I Love You Till Jannah

I Love You Till Jannah
S2 Bertemu Lagi



Semburat kepanikan semakin ketara di wajah tampan Aufar ketika satu sosok bak seekor predator menghampirinya dan Alia yang sedang berjalan menuju ruang kedatangan domestik di Bandara Juanda Surabaya.


Aufar dan Alia serentak memutar pandangan mereka ke arah sumber suara. Menampakkan sosok yang selalu menjadi trending topik akhir-akhir ini di dalam kisah mereka berdua.


Jangan ditanya siapa? Pasti kalian sudah mengenalnya dengan baik, bahkan menghujatnya habis-habisan karena karakternya yang memang membuat emosi menjalar hingga naik ke ubun-ubun.


Dengan wajah temboknya Fana bergelayut mesra di lengan kekar Aufar tanpa merasa canggung dengan keberadaan Alia.


Alia yang sudah terbiasa melihat pemandangan seperti ini, cukup mengerti dengan posisi sang suami yang selalu menjadi target utama Fana untuk menyulut api kecemburuannya.


Aufar pun tak tinggal diam, ia menghentikan langkah lebarnya dan menepis kasar kedua tangan Fana. Beruntung wanita itu tidak tersungkur ke lantai. Kaki jenjangnya yang terekspos ternyata masih cukup kuat untuk menopang berat tubuhnya yang memang tak seberapa.


"Cukup, Fana..!" Tegas Aufar setengah memekik.


Wajah Fana terlihat merah menyala menahan amarah, namun sebisa mungkin dia memaksakan senyuman masam bak perasan air jeruk purut.


"Oh, no..aku enggak boleh gegabah, ini belum saatnya." Gumam Fana di dalam hati.


Alia yang masih setia berdiri di samping Aufar, hanya menyimak tanpa campur tangan ataupun bibir. Ada sedikit keanehan yang ia tangkap di sini. Bagaimana Fana bisa ada di tempat yang sama? Apakah wanita itu menguntit perjalanan mereka? Dan apakah ketidakpulangan Aufar tadi malam ada kaitannya dengan Fana?


Makhluk bertanduk merah, bertaring dua seperti melayang-layang mengitari setiap sisi kepala Alia. Terkaan demi terkaan bahkan kecurigaan mulai berkelebat di benaknya. Pikiran-pikiran buruk itu mulai muncul ke permukaan tanpa diundang. Namun dengan cepat ia mencoba untuk menepisnya. Alia selalu meyakini bahwa Aufar tidak akan pernah bermain hati di belakangnya.


Walaupun sebenarnya ada banyak deretan pertanyaan yang ingin ia ajukan pada sang suami, namun wanita berkerudung merah itu memilih untuk bungkam dan tetap menjadi pendengar yang baik dalam scene ini.


"Eh, sorry..kayaknya supir aku sudah menunggu di depan, aku duluan, yah.." Fana berlalu sambil berdadah ria bak seorang selebriti.


Tampak semburat kekesalan di wajah Aufar mengiringi kepergian Fana. Ia meraup wajahnya kasar dan membanting tangannya frustasi. Aufar membuang pandangannya ke sembarang arah. Sementara Alia yang masih setia di sana, hanya bisa menenangkan sang suami dengan mengelus lembut pundak Aufar.


"Sudahlah, Mas. Sebaiknya kita pulang yuk, aku yakin kamu pasti capek banget. Ntar aku pijitin yah.." Merangkum wajah Aufar ke dalam genggamannya.


Aufar tersenyum haru, melihat sang istri yang begitu sabar menghadapi sikap barbar Fana. Ada jutaan rasa syukur di dalam hatinya, bisa memiliki seorang istri yang berhati malaikat seperti Alia. Kilas balik kejadian yang terjadi di swalayan tempo hari, sempat membuat Aufar berpikir bahwa sang istri akan memaki dan menuntut penjelasan banyak darinya. Namun kenyataannya tidak seperti itu. Sifat lapang dada yang dimiliki oleh Alia sangatlah luas, seluas samudra yang tak bertepi. Jauh membentang bagaikan tak memiliki titik akhir.


