I Love You Till Jannah

I Love You Till Jannah
Dukungan Ibu



Pak Harry pamit kepada Alia dan Ibu Nana untuk berangkat bekerja. Ayah dua anak itu bekerja sebagai buruh harian lepas di sebuah pelabuhan barang. Bagi buruh tidak ada hari libur. Jika kapal sudah sandar, mau tidak mau walaupun hari minggu harus tetap bongkar barang.


Sepeninggalan Pak Harry, Alia membantu Ibunya menyapu, mengepel dan mencuci piring bekas sarapan tadi.


Tidak lama setelah itu, mereka berkumpul di ruang keluarga sambil menonton televisi.


"Kamu tidak ingin tidur nak?" Ibu Nana memulai percakapan. Sambil membelai puncak kepala anak gadis yang sedang berbaring di sampingnya.


"Tidak Bu, disini aja sama ibu" Alia melingkarkan tangannya di perut sang Ibunda. Aroma tubuh Ibu yang sangat menenangkan, membuat Alia makin mengeratkan pelukannya. Sudah lama ia merindukan pelukan itu.


"Naaak..."


"Iya Bu..." Alia semakin mengusukkan wajahnya ke dada Ibu Nana.


"Apa kamu tidak ingin menceritakan sesuatu apapun kepada Ibu?"


"Maksudnya Bu?" Alia mendongakkan kepalanya menatap lekat wajah sang Ibu.


"Iyaaa...sudah lama kamu tidak bercerita kepada Ibu. Biasanya ada saja yang kamu ceritakan dari keseharianmu saat jauh dari Ibu." Ibu Nana kembali mengelus rambut anaknya.


"Ooh..kirain Ibu..."


"Kenapa? Apa ada sesuatu yang kamu sembunyikan dari Ibu?" Ibu Nana memulai misinya.


"Emmmm anu...gak ada Bu." Alia mulai gelagapan. Pasalnya ia tidak pernah berbohong kepada Ibunya. Ia bisa saja menyembunyikan sesuatu dari Ayahnya, tetapi tidak pada Ibunya.


"Baiklah, jika kamu tidak mau jujur sama Ibu. Apa Ibu yang harus memulainya?" Ibu Nana melepaskan pelukannya dan beranjak pergi meninggalkan Alia.


Alia merasa sedikit bingung. Kenapa Ibunya pergi begitu saja meninggalnya mematung dengan beribu pertanyaan.


"Apa yang dimaksud Ibu? Apakah ada hal yang telah Ibunya ketahui tentangnya? Apakah Ibunya tahu kalau ia kuliah sambil bekerja?" Pertanyaan-pertanyaan itu menari-nari di benaknya.


Hingga akhirnya Ibu Nana kembali menemuinya dan duduk di samping Alia. Ibu Nana membawa sebuah amplop di tangannya. Ia menyerahkan amplop itu kepada Alia.


Alia langsung bangkit dari tidurnya dan menerima amplop itu. "Apa ini Bu?" Tanya Alia penasaran.


"Coba kamu buka!" Kali ini wajah Ibunya terlihat sangat serius. Membuat Alia menyipitkan matanya.


Alia membuka amplop tersebut. Sontak wajahnya terkejut melihat foto dirinya dan Aufar yang mengintip dibalik wajah amplop. Ia langsung memandang Ibunya dan menundukkan kembali pandangannya tanpa berkata sepatah katapun.


"Bisa kamu jelaskan siapa laki-laki yang bersamamu itu, nak?" Ibu Nana bertanya dengan nada lembut agar anaknya mau menceritakan kebenarannya.


Sebenarnya ia ingin langsung menanyakan kepada Alia lewat telepon ketika pertama kali melihat foto itu di meja kamar. Namun ia mengurungkan niatnya tersebut karena berhubung Alia akan pulang kampung.


Alia hanya terdiam, ia belum berani menjawab pertanyaan Ibunya. Ia masih tidak percaya, bagaimana bisa foto itu ada pada sang Ibu? Siapa yang memberikan foto itu? Apakah Ibunya punya mata-mata? Ah, rasanya tidak mungkin.


Alia menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. "Ibu, sebenarnya...aku...dia..."


Alia mulai terbata-bata. Rencana untuk mengenalkan Aufar kepada keluarganya, sepertinya terjadi tidak sesuai dengan rencana. Padahal ia sudah sepakat untuk mengenalkan Aufar ketika hari wisudanya nanti. Sepertinya rencana tinggallah rencana.


"Ibu...apa Ayah...."


"Iya, Ayahmu sudah mengetahui mengenai foto itu. Kamu penasaran bagaimana foto itu ada di rumah ini?"


"I-iya.."


"Ibu tidak akan mengatakannya. Yang penting sekarang adalah kamu harus jelaskan kepada Ibu siapa laki-laki yang bersama mu di foto itu!" Ibu Nana berkata dengan tegas seperti tidak ingin dibantah.


