I Love You Till Jannah

I Love You Till Jannah
S2 Prank



Kak Farun tampak mondar dan mandir seperti seterikaan. Ruangan petak berbentuk kubus yang terletak di lantai sepuluh gedung pencakar langit itu, menjadi saksi bisu kegusarannya hari ini. Sedari tadi ia mencoba menghubungi kontak ponsel seseorang yang baru saja ia dapat dari orang suruhannya. Namun panggilan suara itu tak kunjung juga tersambung. Apakah Kak Farun sedang kehabisan pulsa?


Tidak, tidak..! Tidak mungkin hal itu terjadi. Wakil Presiden Direktur sebuah perusahaan terkemuka tidak mungkin kehabisan pulsa kecuali jika karena kasus lupa mengisi ulang.


****..!!!


"Kenapa aku bisa lupa mengisi pulsa?" Umpatnya menghempaskan sebelah tangan dengan perasaan kesal.


Nah, begitulah kenyataannya. Seseorang tidak akan bisa fokus dan berpikir jernih ketika ia sedang berada dalam kondisi hati dan pikiran yang sedang mendidih. Pastikanlah hati dan pikiran telah turun tensi ketika ingin menarik suatu kesimpulan bahkan suatu keputusan.


Tut...tut...tut...


Gelombang suara yang mirip sekali dengan suara sirine kereta api mulai tersampaikan di indera pendengaran suami Kak Fira itu. Setelah meminta bantuan sekretarisnya, akhirnya panggilan suaranya bisa tersambungkan.


Dari pantulan kaca jendela, tampak sebelah tangan berkacak pinggang, dan sebelahnya lagi mengapit si alat pipih nan canggih pembawa pesan suara terjauh yang tak terbatas jarak di telinga kanannya.


"Halo.." Jawab seorang laki-laki di seberang sambungan.


"Dengan Dirut AJ Export?" Tembak langsung tanpa basa dan basi.


Mungkin karena Kak Farun merupakan keturunan indo-india, jadi budaya basa basi itu tidak pernah ada di dalam kamusnya. Ia terkesan kikuk, namun sangat kompeten dalam urusan pekerjaan.


"Iya, saya sendiri. Ada yang bisa saya bantu?" Masih dengan lelaki yang dihubungi Kak Farun.


"Apa sebenarnya tujuan Anda? Kenapa Anda terniat sekali merebut hampir 50% dari klien Anggara Export?" Tembakan kedua. Agaknya Kak Farun terbawa emosi sehingga nada bicaranya melonjak ke tingkatan oktaf tertinggi..


"Whoa..whoa..easy man..!" Respon santai dari seberang sana. Berasa seperti tak memiliki dosa besar maupun kecil. "This is a business man, you know that. Saya bisa saja menarik semua klien di perusahaan Anda, jika saya berkehendak. Tapi...saya lebih suka menarik ulur permainan ini agar terkesan lebih menghibur dan sem-pur-na." Lanjut lelaki itu, sepertinya ia sedang tersenyum licik setelah melafalkan kalimat takabbur-nya tersebut.


Kak Farun berdecak kecil mendengar kepercayaan diri lelaki itu. Rasanya ingin sekali ia mendaratkan tonjokan terbaiknya pada wajah lawan bicaranya saat ini. Sayangnya pembicaraan ini hanya terjadi via telekomunikasi. "How dare you..! Siapa Anda sebenarnya, hah? Kenapa Anda melakukan semua ini kepada perusahaan kami?" Lagi-lagi Kak Farun tersulut emosi semakin membara.


"Sssssssst, Tuan Farun Malhotra, sebaiknya simpan saja energi Anda untuk menghadapi kehancuran perusahaan rintisan mertua Anda yang sangat tidak bertanggung jawab itu. Dan aku pastikan siapapun yang berhubungan dengan Pak tua itu, maka nasibnya akan terancam."


Tut..tut..tut..


Sambungan telepon diputus sepihak. Agaknya Dirut AJ Export itu sedang tidak ingin berdebat kusir di balik benda pipih pengikis jarak bagi siapapun yang menggunakannya.


Kak Farun berdecak kesal. Berulang kali ia menggebrak meja karena teramat frustasi.


Masalah penurunan grafik konsumen dalam tiga minggu terakhir sungguh hampir membuatnya nyaris tak enak makan dan tidur. Kemunculan AJ Export yang tanpa permisi dan terkesan tiba-tiba, menarik balik hampir 50% klien Anggara Export ke dalam genggamannya, membuat otak Kak Farun stuck bak sedang melintasi jalan buntu.


Sebenarnya masalah ini juga pernah beberapa kali dialami oleh perusahaan milik mertuanya itu. Namun masih dalam presentase dibawah 10%, sehingga mereka masih bisa mengatasinya dengan trik jitu ala pebisnis handal.


Namun kali ini, Kak Farun hampir tidak bisa menarik balik klien yang telah telak berpindah hati. Bahkan masalah ini terjadi pada setiap cabang di setiap kota. Hanya perusahaan induk saja yang aman dari jeratan gurita AJ Export. Oh, no..! Apakah ini pertanda krisis ekonomi akan melanda?


Siapakah sebenarnya sosok yang bersembunyi dibalik kasus ini?


"Bagaimana lelaki itu bisa tahu kalau aku menantunya Papa? Sepertinya...." Gumam Kak Farun sambil memandang keluar jendela.


