I Love You Till Jannah

I Love You Till Jannah
Ancaman



Setelah menemani Alia berbelanja keperluan untuk satu minggu dan mengantarnya pulang ke apartemen, Jimmy kembali menemui atasannya untuk memberikan laporan rutinnya. Jimmy memasuki lift gedung itu dan menekan tombol menuju lantai empat.


"Selamat sore, Kak Jimmy," sapa asisten boss-nya yang baik hati itu setelah Jimmy tiba di depan ruangan atasannya.


"Selamat sore.." Sapa Jimmy dengan senyuman semanis kopi susu. Kemudian ia mengetuk pintu ruangan kerja atasannya sebelum masuk. Namun asisten cantik itu menghalanginya.


"Maaf Kak, beliau masih ada tamu. Sebaiknya Kakak tunggu sebentar. Duduk sini deh Kak!" Asisten itu menepuk-nepuk kursi kosong yang berada di sampingnya. Tanpa berpikir panjang Jimmy pun menurutinya.


"Emangnya siapa sih yang bertamu jam segini?" Jimmy melirik jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul 17.00.


"Sssst...jangan keras-keras, Kak. Dia..." Belum selesai asisten itu menjawab pertanyaan Jimmy, pintu ruangan pun terbuka. Menampakkan sosok seorang wanita yang sudah tidak asing lagi di mata Jimmy.


"Gadis itu, ngapain dia kesini? Jangan-jangan boss.." Batin Jimmy. Namun gadis itu terlihat santai saja melihat tatapan membunuh yang Jimmy tujukan padanya dan berlalu meninggalkan Jimmy dan asisten atasannya dengan ribuan pertanyaan dibenak mereka masing-masing.


"Kak...kok segitunya sih kayak liat musuh aja?" Tanya si asisten dengan wajah yang masih kebingungan dengan ekspresi wajah Jimmy.


"Ah, enggak papa kok. Ya udah, aku masuk dulu ya." Jimmy beranjak dari kursi dan masuk ke ruangan itu menemui atasannya.


"Jim..." Sapa boss-nya dengan raut wajah yang susah diartikan.


"Apa yang barusan mereka lakuin? Kenapa boss kelihatan lelah banget ya? Ah, kepo banget sih gua!" Cerca Jimmy kepada dirinya sendiri.


"Sore boss," sapa Jimmy.


"Gimana Jim, apa Alia udah dapetin semua kebutuhannya? Urusan kampus gimana?"


Tanya laki-laki berparas tampan itu. Ia menyandarkan punggungnya pada kursi kebanggaannya dengan menekuk kedua tangan kekar itu menopang dagu runcingnya yang terlihat sedikit terbelah. Definisi dari kata menawan.


"Sesuai janji gua boss, semua beres. Lu kayak enggak tau kinerja gua aja." Jimmy menyombongkan dirinya. Namun ia masih penasaran dengan sosok wanita yang baru saja ia lihat di depan ruangan tadi.


"Good.." Apresiasi sang atasan.


"Boss, gua kepo nih..tadi itu bukannya cewek yang waktu itu lu kepoin ya? Ngapain dia kesini?" Laki-laki itu menatap tajam ke arah Jimmy membuat nyali Jimmy ciut.


"Okay...okay...I don't need to know."


Jimmy mendahului laki-laki itu seolah ia bisa membaca pikiran boss-nya, sebelum boss tampan itu mengeluarkan spesies ancaman andalannya yang lebih menyeramkan dari dinosaurus sekali pun bagi Jimmy.


"Eh boss, kayaknya si Alia sedih banget deh karena lu enggak mau nemuin dia." Jimmy memulai pembicaraan setelah beberapa saat bungkam.


"Benarkah begitu, Jim? Apa dia benar-benar terlihat sedih?" Laki-laki itu menegakkan tubuhnya sehingga kedua tangannya bertumpu di atas meja.


"Wah, gua enggak boleh sampe keceplosan nih kalo Alia minta gua jadi temennya!" Perintah Jimmy pada dirinya sendiri.


"I-iya boss.." Jawab Jimmy singkat.


"Lu kalau ngomong yang jelas, Jim! Jangan nanggung gitu. Lu tau kan kalau tu cewek belahan jiwa gua, lu enggak liat raut kekhawatiran di wajah gua? Lu santai aja gitu." Laki-laki itu terlihat kesal.


"Boss..gua kan cuma bilang dia bersedih bukan ketabrak truk." Jawab Jimmy enteng.


"Mind your language, Jimmy!" Laki-laki itu menggebrak meja dan bangkit dari duduknya melempar tatapan seribu makna kepada Jimmy.


"Easy boss easy...gua kan cuma becanda. Kayak baru kenal gua aja lu. Dan lu ini kenapa sih? Dari tadi gua perhatiin kesabaran lu kayak udah keculik setan aja." Jimmy menepuk-nepuk pundak si boss dan memintanya untuk kembali duduk.


Laki-laki itu menyandarkan kembali punggungnya di kursi. Pandangannya terbang jauh menerawang angkasa ruangannya. Ada perasaan khawatir yang berkecamuk di dalam dirinya. Khawatir akan keselamatan Alia. Perkataan wanita yang baru saja menemuinya terdengar nyata dan tidak main-main.