"Ibu..di-dia temanku." Alia masih saja terbata-bata.


"Yakin hanya sebatas teman?"


"Kenapa Ibu bertanya seperti itu?" Alia mulai panik.


"Karena tatapan itu bukanlah tatapan seorang teman, nak."


DEG


Alia tidak habis pikir bagaimana Ibunya bisa sedetail itu. Ah, ia lupa jika wanita paruh baya di hadapannya itu adalah wanita yang melahirkan dan membesarkannya. Bagaimana mungkin ia tidak tahu sedalam itu tentang anaknya?


Alia menundukkan kepalanya. Tidak berani menyangkal kalimat sang Ibu. Sudah tidak ada alasan lagi untuk mengelak.


"Ibu tidak menyalahkan kamu dalam hal ini." Tegas Ibu Nana membesarkan hati Alia.


"Yang perlu kamu tahu adalah apapun yang membuatmu bahagia, Ibu akan mendukungmu. Hanya saja Ayahmu..."


Suara Ibu Nana tercekat sejenak, menarik dagu anak gadisnya agar menatap wajahnya.


"Ayahmu punya prinsip tersendiri, nak. Kamu tahu hal itu. Ibu tidak bisa berbuat apa-apa jika Ayahmu berkata tidak." Ibu Nana mengelus lembut pipi Alia. Membuat Alia tidak bisa menahan air mata dan menghambur memeluk Ibunya.


"Hei..jika kamu mencintainya kenapa menangis, nak?" Ibu Nana mengusap air mata Alia dengan kedua ibu jarinya. Ia menangkup kedua pipi Alia dalam genggamannya.


"Jika kamu ingin bahagia maka ikutilah kata hatimu. Hanya saja pesan Ibu, jangan pernah melakukan sesuatu yang bisa merusak nama baik keluarga kita. Kamu mengerti maksud Ibu?" Ibu Nana menatap lekat kedua manik mata anaknya.


"Iya Bu, Alia mengerti." Ia kembali memeluk erat sang Ibu. Tersenyum haru yang masih diikuti derai air mata.


Merasa mendapat dukungan dari Ibunya, Alia semakin optimis jika nanti Ayahnya juga akan menyetujui hubungannya dengan Aufar. Semoga saja, batinnya.


***


Siang itu, Alia sedang membantu Ibu memasak. Ia mendapat tugas memotong sayur dan mengupas bawang. Biasa, kalau di rumah dia berubah jadi anak manja yang hanya ingin makan masakan Ibunya.


Ia sudah mengatakan kepada Ibu Nana bahwa selama liburan ini ia tidak akan memasak. Setiap hari ingin menikmati hidangan special dari tangan sang Ibunda tercinta.


Ketika sedang memotong kangkung, ponsel Alia berdering. Ia melihat satu pesan singkat. Ia dengan cepat membukanya. Ternyata dari Friska.


"Hey girl, how are u doing? tell me that u miss me please!" Pesan singkat Friska membuat Alia cekikikan. Hal itu membuat Ibu Nana yang sedang berdiri di depan meja kompor menoleh ke arahnya.


"Tidak ada angin tidak ada hujan kok tiba-tiba tertawa sih Al?" tanya Ibu Nana penasaran.


"Ini Bu, baca pesan singkat dari teman kampus yang super gokil." Alia masih terkekeh sambil memencet keyboard ponsel membalas pesan Friska.


"Anak muda zaman sekarang ya. Pegang hp aja bisa terlihat kayak orang..." Alia sontak menoleh ke arah tubuh Ibunya yang terlihat gemetar menahan tawa.


"Aaah..Ibu, kayak nggak pernah muda aja." Alia tersenyum simpul. "Ini loh teman kampus Alia orangnya kocak banget bu, kalau Ibu ketemu dia pasti Ibu langsung suka?"


"Oya? berarti kapan-kapan boleh dong dikenalin sama Ibu? Biar jiwa muda Ibu kembali lagi." Ibu Nana tergelak, membuat Alia sangat bahagia bisa melihat Ibunya tertawa lepas seperti itu.


"Iya Bu, saat wisuda nanti pasti Alia kenalin." Alia melanjutkan kembali pekerjaannya yang tertunda. Setelah itu menyerahkannya kepada sang Ibu untuk di masak.


Hari ini Ibu Nana masak cah kangkung, ayam dan tempe goreng. Tidak lupa sambal terasi sebagai pelengkap. Aroma masakan yang menggoda indera penciumannya, membuat Alia tidak sabar untuk menyantapnya.


Tapi sayang, ia harus bersabar menunggu kepulangan Ayahnya pada jam istirahat untuk makan bersama. Sambil menunggu kepulangan Ayahnya, Ibunya meminta ia pergi ke kamar untuk membangunkan Alan.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Tetap like dan vote ya gengs💞