I Love You Till Jannah

I Love You Till Jannah
S2 Kilas Balik 2



Semakin larut udara terasa semakin membekukan tubuh. Mungkin karena pengaruh dinding rumah papan yang sudah tak lagi tersusun rapat. Ditambah lagi pembatas langit yang terbuat dari atap daun sehingga terjangan temperatur embun yang turun menghujani bumi di sepertiga malam, terasa membekukan tubuh bagaikan salju yang menyelimuti puncak gunung di kutub utara.


"Dingin?" Mengamati gerak gerik sang istri yang tampak memeluk lengannya sendiri dalam posisi yang masih sama seperti sebelumnya.


Alia yang masih bersandar pada muka ranjang hanya menganggukkan kepalanya pelan, lalu menghambur ke dalam pelukan Aufar ketika lelaki itu merentangkan tangan kekarnya dengan posisi berbaring. Sebuah kehangatan yang amat sangat menjanjikan pastinya.


Dengan penuh kasih sayang, Aufar mengetatkan rengkuhannya pada tubuh mungil dengan balutan piyama tidur berwarna hijau daun talas itu. Dibelainya pucuk kepala sang wanita dengan sentuhan penuh kelembutan. Sesekali tangannya menepikan anak rambut yang menghalangi pandangannya pada wajah putih bening milik si kekasih halal.


Alia sangat memahami dari gerak-gerik itu, sepertinya Aufar menginginkan hal lebih yang juga sama dengan apa yang ada dipikirannya. Namun keduanya enggan melakukan hal itu mengenang kamar yang mereka tempati tidak kedap suara.


"Sabarlah untuk beberapa hari ke depan wahai pisang raja," pekik Alia di dalam hati.


Namun sepertinya Aufar bisa mendengarkan suara hati sang istri. Ia menarik wajahnya agak menjauh, sehingga membuat Alia mendongak yang membuat pandangan mereka bertemu.


"Aku sabar kok.."


Penggalan kalimat itu berhasil menarik kedua sudut bibir Alia sangat lebar. Sampai-sampai membuat wanita itu hampir terkekeh karena ekspresi yang tampak di wajah sang suami tidaklah menampakkan kesabaran seperti yang ia tuturkan.


Alia berpikir, hal ini tak akan mudah bagi kaum laki-laki. Menahan hasrat ingin bercinta disaat rasa itu benar-benar telah menyelimuti seluruh jiwa dan raga. Bahkan seluruh wajah Aufar hampir memerah menahan hawa panas yang menjalar ke seluruh tubuhnya. Sepertinya begitu.


"Pingin ketawa tapi takut dosa," bisik Alia di telinga Aufar. Mendengar hal itu sontak Aufar tak ingin kalah telak. Ia membekap mulut Alia dengan bibirnya ketika wanita itu menarik wajahnya dari sisi telinga lelaki itu.


Alia yang merasa mendapat serangan mendadak, lantas berontak dengan memukul-mukul dada bidang sang dokter tampan. Namun Aufar tidak mengindahkan hal itu. Itu malah tersenyum puas ketika melihat respon sang istri yang seolah sedang menerima perlakuan perkosaan. Hal ini menimbulkan sensasi tersendiri baginya. Kepuasan..!


Kedua tangan Aufar masih tetap merangkum pipi chubby Alia. Erat namun lembut. Lembut namun tak bisa dilepaskan. Apalagi permainan bibirnya terkesan bringas namun perlahan melembut dan melumer bak keju mozarella, sehingga membuat Alia perlahan hanyut dalam permainan keju tersebut.


Mata keduanya mulai terpejam. Menikmati dan meresapi penyatuan bibir dan lidah masing-masing. Mengecup, mengecap, ******* dan memilin bersamaan. Sangat kompak dan saling mengimbangi satu sama lain. Setelah dirasa cukup lama dalam posisi tersebut, akhirnya keduanya menghentikan pertukaran saliva itu secara bersamaan.


GLEK


Aufar menelan ludahnya sekali lagi. Bukan karena merasa kenyang dengan apa yang telah mereka lakukan. Melainkan menahan libido yang hampir naik ke pucuk kepalanya. Ia merasa semakin haus dan lapar, begitulah analoginya.


Sementara Alia, wanita itu telah melorot dan menenggelamkan wajahnya pada dada bidang si empunya tubuh dengan sejuta kehangatan yang menjanjikan. Sesekali menggeleng pelan menahan malu yang seharusnya tidak menghinggapi jiwanya.


Tangan lebar Aufar bergerak naik turun mengusap lembut punggung sang istri. Sesekali ia mengecupi puncak kepala Alia dan mengendus aroma shampo yang masih tercium sangat lekat dan menyeruak ke dalam rongga hidungnya.


