
Setelah berpisah mereka kembali ke tempat kerjanya masing-masing. Satu poin lagi untuk Alia dimata Aufar. Gadis berprestasi yang melanjutkan pendidikan dengan full beasiswa itu masih mau bekerja paruh waktu. Sungguh mengagumkan.
Aufar kembali ke kapal dengan wajah berbinar. Sepanjang jalan banyak sekali gadis-gadis yang menyapa bahkan menggodanya namun ia tak tergugah. Sepertinya sosok Alia sudah menyentuh ke relung hatinya yang paling dalam.
"Apa aku benar-benar menyukainya?" Gumam Aufar dalam hati sambil menepuk kepalanya. "Ah, apa mungkin ia juga menyukaiku? Dari setiap tutur dan tingkahnya begitu meyakinkan. Tapi apa mungkin dia bisa jatuh hati kepada seorang ABK?" Lagi-lagi dia bergumam. Tanpa ia sadari bahwa Rizki datang untuk mengagetkannya.
"Hayooo..."
"Ya Allah ki...kaget tau."
"Lagian lu juga bicara sendiri bae, komunikasi sama makhluk dimensi lain lu?" Rizki tanpa ragu-ragu mendaratkan pukulan kecil di bahu Aufar sehingga membuat Aufar meringis kesakitan.
"Ah, lu mah kepo mulu' ki."
"Gimana nggak kepo, sejak kenal cewek itu lu suka melamun dan senyum-senyum sendiri. Jangan-jangan lu suka ama tu cewek ya?" Rizki tembak langsung.
"Ya emangnya kalo iya kenapa lu? Cemburu?" Aufar senyum usil.
"Ah, lu mah selalu beruntung Far, lagi-lagi selalu aja dikelilingi wanita cantik dan baik. Nah gua? Gebetan aja gak punya" Tertunduk putus asa.
"Tapi yang ini beda ki.." Aufar menatap langi-langit sambil berbaring di ranjangnya.
Mereka berdua sedang berada di kamar ABK, kamar itu hanya berukuran 2x2 namun cukup untuk berdua. Terdapat ranjang dua tingkat dan lemari untuk menyimpan pakaian. Rizki sedang duduk di samping ranjang menatap Aufar yang kembali melamun.
"Woi...terus aja lu terbang ke awang-awang kagak usah turun lagi lu." Rizki terlihat kesal menepuk bahu Aufar.
"Aww aww...Eh ki Alia ngundang gua ke rumahnya loh. Gimana menurut lu?" Aufar bertanya dengan antusias, meminta saran sahabatnya itu.
"Waaaah gua ikut ya Far, mana tau ketemu jodoh gua disana." Rizki tak kalah antusiasnya.
"Ah, lu gimana sih? Gua kan minta pendapat lu." Aufar yang tadinya bangkit dari tidurnya kini kembali merebahkan diri.
"Nah, ini...seharusnya lu faham dong maksud tersirat dari kalimat gua barusan." Rizki berbicara seakan dirinya ahli bahasa.
"Haha, lu tuh bisa aja ya. Ya udah gua izin Alia dulu boleh bawa jomblo sejati kayak lu nggak?" Sambil tertawa terbahak-bahak Aufar mengacak-ngacak rambut Rizki.
"Aaah jahat lu Far, gua baru habis dari salon nih. Hair style baru tau." Rizki mendengus sambil merapikan kembali rambut yang berantakan.
"Haha, kiki..kiki..mau lu pake hair style sebaru apapun tetep aja gantengan gua ki," Aufar berkata dengan pedenya sambil berlalu meninggalkan Rizki untuk melaksanakan shalat magrib.
Rizki mendengus kecil sambil berkata, "Bener juga kata tu anak mau gimana pun gua tetep aja unggulan dia, hmmmm."
***
Keesokan harinya Aufar dan Rizki berkunjung ke rumah Alia, rumah kontrakannya. Tentunya dengan izin dari Alia. Mereka menaiki kendaraan umum karena waktu itu ojek online belum begitu populer di kota itu.
Tok...Tok..Tok
"Assalamu'alaikum."
"Siapa yang datang ya? Tumben siang-siang begini ada tamu." Gerutu Isni yang sedang asyik menonton drama kor*a favoritnya.
"Wa'alaikumsalam"
Ia bangkit dari duduknya. Ketika itu juga Alia menghentikannya.
"Biar aku aja yang membuka pintu Is, mungkin itu tamuku," sela Alia.
