
Apakah gerangan yang salah?
"Jangan bilang kalo Mr. Berry itu ...." Alia sengaja menjeda kalimatnya agar Delfia mau melanjutkan ceritanya.
"Hiks ... Hiks ... Gue sedih, Al. Ternyata ...."
Fia semakin terisak, seolah mengisyaratkan bahwa masalah yang sedang ia hadapi sangatlah pelik. Alia beringsut mendekati wanita itu, lalu merangkul kedua pundak Delfia.
"Okay, okay. Kalo kamu gak bisa cerita sekarang, gak papa kok, Fi. Jangan memaksakan diri." Alia mengelus lembut lengan Delfia dengan ekspresi wajah penuh iba.
"Apa mungkin Mr. Berry itu ... impoten? Aahhh, tidak mungkin," tepis Alia di dalam hatinya sembari menggeleng-geleng tidak jelas.
Delfia yang menyadari hal itu, sontak menoleh ke arah Alia.
"Elu kenape, Al?"
"Eng--enggak papa, Fi."
"Barusan geleng-geleng gak jelas. Kamu mikirin apa, hayooo?"
"Iiiiih, kamu tuh ya. Udah dibilang gak papa juga. Jadi, lanjut cerita gak nih?
Alia melepaskan rengkuhannya dari tubuh Delfia, setelah wanita itu terlihat lebih tenang.
"Laki lu gak jantan ya, Fi?" Alia bertanya dengan ragu-ragu.
Namun seketika itu juga wajah Delfia berubah tiga ratus enam puluh derajat dari sebelumnya. Wanita berlesung pipi dalam itu tergelak hebat hingga terbahak-bahak.
Alia mengernyit keheranan. Ia hanya melongo, tanpa ikut tertawa sama sekali.
"Jadi itu yang elu pikirin tadi ya? Haha, kecongkel kan lu," tembak Delfia begitu saja.
Sungguh, Alia merasa sangat malu. Ia menggaruk-garuk kepalanya dengan wajah tidak enak.
"Laki gue jantan dong, Al. Paling jantan malah. Satu malem pun kaga ada absen pokoknya, hahaha." Delfia kembali tergelak.
"Terus kenapa tadi kamu nangis?" Alia mencebikkan bibirnya. "Kamu pasti sengaja ngerjain aku kan?" Wajah wanita borneo itu semakin memberengut, lalu bangkit dan berlalu meninggalkan Delfia.
"Eh, Al. Mau kemane lu? Al, jan pundung dong. Yaaah ...." Delfia menggaruk-garuk kepalanya yang sama sekali tidak gatal. Ia merasa sudah sangat keterlaluan. Ia juga lupa bahwa perasaan wanita yang sedang hamil itu lebih sensitif dari biasanya.
Ketika Delfia bangkit dari peraduannya dan hendak menyusul Alia, suara bel pun berbunyi.
Ting... Tong...
"Duh, siape lagi tuh?"
Delfia berdecak kesal dan mengurungkan niatnya, lalu bergegas menyibak daun pintu setelah memastikan siapa yang datang terlebih dahulu.
"Assalamu--..." Belum selesai salam itu terucap, Delfia sudah menyambar kegirangan.
"Syukur deh lu dateng, Na."
"Kenape lu, Fi?"
"Itu Alia ...."
"Alia kenape?"
"Pundung wee ...."
"Pasti elu kan yang bikin dia pundung."
Husna nyelonong saja melewati Delfia. Seminggu menghabiskan waktu bersama Ibu hamil itu membuat dia faham betul seperti apa kebiasaannya.
"Dimane Si Bumil?" Husna memutar tubuhnya ketika Delfia baru saja menutup pintu.
"Di kamar, yuk kite samperin. Tapi gue ambil minuman dulu, elu duluan gih, Na."
Kali ini giliran Delfia yang mendahului gadis tomboi itu. Sementara Husna bergegas ke kamar Alia untuk menemuinya.
***
"Syifa ...."
Gadis minang bergigi ginsul itu tersenyum ramah ketika Jimmy menyapanya.
"Boss ada? Eh Dokter Aufar ada?" Ralatnya ketika menyadari keterlanjurannya.
"Cie... Yang udah pensiun jadi bodyguard," tutur Syifa sambil tersenyum mengejek. "Ada kok, Kak. Tadi baru aja terima pasien, masuk aja," lanjut syifa mempersilakan Jimmy memasuki ruangan Aufar.
"Kamu bisa aja, Neng." Jimmy tersenyum tipis. "Gue masuk dulu ya."
Lelaki berhidung runcing itu langsung menyibak daun pintu, setelah mengetuknya dua kali sebagai tanda permisi.