"Ada yang ingin Mas tanyakan?" Semakin mengkusukkan hidungnya menghirup aroma tubuh maskulin yang merupakan heroin baginya.


"Gimana kamu bisa tau kalo aku ingin menanyakan sesuatu?" Kecupan kedua mendarat dalam pada ubun-ubun Alia.


"Tau ajah," respon Alia singkat. Aufar tersenyum mendengar jawaban manja dari bibir ranum yang telah berhasil dibuatnya membengkak itu.


"Bagaimana kehidupan masa remajamu, Sayang? I mean bagaimana ceritanya Ayah bisa menikahi wanita lain?" Perlahan menarik tubuhnya menciptakan sedikit jarak agar bisa memandang wajah sang istri.


Alia nampak menarik nafas dalam dan menghembuskannya sedikit kasar. Agaknya Aufar telah menangkap gelagat tidak mengenakkan.


Bagaimana tidak? Mendapat pertanyaan tentang masa sulit yang telah ia lalui bersama Ibu dan Adiknya, sepertinya hal itu memaksa Alia untuk kembali tenggelam dalam kilas balik perjalanan hidup yang mau tidak mau harus mereka lalui. Perjalanan hidup penuh siksaan dan pedihnya luka batin maupun pikiran.


Aufar memandang wajah sendu sang istri, kedua alisnya tampak menyatu kala Alia kembali menelusup ke dalam dekapannya. Sedikit tersenyum tipis namun tetap saja pikirannya tidak bisa menebak seperti apa kisah masa lalu yang akan ia dengarkan.


"Waktu itu, aku masih duduk di bangku SMA kelas XI..." Alia memulai cerita perihnya.


...Flashback...


Pak Harry baru saja kembali dari Pontianak mengantarkan mertuanya melakukan pengobatan intensif selama dua minggu.


Saat itu keadaan ekonomi keluarga mereka bisa dibilang mulai naik sedikit demi sedikit karena selain bekerja di sebuah perusahaan milik negara, Pak Harry juga memiliki beberapa usaha peternakan sapi yang digandrunginya. Sedangkan Ibu Nana, sejak resigned dari perusahaan setelah melahirkan Alan, beliau tak pernah lagi kembali ke dunia karir sebab Pak Harry tidak mengizinkannya.


Sebagai istri yang baik, Ibu Nana termasuk dalam kategori istri yang patuh dan sabar. Ia tidak akan keluar rumah tanpa izin dari suaminya. Tak ada ritual rumpi ria dengan tetangga. Tak ada pula momen arisan sana sini yang mengumbar kemewahan dan kekayaan masing-masing demi seonggok pujian duniawi.


Katakanlah pribadi yang sangat bersahaja, walaupun sebenarnya ia berasal dari keluarga yang kaya raya pada masanya. Namun ia tidak sombong apalagi berlagak kaya.


Kala itu..


Seru Ibu Nana ketika suara motor Pak Harry tertangkap indera pendengarannya, telah memasuki pekarangan rumah mereka. Setiap pukul tiga sore hari, Pak Harry kembali dari tempatnya bekerja di sebuah perusahaan yang bergerak dalam naungan Dinas Perhubungan.


Alia yang sedari tadi sedang membaca buku pelajarannya, tampak tak bergeming sedikitpun. Sebenarnya ia sedang mendengarkan permintaan Sang Ibu, namun hatinya berkata tidak dan raganya juga sangat berat untuk bergerak. Seperti tertindih batu besar.


"Aku tidak mau, tidak akan pernah," pekiknya di dalam hati.


"Alia..." Panggilan selanjutnya. Namun tetap saja gadis remaja itu tak menunjukkan eksistensinya di hadapan wanita paruh baya yang telah melahirkannya itu.


"Al..." Belum selesai Ibu Nana mengutarakan kata susulan, suara Alia sudah terdengar menggelegar dari kamarnya.


"Ibu aja ya, aku males." Lost control. Kalimat itu berhasil membuat kedua alis Ibu Nana berkerut. Tidak biasanya Alia berkata seperti itu. Apalagi yang menurutnya hal itu telah memasuki kategori kasar dalam kamus besar si Ibu anak dua ini.


Selama ini, Alia yang ia kenal bukanlah pribadi yang suka membantah perintah orang tua, apalagi sampai berkata kasar.


Tanpa bertanya banyak hal, Ibu Nana terpaksa meninggalkan pekerjaannya dan menyediakan secangkir kopi untuk suami tercinta.


"Tumben bukan Alia yang bikinin, Bu?" Mencubit cangkir berwarna hitam brownies itu, lantas menyesap manisnya. Kemudian diletakkannya kembali cangkir itu pada lepek yang tersedia didekatnya.


"Kayaknya lagi belajar, Pak." Sedikit berbohong, agar sang suami tidak berpikiran yang tidak-tidak. Dan Pak Harry hanya mengangguk sebagai tanggapan.


