I Love You Till Jannah

I Love You Till Jannah
S2 Diculik



Aufar memarkirkan mobilnya tepat di sebelah jaguar putih milik Jimmy. Ia tiba di rumah sakit lima belas menit lebih cepat dari waktu normal. Bisa dibayangkan betapa semangatnya ia menginjak pedal gas untuk mencapai rumah sakit dan membayangkan pertemuannya dengan sang istri?


Ya, setelah mendapat informasi dari ketujuh kepala casper bahwa Alia ada bersama Jimny, Aufar langsung menghubungi Asisten sekaligus sahabatnya itu untuk menanyakan posisinya. Awalnya Jimmy enggan memberitahukan kebenarannya pada Aufar, berhubung Alia tidak lagi ingin kembali ke apartemen milik boss-nya itu. Namun, Jimmy tidak tega juga jika harus berbohong. Ia terpaksa membuka mulut dan membiarkan Aufar menyusul mereka ke rumah sakit saat itu juga.


"Gua udah di parkiran," tutur Aufar ketika Jimmy menjawab panggilannya.


"Elu langsung aja ke IGD, Boss. Kebetulan gua lagi ngomong ama dokternya." Jelas Jimmy dari seberang benda pipih yang menempel di telinga kanan Aufar..


"Okay, gua ke sana." Aufar keluar dari mobil, lalu berjalan memasuki pintu masuk. Ia menyusuri dua lorong untuk sampai ke IGD dimana Alia sedang dirawat.


Namun ia tidak langsung masuk ke ruangan tempat Jimmy dan Dokter itu berada. Aufar memutuskan untuk menunggu di depan ruangannya, sembari mengetik pesan untuk Jimmy, sekedar menginfokan bahwa ia telah berada di sana.


Sepuluh menit kemudian, tubuh Jimmy tampak menyembul dari daun pintu ruangan seorang Dokter Umum. Ia diekori oleh seorang laki-laki setengah baya yang mengenakan jas putih kebanggaannya. Disaat yang bersamaan pula, netra hitam milik Jimmy langsung menangkap keberadaan Aufar yang ketika itu sedang berdiri bersandarkan dinding dan memunggunginya.


Setelah berpamitan kepada dokter itu, Jimmy langsung menghampiri Aufar. Asisten pribadi Aufar itu mendaratkan sebelah telapak tangannya pada bahu kekar si Boss. Sebenarnya ada perasaan getir dan tidak berkenan di dalam hatinya.


"Jan ngelamun, Boss.."


Tepukan dari Jimmy tentu saja berhasil membuat Aufar tersadar dari dimensi lainnya.


"Siapa juga yang ngelamun?" Kilah Aufar, menampakkan wajah sok baik-baik saja.


"Dimana Alia? Kenapa elu bisa bawa dia ke rumah sakit? Jangan bilang kalo bini gua....." Jimmy mengangkat telapak tangannya, memberi kode agar Aufar tidak melanjutkan kalimat yang tidak seharusnya ia ucapkan.


"Dia baik-baik aja, ayo ikut gua." Sekali lagi Jimmy menepuk pundak Aufar, dan menginginkan si Boss untuk mengikuti langkahnya.


Bagai sapi yang dicocok hidungnya, Aufar mengekori Jimmy dengan patuhnya. Ada rasa khawatir di dalam dadanya ketika Jimmy mengatakan bahwa posisi mereka sedang berada di rumah sakit. Namun perasaan itu sepertinya memudar setelah Asisten Pribadinya itu mengatakan bahwa Alia baik-baik saja.


Ketika tiba di depan pintu sebuah kamar, Jimmy memutar knop dan menyibak daun pintu persegi panjang yang berada di hadapannya.


CEKLEK


Disaat daun pintu tersibak sempurna, Aufar segera menambah langkah dan mendahului Jimmy.


"Say...." Dokter tampan yang penampilannya sudah terlihat semrawutan itu menjeda katanya, ketika sapuan pandangannya tak juga menangkap keberadaan sang istri di dalam ruangan petak berukuran tiga kali empat meter tersebut.


Ia lantas berbalik arah dan menatap Jimmy dengan tatapan tajam penuh pertanyaan. Namun sebelum Aufar bertanya pun, Jimmy sudah memahami makna dari ekspresi wajah sang atasan, sehingga berkerut kening.


"Tadi dia di sini kok, suwer." Sekarang giliran Jimmy yang menambah langkahnya menuju kamar mandi dan mengetuk pintunya berkali-kali.


"Zalia, are you inside?" Beberapa ketukan dari Jimmy tidak juga mendapatkan respon dari dalam. "Zalia..open the door, please!" Jimmy kembali mengetuk pintu kamar mandi itu. Karena masih juga tidak mendapatkan jawaban, akhirnya ia memutuskan untuk memutar knop pintu kamar mandi tersebut.


CEKLEK


Pandangan Jimmy menyapu setiap sudut, namun hasilnya nihil. Tidak ada pergerakan manusiapun di dalam sana. Aufar yang mulai merasakan atmosfer kehilangan kembali menjambak rambutnya dan berulang kali merutuki dirinya sendiri.