"Yooo, Boss AJ Export dateng nih, tumben?" Aufar menyapa dari atas kursi kebanggaannya.
"Biasa aja, Bro."
Jimmy selalu merasa gerah dengan julukan tersebut. Mungkin juga karena posisi itu bukanlah mutlak miliknya. Ia hanya merasa tidak pantas saja akan semua ini. Sejujurnya, menggantikan posisi Jammy hanyalah sebuah keharusan, yang bertolak belakang dengan keinginannya.
Tanpa menunggu izin lagi dari pemilik ruangan, Jimmy langsung mendudukkan tubuhnya di atas kursi putar di hadapan Aufar. Wajahnya mendongak lesu, menerawang langit-langit tampak sedang memikirkan sesuatu.
"Elu kenapa, hah? Putus cinta?" Aufar tersenyum mengejek sembari membuka lemari pendingin mini yang bertengger di atas meja di sudut ruangan. Ia mengamit dua kaleng minuman dingin dan menyodorkannya ke arah Jimmy bersama sebuah gelas.
"Kayaknya elu butuh yang seger-seger..." Aufar kembali duduk di atas kursinya yang berbalut jas putih sebagai icon identitasnya.
"Baru kelar meeting, mumet gua." Jimmy meraih kaleng minuman di hadapannya, lalu menyesap kesegaran minuman itu setelah membuka penutupnya tanpa menggubris sebuah gelas yang sedari tadi menganga berharap penuh untuk diisi.
"Pelan-pelan aja, ntar lama-lama elu juga bakalan terbiasa." Menuang minumannya ke dalam gelas sembari menatap Jimmy sekilas.
"Ternyata jadi pemimpin itu gak mudah ya. Pantesan aja dulu Jammy sering marah-marah kaga jelas ama karyawannya." Menghela nafas kasar. "Gua mah dulu cuek Far, sekarang gua udah kaga bisa lagi masa bodoh." Jimmy meluapkan beban pikirannya.
Aufar bangkit dari duduknya, lalu bersandar condong di pojokan meja menghadap Jimmy dengan kedua tangan terlipat di depan dadanya.
"Gua rasa... Elu butuh pendamping hidup."
"Hah? Ngawur lu, apa hubungannya?"
"Ya, adalah..." Aufar kembali menyesap minumannya.
"Lu liat gua? Serumit apapun kasus yang gua hadapin di sini, pas pulang ke rumah pikiran gua pasti langsung tenang karena ketemu bini."
Jimmy terlihat berpikir sejenak menyerap perkataan Aufar.
"Apa iya begitu teorinya?" Tanyanya semakin penasaran.
"Ya iyalah, mending cepetan deh elu lamar si tomboi."
"Lah, kenapa harus Husna?"
"Yang bilang Husna siapa?" Aufar berpura-pura menaikkan sebelah alisnya, curiga. "Emangnya cewek tomboi cuma Husna doang? Atau jangan-jangan... Elu emang naksir Husna?" Lanjutnya semakin memojokkan Jimmy.
"Ah, eng--enggak lah." Jimmy menegakkan posisi duduknya, menutupi kegugupan yang menggerogotinya tiba-tiba.
"Kenapa gua jadi salah tingkah begini pas Aufar nyebut nama Husna?" Gumam Jimmy di dalam hati.
"Udaaah, elu gak usah berlagak ngelabuin gua masalah yang satu ini." Sekali lagi Aufar menyambar Jimmy, sehingga membuat laki-laki itu menenggak minumannya berkali-kali untuk melebur kegugupan.
"Apa iya gua uda mulai naksir ama tu cewek? Aaah, gak mungkin. Di hati gua cuma ada Alia." Lagi-lagi Jimmy hanya mengatakannya di dalam hati.
Deringan ponsel Aufar menyelamatkan Jimmy dari situasi yang sangat menegangkan baginya. Aufar sontak berbalik arah, lalu menggeser tombol hijau untuk menerima panggilan suara itu.
"Assalamu'alaik, iya ada apa Doraemon?"
Jimmy mengangkat wajahnya ketika mendengar kalimat Aufar. "Panjang umur sekali gadis itu. Baru aja dibahas, udah nongol aja." Jimmy bergumam sendiri.
"Apa?" Aufar terlonjak mendengar berita yang baru saja Husna sampaikan.
"Okay, gua pulang sekarang." Aufar meraih kontak mobilnya, lalu bergegas menuju pintu.
"Elu mau kemana, Far? Husna bilang apa?"
"Alia, Jim. Alia... Gua harus pulang sekarang." Bayangan Aufar telah raib ditelan daun pintu yang baru saja menyadarkan Jimmy dari lamunan sejenaknya.
"Eh, Far. Tunggu woi, gua ikut..."
Bersambung...