"Siapa Al? Babang ganteng yang tempo hari kah? Aku mau lihat dong. Aku langsung ngefans sama dia Al." Isni jingkrak-jingkrak dan menerobos mendahului Alia. Sejurus Alia menarik tangan Isni. "Bukan Is, nanti juga akan aku kenalkan padamu. Kamu lanjut dulu aja nontonnya ya." Alia tidak ingin orang lain yang membukakan pintu untuk Aufar.
Alia berlalu melewati Isni, menuju pintu dan membukanya. Betapa terkejutnya Alia ternyata yang berdiri di depan pintu itu bukan Aufar melainkan Kak Urai.
"Uuuft...Ka-Kak..Kak Urai, a-aku ki-ra siapa," Alia terlihat kecewa.
"Iya Al, kenapa kamu sekaget ini? Apa kamu sedang menantikan seseorang?" Kak Urai memicingkan matanya curiga.
"I-iya..eeh ti-tidak Kak." Alia benci suara terbata-batanya itu. Huh, kenapa harus Kak Urai yang datang sih? Gumam Alia dalam hati.
"Ngomong-ngomong ada keperluan apa ya Kak? Ke-kenapa ti-dak menghubungiku terlebih dahulu?" Tanya Alia penasaran.
"Begini Al, aku rencananya besok kembali ke kota kita. Apa kamu mau titip sesuatu untuk keluargamu?"
"O-oh, sementara belum ada Kak." Jawab Alia singkat berharap Kak Urai mengerti maksudnya agar segera mengakhiri pertemuan ini sebelum Aufar datang.
"Hmmm..ti-tidak ada Kak." Lagi-lagi Alia menjawab singkat. Membuat Kak Urai tak patah arang.
Ia masih mengorek-ngorek Alia agar mau terbuka. Namun Alia juga tidak kalah kekeuhnya.
Tak lama setelah itu, Alia melihat dua orang laki-laki yang tidak asing baginya berjalan mendekati mereka berdua.
Dari kejauhan laki-laki itu sudah tersenyum dan melambaikan tangannya kepada Alia. Alia ragu harus membalas lambaian tangan laki-laki itu atau tidak secara di depannya saat ini ada Kak Urai yang ia tahu menyimpan hati padanya.
"Assalamu'alaikum," sapa kedua laki-laki itu serentak.
"Wa'alaikumsalam," Kak Urai dan Alia juga menjawabnya serentak. Mereka saling menatap mata satu sama lain. Mungkin bertanya-nyata kenapa bisa serentak begitu ya,,hehe.
Alia menundukkan pandangannya terlebih dahulu dan menyambut kedatangan tamu yang ia tunggu-tunggu.
"Al, kamu kenal mereka?" Tanya Kak Urai penasaran sambil menunjuk kearah Aufar dan Rizki.
"I-iya Kak, mereka temanku," mungkin yang difahami Kak Urai dari kalimat itu adalah teman kuliah.
"Ada tugas kuliah ya?" Lanjut Kak Urai.
Alia hanya menjawab dengan senyuman. Setelah itu Kak Urai pamit undur diri. Akhirnya Alia merasa lega.
Sebelum berlalu Kak Urai menatap Aufar dengan tatapan tajam karena ia yakin bahwa laki-laki itu pasti laki-laki yang dibicarakan Selvia padanya. Kemudian ia masuk ke mobil dan melajukan mobilnya.
Melihat penampilan dan gaya Kak Urai, membuat Aufar sedikit ciut. Timbul pertanyaan di benaknya. "Apakah itu sainganku?" Gumamnya di dalam hati.
Sepulangnya Kak Urai dari sana, Alia mengajak Aufar dan Rizki masuk. Aufar mengenalkan Rizki kepada Alia. Lalu Alia juga mengenalkan Isni kepada Aufar dan Rizki.
Mereka mengobrol sambil menikmati hidangan yang sudah Alia siapkan sebelumnya. Alia memang berniat menjamu Aufar dan Rizki dengan makan siang bersama. Makanya sepulang dari kampus tadi pagi ia langsung berbelanja bahan-bahan dan memasaknya sendiri.
Lagi-lagi satu fakta tentang Alia membuat Aufar kembali kagum. Gadis itu pintar memasak. Waaah salah satu tipe wanita idamannya. Tapi...ah lagi-lagi nyalinya ciut mengingat laki-laki yang bertemu dengannya di pintu rumah Alia tadi.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Lanjutkeun Aufaaar..semangatin Aufar dengan tetap favorit dan vote ceritanya yuk💞 Terima kasih🙏🙏🙏