***


Aufar masih tercengang akibat penuturan Alia yang amat sangat menyekik tenggorokannya. Tak ada keraguan, apalagi keterpaksaan. Yang ada hanyalah keyakinan yang hakiki dan kemantapan bahasa batin yang bertransformasi menjadi bentuk kode bahasa lisan yang amat sangat menyentuh relung hati yang paling dalam.


Sudah kesekian kalinya, Alia selalu berhasil membuat kekasih halalnya itu jatuh hati sedalam-dalamnya bahkan lebih dalam lagi menjadi bagian paling dalam dari yang terdalam.


"Kamu serius dengan ucapanmu itu, Sayang?" Aufar mencoba mengonfirmasi, kalau-kalau sang istri sedang mengigau atau sejenisnya.


Alia sontak menoleh, dan meraih sebelah telapak tangan Aufar. Ia mendaratkan telapak tangan itu ke pipinya sehingga menimbulkan suara persis tamparan kecil. Menyadari hal itu, Aufar tersentak dan refleks menarik balik tangannya sesegera mungkin.


"Apa-apain sih, Sayang?"


"Buat ngebuktiin sama Mas, kalo aku lagi enggak ngimpi."


"Hemm, baiklah, aku percaya."


Aufar lantas menarik kembali kedua telapak tangan sang istri ke dalam genggamannya. Ia berpikir sejenak, mungkin inilah saatnya ia harus membuka apa yang seharusnya ia buka.


Tapi apakah teknik ini akan berhasil? Ia agak sedikit ragu, apa Alia benar-benar bisa menerima kenyataan pahit? Masih saja berpikir ulang.


Think!


Think!


Think!


"Sayang, aku ingin mengakui sesuatu." Aufar memulai misinya. Misi pengakuan yang selama ini dinanti-nantikan oleh para pembaca setia.


"Mengakui? Soal apa, Mas?" Membenarkan duduknya dan mengambil posisi berhadapan dengan sang suami.


"Sebenarnya...aku..."


"Iya..."


Alia memicingkan kedua matanya, tidak sabar. Telapak tangan Aufar yang tiba-tiba terasa dingin di kulitnya, berhasil membuat Alia mengalihkan perhatiannya.


"Sebenarnya aku pernah..."


"Tangan kamu kenapa tiba-tiba dingin, Mas?" Lolos. Kalimat itu berhasil memotong ungkapan Aufar yang telah susah payah ia rangkai sedemikian rupa agar terdengar manis walaupun sebenarnya pahit.


"Emmm, enggak papa, Sayang. Mungkin pengaruh cuaca aja." Elak si Aufar.


"Enggak hujan juga," kelakar si Alia.


"JADI NGAKU KAGA WOOOI..?" Teriak enam kepala casper. Suara mereka menggema seantero taman keraton panembahan.


Sontak Aufar dan Alia terperanjat dan mendongak ke langit tinggi yang mulai meredup warnanya.


"Suara siapa sih, Mas?" Alia beringsut mendekati sang suami karena merasakan keanehan yang terjadi di langit senja yang belum berakhir itu.


Aufar memeluk sang istri yang tubuhnya telah menempel sempurna di depan dada bidangnya. Kepalanya masih mendongak menemukan jawaban yang tersembunyi.


"Sepertinya santet kiriman dari gengs kamvret masih aja gentayangan di sekitar kita." Tutur Aufar agak ragu.


"Santet..?" Alia tampak linglung.


"Iya, Sayang. Tapi kamu enggak usah takut ya. Mereka enggak akan menampakkan diri di siang hari kok." Menaik turunkan telapak tangannya, mengelus lembut lengan sang istri.


"Maksudnya?" Lagi-lagi Alia semakin tertarik dengan topik yang teramat unik baginya.


"Never mind..!" Jawab Aufar singkat tak ingin berpanjang dan lebar.


Ketika Alia sudah terlihat tenang, Aufar kembali melanjutkan hajat pengakuan dosanya. Namun mereka masih dalam posisi saling berpelukan. Bagi para jomblo yang hilir mudik tidak jelas di sekitar, mereka tidak ingin ambil pusing. Anggap saja sosok-sosok itu hanyalah sebagai figuran dalam dunia kecil mereka.


"Sayang.."


"Hem..."


"Sebenarnya..............aku pernah tidur dengan wanita lain."


DEG


Nafas Alia seolah terhenti. Tak ada pergerakan dari tubuh yang sedang dirangkul oleh Dokter Aufar Dwi Anggara itu. Aufar menelan salivanya dengan berat, menyiapkan diri untuk menghadapi respon pahit, asam, ataupun asin yang akan ia terima dari sang istri.


Alia masih terdiam sesaat, mungkin sedang berpikir atau tidak sama sekali. Namun setelah beberapa detik menutup rapat sepasang bibirnya, finally ia angkat bicara sambil menarik tubuhnya dari dekapan sang suami. Perlahan tapi pasti, ia menatap lekat kedua manik mata hitam kecokelatan milik Aufar.


"Kamu pasti lagi nge-frank aku kan, Mas?"


"Enggak Sayang, sumpah aku berkata jujur."


"Mana kameranya?"


"Ya Allah...seriusan ini."


"Enggak percaya, cepet tunjukin mana kameranya?"


Kepala Alia terlihat celingukan mencari letak kamera tersembunyi yang dipasang oleh Aufar. Ia masih meyakini bahwa penuturan dari sang do'i hanyalah bentuk frank semata.


"Fix Bu Author minta ditoyor."


Bersambung...