Flashback


Sebelum kedatangan Jimmy, seorang wanita cantik datang menemuinya. Dilihat dari sisi manapun wanita itu terlihat sangat menawan bagi siapapun yang menatapnya. Namun tidak untuk laki-laki itu, yang ada hanyalah tatapan kebencian terpancar di wajahnya ketika melihat wanita itu memasuki ruangan kerjanya.


"Ngapain lagi lu kesini?" Tanyanya pada wanita yang tanpa ragu mendudukkan tubuhnya di atas meja kerja tepat di hadapannya.


"Aku sangat merindukanmu, sayang..."


Wanita cantik itu mendekatkan bibirnya di telinga sang laki-laki. Nafas yang ia keluarkan menebarkan sensasi hangat yang bisa mengundang gejolak kelaki-lakiannya. Namun iman laki-laki itu lebih besar dibanding bisikan-bisikan setan yang mengelilinginya. Kemudian ia berdiri dan mendorong tubuh wanita itu yang tadi sempat merangkul kedua pundaknya.


"How dare you!" Laki-laki itu menatap nanar wajah wanita yang hampir terjatuh ke lantai itu.


"Kamu...kenapa sekasar ini sih?" Tanya wanita tak tahu malu itu sambil membenahi rambutnya yang terlihat berantakan.


"Aku sudah pernah bilang jangan dekati aku lagi. Tidak ada lagi tempat yang tersisa untukmu karena hati ini sudah menjadi milik orang lain!" Bentak laki-laki itu. Namun perkataannya disambut dengan senyuman kecut dari sang wanita.


"Oh ya? Tunjukkan padaku seperti apa wanita yang bisa membuatku menolakku seperti ini, sayang!" Ia meraih dagu laki-laki itu dan mengusap bibirnya dengan lembut.


"Baiklah, jika kamu tidak mau memberitahuku langsung, no problem. Aku bisa cari tahu sendiri. Tapi jangan sampai kamu menyesal, sayang..! Jika aku tidak bisa memilikimu maka wanita manapun tidak akan bisa."


Wanita itu berbisik manja namun penuh ancaman, yang membuat laki-laki itu bergidik ngeri. Kemudian ia berlalu meninggalkan laki-laki itu dengan kekhawatiran yang mulai menggerogoti jiwanya.


Flashback end


"Boss..." Tepukan bahu dari Jimmy membuyarkan lamunan laki-laki tampan itu.


"Astaghfirullah..." Ucapnya.


"Lu kenapa sih boss? Gua yakin lu lagi ada masalah, mending lu cerita deh daripada lu linglung kayak gini. Prihatin gua." Tutur Jimmy tulus.


"Tumben lu perhatian ke gua?" Mengernyit keheranan.


"Ya Allah...gua ini baik hati dan enggak sombong boss. Lu ah...udah..mending cerita deh. Apa ini ada hubungannya ama cewek tadi?" Menepuk kembali pundak si atasan.


"Udah Jim, enggak usah dibahas! Pokoknya gua perintahin lu buat jagain Alia 24 jam!" Mengambil check kosong dan menulis sesuatu.


"Nih...tambahan buat tugas baru lu." Menyerahkan check yang sudah tertulis nominal fantastis diatasnya.


"Ini enggak salah, boss?" Jimmy menaikkan salah satu alisnya setelah menerima kertas kecil berharga itu.


"Ya enggak lah, Jim. Gua masih waras nih." Kembali bersandar ke kursi.


"Tapi kenapa lu tiba-tiba minta gua jadi bodyguard 24 jam buat Alia, boss?" Lagi-lagi Jimmy kepo.


"Lu banyak tanya ya, mau gua ambil balik tu check?" Ancaman level satu.


"Eh, eh...enggak deh..peace." Mengacungkan dua jarinya ke atas sebelum ancaman level kedua boss-nya rilis.


Jimmy pamit undur diri ketika panggilan surga menyapa seluruh makhluk. Laki-laki itu menuju ke ruang khusus di dalam ruangan kerjanya. Ia bersuci dan melaksanakan kewajibannya. Menengadahkan tangan memohon perlindungan untuk sosok tercinta.


"Ya Rabbi...hanya kepadaMu lah hamba menyerahkan seluruh hidup dan mati hamba. Begitu juga hamba pasrahkan keselamatan Alia dalam dekapanMu ya Allah..Lindungilah ia dari mara bahaya dan dari kejahatan orang-orang yang jahat. Aku sangat mencintainya Ya Allah..hanya Engkaulah yang Maha membolak-balikkan hati. Dengan ridhoMu maka pertemukan lah ia dan hamba pada waktu yang tepat Ya Allah Ya Rahim..Pertemukan lah kami disaat hatinya sudah bisa menerima hamba, untuk saat ini hanya ini yang bisa hamba lakukan Ya Allah..aamiin 🤲."


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Siapa yang mau dido'ain juga sama boss tamvan?😁


Yukk...list ntar aku sampaikan✌️


Thank you jejaknya gengs🙏