang tamu.


"Kejutan sayangku..." Aufar mencubit lembut hidung Alia. Menatap lekat manik matanya. Rasanya sangat menggemaskan melihat wajah Alia seperti itu.


Wajah Alia bersemu merah. Gurat kekesalannya berubah menjadi kebahagiaan. Ia kembali tersenyum malu. Ia memalingkan wajahnya agar tidak terlihat Aufar jika ia teramat bahagia bisa langsung bertemu dengannya hari ini. Pasalnya rasa rindu kepada Aufar sudah menjulang tinggi setinggi gunung.


"Kenapa berpaling sayang?"


"Nggak papa, Mas. Makasih ya udah repot-repot datang kesini. Aku tahu Mas juga pasti sangat sibuk dengan pekerjaan Mas, tapi Mas mau menyempatkan diri datang kesini untukku."


Manik mata Alia berkaca-kaca. Kadang seseorang menangis bukan karena dia sedih dan terluka, namun karena terlalu bahagia.


"Sayang...kamu sangat berharga bagiku. Apapun akan aku lakukan untuk kamu."


Aufar menatap hangat wajah kekasihnya itu. Mencoba masuk kedalam hatinya. Mencari jawaban atas pertanyaannya. Sebegitu bahagia kah Alia dengan kehadirannya? Sampai-sampai ia mengeluarkan air mata berharga itu hanya untuk seorang ABK sepertinya.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Semangat-semangat💞 aku suka kata-kata itu👍 happy reading readers😍