"Ini semua salah gua.." Ia menumpukan keningnya pada tembok kamar pasien yang sempat dipijaki istrinya tersebut.


"Alia..kamu dimana, Sayang?" Tanpa merasa segan, Aufar memukulkan kepalan tangannya ke tembok tepat di samping telinganya sambil menggerutu tidak jelas. Sesekali keningnya dihantamkan setengah keras pada tembok yang sama, meluapkan emosinya.


Tidak mudah bagi Alia memutuskan untuk ikut bersama Jimmy. Bagaimana pun ia, sebaik apapun dirinya pada Alia, tetap saja Jimmy adalah orang kepercayaan Aufar. Lambat laun persembunyiannya juga akan terbongkar dan tercium oleh suaminya. Jadi wajar saja jika Alia melarikan diri.


Hanya saja Jimmy tidak habis pikir jika Alia memutuskan untuk pergi setelah ia tinggalkan sebentar untuk menemui dokter. Masih sangat jelas di benaknya percakapan terakhirnya dengan wanita itu. Tanpa keraguan sedikitpun Alia menggelengkan kepalanya pasti, ketika Jimmy menanyakan tentang keyakinannya bahwa ia tidak akan kembali ke apartemen Aufar.


Namun sejurus Jimmy tersadar, sekarang bukan waktunya untuk bergelut dengan pikirannya sendiri. Ada sosok rapuh yang harus ditenangkan sekaligus dirangkul.


"Kita bakal cari bini lu, Boss. Relax.." Tepukan penenang itu mendarat sempurna di pundak belakang Aufar. Jimmy bisa merasakan getaran tubuh sang atasan yang mungkin sedang menyesali kebodohannya.


"Suami macam apa gua ini, Jim? Di saat Alia butuh gua, gua dimana?" Jimmy membiarkan Aufar melepaskan kekacauan yang berkecamuk di dalam pikirannya. Mengeluarkan semua kekerdilan yang menghimpit dadanya. "Gua ini suami yang gak berguna.." Pekik Aufar kembali membogem tembok yang berada di hadapannya. Kali ini ia benar-benar merasa sangat rapuh. Ia bahkan kecewa pada dirinya sendiri.


"Sudahlah, tidak baik menyalahkan diri sendiri. Lagi pula ini bukan waktunya elu buat meratapi semua ini. Kita harus bergegas nemuin bini lu."


Aufar tersentak, serasa mendapat sebuah tamparan telak. Benar juga kata Jimmy. Ini bukanlah waktunya untuk ber-melow ria. Sekarang adalah waktunya ia menemukan sosok yang saat ini benar-benar sangat dirindukannya, walaupun baru saja terpisah beberapa jam yang lalu.


"Elu bener, Jim." Aufar menarik kepalanya dari tembok dan menyeka rembesan air pilu di sekujur wajahnya yang tetap saja terlihat tampan walau dikondisikan dalam mode apapun. "Ayo.." Ajak Aufar mendahului Jimmy keluar dari IGD.


Mereka berdua berjalan bersisian dan bergegas memasuki mobil masing-masing. Namun sebelum menyalakan mesin mobilnya, Aufar menurunkan jendela kacanya sejenak.


"Kita berpencar aja, biar lebih efektif!" Perintahnya setengah memekik, yang dijawab dengan anggukan kepala oleh Jimmy.


Aufar dan Jimmy menapaki jalur masing-masing. Sambil celingukan, mereka menyusuri malam tanpa mengantongi petunjuk apapun, demi bertemu dengan sosok kesayangan mereka.


***


Drrrt...Drrrrt...


"Halo.."


"Boss, kami sudah membawa wanita itu ke markas."


"Good. Terus gimana dengan lelaki tua itu?"


"Siap, dia juga sudah berada di sini."


"Oke, gua ke markas sekarang juga."


Tut..tut..tut..(Sambungan Telepon Berakhir)


Lelaki dengan postur tinggi itu membanting setir dan memutar balik arah kemudinya. Perjalanan yang memakan waktu hampir satu jam itu, membawanya pada daerah perbukitan. Jika pada siang hari pemandangan di sana akan tampak hijau karena tanaman padi yang membentang luas di sepanjang perjalanan.


Lima belas menit kemudian, mobil yang ditungganginya memasuki kawasan rumah besar yang dikelilingi oleh pagar beton yang menjulang tinggi, mengitari pekarangan rumah tersebut.


Ketika mobilnya berhenti di depan sebuah gerbang besi, ia menyalakan klakson singkat, lalu dua orang penjaga dengan jenis kelamin laki-laki, langsung membukakan pintu gerbang tersebut untuk memberi jalan pada kendaraan roda empat yang mereka tahu adalah mobil dari si Boss.


Setelah gerbang terkuak lebar, kendaraan roda empat itu melesat mencapai rumah besar tiga lantai yang mereka sebut MARKAS.


Bersambung..