Hari-hari berikutnya pun Alia tetap menampakkan sikap yang sama, selalu menghindar jika Ibunya meminta bantuan untuk melayani keperluan sang ayah. Tidak mau membuatkan kopi. Tidak mau makan bersama. Bahkan tidak mau berbicara pada Ayahnya. Padahal anak itu lebih dekat kepada sang Ayah ketimbang sang Ibunda. Hal ini benar-benar menjadi pertanyaan besar di benak Ibu Nana.


Tepat pada hari keempat, ia memberanikan diri untuk berbicara empat mata dengan sang putri. Hal ini sudah diluar batas kewajaran, dan dia paling tidak suka dengan sikap Alia yang terkesan tidak sopan. Walau bagaimana pun Pak Harry adalah Ayahnya. Jika memang ada sebuah kesalahan yang telah beliau lakukan, Alia tidak boleh bersikap yang mengarah kepada kedurhakaan.


"Kenapa kamu bersikap begitu pada Ayahmu? Apa masalahnya, Al? Ibu perhatikan makin hari sikapmu semakim berlebihan." Hardik Ibu Nana tanpa berbasa dan berbasi lagi. Ia tidak ingin Alia larut dalam gejolak darah mudanya.


Alia yang selalu saja mengalihkan perhatiannya dengan membaca buku itu, lantas melirik sekilas ke arah sang ibu dan berkata, " nanti juga Ibu tau sendiri." Dengan ekspresi datar.


Tak ada lagi kalimat lanjutan. Singkat, tidak padat, dan tidak jelas. Tentunya Ibu Nana bergidik keheranan bahkan sampai geleng-geleng kepala menanggapi respon acuh dari gadis kesayangannya itu.


Selama dua minggu, sikap Alia semakin menjadi-jadi. Pak Harry sebenarnya telah menyadari alasan mengapa Alia bersikap demikian. Namun beliau mencoba memaklumi walaupun sebenarnya dadanya terasa sesak terhimpit sikap acuh dan cuek bebek dari anak sulungnya itu.


Sementara Ibu Nana, beliau hanya bisa pasrah. Berulang kali dia menasihati Alia, namun hasilnya nihil. Sia-sia belaka. Remaja SMA itu tidak menunjukkan penyesalan, apalagi meminta maaf pada sang Ayah.


Suatu hari Ibu Nana meminta Alia untuk menemaninya mengunjungi keluarga besarnya yang tinggal di kecamatan lain. Perjalanan menuju tempat itu memakan waktu selama satu jam menggunakan sepeda motor dengan kecepatan medium.


Sebenarnya Alia sudah bisa menebak hal apa yang akan terjadi di sana. Sebab sang Ibu mengatakan bahwa Kakak kandungnya ingin mengatakan sesuatu yang amat sangat penting padanya.


"Apa ini alasan kamu berubah sikap pada Ayahmu?"


Sontak Alia menghentikan gawainya. Ia menghambur memeluk sang Ibunda ketika wanita setengah baya itu telah duduk terkulai bersimbah air pilu tanpa jeritan ketika mereka baru saja tiba di rumah.


"Jadi Bibi menyampaikan hal itu?"


Alia semakin mengetatkan rengkuhannya, merasakan kepedihan yang amat sangat menghujam sanubari sang Ibu yang telah menangis tersedu dalam pelukannya. Getaran tubuh yang Alia rasakan, menandakan bahwa Ibunya sangatlah terluka. Bahkan pedihnya luka itu melebihi luka fisik terparah sekalipun di dunia ini.


"Kenapa Ayahmu tega melakukan ini pada Ibu, Al? Apa salah Ibu? Hiks..hiks..Selama ini Ibu sudah melakukan apapun untuk Ayahmu. Tapi apa balasannya? Sakit Al, dada Ibu sakiiiit, Huhuhuuuu..."


Alia tak menjawab. Alasan apa yang harus ia katakan? Ia sendiri juga tidak menemukan celah sang Ibunda yang bisa dijadikan alasan sang Ayah untuk bermain hati. Sungguh mengecewakan. Sumpah demi apapun, Alia tidak bisa terima dengan apa yang telah dilakukan Ayahnya.


Bagi gadis remaja sepertinya, mungkin kasus ini bisa diberi label tepat dengan istilah SE-LING-KUH.


Sepuluh menit kemudian, Pak Harry kembali dari tempatnya bekerja. Memarkirkan motor kesayangannya di halaman samping rumah, lalu masuk ke dalam rumah dengan santainya. Ketika melewati batas pintu masuk, ia tak lupa memberi salam.


"Assalamu'alaikum.."


Sunyi senyap, tidak ada jawaban dari dalam.


Bersambung..