Tak ada kata yang bisa menggambarkan betapa merasa beruntungnya ia saat ini. Aufar berharap banyak bahwa Bu Author akan berbaik hati dan mau memberikan takdir yang baik baginya setelah ini. Semoga saja.


Tanpa perasaan kikuk ataupun ragu, Aufar menarik kepala belakang Alia dengan satu tangan, dan mendaratkan kecupan dalam di kening bening itu. Alia sontak tersenyum simpul dan menutup kelopak matanya lekat. Merasakan kehangatan kecupan penuh cinta dari sang kekasih halalnya. Agaknya mereka mulai amnesia bahwa mereka sedang berada di tempat umum.


Lalu lalang dan derap langkah manusia lain hanya mereka anggap sebagai figuran dalam dunia kecil mereka berdua.


Setelah menarik balik bibirnya, Aufar mengaitkan kelima jarinya mengisi celah di antara jari jemari sang istri, bertautan. Lantas keduanya berjalan memasuki ruang kedatangan.


Seperti biasa Paman Ben sudah berdiri tegak di depan pintu keluar dengan setelan jas dan kacamata hitamnya. Ia membungkukkan sedikit tubuhnya disaat membukakan pintu mobil untuk Tuan dan Nyonya Mudanya. Setelah memastikan keduanya menggunakan sabuk pengaman dengan benar. Paman Ben melajukan mobilnya menuju kediaman keluarga Anggara dengan kecepatan medium.


***


"Gimana honeymoon-nya, Sayang?" Mama Yani, berbisik di telinga Alia, ketika wanita bermata bulat ini baru saja keluar dari kamar mandi setelah ritual pembersihan diri.


Mama Yani masuk ke dalam kamar Aufar yang berada di lantai dua. Beliau membawakan secangkir wedang jahe untuk Alia. Sementara Aufar, ia sedang berbincang dengan Kak Farun dan Papa Fahri di ruang keluarga.


"E-eh.." Alia terlihat salah tingkah mendapat pertanyaan yang terbilang tiba-tiba. Handuk kecil yang ia pakai untuk mengeringkan rambut panjangnya yang basah, hampir saja terlepas dari genggamannya.


"Mama bawa apa? Kok repot-repot sih, Ma?" Alia menggenggam cangkir itu di tangannya, lalu menyeruput sedikit demi sedikit cairan yang terdapat di dalamnya.


"Mama yakin pasti kamu kowalahan kan melayani Aufar, makanya Mama buatkan kamu wedang jahe, biar stamina kamu kembali fit seperti sedia kala." Mama Yani berkata sambil menutup bibir dengan sebelah telapak tangannya.


Alia tersentak mendengar kalimat sang Mama Mertua, sehingga air yang ia minum masuk ke rongga hidung dan membuatnya tersedak.


Mama Yani segera menepuk punggung menantu yang duduk bersebelahan dengannya di atas ranjang.


"Pelan-pelan, Sayang.." Mama Yani semakin menepuk pundak Alia, ketika batuk yang menghinggapi wanita itu semakin menjadi.


Berbeda dengan Mama Yani dan Alia, para pejantan berisitri di ruang tengah, terdengar sedang membahas hal yang sangat serius.


"Ada penurunan pelanggan dalam tiga hari belakangan ini di kantor cabang Jakarta Utara, Pa.." Ucap Kak Farun. Ia duduk di samping Aufar yang sedang sibuk mengunyah keripik Master Potato sambil menonton serial favoritnya.


Papa Fahri sedikit melirik ke arah Aufar yang sedang cengar-cengir sendirian, sebelum merespon laporan Kak Farun. Aufar yang menyadari tatapan sang Papa, lantas memutar pandangannya.


"Papa mau keripik?" Sambil menyodorkan tabung berukuran sekitar 20cm berwarna merah dan kuning dengan diameter kira-kira 6cm kepada Papa Fahri. Lelaki setengah baya itu hanya merespon tawaran putra bungsunya dengan gelengan kecil. Kemudian mengalihkan pandangannya kepada Kak Farun.


"Apa sudah diketahui penyebabnya?" Tanya Papa Fahri dengan kening berkerut menatap layar tablet berukuran sepuluh inci yang menayangkan grafik perkembangan konsumen di perusahaan mereka.


"Menurut informasi yang saya terima dari manager di sana, beberapa kolega kita memindahkan kepercayaan mereka dan menggunakan jasa perusahaan lain yang ongkos kirimnya lebih murah dan waktu pengirimannya cepat." Jelas Kak Farun seraya mencubit tangkai cangkir dan menyesap cairan hangat yang berada di dalamnya.


"Apa nama perusahaannya?" Pertanyaan lanjutan dari Papa Fahri. Pandangannya belum teralihkan dari barang pipih yang lumayan besar itu.


"AJ Export.."


***


Keesokan harinya Delfia telah berangkat ke kampus terlebih dahulu menaiki Eco-nya. Ia harus ke perpustakaan untuk mencari beberapa referensi yang ia butuhkan sebagai bahan presentasinya dua hari ke depan.


Satu jam kemudian.


"Aaah..berangkat sendirian ternyata kaga asyik." Menimang-nimang kontak mobilnya dengan sebelah tangan. Sambil berjongkok, Husna menautkan dua ujung tali sepatunya, lalu menyampir tas selempang berbentuk segiempat di bahunya yang mulai berotot.


Gadis tomboi itu bersiul dan melajukan kendaraannya membelah jalan Ibu Kota yang sudah mulai padat namun sama sekali tidak singkat.


Tiba-tiba di tengah perjalanan menuju kampus mesin mobil Husna perlahan mati dengan sendirinya. Untung saja posisinya saat itu berada di tepi jalan, mepet ke trotoar. Sehingga ia tidak harus kelimpungan menghadapi teriakan para pengguna jalan yang lainnya.


Husna memukul benda bulat di hadapannya, merasa kesal karena dia bisa terlambat masuk kelas. "Habis bensin Ya Allah... Kenapa harus sekarang?" Husna memekik seraya mewek tak berair mata. Ia melepas sabuk pengamannya, menyampir tasnya di bahu, lalu keluar dari mobil.


Ia mengekori pemandangan sekitar berharap banyak akan ada kios bensin terdekat. Namun Bu Author mempunyai rencana lain. Diusirnya beberapa pedagang kaki lima yang berjualan di sana agar dia bisa menjalankan misinya dengan mulus. Misi siapa? Jawabannya ya misi Bu Author.


Husna sempat berpikir untuk meninggalkan mobilnya di sana, karena setengah jam lagi perkuliahan dimulai. Cara satu-satunya adalah mencari taxi yang lewat di sana.


"****...." Ia menendang ban mobilnya sekuat tenaga ketika tidak ada satu taxi pun yang lewat di sana. "Pasti ini juga kerjaan Bu Author. Beraninya ia menghalau supir taxi hingga berbalik arah di persimpangan sana. Ngajak gelut keknya tu orang." Umpat si Husna.


"Duh, apes banget gue hari ini. Mana kaga ada taxi lagi, pegimane ini? Duuuh gue bisa ketinggalan kelas pagi kalo begini jadinye." Mondar dan mandir seperti seterikaan. Sesekali menekan pelipisnya seolah berpikir mencari solusi.


Ketika Si Tomboi terlihat sedang komat-kamit meracau tidak jelas, tampak sebuah mobil perlahan menepi di depan mobilnya.


Husna telah memasang kuda-kuda dengan sempurna, entah mungkin orang itu akan berniat jahat padanya.


Beberapa saat kemudian, menyembullah sesosok lelaki dari balik pintu mobil. Penampilannya tampak lebih rapi dari biasanya.


Siapakah dia?


Bersambung...